<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264</id><updated>2011-04-21T18:52:37.306-07:00</updated><title type='text'>17tahun, Cerita Dewasa, Cerita 17tahun</title><subtitle type='html'>cerita2 seru 17 tahun keatas</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>264</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-646860114553970502</id><published>2009-02-02T05:36:00.000-08:00</published><updated>2009-02-02T05:48:58.654-08:00</updated><title type='text'>Istri Untuk Membayar Hutang</title><content type='html'>Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan Herman ngaceng saat membayangkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membayangkan bagaimana nanti saat Rini menerima kenikmatan syahwat yang dilepaskan oleh Pakdenya. Bagaimana nanti dia mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rini sekaligus nafas-nafas yang memburu dari Pakde Karto. Bagaimana nanti tubuh telanjang Rini bergesekkan dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yang melumati pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yang dia yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding vagina Rini dirundung rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik Pakdenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak mudah bisa bertahan hidup di Jakarta apabila seseorang tidak memiliki kepandaian, stamina dan daya tahan terhadap berbagai tekanan dan kesulitan. Dan itu semakin aku rasakan. Sejak tiga tahun terakhir aku bersama istri yang baru kunikahi meninggalkan kampungku di Sleman, Yogya, menuju ibukota Jakarta untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Hingga kini kehidupan yang lebih baik itu belum juga aku memperolehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mau dan pernah melakukan pekerjaan apa saja sepanjang itu halal. Dari penjaga toko, narik ojek, tukang batu atau pekerjaan lainnya yang sesuai dengan apa yang aku bisa. Tetapi itu semua nampaknya belum menjanjikan masa depan yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan ada famili jauhku, Pakde Karto yang telah lama hidup di Jakarta dan mendapatkan kehidupan yang cukup mapan. Usahanya sebagai tengkulak tembakau untuk pabrik rokok ‘gurem’ nampaknya membuat hidupnya kecukupan. Kalau aku kesulitan uang Pakde Karto selalu menjadi tujuanku dan biasanya dia mau menolongku. Dia bilang kasihan pada istriku yang masih muda harus menderita hidup di Jakarta. Dia tidak mau mengajak aku kerja di tempatnya. Alasannya karena kurang suka mempekerjakan sanak famili. Dia bilang dirinya punya sifat gampang marah dan kasar. Khawatir sifat itu bisa menyinggung perasaan dan putus hubungan kekeluargaan. Walaupun begitu dia sangat memperhatikan kepentingan kami, khususnya kepentingan istriku. Terkadang dia belikan sesuatu, misalnya baju atau perabot dapur atau lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya satu hal yang aku kurang sreg dengan Pakde Karto. Kalau aku minta bantuan pinjam uang dia tidak ijinkan aku ke kantornya. Dia selalu menyuruh sampaikan saja apa kebutuhanku lewat telpon, nanti dia akan datang. Dan dia memang datang. Dia berikan pinjamanku dan dia juga bawa oleh-oleh untuk Rini, istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama berada di rumah kuperhatikan matanya yang selalu nampak melotot memperhatikan tubuh istriku. Beberapa kali dia bertandang ke rumahku, tak pernah sekalipun dia bawa istrinya. Aku pikir dia nggak mau kesukaan melototnya saat melihati istriku terganggu. Rasanya Pakde Karto ini bandot tua. Kadang-kadang sikapnya aku anggap keterlaluan. Seharusnya dia mengetahui dirinya sebagai panutan karena lebih tua dari aku. Tetapi dia tidak pernah menampakkan perhatiannya padaku. Kalau aku ngomong, dia menyahut ‘ya, ya, ya’ tanpa pernah lepas dari pandangan ke Rini dan sama sekali tak pernah melihat padaku. Terus terang kalau tidak terpaksa aku segan berhubungan dengan Pakde Karto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sudut fisik, Pakde Karto ini memang masih gagah. Pada umurnya yang memasuki 57 tahun, disamping wajahnya yang memang cukup ganteng, tubuhnya juga cukup terawat baik, tangannya ada sedikit berbulu. Tingginya sama dengan aku 175-an cm. Agak gendut, mungkin karena cukup makmur. Dan tampang bandotnya memang nyata banget. Aku yakin Pakde Karto suka mencicipi berbagai macam perempuan dan tidak kesulitan untuk mendapatkan ‘daun-daun muda’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Rini, istriku, dia adalah gadis idamanku saat kami masih sama-sama satu sekolah. Aku duduk di kelas 3 dan dia kelas 1 di SMU 1. Kami langsung berpacaran sejak dia masuk ke sekolah. Aku bangga dapat dia yang hitam manis dan paling ‘macan’, begitu teman-teman menyebut ‘manis dan cantik’ untuk Riniku ini. Dengan tingginya yang 170 cm, dia termasuk gadis paling semampai di sekolah kami. Kalau ada lomba volley antar sekolah Rini selalu menjadi bintang lapangan. Bukan karena menang bertanding tetapi karena macan-nya tadi. Aku tahu banyak perjaka lain yang naksir berat padanya. Walau Rini pernah juga mendapatkan julukan ‘piala bergilir’, aku tidak merasa keberatan. Dan pada akhirnya akulah pemenangnya yang bisa menggandengnya ke pelaminan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah melewati tahun pertama pernikahan, kami merasakan adanya kurang seimbang, khususnya dalam hal hubungan seksual. Secara sederhana, Rini orangnya ‘hot’ banget, sementara aku mungkin ‘cool’ banget. Aku merasa kewalahan kalau mesti menuruti kemauannya. Dia mau setiap hari berhubungan seks. Sementara aku merasa cukup 2 kali seminggu. Untuk memenuhi keinginannya Rini memberikan aku berbagai macam jamu atau obat kuat. Pertama-tama kuikuti kemauannya itu. Tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama. Bagaimanapun kapasitas normalku ya, seminggu 2 kali itu. Akhirnya solusinya adalah kompromi, aku akan selalu berusaha menaikkan kapasitasku dan dia sedikit menurunkan kapasitasnya. Hasilnya? Entahlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walaupun belum mempunyai anak, karena kami sepakat untuk KB sampai keadaan ekonomi kami mantap, Rini tidak kekurangan kesibukkan. Dia sering menerima pesanan ‘caterring’ dari teman atau tetangga untuk hajatan-hajatan kecil di seputar rumah kami. Terkadang dia juga membuat makanan kecil untuk dititipkan ke warung-warung. Itu semua dia kerjakan dengan senang hati untuk mencari sekedar tambahan nafkah rumah tangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia juga suka mengeluh risih dengan sikap Pakde Karto. Tetapi dia bilang nggak mau terlampau risau dan tetap menunjukkan sikap sopan sebagai keponakan mantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak beberapa bulan terakhir ini aku terseret pergaulan teman di kampung ikut main lotere buntut atau yang biasa disebut ‘togel’. Pada awalnya aku menyaksikan seorang teman menarik kemenangan sebesar 15 juta rupiah kontan. Aku langsung tergiur. Saat pertama kali aku pasang togel, Rini marah dan sangat tidak setuju. Tetapi sesudah aku berusaha menenangkannya akhirnya dia tidak lagi menentang walaupun tidak sepenuhnya menerima gagasanku. Setelah beberapa kali gagal, akhirnya dari sekian nomer yang kupasang salah satunya berhasil menang. Aku berhasil menarik 1 juta rupiah. Dengan gembira uang itu kuserahkan seluruhnya kepada Rini. Ternyata istriku ini menerimanya dengan dingin. Aku tidak putus asa dengan sikapnya itu. Aku anggap itu sebagai tantanganku untuk memenangkan kesempatan berikutnya. Kini setiap hari aku selalu sibuk dengan togel. Setiap hari berusaha mencari kode-kode nomer bagus. Mungkin lewat mimpi sendiri atau mimpi tetangga, nomer mobil yang melintas atau mentafsirkan gambar-gambar kode yang kudapat dari bandar atau tanya ke dukun.Demikianlah hal tersebut berjalan beberapa waktu dan ternyata aku tak pernah lagi menarik kemenangan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya aku benar-benar bangkrut. Dan tak ada jalan lain kecuali aku telpon ke Pakde Karto untuk pinjam uang. Setelah berbasa basi untuk keperluan apa uang itu dan kapan aku mengembalikannya akhirnya dia setuju untuk memberi pinjaman. Sebagaimana biasa Pakde Karto datang ke rumah. Walaupun hatiku resah karena ada satu nomer togel penting yang kuyakini akan keluar malam ini tetapi aku harus sabar sampai Pakde Karto menyerahkan uangnya ke istriku Rini. Kali ini rasanya aku nggak keberatan kalau Pakde Sastro akan melotot untuk menikmati kecantikan istriku. Silahkan, yang penting duitnya cepet turun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah aku menanda tangani pernyataan hutang yang selalu telah disiapkan Pakde dan saat amplop uang diserahkan ke istriku yang untuk selanjutnya dibawa dan dia taruh di bawah bantal, aku cepat bergerilya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa sempat menghitung kucomot separo dari tumpukkan uang itu. Dengan alasan akan ke warung beli rokok kutinggalkan Pakde Karto di rumah bersama Rini istriku. Aku tak sempat lagi memperhatikan wajah Pakde yang langsung hingar bingar sambil menganggukan kepalanya padaku. Yang kupikir sekarang adalah secepatnya menuju tempat bandar togel dan memasang nomer pilihan. Aku akan tunjukkan pada istriku bahwa memasang togel juga merupakan usaha yang bisa menghasilkan. Lebih dari separuh uang yang kubawa kupasangkan pada nomer pilihanku dan sebagian lainnya kupasang sebagai cadangan apabila nomer pilihan meleset. Aku yakin besok bisa mengembalikan utangku pada Pakde dan sisanya yang masih sangat besar akan kuserahkan seluruhnya pada istriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah perputaran kehidupanku akhir-akhir ini. Nomer togel itu nggak pernah lagi kumenangkan. Rini selalu marah-marah dan semakin sinis padaku. Dan hutangku pada Pakde Karto sudah tak terhitung lagi. Pada hari-hari terakhir ini aku selalu lari menghindar kalau orang suruhannya datang mencari aku. Dan melihat wataknya Pakde Karto pasti akan terus mengejarku hingga uangnya bisa kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pagi datang utusannya membawa surat. Aku tak berani menemuinya. Isteriku menerima surat itu,&lt;br /&gt;“Datanglah ke kantor. Jangan khawatir. Ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Saya tunggu siang ini. Pakdemu.”&lt;br /&gt;Ah, nampaknya kali ini Pakdeku benar-benar mau membantu keponakannya yang sudah pusing tujuh keliling. Aku berpikir dia akan suruh aku membantu pekerjaannya di kantor agar aku bisa melunasi hutangku. Sesudah aku pamit istriku tanpa ragu aku datang ke kantornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kantornya aku langsung diantar Satpam masuk ke ruangan Pakde. Pakde menyuruh aku duduk di sofa dan menyuruh Satpamnya yang nampak kekar berotot itu agar berdiri menunggu. Ternyata Pakde menampakkan wajahnya yang sangar. Dia melihati aku seperti seorang pemangsa melihati korbannya. Dengan pandangan matanya yang bak elang siap mencabik-cabik mangsanya Pakde berbicara dengan garang, “Begini Herman. Aku tahu kamu nggak mungkin bisa membayar hutangmu yang hingga saat ini telah mencapai lebih dari 15 juta rupiah belum termasuk hitungan bunganya. Sekarang hanya ada satu pilihan yang menyelamatkan kamu atau urusannya jadi lain,” dia mengakhiri omongannya sambil melirik ke Satpamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam keadaan yang sangat putus asa mana mungkin aku punya gagasan-gagasan untuk memecahkan masalahku. Dan tekanan Pakde Karto ini memang pantas aku terima. Aku memang sudah banyak janji tak bisa kupenuhi. Aku bangkrut dan istriku terus marah-marah. Maka secepatnya aku pasrah saja. Aku menyerahkan pada Pakde. Apapun jalan keluarnya aku akan menyetujuinya yang penting hutangku lunas. Nampak sikap Pakde melunak. Dia suruh Satpamnya meninggalkan ruangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde mendekat sambil menepuk pundakku. Dia minta aku mendekatkan kupingku. Beberapa saat dia membisikkan usulnya. Sejak awal bisikkan kupingku sudah langsung panas terbakar dan aku benar-benar terpojok tanpa punya pilihan. Pakde bilang, aku bisa melunasi hutangku kalau dia boleh mengajak isterku Rini ke villanya. Kalau aku tidak setuju mesti melunasi hutangku dalam tempo 1 kali 24 jam atau urusannya jadi lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih ada tambahkan lagi, dia akan tidur bersama Rini selama 3 hari dan agar aku ikut juga ke villa. Pelayannya sengaja dia liburkan karena Pakde takut mereka lapor ke istrinya. Aku harus menggantikan tugas pelayan-pelayan itu untuk membersihkan kamar dan melayani kebutuhan Pakde bersama Rini istriku selama di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia bilang hal itu terpaksa dia lakukan sebagai pelajaran untukku. Kini aku harus cepat pulang untuk menyampaikan hal ini kepada istriku. Besok pagi dia akan mengirim mobil untuk menjemput aku dan Rini. Kami harus berlagak sebagai suami istri yang datang dan menginap di villa itu. Pakde Karto akan datang sendirian menjelang sore hari yang akan berlagak seolah-olah sebagai tamu kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya naskah Pakde sudah dirancang secara matang. Mataku langsung berkunang-kunang mendengar bisikkan iblis itu. Aku tak ingat apa-apa lagi dan terjatuh lemas ke lantai. Saat aku sadar kulihat Satpam tadi sudah mendudukkan aku ke sofa. Aku diberinya minum. Aku masih terhenyak beberapa saat. Pakde Karto tak kulihat lagi. Dia hanya pesan pada Satpam untuk menyampaikan sebuah amplop. Saat kubuka kulihat dua puluh lembar 100 ribuan rupiah dan secarik surat, “Herman, besok mobil menjemput kamu bersama Rini, jam 7 pagi. OK?! Pakdemu.”&lt;br /&gt;“Bajingan..!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak melihat jalan keluar. Dengan sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya, dengan susah payah aku sampaikan keinginan Pakde Karto. Istriku Rini menerima amplop Pakde Karto menengok isinya sambil mendengarkan bicaraku kata demi kata dan kemudian melihat aku dengan penuh iba. Aku tak mampu membaca perasaan dia. Dia nampak marah dan sangat kecewa padaku. Pasti sepertinya sangat dihinakan dan itu sangat menyakitkan. Aku juga langsung membayangkan Pakde akan menjamahi bagian-bagian tubuhnya yang indah dan sangat rahasia. Pakde akan melahapnya dengan kerakusan bandot tua. Dasar ibliiss..!!&lt;br /&gt;Selesai aku bicara Rini rubuh ke lantai. Ah, kasihan kamu Rini.. Kamu jadi korban ketidak mampuanku. Aku gagal menunjukkan tanggung jawabku selaku suamimu. Aku sebenar-benarnya adalah suami yang pengecut. Ayoo.., bangunlah. Kuraih tangannya untuk bangun dari lantai. Dengan limbung dia tertatih dan bangkit. Dia langsung lari ke kamar tidur sambil menghempaskan pintunya. Kususul tetapi ternyata pintunya terkunci. Kucoba mengetok-etoknya. Akhirnya kubiarkan. Sebaiknya kubiarkan. Biarlah dia melampiskan kemarahan dan kekecewaannya dulu. Pasti dia tidak ingin aku mendekatinya. Dan pasti, entah bagaimana, Rini saat ini sangat memandang aku dengan penuh kehinaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba sabar dengan menunggunya hingga sore. Sementara rasa marah, cemburu, dendam, cemburu, cemburu dan cemburu terus mengejar aku setiap aku mengingat ucapan Pakde Sastro. Tetapi aku langsung ingat masa-masa masih pacaran dulu. Aku sering memergoki Rini, yang pacarku waktu itu, nampak jalan berduaan dengan teman lelaki yang lain. Waktu itu aku selalu berpikir positip. Aku yakin dengan kesabaranku akhirnya Rini akan tetap kembali ke aku. Dan itulah yang kemudian terjadi. Dialah yang kini menjadi Rini Herman, khan?! Jadi aku sesungguhnya sudah terbiasa dengan rasa cemburu yang kali ini berkobar dalam hatiku. Aku tetap akan berpikir positip adanya Pakde Sastro bersama Rini istriku selama di villa nanti. Apalagi dengan cara ini Pakde Sastro berjanji akan menganggap lunas seluruh hutang-hutangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan besok, aku bersama Rini harus telah siap saat mobil Pakde datang. Dari berbagai pikiranku yang campur aduk, harapanku tetap pada Rini. Harapanku Rini bisa memahami kondisi ini. Dan Rini siap untuk melayani keinginan Pakdenya.. Ah.. aku sudah semakin pusing.&lt;br /&gt;Aku tak mampu lagi memikirkan tetek-bengek apa yang mungkin bisa terjadi. Lebih baik kini aku sedikt mencari hawa segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat amplop di meja. Aku ingat nomer impianku hari ini. Ah, nggak salahnya kalau aku ambil sedikit uang itu. Aku langsung bergegas ke bandar togel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Rini Sang Istri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa sekolah adalah masa yang paling menyenangkan. Begitu lulus SMP 3 aku diterima di SMU 1 Sleman, Yogyakarta. Sebagai gadis remaja yang menginjak dewasa aku dimanjakan alamku. Alam telah bermurah memberikan aku kecantikan. Dan bak kembang yang sedang mekar, kumbang-kumbang di sekitarku setiap saat mengelilingi aku untuk siap mencicipi maduku. Dalam kelompok olah raga, dengan tinggi tubuhku yang 170 cm aku diterima sebagai anggota club volley SMU. Setiap ada kompetisi, biar kalah atau menang aku selalu menjadi bintangnya. Para jejaka antar SMU pada mengenali ‘macan’ku. Demikian mereka memberi julukan padaku yang mereka artikan sebagai manis dan cantik. Tentu saja hal itu amat membanggakan dan sekaligus membuat para siswi dan gadis-gadis cemburu dan iri. Aku bersikap ramah pada siapapun yang berusaha mendekati aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa pria memang memberikan kesenangan padaku. Aku pikir tidak salah kalau aku memberikan perhatian lebih pada mereka. Salah satunya adalah Ditto yang anak dokter itu. Dia sangat simpatik. Wajahnya yang tampan telah membuat aku kesengsem. Aku merasakan ciuman pertamaku dari Ditto ini. Duh.., rasanya selangit. Aku juga akrab dengan Usman. Dia anak yang paling cerdas di sekolahnya. Dia bercita-cita menjadi ahli pertanian dan peternakan. Kesulitan pelajaranku selalu kutanyakan kepadanya. Usmanlah yang menjadi pria pertama yang berani menjamah dan bahkan menyedoti buah dadaku. Saat itu, dia cerita tentang proses kelahiran ikan paus. Sesudah sekian bulan dalam kandungan ikan paus lahir sebagaimana binatang menyusui lainnya. Dia langsung bisa menyesuaikan lingkungannya yang di tengah samudra. Anak ikan paus langsung bisa berenang dan mencari susu induknya. Aku sangat menikmati saat dia memperagakan sebagai anak paus dan aku induknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain lagi dengan Pandi. Tubuhnya yang jangkung itu membuat dia menjadi banyak incaran gadis-gadis di kota kecil Sleman ini. Kuakui memang dengan jangkungnya itu dia nampak sangat menawan. Gadis-gadis suka cekikikan kalau membicarakan Pandi. Mereka berbisik mengenai penis lelaki jangkung yang dipercayai pasti panjang dan besar. Aku ingin menjadi yang pertama bisa menbuktikan bisikkan-bisikkan para gadis itu. Dan akhirnya aku percaya. Dan aku jadi blingsatan serta penasaran saat berkesempatan jalan dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat itu dengan sepeda motornya dia mengajak aku menyaksikan Samudra Hindia dari Parangtritis yang tidak jauh dari kotaku. Sesudah menelusuri pantainya yang sangat indah kami beristirahat di tempat yang sunyi dari pengunjung kebanyakan. Sesudah melalui proses saling raba dan cium yang cukup lama, dengan tetap duduk di sepeda motornya Pandi membiarkan saat tanganku merabai tonjolan di selangkangan celananya. Aku juga tidak tahu kenapa nafas birahiku memburu. Tanganku melepasi resluiting dan menarik kebawah celananya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birahiku semakin tak tertahankan saat kulihat alur besar agak melengkung melintang dari balik celana dalamnya. Tanganku merabai, kemudian menyusup lewat tepiannya dan meraih penis itu. Woow.. gede banget. Telapak tanganku merasakan batangan sebesar pisang tanduk yang keras kenyal dan hangat. Batangan itu berdenyut-denyut menggoyahkan saraf-saraf birahiku. Kugerakkan bersama jari-jariku untuk mengelusinya. Kudengar suara yang sangat nikmat ditelingaku. Suara debur Samudra Hindia dan derai angin Parangtritis bersamaan erangan nikmat dari mulut Pandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah untuk pertama kalinya aku melihat dan menyentuh dan bahkan mencicipi air mani lelaki. Saat mau muncrat kelakuan Pandi menjadi kasar. Kepalaku diraihnya untuk dipaksa mengulum penisnya. Air maninya yang kental keluar dari setiap denyutan penisnya. Karena dorongan birahiku, aku juga menjilati yang tercecer di pahanya dan juga di jok sepeda motornya. Aku nggak habis mengerti kenapa sesudah itu Pandi tak pernah lagi mengajak aku pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuperhatikan teman-teman pria itu gede cemburuannya. Mereka mau monopoli aku. Aku menjadi kurang nyaman dalam kungkungan macam itu. Biasanya, kalau tidak mereka, ya aku yang meninggalkannya untuk pergi ke pria lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku menikah dengan Mas Herman. Ternyata lelaki macam dialah yang bisa menerima aku dengan penuh sabar. Aku tahu Herman telah naksir berat padaku begitu aku menginjak SMU-nya. Sebagai yunior aku sering mendapatkan bantuan mengenai perpustakaan, grup olah raga atau acara antar siwa lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman memang sabar dan penuh toleransi. Bahkan saat dia melihat aku jalan berdua-an dengan anak lelaki yang lain Herman tidak merubah sikapnya padaku. Herman juga selalu jadi terminal dan tempat aku mengadu. Kekecewaanku pada pria lain kuceritakan apa adanya padanya. Dia sabar mendengarkan aku dan pada sikapku yang labil. Aku merasakan libidoku kelewat panas. Aku tidak hidup tanpa ada lelaki disampingku. Dan Hermanlah akhirnya yang selalu mengisi kekosonganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat kami sepakat pindah ke Jakarta aku sudah siap untuk menghadapi berbagai cobaan hidup. Aku punya bakat bertualang. Dan salah satunya sudah kubuktikan dalam hal berhubungan dengan lelaki. Aku tidak takut kesulitan di Jakarta. Aku yakin pada diriku, aku juga tidak khawatir dengan Herman yang selama ini mengetahui dan sabar menghadapi berbagai macam kesulitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kurang aku setujui akhir-akhir ini adalah kesukaannya akan lotere buntut. Aku benci banget kalau lihat lelaki sibuk dengan lotere buntut atau togel itu. Di mataku mereka itu kumuh. Bayangkan saja, mandi saja rasanya tidak sempat. Mereka terjebak pada kertas-kertas kode. Sepanjang harinya hanya memikirkan ramalan-ramalan dukun atau firasat mimpi-mimpinya bahkan mereka ini sudah demikian rapuh dimana sebuah keyakinan bisa langsung buyar berkeping-keping oleh nomer plat mobil yang kebetulan melintas di depannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah Herman hari ini. Dalam tempo pendek dia terlibat hutang yang besar. Pakde Karto adalah Pakde sepupunya yang kebetulan punya usaha yang cukup maju di Jakarta. Pada Pakdenya inilah Mas Herman minta pinjaman uang kalau lagi kesulitan. Pada awlnya pinjaman itu tak begitu besar dan bisa lekas dikembalikan saat ada sedikit rejekinya. Tetapi sejak bermain togel, kebutuhannya semakin tinggi dengan kemampuan pengembaliannya semakin rendah, bahkan boleh dibilang nol. Pakde sudah tidak mau memberikan pinjaman lagi. Bahkan beberapa hari terakhir ini orang suruhannya mencari-cari Mas Herman yang selalu menghindar. Terus terang aku repot banget menghadapi kenyataan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi orang suruhannya kembali datang membawa surat. Aku terima dan baca. Dari nada tulisannya Pakde Karto akan memberikan jalan keluar yang sama-sama menguntungkan. Nggak usah kawatir, begitu katanya. Aku berpikir, mungkin Mas Herman dimintanya untuk membantu pekerjaannya agar bisa melunasi hutangnya. Aku sampaikan surat itu kepadanya. Dia minta pertimbangan aku, apa mesti menemui Pakdenya. Aku bilang itu urusan Mas Herman, terserah mau datang atau tidak. Aku memang agak ketus. Soalnya aku sudah kesal. Sejak awal aku sudah sampaikan bahwa aku tidak suka judi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Pakde Karto, aku memahami sifatnya sebagai lelaki. Umumnya lelaki memang mata keranjang. Apalagi Pakde ini punya uang, dan tampangnya juga ‘handsome’ kata gadis-gadis jaman aku masih SMU dulu. Walaupun sudah umur, lelaki itu ibarat keladi, makin tua semakin jadi dan semakin seksi. Dan itu semua dimiliki Pakde Karto. Dan aku juga sepenuhnya menyadari bahwa Pakde nampak kesengsem padaku. Dari pandangan matanya kurasakan betapa dia pengin banget melahap tubuhku. Terus terang diam-diam aku menikmati mata keranjangnya Pakde. Tentu sikapku ini tak akan kutunjukkan pada Herman suamiku. Aku masih suka mimpi merasakan kembali bagaimana kumbang-kumbang terbang mengitari aku sebagai kembangnya. Kekaguman lelaki yang nampak matanya rakus menikmati tubuhku sungguh membuat bergetar hatiku. Mata-mata penuh nafsu yang seakan melihat aku telanjang itu benar-benar memberikan aku gairah birahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang berdarah panas. Aku selalu rindu belaian. Aku selalu merindukan sentuhan dan tusukkan erotis. Mas Herman suamiku berterus terang tidak bisa mengimbangi darah panasku. Aku sering membayangkan lelaki lain atau semacam Pakde Karto yang mampu memberikan kehangatan semacam itu. Kalau sudah begitu aku ingat kembali saat-saat bersama Ditto, Usman atau Pandi. Masih terasa banget dihidungku aroma mereka. Masih terasa banget dibibir dan lidahku di bibir, leher dan dada mereka dalam kecupan dan jilatan manisku. Masih terasa banget hangatnya cairan kental dari penis Pandi yang membasahi mulutku. Ah.., akankah hal itu akan kudapatkan lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang Pakde Karto tidak lagi pantas menjadi panutan Mas Herman sebagai keponakannya. Setiap kali datang ke rumah yang semestinya urusannya sama Mas Herman, Pakde justru mengumbar matanya seakan hendak menelanku. Sering aku lihat dia hanya mengangguk-angguk saat Mas Herman menyampaikan sesuatu, sementara wajahnya melihati ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama ini dia datang atas permintaan Mas Herman untuk meminjami uang, sesaat sesudah menerima uang Mas Herman yang sedang kegilaan sama togel pergi ke bandar togel untuk mengejar mimpinya dan meninggalkan aku yang hanya bersama Pakde Karto. Tentu saja Pakde langsung menggunakan kesempatan itu untuk lebih mendekati aku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan gaya seolah-olah orang tua yang melindungi anaknya, dia mengelusi rambutku,&lt;br /&gt;“Rini, kalau kamu punya masalah biar Pakde bantu ya. Kamu masih muda dan sangat ayu. Seharusnya kamu nggak perlu menderita. Kamu perlu apa? Ngomong saja nanti aku bantu ya, Cah Ayu”.&lt;br /&gt;Duh, gombalnyaa.. Aku merinding saat tangannya yang nampak berbulu sempat menyentuh kudukku. Kemudian dia merogoh kantongnya dan memberikan kepadaku amplop besar,&lt;br /&gt;“Ini buat kamu sayang. Jangan kasih Herman. Nanti buat judi lagi.”&lt;br /&gt;Tentu saja aku terima. Aku juga perlu uang pribadi. Aku bertemu pandang dengan Pakde,&lt;br /&gt;“Terima kasih,” ucapku pelan yang dia balas dengan senyuman buaya sambil tangannya menjumput daguku kemudian menariknya untuk mencium bibirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu sama sekali tak kuduga dan berlangsung sangat cepat sehingga aku tak sempat menghindarinya kecuali dengan secepatnya aku menarik diri dan melepaskan dari rengkuhannya. Ah, seharusnya aku tersinggung dengan tingkahnya itu. Tetapi entahlah. Sepertinya aku tidak bisa berkutik didepan Pakde Karto ini. Pada saat seperti ini rasanya dia sangat kharismatik. Aku tunduk. Aroma parfum lelakinya semburat menerpa hidungku.&lt;br /&gt;Sepulang dari kantor Pakde kulihat Mas Herman sangat tegang, kasihan. Aku berjanji pada diriku, apapun aku akan bantu suamiku. Aku ingin meringankan bebannya. Dia langsung duduk bengong, linglung. Aku sodorkan segelas air putih yang langsung diminumnya habis. Dia belum juga ngomong. Diserahkannya padaku amplop yang penuh. Loh, kok dapat malahan uang, pikirku. Aku langsung membukanya. Kudapati segepok uang dan secarik kertas. Aku belum juga ngerti makna semua ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto akan menjemput kami besok pagi. Apa maksudnya? Mau menjemput kemana? Dengan penuh tanda tanya aku goyang-goyangkan tubuh Mas Herman. Akhirnya dengan tersendat-sendat dia bicara dan bicara. Aku mencoba menangkap kata per kata. Kemudian aku mencoba memahami rangkaian kata-kata tadi. Hingga akhirnya aku tetap tak mengerti bahwa seorang Pakde Karto akan caranya yang demikian buruk untuk bisa mendapatkan dan menikmati tubuhku. Ah, kenapa mesti begini..?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang sesungguhnya paling menyedihkan dan langsung membuatku sangat kecewa adalah sikap Mas Herman sendiri. Dia sama sekali tidak menunjukkan kapasitasnya sebagai suami. Dia ternyata hanyalah seorang pengecut. Dia dengan begitu tega mengorbankan aku sebagai isterinya. Dengan dia menerima amplop berisi uang yang kini ditanganku berarti dia benar-benar telah menjual aku dan menjadikan aku sebagai alat untuk membayar hutang-hutangnya dengan sama sekali tidak membicarakannya padaku terlebih dahulu. Dan kini, aku harus dan harus menerima buah kepengecutan dia. Aku langsung limbung. Kulihat dinding-dinding kamar oleng dan jungkir balik. Tubuhku sangat lunglai dan aku langsung terjerembab ke lantai. Aku kini merasa sebatang kara tanpa ada seorangpun yang melindungiku. Fungsi Mas Herman sebagai suami sudah musnah karena kepengecutannya. Dia tak akan pernah mampu menyelamatkanku lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurasakan tangan Mas Herman menarikku bangkit. Pelan-pelan aku bangun dari lantai dan langsung lari ke kamar tidur. Pintunya kubanting dan aku mengunci diriku. Aku rebah tergolek dan tersedu di ranjang. Ketukan pintu yang bertubi-tubi dari Mas Herman tak kudengarkan. Kini yang hadir dalam hati dan pikiranku adalah rasa marah, kecewa dan dendam. Aku marah, kecewa dan dendam kepada kehidupan ini. Kepada ketidak mampuan dan segala kelamahan yang aku alami. Kepada sikap suamiku yang bagitu mengabaikan saat aku melarangnya berjudi. Dan tetap tak habis heranku memikirkan rencana Pakde Karto itu yang jelas-jelas mengorbankan hubungannya dengan keponakannya. Ber-jam-jam aku tidak keluar dari kamar. Pikiranku terus melayang-layang memikirkan banyak hal-hal. Aku menerawang jauh ke hari depan yang begitu gelap dan mendung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku keluar kamar menjelang malam. Tak kujumpai Mas Herman. Kulihat amplop di meja setengah terbuka. Kuambil. Ternyata isinya tinggal separuh.&lt;br /&gt;Edaann.., sungguh edaann.. kamu Mas.., dalam situasi begini kamu masih menyempatkan pergi untuk ke bandar togelnyaa..!! Edaann..!!&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku hatiku jadi menyala berkobar.. Kalau begini jadinya, sudahlah.. terjadilah apa yang mesti terjadi. Seperti dicambuk jilatan geledek dan petir aku bangkit sebagai banteng betina yang sangat marah dan kecewa. Aku mau bebas. Aku mau merdeka. Dan, ah, aneh.., tekad itu langsung membuat marah, kecewa dan dendamku langsung pupus. Kebebasan dan kemerdekaanku membuka kesadaranku bahwa aku tak perlu tergantung siapapun. Dan yakin mampu berjalan sesuai dengan rasa bebas dan merdekaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap itu langsung membatu dalam diri sanubariku. Aku akan mengambil langkahku sendiri. Kini kuyakini, akulah yang harus mengambil keputusan untuk diriku sendiri. Tak ada lagi suami atau Mas Herman. Yang ada hanyalah aku yang sendirian dengan hari-hari depanku sendiri. Aku akan jalani apa yang mesti aku jalani. Aku akan jemput Pakde Sastro sesuai dengan kebebasan hatiku. Aku akan layani dan puaskan hausnya nafsu hewaniah Pakde Sastro. Aku akan mereguk kenikmatan syahwatku yang selama ini tak sepenuhnya kudapatkan. Aku akan tunjukkan pada Herman bahwa aku kini bebas se-bebas-bebasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita Pakde Karto&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap mengingat bahwa aku ini hanya jebolan SMP dari desa kecil di kecamatan Sleman, Yogyakarta, yang kalau aku turun di terminal saat pulang kampung masih memerlukan 1 jam lagi berjalan kaki dan nyeberangi kali hingga sampai ke rumahku di kaki bukit Menoreh, maka aku merasa bahwa apa yang kini aku bisa raih di Metropolitan Jakarta ini sungguh membanggakan.&lt;br /&gt;Dan kalau aku pulang kini, ibaratnya aku cukup dengan duduk di jok empuk sambil nginjak-injak rem serta gas mobil Panther-ku sejak start dari pintu garasi rumahku di Jakarta hingga turun di samping kandang sapi orang tuaku di desa kecil di kecamatan Sleman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jakarta memang memberi apa yang kuminta. Usahaku yang menyalurkan tembakau untuk pabrik-pabrik rokok kecil di Jakarta membuahkan hasil. Aku menjadi pusat omongan di desaku.&lt;br /&gt;Kalau kudengarkan omongan orang desa, aku kini sudah menjadi orang yang pantas menjadi contoh mereka. Nggak tahu dari mana asalnya, kalau mereka ketemu mereka memanggilku dengan ‘den Karto’. Aku nggak menampik panggilan itu. Aku anggap bahwa itu urusan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaahh.., semuanya itu karena kerja keras dan uang yang kuhasilkan. Terbukti dengan uang aku bisa meraih banyak kesenangan. Makan enak, rumah, beberapa mobil dan kesengan lainnya.&lt;br /&gt;Bahkan biarpun umurku sudah 57 tahun dengan uang itu aku tetap dengan gampang menggaet gadis atau janda manapun yang kumaui. Memang menurut orang-orang aku juga termasuk lelaki yang memiliki tampang dan seksualitas yang lumayan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini aku lagi kesengsem sama Rini istri Herman keponakan sepupuku. Pada awalnya Herman menemuiku di kantor untuk minta bantuan keuangan padaku. Aku memberikan bantuan ala kadarnya. Aku pikir nggak baik terlalu gampang pada famili, nantinya bisa jadi repot. Saat pulangnya, karena memang masih ada hubungan famili, aku antar pulang ke rumahnya untuk melihat keadaan rumah tangganya. Saat itulah aku lihat Rini. Isteri Herman ini benar-benar cantik dan manis. Pikiranku langsung terganggu. Aku tahu, perempuan macam Rini ini akan sangat galak dan panas saat di ranjang. Dengan warna kulit yang coklat hitam manis, dengan postur jangkung dan bahunya yang bidang indah itu, aku pastikan Herman kewalahan menghadapi birahinya Rini. Lihat, betisnya itu. Betis yang ‘merit’ bak padi Cianjur yang matang dan padat sebelum dituai. Itu menandai bahwa nafsu perempuan ini tak mudah terpuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung kasmaran. Dalam hatiku aku langsung bertekad. Rin, kamu pasti akan tidur bersamaku. Aku akan meraihmu, lambat atau cepat. Sejak saat itu aku selalu menunggu kesempatan. Aku tak pernah menolak permintaan pinjaman uang Herman, karena memang aku selalu gunakan kesempatan itu untuk melihat Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat bisnisku mendapatkan kesulitan keuangan. Tagihan-tagihanku agak tersendat karena para langgananku mengulur waktu pembayarannya. Sementara para pemasokku yang dari berbagai daerah gencar banget menagih aku. Bahkan salah satu dari mereka mengancam aku secara fisik hingga aku khawatir akan keselamatanku maupun keluargaku. Aku menghadapi krisis berat, krisisnya bisnis di tengah metropolitan yang kejam. Aku kewalahan. Aku coba tengok-tengok kembali dimana uang-uangku. Dimana tunggakan-tunggakan macet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kudapatkan dari sekian penunggak hutang salah satunya adalah Herman. Ternyata pinjaman Herman padaku sudah kelewat besar dan telah jauh melewati batas waktu pembayaran. Ah, ini tak boleh kubiarkan. Aku tahu bahwa tak akan gampang bagi Herman melunasi hutang-hutang ini. Tetapi aku harus menagihnya. Bukankah terakhir ini dia suka pasang lotere buntut. Siapa tahu dia dapat pukulan telak yang bisa langsung melunasi seluruh hutangnya. Dan kalau toh tak bisa juga?&lt;br /&gt;Bukankah ada Rini istrinya yang sangat seksi itu? Aku pikir biarlah hutang itu kuanggap lunas kalau aku bisa meniduri Rini barang 2 atau 3 hari saja. Kini kuperintah orangku untuk mendatangi Herman dan mengajukan surat tagihannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa kali mencari-cari orangku tak berhasil menemui Herman aku mulai kesal. Masak bantuan dan kebaikanku padanya selama ini tidak dihargai. Setidak-tidaknya ada omongan atau janji kapan, begitu loh. Aku tersinggung dan marah. Herman ini mesti dikasih pelajaran. Dia harus tahu bagaimana aku Pakdenya menyelesaikan masalah-masalahnya. Aku harus cari siasat. Aku coba pikirkan dan analisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulanku akhirnya, bahwa Herman tak akan mampu membayar hutangnya. Kuhitung telah lebih dari 15 juta rupiah, belum termasuk bunganya. Itu jumlah yang besar buatku kini. Aku tak mau rugi. Aku tak mau hasil jerih payahku begitu saja diambil Herman yang memang dasarnya pemalas itu. Aku harus mendapatkannya kembali uang itu. Kalau nggak bisa juga, aku harus dapatkan pengganti yang kira-kira nilainya sepadan. Rini, istrinya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini Herman tinggal pilih, bayar hutang dengan uang atau Rini. Aku bergegas ke mejaku. Kutulis surat untuknya. Kuperintahkan orangku kembali mengantarkannya dengan pesan, kalau tak ketemu Herman, serahkan saja ke isterinya, suruh dia baca untuk disampaikan ke suaminya. Aku bersiasat dengan memberikan nada harapan pada surat itu. Aku minta datang ke kantor siang hari itu. Aku bilang jangan khawatir, ada jalan keluar yang sama-sama menguntungkan, tulisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, akhirnya datang juga si pecundang ini. Dengan diantar Satpam dia masuk keruangan kerjaku. Aku menampakkan wajah sangarku. Kuperintah Satpamku agar menunggu dan mendengarkan bicaraku. Nampak wajah lelahnya. Aku bicara garang tentang hutangnya yang sama sekali belum dibayar. Aku berikan padanya kesempatan untuk mendengar bicaraku atau urusannya jadi lain. Nada bicaraku kubuat sangat menekan dia. Dan ternyata Herman langsung menyerah. Dia bilang terserah bagaimana aku. Yang penting dia ingin lekas terbebas dari hutang-hutangnya yang menumpuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku langsung bayangkan bahu bidangnya Rini. Juga betisnya yang bak beras Cianjur yang matang itu. Kutolehkan kepalaku ke Satpam. Kusuruh dia keluar ruangan. Kemudian aku mendekat ke Herman, kupegang bahunya dan kudekatkan bibirku ke telinganya, aku berbisik. Kuucapkan apa mauku. Aku mau mengajak Rini ke villaku selama 3 hari dan aku mau juga dia ikut untuk menggantikan tugas pelayanku yang kusuruh pulang selama aku bersama Rini di sana. Hal ini aku lakukan agar pelayanku itu tidak melihat apa yang kuperbuat dan lapor pada istriku. Kutekankan pula bahwa semua ini karena ulahnya yang tidak bertanggung jawab. Dia harus menerima pelajaran dariku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku belum selesai bicara saat kulihat Herman nampak limbung dengan cahaya matanya yang layu. Dia rebah lemas ke lantai. Aku panggil kembali Satpamku untuk mengurusinya. Kuserahkan amplop berisi 20 lembar ratusan ribu rupiah berikut sedikit catatanku agar Rini bersama dia telah siap aku jemput besok jam 7 pagi. Aku percayakan pelaksanaan selanjutnya pada Satpamku, aku tinggalkan ruangan. Aku monitor sorenya. Tidak ada reaksi penolakkan dari Herman. Yaa.., dia nggak mungkin punya lain pilihan. Dan mengenai Rini. Aku yakin Rini tak akan menolakku. Aku masih ingat beberapa hari yang lalu saat aku mencuri ciuman dibibirnya, dia tidak menunjukkan kemarahan. Ah.. besok aku akan menikmati tubuh sensualnya. Aku menggigil menahan gelora birahiku yang langsung menyala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga hari di Villa Rimbun Ciawi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu pagi hari, sekitar jam 7 pagi sebuah sedan Honda Civic keluaran terbaru dengan remnya yang berdernyit berhenti di depan rumah keluarga Herman. Seorang sopir yang amat sopan nampak turun, masuk kehalaman dan memberikan salam hormat kepada nyonya rumah yang rupanya sudah nampak tak sabar menunggunya. Tidak terlalu lama sang sopir menunggu, tuan dan nyonya rumah mengambil koper atau cangkingan lainnya yang telah disiapkan sebelumnya. Sesudah semua barang bawaan masuk ke begasi, Herman sang tuan dan Rini sang nyonya memasuki mobil. Ada sedikit insiden kecil. Rini mau Herman duduk di depan bersama sopir dan dia sendirian di belakang. Semula Herman menolak, dia ingat pesan Pakdenya mereka harus nampak sebagai suami istri yang akan memakai villanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi melihat kukuhnya Rini akhirnya Herman mengalah. Sepanjang hampir 1 jam perjalanan keduanya tidak banyak bicara. Hanya sesekali terdengar Herman ngomong sama sopir mengenai apa yang nampak sepanjang perjalanan. Adapun Rini kelihatannya sedang berusaha untuk menenangkan dirinya. Dia yang telah memutuskan dirinya sebagai pengambil keputusan bagi dirinya sendiri kini nampak tegar dan yakin akan keputusannya sebagai orang yang bebas dan merdeka untuk menentukan apapun yang terbaik bagi dirinya.&lt;br /&gt;Walaupun saat ini dia masih dikuasai rasa muak dan telah kehilangan selera sama sekali untuk berbicara atau melihati tingkah suaminya itu, dia tetap berusaha untuk menghilangkan berbagai rasa kecewa dan dendam kepada siapapun teristimewa kepada Herman. Yang dia inginkan sekarang adalah menunjukkan kepada Herman bahwa dia berbuat apapun yang bisa dia perbuat sesuai keinginan hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman yang tadi malam baru pulang jam 11 malam untuk menunggu keluarnya nomer togel tidak memahami apa yang tengah berkecamuk pada diri istrinya Rini. Yang dia simpulkan hanya bahwa Rini ternyata mau menerima apa yang menjadi keputusan Pakde Karto. Dan itu artinya dia telah sukses dalam menjalankan misinya demi terbebasnya beban hutangnya pada Pakde Karto. Dia sudah tidak lagi dikuasai rasa cemburu atau rasa tertekan yang lain. Memang Herman termasuk lelaki yang paling mudah menyerah. Dengan sikapnya yang sabar dan selalu mau berpikir positip dia dengan cepat beradaptasi dengan kekalahannya. Tentu saja cara begini ini membuat rancu antara orang sabar dengan pikiran positif yang sejati versus orang yang memang tidak memiliki motivasi, daya juang dan stamina untuk bertahan di tengah berbagai kesulitan hidup macam si Herman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bangunan Villa Rimbun Ciawi milik Pakde Sastro ini relatip kecil dibandingkan halamannya yang hampir seluar 2 hektar itu. Dalam vila ada 2 kamar tidur, 1 utama yang besar lengkap dengan kamar mandi di dalam dan yang lainnya lebih kecil. Ada dapur yang lengkap dan ruang tamu berikut perabotannya yang sangat nyaman. Di belakang rumah ada taman yang asri lengkap dengan kali kecil yang mengalir di dalamnya. Nampak dikejauhan lebih ke belakang hutan pakis dan pinus yang bersuasana sangat alami. Kesejukkan pegunungan di kawasan Ciawi ini membuat villa ini terasa sangat romantis dan tepat bagi mereka pasangan yang sedang berbulan madu. Setelah menyerahkan kunci villa bersama amplop surat Pakde Karto khusus untuk Rini dan bungkusan besar berisi makanan untuk siang itu, Pak sopir minta pamitan untuk balik ke Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepulang Pak sopir, Rini cepat membuka surat itu. Herman tahu menempatkan diri. Dia berpura tak acuh, berdiri dan jalan ke beranda. Pakde bilang agar Rini menempati kamar utama yang besar, dan Herman memasuki kamar di sebelahnya yang kecil. Pakde akan datang sekitar jam 3 sore, karena masih ada beberapa pertemuan di Jakarta. Tanpa bicara Rini kemudian menyerahkan surat itu kepada Herman agar tahu apa yang dimaui Pakdenya. Dengan membanting pintu dan menguncinya Rini memasuki kamar utama sesuai kemauan Pakde Karto. Dan Herman langsung mengangkat tasnya sendiri ke kamarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.. kamar ini.. betapa mewah dan nyamannya.. Diarah samping nampak jendela besar dengan pintu ke beranda yang memberikan pemandangan indahnya alam pegunungan. Sesudah menaruh kopernya Rini mengamati interior kamarnya. Di samping ranjang mewah yang beralaskan sutra dia dapati vas besar dengan kembang mawar merah yang segar. Haahh.. tentunya sesorang telah menatanya sebelum dia datang. Mungkin Pakde yang, siapa tahu, nginap disini tadi malam dan menyiapkan segalanya, kemudian subuh balik ke Jakarta. Ah.. ada surat kecilnya..&lt;br /&gt;“Rini sayangku.. aku mencintaimu .. Karto.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat di pojok itu. Bukankah itu wewangian aroma therapy di atas lilin kecil dari Korea yang sangat mahal itu? Sangat romantis. Rini sangat tersanjung dengan pernik-pernik itu. Sungguh pintar bulusnya Pakde Karto ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rini ingin tahu lebih banyak lagi apa yang telah diperbuat Pakde Karto. Dia temukan baju tidur lembut tergantung di lemari pakaiannya disamping beberapa gaun-gaun mewah dan baru yang juga siap pakai. Dia pastikan semuanya itu untuk dia. Sesuatu yang belum pernah dia dapatkan dari suaminya sendiri. Dia ambil gaun-gaun itu dan bak peragawati dia memantas-pantaskan gaun-gaun itu pada tubuhnya di depan cermin. Sesekali dia senyum ketika menerawang ke cermin. Ah, bukankah kamu memang cantik dan luwes, Rin. Semua busana-busana itu dalam ukuran yang sungguh tepat untuk tubuhnya. Bukan main Pakde ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berjam-jam dan hampir sepanjang hari Rini menyibukkan dirinya di kamar utama itu. Dia kembali membaca surat kecil romantis itu, Dia kembali mengamati wewangian mahal dari Korea itu dan berkali-kali mencoba pakaian-pakaian indah dan mewah yang bermacam dalam lemari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara itu Herman memasuki kamarnya. Tidak ada yang istimewa dia temukan dalam kamar itu. Mungkin ini kamar yang biasa dipakai pelayan atau penunggu villa ini. Nampak ranjangnya ditutup dengan sprei yang sudah lusuh. Kalau toh ada semburat wewangian itu karena aroma therapi yang semerbak menyebar keluar dari kamar utama dimana kini Rini berada. Sementara satu-satunya pemandangan adalah jendelanya yang justru menghadap ke arah jalanan dengan lalu lalang berbagai macam kendaraan yang melintas. Selebihnya adalah dinding-dinding kamar yang menjadi batas kamarnya dengan kamar Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ohh.. tunggu dulu. Bukankah ini dinding artistik buatan dari papan-papan kayu pegunungan. Dan lihatlah, papan-papannya yang artistik ini penuh celah-celah dimana sesorang bisa mengintip ke kamar sebelahnya. Nah, aku bisa ngintip Rini, dong. Sedang apa dia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan itu yang kemudian dilakukan Herman. Dan, ah.. benar.. dia kini bisa melihat istrinya sedang memantas-mantas dirinya dengan busana-busana indah yang pasti telah tersedia baginya. Ah, betapa cantik istriku Rini, begitu kata hatinya. Memang dia selalu bangga akan kecantikkan istrinya. Dan Herman tahu banyak lelaki yang kepingin bisa tidur dengan Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dia membayangkan sesaat nanti akan menyaksikan dari celah papan ini bagaimana Pakde Karto si bandot tua itu melahapi tubuh cantik isterinya itu. Ah, jangaann..!!&lt;br /&gt;Tiba-tiba kembali Herman disergap rasa sakit dan cemburu yang menyala-nyala. Rasanya tak mungkin dia bisa rela menyaksikan Rini dalam pelukan Pakdenya. Dan akan melihat bagaimana Pakdenya melepasi satu-satu pakaiannya hingga istrinya bertelanjang. Dan bahkan dia akan dalam rengkuhan penuh birahi Pakde Karto yang juga akan sama-sama telanjang. Tiddaakk..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman kepingin membenturkan kepalanya ke dinding-dinding kamar itu. Tetapi kenapa?? Bukankah karena pengorbanannya dan juga pengorbanan istrinya hutangnya yang kini mencekik lehernya itu akan lunas? Bukankah dia akan terlepas dari beban yang tak tak terelakkan itu? Dan Pakdenya tidak lagi mengejar-kejarnya? Ah.., aku rasa pantas apa yang mesti aku terima kini. Dan itu artinya, nilai istrinya tidak murah. Bayangkan hutang yang lebih dari 15 juta rupiah cukup dibayar dengan membiarkan Pakdenya tidur dengan isterinya selama 3 hari. Dan bukankah sesudah itu dia bisa kembali memiliki Rini untuk selamanya? Hanya 3 hari, Man!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pikiran terakhirnya ini langsung meredakan perasaan marah, sakit dan cemburunya. Dia kembali ke lubang pengintipan. Tiba-tiba dia merasakan hal yang aneh pada dirinya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Celananya langsung berasa sesak. Kini kemaluan Herman ngaceng saat membayangkan istrinya digauli Pakdenya. Memang terbersit rasa cemburunya kembali, tetapi dia juga membayangkan bagaimana nanti saat Rini menerima kenikmatan syahwat yang dilepaskan oleh Pakdenya. Bagaimana nanti dia mendengar rintihan dan desahan-desahan nikmat Rini sekaligus nafas-nafas yang memburu dari Pakde Karto. Bagaimana nanti tubuh telanjang Rini bergesekkan dengan tubuh telanjang Pakdenya untuk bersama-sama mendayung birahi dan melepaskan dendam-dendam nafsunya. Bagaimana nanti bibir Pakdenya yang melumati pentil susu istrinya dan sementara kemaluan Pakde berusaha mencari jalan untuk menembusi kemaluan istrinya. Dan bagaimana nanti saat kemaluan Pakde, yang dia yakin ukurannya pasti lebih hebat dari miliknya, menerjang dan merobek bibir kemaluan isterinya. Dan bagaimana nanti dinding-dinding vagina Rini dirundung rasa gatal kemudian mencengkerami batangan bulat besar dan panjang milik Pakdenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah.. sudah, sudah, sudaahh..!! Herman langsung lari keluar kamar. Dia nggak mau dikejar bayangannya sendiri. Dia menghambur ke taman dimana ada kali kecil yang mengalir di dalamnya. Dia hendak melupakan segala sakit dan cemburunya dengan menyibuki diri menangkapi ikan dan udang kecil dari kali itu untuk dilepaskannya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Pakde Karto datang Rini tidak pernah keluar dari kamarnya. Hari itu sama sekali tak ada dialog antara Herman dan Rini sebagai suami isteri. Nampaknya Rini memang menghindar dari kemungkinan dialog itu. Rini pasti kecewa padaku, demikian pikir Herman. Ah biarlah, yang penting dia sudah mau menuruti kemauan Pakdenya. Bayangkan seandainya Rini menolak, apa yang akan menimpa dirinya nanti. Dia bayangkan Satpam Pakdenya yang kekar berotot itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto datang lebih lambat dari janjinya disebabkan kemacetan lalu lintas saat memasuki gerbang tol Jagorawi. Begitu mobilnya memasuki halaman Pakde Karto turun dan melemparkan kuncinya kepada Herman yang telah siap di depan gerbang untuk berlaku sebagai pengganti pelayannya. Kini dialah yang harus membersihkan atau mencuci mobilnya sesudah perjalanan yang penuh debu dan kotor dari Jakarta itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dalam rumah nampak Rini yang istrinya memperhatikan perlakuan Pakde pada suaminya. Tak terbersit sedikitpun keharuan Rini pada Herman. Rini akhirnya bisa menerima apa yang kini harus dilakukan suaminya. Suatu imbalan yang setimpal atas kepengecutannya sebagai lelaki maupun sebagai suami. Dan kini juga ingin menunjukkan pada Herman bahwa kini dia bulan Rini yang dulu. Dia kini adalah Rini yang bebas dan merdeka yang bisa mengambil keputusan apapun yang dia mau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu Pakde Karto memasuki teras rumahnya, secara menyolok didepan suaminya Rini keluar dari dalam untuk menyongsongnya. Sambil menebar senyuman dia menggait lengan Pakde Karto memasuki villanya. Herman hanya bisa mengikuti dengan ekor matanya. Dan Rini, lihatlah, dia seperti dewi dari surga. Rini mempersiapkan dirinya secara maksimal untuk menyambut Pakde. Dia memakai busana yang paling sensual. Nampak dari bahu dan dadanya yang setengah terbuka. Bahunya yang bidang itu menyajikan pesona sebersit ketiaknya sedemikian sensual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto terpana. Dia tidak menduga bahwa Rini sedemikian antusias menyambut kedatangannya. Sebelumnya dia masih berpikir bahwa akan ada sedikit atau banyak kesulitan dalam menghadapi Rini ini. Ada apa? Mungkinkah ini merupakan ungkapan kekesalan Rini pada Herman suaminya? Ah, .. Pakde Karto tak sempat berpikir jauh. Parfum Rini telah menyeret naluri syahwatnya terbang ke-awang-awang. Rini langsung menggelandang Pakde menuju kamarnya. Ah, nanti aku akan tahulah, demikian acuhnya sambil menyambut rangkulan Rini pada lehernya, tangan-tangan Pakde merengkuh pinggul Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka kini saling berpagut. Kehausan bertahun-tahun Pakde Karto pada Rini kini tertumpahkan. Dan bagi Rini inilah puncak pelampiasan dari tumpukkan kemarahan, kekesalan dan kekecewaan pada kehidupannya yang telah beberapa waktu terus menjepit dan menyengsarakannya. Dia terus berusaha menapaki kehidupan yang baru ini. Tanpa ragu-ragu, tangannya dengan terampil melepasi ikat pinggang Pakde Karto. Dia ingin selekasnya menjamah khayalannya. Dia ingin merasakan apa yang pernah dia rasakan dulu bersama Pandi di pantai Parangtritis. Kalau waktu itu gemuruhnya ombak Samudra Hindia, maka kini gemuruh nafsu birahi di dadanya yang akan mengiringi pelampiasan syahwatnya. Gemuruh nafsu birahi Rini dan kehausan syahwat yang amat sangat Pakde akhirnya bertemu dalam kamar Villa Rimbun Ciawi ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan halnya Herman yang telah siap menerima apapun yang harus dia saksikan. Bahkan kini dia sudah memiliki solusi. Dia akan ikut menikmati apa yang terjadi dari balik dinding artistik kamarnya. Dia akan menyaksikan adegan-adegan yang pasti bisa merangsang birahinya. Dan dia akan bisa meraih kepuasan syahwat juga seperti mereka berdua. Dan kini kembali rasa sesak langsung memenuhi selangkangan celananya. Tangannya bergerak membetulkan letak kemaluannya untuk mengurangi jepitan celananya yang menyakitkan.&lt;br /&gt;Sesudah dengan cepat menyelesaikan tugasnya Herman kembali memasuki kamarnya. Dengan hati-hati dia mulai mengintip dari celah papan itu dan menyaksikan ulah Pakdenya bersama Rini isterinya. Nafasnya terdengar memburu sejalan dengan apa yang dia saksikan melalui celah dinding papan artistik itu. Dia lihat bagaimana Pakdenya bersama istrinya bercumbu. Nampak celana Pakdenya telah merosot ke lantai dan tangan istrinya menggenggam kemaluannya yang gede panjang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Edan, penis Pakde itu.. penis kuda.., Duh penis Pakdee.. penis ituu..,” teriakkan histeris dari hati Herman melihat kemaluan Pakdenya yang membuatnya terpana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia benar-benar terpesona dengan penis Pakdenya. Dan lebih-lebih lagi saat menyaksikan tangan indah dan manis isterinya yang biasa memegang berbagai macam makanan cattering pesanan tetangga itu kini menguruti batang penis yang berkepala mengkilat kecoklatan. Sementara Pakdenya dengan buas menyedot dan menggigiti dari leher turun ke susu dan puting-putingnya hingga membuat Rini menggeliat dan mendesah hebat sambil matanya merem-melek dan kepalanya tergeleng-geleng dan mendongak kelangit-langit kamar utama Villa Rimbun Ciawi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Blusnya sudah lepas entah ke mana. Susu-susunya nampak ranum menggunung dan putingnya mencuat siap untuk lahapan haus nafsunya Pakde Karto. Sesekali kedengaran sentakan rintihannya. Itu disebabkan sesekali gigitan Pakde menyentuhi saraf-saraf peka pada buah dadanya yang sangat ranum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa melepas pagutannya mereka bergeser dan bergeser untuk menuju rebah di ranjang. Masih dalam busana atas yang lengkap dengan dasinya yang setengah copot, sementara bagian bawahnya sudah telanjang bulat Pakde Karto menindih Rini. Ditelentangkannya kedua lengan Rini ke atas hingga kedua ketiaknya terbuka. Kemudian dengan penuh kehausannya Pakde Karto menyosorkan bibirnya melumati lembah-lembah indah ketiak Rini. Rini mendesah sambil bergelinjangan menggeliat-liat. Tak diragukan, pasti akan banyak nampak cupang-cupang bekas sedotan-sedotan ganas pada ketiak itu nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kini Herman melihat mereka sambil mulai mengelusi kemaluannya sendiri. Kupingnya menikmati rintihan atau desahan istrinya. Sementara tangannya terus mengikuti alur sedotan dan jilatan Pakde yang turun dari ketiak ke lembah dan bukit di dada Rini isterinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman agak kesal, posisi Pakde Karto yang mencumbui istrinya tak nampak jelas disebabkan celah papan ini kelewat sempit. Yang jelas bisa dia tangkap jelas tinggalah suara-suara penuh iba nikmat. Betapa rintihan Rini dan dengus Pakdenya saling bersahut telah membuat dirinya semakin blingsatan karena terbakar birahinya. Tanpa sepenuhnya dia sadari, dia juga ikut-ikutan melepasi celananya, hingga tinggal kolornya yang tinggal. Tangannya merogoh kolor itu dan mengurut dan memijit-pijit kemaluannya. Herman ikut terbawa melayang bersama Pakde yang sedang melahap rakus isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat turun dari ketiak, ciuman dan lumatan Pakde meratai lembah dan bukit di dadanya, Rini nampak menggelinjang hebat. Pinggulnya menggeliat dan meliuk-liuk menahan kegelian yang amat sangat seperti ikan moa yang terlepas buruannya dan secepatnya berusaha menangkapnya kembali. Dan Herman juga semakin kenceng merabai kemaluannya sendiri sementara wajah Pakde Karto makin merosot ke perut isterinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak pelak lagi Rini mendesah keras dan tangannya seakan mengiringi desahannya menangkap kepala Pakde Karto dan menjambaki rambutnya untuk menahan badai birahinya. Dan Pakde semakin menggila. Kini bibirnya sudah me-lamuti bulu-bulu kemaluan Rini dan kemudian meluncur cepat ke bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampak banget bagaimana bibir Pakde Karto mencaplok untuk melumati bbir vagina Rini. Lidahnya yang menjilat sambil menyeruak menusuki vaginanya membuat Rini histeris. Tingkahnya yang jatuh bangun disertai derasnya desah dan rintih memaksa Herman mempercepat pijitan dan remasan pada kemaluannya, bahkan kemudian dengan cepat merubahnya menjadi kocokkan ritmis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil terus melototkan matanya untuk menembusi lubang intaian yang sempit, kocokkan Herman yang semakin cepat nampak seperti pompa piston lokomotif diesel penarik Parahyangan Ekspres. Herman tak tahan lagi untuk menahan spermanya. Dan terjadilah orgasme Herman. Yaitu orgasme pertama yang diraih berkat menyaksikan istrinya meliuk-liuk merasakan hebatnya nikmat digauli orang lain yang bukan suaminya. Rasanya inilah spermanya yang paling banyak tertumpah semenjak perkawinannya dengan Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde secara intensif memberikan kepuasan penuh sensasi syahwat pada Rini. Dia melakukan oral seks secara habis-habisan padanya. Lidahnya yang besar dan kasar tentunya menyentuhi organ-organ vagina yang peka dan lembut mlik Rini. Dan akibatnya tak terkatakan lagi, Rini bak kesetanan. Tenaganya berubah menjadi sangat kuat. Kedua pahanya yang berposisi menjepit leher Pakde menekan bahu Pakde untuk menaikkan pinggul dan mengangkat pantatnya. Tujuannya jelas agar tusukkan lidah Pakde bisa lebih jauh menembusi lubang vaginanya. Kegatalan yang amat sangat pada vaginanya itu pula yang membuat kedua tangannya terus menariki kepala ataupun rambut Pakde untuk lebih menekankan ke arah kemaluannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde yang sangat berpengalaman ‘ngerjain’ para perempuan, tahu bahwa Rini sudah menunggu penisnya yang kini juga telah melar keras untuk secepatnya menusuki vaginanya. Dengan akar-akar sarafnya yang mengitari geligir batangnya serta desakkan darah yang menumpuk pada kemaluannya hingga membuat sang penis itu membengkak besar dan kepalanya licin mengkilat, kini Pakde sigap merubah posisi. Ditariknya kedua tungkai kaki Rini hingga arah vaginanya tepat di pinggiran ranjang. Kemudian dia angkat salah satu tungkainya untuk disandarkan pada panggulnya di bahu. Dengan cara itu Pakde mengasongkan penisnya yang sudah matang itu ke lubang kenikmatan vagina Rini. Sekali.., dua kali..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman kembali mengintip. Sesudah beberapa kali kepala penis Pakdenya yang besar sedikit kesulitan menembusi vagina istrinya yang sempit. Pada tusukkan yang kesekian kali disertai desisan panjang dan kemudian disusul dengan teriakkan nikmat, akhirnya penis gede itu berhasil menembus vagina Rini istrinya. Bleesszz..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan itu semua kemaluan Herman cepat kembali menegang. Dan agar menjadi leluasa, Herman melepas pula celana kolor berikut celana dalamnya. Dan tangannya kembali mengelusi sambil berharap bisa selekasnya tegak kenceng lagi. Herman ingin meraih orgasmenya yang kedua.&lt;br /&gt;Disaksikannya Pakde Karto mulai memompa istrinya. Dan Rini sang istri benar-benar tak berdaya oleh serangan syahwatnya. Sambil meracau dengan ucapan kata-kata erotis kotor di tengah desisan-desisannya, dia meremasi sprei atau bantal atau apa saja yang bisa diraihnya hingga ranjang itu berantakkan. Kepalanya bergoyang keras ke kanan dan kiri sambil melempar-lemparkan rambutnya yang indah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan dari arah lebih tinggi dengan satu kaki isterinya di panggulannya mata Pakde Karto mengamati tingkah Rini serta menyimak segala racau dan desisan histerisnya itu. Dia mainkan pompaannya seakan berputar menyodok ke kanan atau kekiri atau ke atas atau ke bawah. Itulah ‘multi jurus’-nya Pakde. Dengan cara itu vagina Rini serasa di-ubek-ubek. Gatalnya tak lagi tertolong. Dan karena itu pula kini Rini mulai menapaki puncak kenikmatannya. Rini mulai menyongsong orgasmenya yang sejati. Orgasme yang rasanya belum pernah dia raih dari siapapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman tahu, selama ini belum pernah melihat isterinya sedemikian histeris sebagaimana yang dia saksikan kini bersama Pakde Karto. Rupanya Pakdenya ini tahu benar apa yang ditunggu Rini. Dan kini dia sedang suguhkan itu. Dari racau dan geliat serta menghebatnya remasan-remasan tangannya pada apapun yang dia raihnya, Rini kini menggelinjang hebat. Pinggulnya dia angkat-angkat tinggi-tinggi serasa hendak menjeputi kemaluan Pakde agar menusuk lebih dalam lagi ke vaginanya. Dan ketika akhirnya puncak-puncak itu benar-benar datang, wajah Rini langsung berubah ganas. Matanya menjadi nanar tanpa titik pandang. Dengan teriakkan bak hyena kelaparan Rini bangkit mendorong dan merubuhkan Pakde untuk ganti rebah telentang ke kasur. Dia ‘cengklak’ tubuh Pakde seperti seorang joki men’cengklak’ kudanya. Dengan gaya seakan hendak duduk tangannya merogoh dan meraih penis Pakde untuk dia tusukkan ke vaginanya, dan dengan cepat vaginanya langsung menelan amblas seluruh batangan kemaluan Pakde. Kini Rinilah pemegang kendali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat dia menaik turunkan pantatnya memompakan penis Pakde ke vaginanya. Herman melotot mengamati vagina Rini yang bisa memuntahkan dan kemudian menelannya kembali kemaluan gede panjang milik Pakde Karto. Dari arah belakang pantatnya, nampak oleh Herman bagaimana bibir vaginanya ketarik keluar dan kedorong masuk terbawa oleh keluar masuknya kemaluan Pakde yang memang sangat sesak dan sarat memenuhi belahan dan rongga vagina isterinya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya datanglah malaikat nikmat itu.. Rini seakan membantingkan tubuhnya ke tubuh Pakde. Dia menggigit dada dan mencakar-cakar punggungnya. Vaginanya berdenyut keras menghisap-isap atau melumat-lumat batang kenyal milik Pakde. Itulah tanda bahwa orgasme beruntun-runtun sedang melanda Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin runtunan orgasmenya itu berlangsung hingga 20 atau 30 detik sebelum akhirnya tubuhnya gugur dan rubuh dengan keringatnya yang mengucur menindih dan membasahi tubuh Pakde Karto. Villa Rimbun Ciawi yang sebelumnya berubah menjadi panas oleh radiasi yang memancar dari tubuh indah Rini kini sejuk kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik dinding Herman juga ikutan terkapar bersama tarikan-tarikan nafas panjangnya. Dimatanya dia menyaksikan Pakde Karto telah menunjukkan peranannya sebagai pelayan seks yang benar-benar hebat. Herman merasa banyak belajar dari apa yang dia lihat hampir selama 1 jam ini. Pakde bisa membaca arah kemana Rini mau. Dia mengejar kepuasan tetapi dia meyakini kepuasannya akan dia raih apabila Rini, lawannya telah lebih dahulu terpuaskan. Dan bagi dia, sebagai lelaki, kepuasannya tidak perlu diraih seketika. Dia masih memerlukan stamina untuk berjalan lebih panjang. Sebagai lelaki memerlukan stamina macam itu lebih dari perempuan. Dengan cara itu rupanya Pakde Karto akan menikmati sepanjang malam pertama ini. Dan Herman mulai mengerti, bagaimana Pakde Karto akan mampu melayani Rini kapan saja, setiap saat. Dan segala marah, sakit atau cemburu akan sia-sialah di depan Rini sepanjang dia tidak mampu melakukan seperti yang Pakdenya bisa lakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu sesudah permainan pertama, yang mungkin oleh Pakde hanya dipandang sebagai pemanasan, mereka berdua mandi bersama. Cukup dengan teriakkannya Pakde menyuruh Herman untuk menyalakan gas LPJ yang membakar water heater di kamar mandi utama. Sesudah mandi air hangat, dengan keduanya memakai mantel tidur lembut yang tersedia di kamarnya Pakde bersama istrinya bercengkerama di beranda villa. Atas permintaan Rini Herman disuruh Pakdenya untuk membeli sate kambing di warung sate sebelah villanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu Rini bersama Pakde menikmati sate kambing panas di meja makan. Herman mesti sabar menunggu mereka selesai makan untuk bisa ikut menikmati sate kambing dingin sisa mereka. Dia menerima semua perlakuan ini dengan sabar dan berpikir positip. Ahh.. Herman.. Herman.., hebat kau..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai makan Rini dan Pakde pergi ke beranda dan duduk berhimpit di sofa. Villa bulan madu ini seakan memang dibuat untuk mereka. Dari balik pot-pot tanaman di samping beranda Herman merunduk mengintip diantara dedaunannya. Herman yang mentalnya sudah jatuh menjadi mental pelayan itu melihat bayang-bayang istrinya dalam rengkuhan Pakdenya kembali. Dia amati betapa asyik istrinya dan Pakdenya saling berpagut bertukar lidah dan ludah. Dan lihat, betapa agresifnya si Rini. Tak pernah dia bersikap begitu pada dia selama masa perkawinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia saksikan bagaimana tangan Rini yang demikian lancar melepasi ikatan tali. Dengan sekali renggut lepaslah temali mantel tidur itu hingga tubuh Pakde langsung terbuka. Kemudian dengan rakusnya bibirnya kembali menyambar bibir Pakde Karto sambil tangan kanannya, tangannya yang cantik dengan jari-jarinya yang lentik itu meremas dan mengelusi batangan gede penis Pakde Karto. Ah, Rini.. Riniku.., batin Herman yang menangisi isterinya.&lt;br /&gt;Rini meliukkan lehernya. Kepalanya menggiring bibirnya meluncur ke leher Pakde. Dia memberikan sedotan cupang di seputar leher dan kuduknya. Bulu-bulu Pakde tegak merinding.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kecupan dan jilatan itu mendongkrak saraf-saraf birahinya. Dan bibir seta lindah terus merambat meluncur turun ke dadanya. Dia kecupi buah dada Pakde dan bibirnya serta lidahnya menggigit dan menjilati puting-puting susunya. Nampak betapa bibir-bibir mungil istrinya membuka dan mengatup mengecupi bukit-bukit dada itu. Sesekali lidahya menjulur untuk menjilati berbagai rasa yang keluar dari pori-pori tubuh Pakdenya. Kini yang didengar Herman adalah desis Pakde yang menahan geli birahi akibat ulah istrinya itu. Tak puas-puasnya Rini menyedoti dada Pakde. Terkadang rambatan bibirnya juga menepi ke kanan atau ke kiri dada hingga semburat aroma ketiak Pakdenya yang tampan itu menerpa hidung Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambatan ciuman itu terus meluncur turun keperut Pakdenya. Bulu-bulu halus mulai Rini rasakan di lidahnya. Bulu-bulu itu tumbuh berkesinambungan dari arah lebih bawah lagi. Bulu-bulu itu menjadi awal bagi lidah dan bibir Rini memasuki wilayah kemaluan Pakde Karto. Nampak penisnya yang tegak kaku bak tugu Monas itu seakan mengganjal leher dan bahu Rini. Dengan pipinya Rini menyisihkan batang tegak kaku itu untuk membuka jalan menggiring bibirnya terus turun hingga ke selangkangan Pakde. Beberapa kali Pakde menyibak sebaran rambut Rini agar tidak mengganggu alur lidah dan bibirnya yang terus berkecipak menyedot dan menjilat. Dia rasakan sangat nikmatnya bak siput sawah yang sedang merambati wilayah selangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja kini posisi duduk Pakde harus disesuaikan dengan kejaran nikmat bibir Rini ini. Dia memerosotkan tubuhnya pada bantalan sofa itu untuk memberikan ruang yang lebih terbuka kepada Rini saat mulai menggarap kedua selangkangannya. Dan kini wajah Rini benar-benar terjebak dalam rimbunan bulu kemaluan di seputar selangkangan Pakde Karto. Sesekali nampak kepalanya menggeleng kecil untuk mendorong agar lidah atau bibirnya bisa menjangkau pori-pori selangkangan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nampaknya Pakde tak mampu menahan kegelian yang melandanya. Dengan kedua tangannya dia merengkuh dan menjambak rambut Rini. Dia merintih sambil seakan hendak mencabut-cabut akar rambut itu. Dan rintihan Pakde itu membuat Rini semakin ganas serta liar untuk meningkatkan serangan birahinya. Pipinya yang semula digunakan untuk menyisihkan penis, kini dia gunakan untuk menariknya kembali. Batangan penis Pakde yang tonggak kaku itu mulai dia jilati. Dia tusukkan lidah lembutnya pada lubang kencing Pakde. Lubang kencing yang nampak macam belahan jamur merang itu langsung merah merekah menahan desakan darah syahwat yang menjalari penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa nikmat saat lidah menyentuh saraf-saraf peka pada lubang itu. Gelinjangnya membuat Pakdenya seakan melonjak dari tempat duduknya. Mungkin itu semacam kekagetan saraf menerima sentuhan lembut lidah Rini yang sangat merangsang syahwatnya. Dan kemudian Rini mengkulum seluruh kepala dan batang penis itu. Dia memompa, menyedot, menjilat, mengkulum tonggak bulat panas yang kaku dan berkilatan dengan urat-urat yang kasar mengelilingi seluruh geligirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilik tonggaknya mendesah keras dan merintih dalam gelombang nikmat yang datang bertubi.&lt;br /&gt;Herman memperhatikan betapa mata istrinya merem melek menikmati kelakuannya sendiri itu. Dan juga bertanya, kenapa dia nggak pernah menerima perlakuan macam itu selama 3 tahun perkawinan ini?? Adakah ini karena kepiawaian Pakde Karto dalam menggiring birahi Rini? Sehingga membuat seluruh potensi syahwat istrinya terdongkrak keluar?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rambut Rini yang panjang sering menghalangi pandangan Herman pada apa yang sedang berlangsung. Nampaknya Rinilah yang sekarang ganti memanjakan Pakde Karto dengan oralnya. Dia ciumi dan jilat bijih-bijih pelir Pakde. Lidahnya bolak-balik melata merambati pangkal hingga ujung kemaluan yang tegak kaku itu. Pakde Karto tidak keliru membaca perempuan. Betul-betul kini dia serasa terbang melayang diangkasa nikmat. Apa yang kini sedang dilakukan Rini sesuai dengan bacaannya. Rini adalah perempuan seksual yang sangat galak dan panas. Perempuan dengan betis ‘merit’ macam istri Herman ini tak mudah dipuaskan. Oleh karenanya pada garapan awal tadi Pakde Karto pusatkan pada bagaimana Rini bisa cepat disambar syahwatnya hingga tinggal kehendaknya sendirilah yang akan mendorong cepat atau lambat datangnya orgasmenya. Dan itu sudah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini perempuan ini sudah kembali menimba birahinya. Kenikmatan orgasme beruntun yang dia rasakan tadi membuatnya ketagihan. Lihat, kini dia akan berusaha orgasmenya berulang kembali. Dia pikir dengan merangsang penisnya Pakde Karto akan cepat mengejar nafsunya. Dan harapan Rini untuk digenjoti lagi oleh Pakde akan kesampeyan. Tetapi dia keliru. Pakde Karto bukan anak kemarin sore. Dia bukan Herman. Kenikmatan yang kini diberikan Rini akan di ‘follow up’ di mulut Rini sendiri. Kini Pakde sedang mengamati dengan penuh nafsu bagaimana mulut cantik mungil Rini mengecupi penisnya. Dia mengamati bibir-bibir seksi istri Herman ini berkecipak melahap batang penisnya. Dia ingin bibir ini nantinya belepotan oleh semprotan spermanya. Dia ingin sekali menumpahkan air maninya ke mulut Rini. Dia pengin menyaksikan bagaimana Rini menenggak cairan kentalnya. Ya, dia ingin sekali. Bahkan dia mungkin akan sedikt paksa Rini untuk menjilati cairan kentalnya yang tercecer. Itulah nafsu hewaniah Pakde Karto yang kini merundung dirinya. Tangan-tangannya kembali mengelusi lembut kepala Rini, sementara khayalan birahinya terbang melesat ke awang-awang untuk menjemput puncak-puncak nikmatnya. Dia mulai mengerang dan mendesis. Dan Rini terjebak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menikmati erang dan desis Pakde dengan cara lebih meliarkan jilatan dan gigitan-gigitannya.&lt;br /&gt;Tetapi situasi berikutnya berubah. Kendalinya terlepas dan diambil alih Pakde Karto. Tanpa mau melepas rengkuhan Rini pada penisnya Pakde bangkit dari sofa empuk itu. Dibimbingnya Rini untuk naik kesofa dengan kepalanya bersandar pada ke bantalannya. Dengan penisnya yang tak pernah lepas dari mulut lembut Rini, kini posisi Pakde berada di atasnya dengan selangkangnnya mengangkang di atas dada Rini. Sementara Rini masih berpikir bahwa sesaat lagi Pakde akan merambati tubuhnya untuk menusukkan kembali kemaluannya pada vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sekali lagi harapan Rini ini keliru. Kini Pakde seperti sedang kerasukan nikmat dan merasakan bagaimana seakan spermanya datang dari seribu arah menjalari berjuta saraf-saraf di seputar selangkangannya untuk meledak dan tumpah di mulut Rini. Dan ketika batas batas sarafnya telah terlanggar oleh birahi, dengan suara erangan yang keras dari mulutnya dengan disertai tangan-tangannya yang kuat menekan kepala Rini agar tetap terpaku di sofa selama penis Pakde tetap menghunjam-hunjam ke rongga mulut Rini, Pakde telah siap menyemprotkan air maninya ke mulutnya. Dan Rini memang tak lagi mampu berkutik. Tekanan tangan Pakde terlampau kuat untuk ditolak. Akhirnya dia menyadari apa yang Pakde mau. Dia langsung pasrah. Bahkan selintas dia sempat berpikir tentang Herman. Biarlah Herman menyaksikan apa yang memang dia harus saksikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sperma Pakde tumpah ruah menyemprot membanjir memenuhi mulutnya. Anggukan-anggukan penis Pakde menandai setiap semprotan spermanya. Mulut manis mungil Rini tak mungkin menampung seluruhnya. Sebagian tertelan membasahi tenggorokannya, sebagian lainnya muncrat tercecer ke dagunya, dadanya dan juga ke jok kulit sofa buatan Italy itu. Saat akhirnya Rini benar-benar menjilati sperma yang tercecer dia ingat kembali saat bersama Pandi di Parangtritis itu. Dan Pakde Kartopun terpenuhi harapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman terbengong-bengong menyaksikan bagaimana nafsu liarnya Rini di atas sofa bersama Pakde Karto itu. Benar-benar tak habis mengerti, bahwa Rini yang kesehariannya cantik dan lembut itu bisa berubah menjadi malaikat seks yang dengan ganas membawa prahara birahi untuk menenggelamkan nafsu Pakdenya kedalam nikmat syahwat yang tak pernah dia berikan pada siapapun sebelumnya. Pakde Karto merasa bahwa menganggap lunas hutang suaminya amat sepadan dengan apa yang di berikan Rini kepadanya. Dielusinya dengan penuh kasih sayang kepala Rini yang kini bersandar di dadanya. Pakde mendapatkan kepuasan yang luar biasa dengan hadirnya Rini ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari balik pot-pot yang tidak jauh dari sofa Pakde dan istrinya Herman terduduk loyo. Sekali lagi ia semakin tak mampu berkilah lagi. Kepengecutannya sebagai lelaki membuat semakin tak mungkin mampu menyaingi kelebihan Pakdenya. Kesalahannya yang membuat tenggelam dalam judi togel itu membuat dia benar-benar tak lagi merasa punya hak untuk marah maupun cemburu. Dia akan sepenuhnya menerima apa yang dilakukan Pakde pada isterinya. Dari berbagai sudut dia sudah salah dan kalah total. Apalagi nampaknya Rini sendiri akhirnya demikian menikmati hubungannya dengan Pakde. Mungkin juga bagi Rini Pakde lebih bisa memberikan kepuasan nafsunya dibanding dia. Ya, sudahlah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang kini masih dia miliki adalah hak untuk ikut menikmati. Dia jadi begitu menyala birahinya kalau melihat isterinya di’entot’ orang lain. Dia sangat terobsesi saat melihat wajah isterinya begitu histeris oleh kenikmatan syahwat yang diterima dari Pakde. Dia sangat terobsesi pula saat melihat isterinya begitu rakus menjilati dan minum air mani Pakde Karto. Rasanya Herman juga ikut merasakan bagaiman lendir hangat Pakdenya mengalir membasahi tenggorokan isterinya. Dan lepas dari semua hal itu, yang benar-benar melegakan Herman sekarang adalah lunasnya hutang-hutangnya dari Pakde Karto. Dia kini siap menjalani hidup baru tanpa beban hutang-hutang. Dia kini bertekad untuk tidak lagi main togel. Dia akan mencoba menepis godaan teman-temannya. Atau mungkin dia tak akan bergaul lagi dengan mereka. Karena merekalah kini Herman merasa sengsara. Dan nyatanya pada saat seperti ini mereka tak mampu membantu apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat Pakde dan isterinya bangkit dari sofa menuju ke kamarnya. Adakah mereka akan melanjutkan permainannya. Sangat mungkin. Bukankah situasi macam begini yang Pakde impikan sejak pertama kali beberapa waktu yang lalu dia melihati Rini tanpa berkedip. Dan bagi Rini, bukankah lelaki macam Pakde ini yang telah terbukti bisa memuaskan syahwat birahinya?!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan bagi Herman, apa yang bisa dibuat selain kembali ke lubang pengintaian di balik dinding kamarnya?! Rupanya sate kambing tadi telah memberikan semangat dan kekuatan pada semua orang.&lt;br /&gt;Dari kamarnya Herman melihat Rini langsung rebah ke ranjang. Dalam jubah tidurnya yang nyaris tak dipakai secara utuh, Rini setengah tengkurap memeluki bantalnya. Nampak kaki dengan paha dan betisnya yang tersingkap dari pakaiannya terjuntai ke tepian ranjang. Dan Pakde dengan jubah tidurnya yang telah terbuka pula siap menyusul. Tetapi tidak. Pakde tidak menyusul naik ke ranjang. Pakde kini simpuh di lantai tepat di ujung kaki Rini. Apa yang akan dia lakukan? Ah, ini sangat menarik, pikir Herman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde pelan menjamah kemudian mengelusi kaki Rini. Dia raba betisnya yang ‘merit’ itu. Kemudian nampak kepalanya menunduk. Pakde mencium kaki Rini. Mencium telapak kakinya. Menciumi kemudian menjilati. Kemudian juga mengulumi jari-jari kakinya. Jari kaki Rini yang selalu terawat apik itu demikian indahnya dalam kuluman Pakde. Dan Rini seakan kena stroom ribuan watt langsung berteriak mendesisi-desis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia terbangun-bangun menahan geli yang menjalari kakinya. Tanpa terpengaruh oleh ulah isterinya nampak Pakde sangat tenang. Ditahannya dengan tangannya yang kuat kaki-kaki Rini sehingga berontaknya tidak membuat lepasnya kaki dalam pagutannya. Jilatan dan kuluman bibir dan lidah Pakde semakin meratai telapak kaki dan mulai naik ke betisnya. Gelinjang nikmat membadai menghempas-hempaskan gelegak nafsu Rini.&lt;br /&gt;Bibir Pakde terus melata hingga lutut dan siap memasuki wilayah paha belalang Rini. Ya, paha ini dulu sangat terkenal. Saat Rini bermain volley dalam pertandaingan antar SMU, paha Rinilah yang selalu membuat para siswa lelaki meneteskan air liur. Anak-anak SMU bilang ‘paha dan betis belalang Rini’ selalu terbawa dalam mimpi mereka. Mungkin maksudnya saat anak-anak itu masturbasi khayalannya terbang menciumi paha Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan paha itu kini bukan dalam impian Pakde. Paha itu kini nyata dalam rengkuhannya. Pakde mengecupi dan menjilat setiap sentimeter areal paha Rini. Duh, bukan main gatalnya. Ciuman Pakde dari mulut dan pipi serta dagunya yang bercukur bulu-bulu pendeknya begitu menggelitik sanubari Rini. Gatalnya telah manembus ke hulu hatinya. Rini kelabakan kewalahan menahan derita gatal nikmatnya. Dia menjerit-jerit minta Pakde melepaskannya. Kakinya menendang menolak tubuh Pakde.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi mana mungkin. Tubuh Pakde telah sempurna menindih dan tangannya menjepit dengan kuatnya. Aroma yang menebar dari paha Rini membuat tenaga Pakde semakin kukuh untuk tetap menguasai tingkah Rini. Tidak akan ada kata menyerah. Dan jilatan Pakde itu merambah terus hingga ke selangkangan Rini yang ditumbuhi bulu-bulu kemaluan yang sangat lembut. Pakde merem melek saat lidah dan bibirnya melumat-lumat selangkangan Rini. Dan tak ayal lagi, rambahan itu sampai ke lubang vaginanya. Namun Pakde tidak melanjutkannya. Dia hanya mampir sejenak untuk kemudian dengan tangannya mendorong balik tubuh Rini hingga posisinya tengkurap di kasur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini nampak pantat Rini yang menjumbul dengan indahnya. Pakde sudah kesetanan. Wajahnya langsung nyungsep ke belahan pantat Rini. Dia menjilati lubang duburnya. Tentu saja hal ini membuat Rini tersentak. Bagi Rini lubang dubur adalah hal yang sangat tak senonoh untuk didekati, apalgi dicium atau bahkan dijilati macam yang dilakukan Pakde pada dirinya sekarang ini. Tabu, katanya. Pemali, orang bilang. Tetapi tidak bagi Pakde Karto. Jilatannya terasa ‘keri’ menusuk-nusuk lubang pantat Rini. Bahkan dengan tenaganya dia mengangkat pinggul Rini sehingga dia berposisi nungging. Pantatnya lebih menonjol dengan lubang duburnya tepat di arah wajah Pakde. Rini yang belum sepenuhnya mau menerima ulah Pakde yang tabu berontak mati-matian untuk menghindarkan Pakde menciumi pantatnya. Dia berusaha bangun sambil,&lt;br /&gt;“Tidaakk.. jangaann.. jangaann..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi larangannya itu justru semakin memicu kehendak nafsu Pakde Karto. Dia cepat berpikir bahwa pantat Rini masih pantat perawan. Kalau dulu Herman merawani vaginanya, kini dia berkesempatan merawani lubang pantatnya. Dia telikung Rini dengan sekuat tenaganya. Dia pegang erat-erat pinggulnya sambil mulutnya tidak melepaskan sedotan-sedotan pada lubang anal yang perawan itu. Dan Pakde sangat kuat. Rini tak mampu melawannya. Perasaan tabunya membuat Rini ketakutan. Tetapi yang dia bisa perbuat sekarang hanyalah menangis sambil memohon,&lt;br /&gt;“Jangaann Pakdee.. ampuunn, jangaann.., ampuunn Pakdee..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun rintihan Rini tak lagi didengarnya. Ini sudak perkosaan. Dari balik dinding Herman juga mengutuk Pakdenya. Isak tangis istrinya benar-benar membuatnya iba. Akankah Pakde menyakitinya? Apa yang bisa dia perbuat untuk membantu Rini? Dan ternyata itu baru awal dari hal berikutnya yang akan membuat tangis Rini serasa tak berkesudahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman Pakde bergeser ke atas. Pinggul Rini dilumat-lumatnya. Juga punggung kemudian bahu dan kuduknya. Rini yang masih terisak kembali menemukan gelinjangnya. Tetapi itu tak lama. Di bawah sana penis Pakde yang demikian hebat ukurannya terasa mendesaki bokong Rini. Rini puny firasat. Sekali lagi dia berontak untuk mencegah nafsu setan Pakde Karto. Tetapi sekali lagi Pakde Karto mampu membuat isteri Herman itu tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini rambut Rini yang terurai dijambaknya. Dia gunakan rambut Rini ibarat tali kekang kuda. Dia hela rambut itu kebelakang sementara penis itu mulai menumbuk-numbuk lubang anal Rini. Rasa sakit yang hebat menimpa Rini. Lubang analnya serasa dicolok dengan kayu menyala, Panas dan sakitnya bukan main. Beberapa kali Pakde melumasi dengan ludah pada penisnya agar bisa menembus dengan lubang anal Rini. Memang ada kemajuan. Tetapi apa yang dirasakan Rini? Setiap mili kemajuan penis itu masuk menembus analnya, kepedihan tak terkatakan datang menjemput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan disinilah dramatiknya. Akhirnya penis itu memang tenggelam tertelan anal Rini, tetapi akibatnya Rini kelenger, pingsan. Pakde tahu, tetapi dia sangat tenang. Dia bisa mengendalikan dirinya. Tanpa melepaskan kemaluannya pada lubang itu, dia raih wewangian aroma terapi yang tersedia di meja samping ranjang. Dia kecroti hidung Rini dengan wewangian itu. Dan, ah manjur benar. Rini terbangun dan langsung kembali menangis karena menahan rasa sakit di pantatnya. Dia tak lagi menolak karena pasti hanyalah sia-sia. Justru tolakannya semakin merangsang nafsu setannya Pakde. Dan Pakde sendiri berusaha sabar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa saat dia tidak bergerak. Pikirnya, biarlah Rini menyesuaikan diri dulu, dimana penisnya kini sedang menghunjam ke dalam pantatnya. Dia hanya peluki punggung Rini sambil merajuk dan mencumbu. “Nggak apa-apa Rin, jangan takuutt.. nanti ennaakk.. jangan takutt..” sedu sedan Rini masih terdengar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Herman yang kini mengutuk habis-habisan ulah Pakdenya. Tetapi mana berani dia menyampaikan kutukkan itu hingga ke kuping Pakdenya. Yang ada tinggal rasa cemas dan semakin merasa betapa semua itu karena kesalahan dirinya. Rini telah menjadi korban tingkah lakunya yang pengecut. Ooo.., kenapa jadi beginii..??!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aneh, ternyata cumbuan Pakde Karto seperti menyihir Rini. Isakan tangisnya tak lagi terdengar. Walaupun masih sering terdengar kata&lt;br /&gt;“Aduuhh, sakiitt.., yang pelaann..” namun tak ada uapaya menolak dari Rini saat Pakde kembali menggoyang kemaluannya pada anal isteri Herman itu. Dan setelah beberapa saat kemudian goyangan Pakde berubah menjadi pompaan sebagaimana dia memompa vaginanya, Rini sama sekali tidak mengaduh tetapi, nah lihatlah.. Herman melotot keheranan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini dia menyaksikan isterinya mengimbangi goyangan saat penis panjang Pakde menusuki pantatnya. Ternyata Rini dengan cepat memahami kenikmatan yang dijanjikan Pakde Karto. Bahkan ketika beberapa kali penis itu copot dari analnya, tangan Rini dengan sigap menjemputnya kembali untuk diarahkan tepat ke lubang duburnya. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat atraktip. Seorang dewi cantik manis dalam posisi menungging dia atas ranjang beralaskan sutra melengkungkan pinggulnya untuk mengangkat tinggi-tinggi pantatnya. Sementara di arah belakang seorang lelaki gagah sedang menusuk-tuskkan penis monsternya ke arah lubang pantat sang dewi. Kini Herman mempercepat kocokkan tangannya. Dia ingin meraih orgasmenya, entah untuk yang keberapa kali sejak sore tadi, saat menyaksikan pemandangan yang sangat atraktip itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto benar-benar nampak seperti joki. Kuda betina cantiknya diraih surainya. Dia memompa Rini sambil menarik rambutnya sebagai tali kekang. Dan ketika nafsu-nafsu menjemputi puncak-puncaknya. Ketika Rini merasakan betapa benar kata Pakde bahwa dia akan menerima kenikmatan yang kini sedang menapaki puncaknya. Ketika Herman dari balik dinding tak lagi merasakan lecet-lecet pada kulit kemaluannya karena kenikmatan puncak sedang merambatinya. Dan ketika Pakde Karto tak lagi mampu menahan sperma untuk tidak tumpah, dan bahkan kini telah berada di ambang nikmatnya yang paling tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka badai gaduh, jerit, desah dan rintih pada berhamburan. Mulut Rini menjerit dalam rintihan menahan gelora birahi sambil pantatnya dengan kencang maju mundur menjemputi kemaluan Pakde Karto. Dan Herman dari balik dinding merintih tertahan, karena khawatir tertangkap basah, sambil mempercepat koncokkan penisnya yang juga ngaceng berkilatan. Pakde Karto sendiri yang bagai serigala lapar sedang mengejar mangsa, meracau dan mendesah keras-keras menjemput spermanya yang .. naahh.. achirnyaa.. tak tertahan.. tumpah ruah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pantat Rini masih terus menjemputi, penis Pakde masih memompa, tangan Herman semakin menambah guratan-guratan pedih sebelum ketiganya tumbang, roboh. Rini dan Pakde bergelimpang di ranjang beralaskan sutera. Tetapi Herman bergelimpang di lantai dingin di kamarnya sendiri. Herman langsung tertidur. Hari ini begitu banyak hal yang sagat melelahkan. Tekanan fisik dan mental serta kesenangan birahi silih berganti. Dia terbangun saat matahri telah tinggi. Dia kaget geragapan. Pakde Karto pasti akan marah, pikirnya. Tetapi hal itu tak terjadi. Pakde Karto bersama Rini semalaman merguk kenikmatan madu. Mereka baru usai dan tertidur menjelang subuh. Kini nampak oleh Herman dari balik dinding, isterinya dalam pelukan Pakde Karto meringkuk dalam selimut tebal. Herman yakin mereka sama-sama bertelanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman menjerang air untuk membuat kopi. Dia perlu ngopi. Dia juga membuat kopi untuk yang sekarang masih tidur dalam pelukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpisahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Herman terbuka pikirannya. Dia akan dan harus meninggalkan Rini. Tak mungkin lagi baginya merintis dan memperbarui hubungan suami isteri dengan Rini. Hal itu dia yakini akan baik untuk dirinya dan juga baik untuk Rini. Dan dia merasa tak perlu bertanya setuju atau tidaknya pada Rini. Keputusan dia memang sepihak, tetapi itu sudah merupakan keputusan final. Mana mungkin, seorang isteri telah melakukan hubungan seksual dengan penuh nikmat dan sukacita, sementara tahu persis suaminya berada di kamar sebelahnya. Apapun alasannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Herman juga yakin Pakdenya bisa menerima jalan pikirannya. Dan bahkan mungkin setengahnya bersyukur. Bukankah dia sangat tergila-gila pada Rini. Dan kini kehendaknya telah kesampaian. Dan Pakde Karto menujukkan kepuasannya yang luar biasa. Siapa tahu, Pakde Karto akan meneruskan keinginannya untuk melamar dan kemudian menikahi Rini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi yang sangat cerah di Villa Rimbun Ciawi yang sejuk. Pagi itu kedua insan yang sedang mengumbar nafsu syahwatnya kembali saling bercumbu. Mereka menikmati udara segar dan cahaya matahari pagi yang hangat. Dengan latar belakang dedaunan pakis, pohon pinus dan gemericiknya kali kecil yang aitnya jatuh ke bebatuan Pakde Karto menuntun Rini ke rimbunan tanaman hias yang penuh bunga. Wewangian bunga-bunga yang warna-warni itu mengantarkan mereka terbang mengawang-awang nikmat syahwat dan birahi tanpa batas. Lama mereka berpagut. Saling kecup dan jilat pada bagian-bagian tubuh mereka yang paling merangsang nafsu dilakukan di kebun indah di belakang villa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pakde Karto tak puas-puasnya menggeluti Rini yang isteri orang lain itu. Dan sebaliknya Rini yang tak pernah lagi memikirkan Herman suaminya tak lelah-lelahnya melakukan tingkah untuk merangsang syahwat Pakdenya. Dia memang benar-benar perempuan panas yang selalu ingin hubungan seksual dengan lelaki perkasa ini. Dia merasakan betapa Pakde mampu menggali seluruh rahasia nikmat syahwat yang ada pada dirinya. Kini Rinilah yang tergila-gila pada Pakde Karto. Dia bersedia melakukan apapun yang akan diminta Pakde. Bahkan sebagaimana yang kini terjadi. Pakde menggelandang Rini untuk berasyik masyuk di dalam taman Villa Rimbun Ciawi yang sejuk dan indah ini. Mereka kini telah bergulingan di atas matras yang sebelumnya telah disiapkan Herman atas permintaan Pakdenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Herman juga baru tahu apa maksud permintaan Pakde Karto untuk menggelar matras tadi. Tetapi Herman sekarang juga bukan Herman yang kemarin. Walaupun di depan matanya kini dia saksikan isterinya Rini bergelut nikmat bersama Pakde Karto, dia tidak lagi terbawa emosi. Yang dia pikirkan sekaranga adalah, “Pergi.., pergi, pergi, pergi, pergi..!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Herman telah berketatapan untuk meninggalkan semuanya. Meninggalkan isterinya, meninggalkan Pakde yang telah menghancurkannya dan dia juga akan meninggalkan judi togel. Selamat tinggal masa lalu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Pakde bersama Rini sedang mendayung kenikmatan, Herman menyelinap. Dia pergi tanpa pesan.&lt;br /&gt;“Mereka akan tahu, tanpa harus kuucapkan,” demikianlah tekad dan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-646860114553970502?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/646860114553970502/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=646860114553970502' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/646860114553970502'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/646860114553970502'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/02/istri-untuk-membayar-hutang.html' title='Istri Untuk Membayar Hutang'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-4212105372536061655</id><published>2009-01-28T03:13:00.000-08:00</published><updated>2009-01-28T03:17:24.482-08:00</updated><title type='text'>Liarnya gadis arab</title><content type='html'>Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.&lt;br /&gt;Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.&lt;br /&gt;“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendapat tugas ke sebuah kota kabupaten di Kawasan Timur Indonesia. Ada sebuah peluang proyek baru disana. Aku berangkat dengan seorang Direktur. Setelah bertemu dengan para pejabat yang berwenang dan mengutarakan tujuan kedatangan kami, maka Direktur tersebut pulang terlebih dahulu karena masih ada urusan lain di Jakarta. Tinggalah aku disana mengurus semua perijinan sendirian saja.&lt;br /&gt;Hotel tempatku menginap adalah sebuah hotel yang tidak terlalu besar, namun bersih dan enak untuk tinggal. Letaknya agak sedikit di pinggiran kota, sepi, aman, dan transport untuk kemana-mana relatif mudah. Aku mendapat kamar dilantai 2 yang letaknya menghadap ke laut. Setiap sore sambil beristirahat setelah seharian berputar-putar dari satu instansi ke instansi lainnya aku duduk di teras sambil melihat laut.&lt;br /&gt;Para karyawan hotel cukup akrab dengan penghuninya, mungkin karena jumlah kamarnya tidak terlalu banyak, sekitar 32 kamar. Aku cukup akrab dan sering duduk di lobby, ngobrol dengan tamu lain atau karyawan hotel. Kadang-kadang dengan setengah bercanda aku ditawari selimut hidup oleh karyawan hotel, mulai dari room boy sampai ke security. Mereka heran selama hampir 3 minggu aku tidak pernah bawa perempuan. Aku tersenyum saja, bukan tidak mau bro, tapi pikiranku masih tersita ke pekerjaan.&lt;br /&gt;Tak terasa sudah 3 minggu aku menginap di hotel. Karena surat-surat yang diperlukan sudah selesai, aku bisa sedikit bernafas lega dan mulai mencari hiburan. Tadi malam aku kembali dapat merasakan kehangatan tubuh perempuan setelah bergumul selama 2 ronde dengan seorang gadis panggilan asal Manado. Aku mendapatkannya dari security hotel. Meskipun orangnya cantik dan putih, tetapi permainannya tidak terlalu istimewa karena barangnya terlalu becek dan sudak kendor, tapi lumayanlah buat mengurangi sperma yang sudah penuh.&lt;br /&gt;Dua hari lagi aku akan pulang. Transportasi di daerah ini memang agak sulit. Untuk ke Jakarta aku harus ke ibukota propinsi dulu baru ganti pesawat ke Jakarta. Celakanya dari kota ini ke ibukota propinsi dalam 1 minggu hanya ada 4 penerbangan dengan twin otter yang kapasitasnya hanya 17 seat. Belum lagi cadangan khusus buat pejabat Pemda yang tiba-tiba harus berangkat. Aku yang sudah booking seat sejak seminggu yang lalu, ternyata masih masuk di cadangan nomor 5.&lt;br /&gt;Alternatifnya adalah dengan menaiki kapal laut milik Pelni yang makan waktu seharian untuk sampai ibukota propinsi. Rencanaku kalau tidak dapat seat pesawat terpaksa naik kapal laut.&lt;br /&gt;Sore itu aku ngobrol dengan security, yang membantu mencarikan perempuan, sambil duduk-duduk di cafe hotel. Kami membicarakan gadis Manado yang kutiduri tadi malam. Kubilang aku kurang puas dengan permainannya.&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja pandanganku tertuju pada wanita yang baru masuk ke cafe. Wanita itu kelihatan bertubuh tinggi, mungkin 168 cm, badannya sintal dan dadanya membusung. Wajahnya kelihatan bukan wajah Melayu, tapi lebih mirip ke wajah Timur Tengah. Security itu mengedipkan matanya ke arahku.&lt;br /&gt;” Bapak berminat ? Kalau ini dijamin oke, Arab punya,” katanya.&lt;br /&gt;Wanita tadi merasa kalau sedang dibicarakan. Ia menatap ke arah kami dan mencibir ke arah security di sampingku.&lt;br /&gt;“Anis, sini dulu. Kenalan sama Bapak ini,” kata security itu.&lt;br /&gt;“Aku mau ke karaoke dulu,” balas wanita tadi. Ternyata namanya Anis. Anis berjalan kearah meja karaoke dan mulai memesan lagu.&lt;br /&gt;Ruangan karaoke tidak terpisah secara khusus, jadi kalau yang menyanyi suaranya bagus lumayan buat hiburan sambil makan. Tapi kalau pas suara penyanyinya berantakan, maka selera makan bisa berantakan. Untuk karaoke tidak dikenakan charge, hanya merupakan service cafe untuk tamu yang makan disana.&lt;br /&gt;“Dekatin aja Pak, temani dia nyanyi sambil kenalan. Siapa tahu cocok dan jadi,” kata security tadi kepadaku.&lt;br /&gt;Aku berjalan dan duduk didekat Anis. Kuulurkan tanganku, “Boleh berkenalan ? Namaku Jokaw”.&lt;br /&gt;“Anis,” jawabnya singkat dan kembali meneruskan lagunya. Suaranya tidak bagus cuma lumayan saja. Cukup memenuhi standard kalau ada pertunjukan di kampung.&lt;br /&gt;Beberapa lagu telah dinyanyikan. dari lagu dan logat yang dinyanyikan wanita ini agaknya tinggal di Manado atau Sulawesi Utara. Dia mengambil gelas minumannya dan menyerahkan mike ke tamu cafe di dekatnya.&lt;br /&gt;“Sendirian saja nona atau …,” kataku mengawali pembicaraan.&lt;br /&gt;“Panggil saja namaku, A…N…I…S, Anis,” katanya.&lt;br /&gt;kami mulai terlibat pembicaraan yang cukup akrab. Anis berasal dari Gorontalo. Ia memang berdarah Arab. Menurutnya banyak keturunan Arab di Gorontalo. Kuamati lebih teliti wanita di sampingku ini. Hidungnya mancung khas Timur Tengah, kulitnya putih, rambutnya hitam tebal, bentuk badannya sintal dan kencang dengan payudaranya terlihat dari samping membusung padat.&lt;br /&gt;Kutawarkan untuk mengobrol di kamarku saja. Lebih dingin, karena ber-AC, dan lebih rileks serta privacy terjaga. Ia menurut saja. kami masuk ke dalam kamar. Security tadi kulihat mengangkat kedua jempolnya kearahku. Di dalam kamar, kami duduk berdampingan di karpet dengan menyandar ke ranjang sambil nonton TV. Anis masuk ke kamar mandi dan sebentar kemudian sudah keluar lagi.&lt;br /&gt;Kami melanjutkan obrolan. Ternyata Anis seorang janda gantung, suaminya yang seorang pengusaha, keturunan Arab juga, sudah 2 tahun meninggalkannya namun Anis tidak diceraikan. ia sedang mencoba membuka usaha kerajinan rotan dari Sulawesi yang dipasarkan disini. Dikta ini dia tinggal bersama familinya. Ia main ke hotel, karena dulu juga pernah tinggal di hotel ini seminggu dan akrab dengan koki wanita yang bekerja di cafe. dari tadi siang koki tersebut sedang keluar, berbelanja kebutuhan cafe.&lt;br /&gt;Kulingkarkan tangan kiriku ke bahu kirinya. Ia sedikit menggerinjal namun tidak ada tanda-tanda penolakan. aku semakin berani dan mulai meremas bahunya dan perlahan-lahan tangan kiriku menuju kedadanya. Sebelum tangan kiriku sampai di dadanya, ia menatapku dan bertanya, “Mau apa kamu, Jokaw ?” Sebuah pertanyaan yang tidak perlu dijawab.&lt;br /&gt;Kupegang dagunya dengan tangan kananku dan kudekatkan mukanya ke mukaku. Perlahan kucium bibirnya. Ia diam saja. Kucium lagi namun ia belum juga membalas ciumanku.&lt;br /&gt;“Ayolah Anis, 2 tahun tentulah waktu yang cukup panjang bagimu. Selama ini tentulah kamu merindukan kehangatan dekapan seorang laki-laki,” kataku mulai merayunya.&lt;br /&gt;Kuhembuskan napasku ke dekat telinganya. Bibirku mulai menyapu leher dan belakang telinganya.&lt;br /&gt;“Akhh, tidak.. Jangan..,” rintihnya.&lt;br /&gt;“Ayolah Nis, mungkin punyaku tidak sebesar punya suami Arab-mu itu, namun aku bisa membantu menuntaskan gairahmu yang terpendam”.&lt;br /&gt;Ia menyerah, pandangan matanya meredup. Kucium lagi bibirnya, kali ini mulai ada perlawanan balasan dari bibirnya. tanganku segera meremas dadanya yang besar, namun sudah sedikit turun. Ia mendesah dan membalas ciumanku dengan berapi-api. Tangannya meremas kejantananku yang masih terbungkus celana.&lt;br /&gt;Kududukan ia ditepi ranjang. Aku berdiri didepannya. tangannya mulai membuka ikatan pinggang dan ritsluiting celanaku, kemudian menyusup ke balik celana dalamku. Dikeluarkannya kejantananku yang mulai menegang. Dibukanya celanaku seluruhnya hingga bagian bawah tubuhku sudah dalam keadaan polos.&lt;br /&gt;Mulutnya kemudian menciumi kejantananku, sementara tangannya memegang pinggangku dan mengusap kantung zakarku. Lama kelamaan ciumannya berubah menjadi jilatan dan isapan kuat pada kejantananku. Kini ia mengocok kejantananku dengan mengulum kejantananku dan menggerakan mulutnya maju mundur. Aliran kenikmatan segera saja menjalari seluruh tubuhku. Tangannya menyusup ke bajuku dan memainkan putingku. Kubuka kancing bajuku agar tangannya mudah beraksi di dadaku. Kuremas rambutnya dan pantatkupun bergerak maju mundur menyesuaikan dengan gerakan mulutnya.&lt;br /&gt;Aku tak mau menumpahkan sperma dalam posisi ini. Kuangkat tubuhnya dan kini dia dalam posisi berdiri sementara aku duduk di tepi ranjang. Tanpa kesulitan segera saja kubuka celana panjang dan celana dalamnya. Rambut kemaluannya agak jarang dan berwarna kemerahan. Kemaluannya terlihat sangat menonjol di sela pahanya, seperti sampan yang dibalikkan. Ia membuka kausnya sehingga sekarang tinggal memakai bra berwarna biru.&lt;br /&gt;Kujilati tubuhnya mulai dari lutut, paha sampai ke lipatan pahanya. Sesekali kusapukan bibirku di bibir vaginanya. Lubang vaginanya terasa sempit ketika lidahku mulai masuk ke dalam vaginanya. Ia merintih, kepalanya mendongak, tangannya yang sebelah menekan kepalaku sementara tangan satunya meremas rambutnya sendiri. Kumasukan jari tengahku ke dalam lubang vaginanya, sementara lidahku menyerang klitorisnya. Ia memekik perlahan dan kedua tangannya meremas payudaranya sendiri. Tubuhnya melengkung ke belakang menahan kenikmatan yang kuberikan. Ia merapatkan selangkangannya ke kepakalu. Kulepaskan bajuku dan kulempar begitu saja ke lantai.&lt;br /&gt;Akhirnya ia mendorongku sehingga aku terlentang di ranjang dengan kaki masih menjuntai di lantai. Ia berjongkok dan, “Sllruup..”. Kembali ia menjilat dan mencium penisku beberapa saat. Ia naik keatas ranjang dan duduk diatas dadaku menghadapkan vaginanya di mulutku. Tangannya menarik kepalaku meminta aku agar menjilat vaginanya dalam posisi demikian.&lt;br /&gt;Kuangkat kepalaku dan segera lidahku menyeruak masuk ke dalam liang vaginanya. Tanganku memegang erat pinggulnya untuk membantu menahan kepalaku. Ia menggerakan pantatnya memutar dan maju mundur untuk mengimbangi serangan lidahku. Gerakannya semakin liar ketika lidahku dengan intens menjilat dan menekan klitorisnya. Ia melengkungkan tubuhnya sehingga bagian kemaluannya semakin menonjol. tangannya kebelakang diletakan di pahaku untuk menahan berat tubuhnya.&lt;br /&gt;Ia bergerak kesamping dan menarikku sehingga aku menindihnya. Kubuka bra-nya dan segera kuterkam gundukan gunung kembar di dadanya. Putingnya yang keras kukulum dan kujilati. Kadang kumisku kugesekan pada ujung putingnya. Mendapat serangan demikian ia merintih “Jokaw, ayo kita lakukan permainan ini, Masukan sekarang..”.&lt;br /&gt;Tangannya menggenggam erat penisku dan mengarahkan ke lubang vaginanya. Beberapa kali kucoba untuk memasukannya tetapi sangat sulit. Sebenarnya sejak kujilati sedari tadi kurasakan vaginanya sudah basah oleh lendirnya dan ludahku, namun kini ketika aku mencoba untuk melakukan penetrasi kurasakan sulit sekali. Penisku sudah mulai mengendor lagi karena sudah beberapa kali belum juga menembus vaginanya. Aku ingat ada kondom di laci meja, masih tersisa 1 setelah 2 lagi aku pakai tadi malam, barangkali dengan memanfaatkan permukaan kondom yang licin lebih mudah melakukan penetrasi. namun aku ragu untuk mengambilnya, Anis kelihatan sudah di puncak nafsunya dan ia tidak memberikan sinyal untuk memakai kondom.&lt;br /&gt;Kukocokkan penisku sebentar untuk mengencangkannya. Kubuka pahanya selebar-lebarnya. Kuarahkan penisku kembali ke liang vaginanya.&lt;br /&gt;“Jokaw.. Kencangkan dan cepat masukkan,” rintihnya.&lt;br /&gt;Kepala penisku sudah melewati bibir vaginanya. Kudorong sangat pelan. Vaginanya sangat sempit. Entah apa yang menyebabkannya, padahal ia sudah punya anak dan menurut ceritanya penis suaminya satu setengah kali lebih besar dari penisku. Aku berpikir bagaimana caranya agar penis suaminya bisa menembus vaginanya.&lt;br /&gt;Penisku kumaju mundurkan dengan perlahan untuk membuka jalan nikmat ini. Beberapa kali kemudian penisku seluruhnya sudah menembus lorong vaginanya. Aku merasa dengan kondisi vaginanya yang sangat sempit maka dalam ronde pertama ini aku akan kalah kalau aku mengambil posisi di atas. Mungkin kalau ronde kedua aku dapat bertahan lebih lama. Akan kuambil cara lain agar aku tidak jebol duluan.&lt;br /&gt;Kugulingkan badannya dan kubiarkan dia menindihku. Anis bergerak naik turun menimba kenikmatannya. Aku mengimbanginya tanpa mengencangkan ototku, hanya sesekali kuberikan kontraksi sekedar bertahan saja supaya penisku tidak mengecil.&lt;br /&gt;Anis merebahkan tubuhnya, merapat didadaku. Kukulum payudaranya dengan keras dan kumainkan putingnya dengan lidahku. Ia mendengus-dengus dan bergerak liar untuk merasakan kenikmatan. Gerakannya menjadi kombinasi naik turun, berputar dan maju mundur. Luar biasa vagina wanita Arab ini, dalam kondisi aku dibawahpun aku harus berjuang keras agar tidak kalah. Untuk mempertahankan diri kubuat agar pikiranku menjadi rileks dan tidak berfokus pada permainan ini.&lt;br /&gt;15 menit sudah berlalu sejak penetrasi. Agaknya Anis sudah ingin mengakhiri babak pertama ini. Ia memandangku, kemudian mencium leher dan telingaku.&lt;br /&gt;“Ouhh.. jokaw, kamu luar biasa. Dulu dalam ronde pertama biasanya suamiku akan kalah, namun kami masih bertahan. Yeesshh.. Tahan dulu, sebentar lagi.. Aku..”.&lt;br /&gt;Ia tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu kini saatnya beraksi. Kukencangkan otot penisku dan gerakan tubuh Anispun semakin liar. Akupun mengimbangi dengan genjotan penisku dari bawah. Ketika ia bergerak naik, pantatku kuturunkan dan ketika ia menekan pantatnya ke bawah akupun menyambutnya dengan mengangkat pantatku.&lt;br /&gt;Kepalanya bergerak kesana kemari. Rambutnya yang hitam lebat acak-acakan. sprei sudah terlepas dan tergulung di sudut ranjang. bantal di atas ranjang semuanya sudah jatuh ke lantai. Keadaan diatas ranjang seperti kapal yang pecah dihempas badai. Ranjangpun ikut bergoyang mengikutu gerakan kami. Suaranya berderak-derak seakan hendak patah. Akupun semakin mempercepat genjotanku dari bawah agar iapun segera berlabuh di dermaga kenikmatan.&lt;br /&gt;Semenit kemudian..&lt;br /&gt;“Aaggkkhh.. Nikmat.. Ouhh.. Yeahh,” Anis memekik.&lt;br /&gt;Punggungnya melengkung ke atas, mulutnya menggigit putingku. Kurasakan aliran kenikmatan mendesak lubang penisku. Aku tidak tahan lagi. Ketika pantatnya menekan ke bawah, kupeluk pinggangnya dan kuangkat pantatku.&lt;br /&gt;“Ouhh.. An.. Nis. Aku tidak tahan lagi.. Aku sampaiihh!”&lt;br /&gt;Ia memberontak dari pelukanku sampai peganganku pada pinggulnya terlepas. pantatnya naik dan segera diturunkan lagi dengan cepat.&lt;br /&gt;“Jokaw.. Ouhh Jokaw.. Aku juga..”.&lt;br /&gt;Kakinya mengunci kakiku dan badannya mengejang kuat. dengan kaki saling mengait aku menahan gerak tubuhnya yang mengejang. Giginya menggigit lenganku sampai terasa sakit. Denyutan dari dinding vaginanya saling berbalasan dengan denyutan dipenisku. Beberapa detik kemudian, kami masih merasakan sisa-sisa kenikmatan. ketika sisa-sisa denyutan masih terjadi badannya menggetar. Ia berbaring diatas dadaku sampai akhirnya penisku mulai mengecil dan terlepas dengan sendirinya dari vaginanya. Sebagian sperma mengalir keluar dari vaginanya di atas perutku. Anis berguling ke samping setelah menarik napas panjang.&lt;br /&gt;“Luar biasa kamu Kaw. Suamiku tidak pernah menang dalam ronde pertama, memang dalam berhubungan ia sering mengambil posisi di atas. tapi kami sanggup membawaku terbang ke angkasa,” katanya sambil mengelus dadaku.&lt;br /&gt;“Akupun rasanya hampir tidak sanggup menandingimu. Mungkin sebagian besar laki-laki akan menyerah di atas ranjang kalau harus bermain denganmu. Milikmu benar-benar sempit,” kataku balas memujinya.&lt;br /&gt;Memang kalau tadi aku harus bermain diatas, rasanya tak sampai sepuluh menit aku pasti sudah KO. Makanya, jangan cuma penetrasi terus main genjot saja, teknik bro!&lt;br /&gt;“Kamu orang Melayu pribumi, tapi kok bulunya banyak gini. Keturunan India atau mungkin Arab ya?”&lt;br /&gt;“Nggak ah, asli Indonesia lho..”.&lt;br /&gt;Ia masih terus memujiku beberapa kali lagi. Kuajak ia mandi bersama dan setelah itu kami duduk di teras sambil minum soft drink dan melihat laut. Aku hanya mengenakan celana pendek tanpa celana dalam dam kaus tanpa lengan. Ia mengenakan kemejaku, sementara bagian bawah tubuhnya hanya ditutup dengan selimut yang dililitkan tanpa mengenakan pakaian dalam.&lt;br /&gt;Ia duduk membelakangiku. Tubuhnya disandarkan di bahuku. Mulutku sesekali mencium rambut dan belakang telinganya. Kadang mulutnya mencari mulutku dan kusambut dengan ciuman ringan. Tangan kanannya melingkar di kepalaku.&lt;br /&gt;“Kamu nggak takut hamil melakukan hal ini denganku?”tanyaku.&lt;br /&gt;“Aku dulu pernah kerja di apotik, jadi aku tahu pasti cara mengatasinya. Aku selalu siap sedia, siapa tahu terjadi hal yang diinginkan seperti sore ini. Aku sudah makan obat waktu masuk ke kamar mandi tadi. Tenang saja, toh kalaupun hamil bukan kamu yang menanggung akibatnya.” katanya enteng.&lt;br /&gt;Jadi ia selalu membawa obat anti hamil. Untung saja aku tadi tidak berlaku konyol dengan memakai kondom. Mungkin saja sejak ditinggal suaminya ia sudah beberapa kali bercinta dengan laki-laki. Tapi apa urusanku, aku sendiri juga melakukannya. yang penting malam ini ia menjadi teman tidurku.&lt;br /&gt;Matahari sudah jauh condong ke Barat, sehingga tidak terasa panas. hampir sejam kami duduk menikmati sunset. Gairahku mulai timbul lagi. Kubuka dua kancing teratas bajunya. Kurapatkan kejantananku yang sudah mulai ingin bermain lagi ke pinggangnya. Kususupkan tanganku kebalik bajunya dan kuremas dadanya.&lt;br /&gt;“Hmmhh..,” ia bergumam.&lt;br /&gt;“Masuk yuk, sudah mulai gelap. Anginnya juga mulai kencang dan dingin,” kataku.&lt;br /&gt;Kamipun masuk ke dalam kamar sambil berpelukan. Sekilas kulihat tatapan iri dan kagum dari tamu hotel di kamar yang berseberangan dengan kamarku.&lt;br /&gt;“I want more, honey!” kataku.&lt;br /&gt;kami bersama-sama merapikan sprei dan bantal yang berhamburan akibat pertempuran babak pertama tadi. Kubuka bajunya dan kutarik selimut yang menutup bagian bawah tubuhnya. Kurebahkan Anis di ranjang. Kubuka kausku dan aku berdiri di sisi ranjang di dekat kepalanya.&lt;br /&gt;Anis mengerti maksudku. Didekatkan kepalanya ke tubuhku dan ditariknya celana pendekku. Sebentar kemudian mulut dan lidahnya sudah beraksi dengan lincahnya di selangkanganku. Aku mengusap-usap tubuhnya mulai dari bahu, dada sampai ke pinggulnya. Peniskupun tak lama sudah menegang dan keras, siap untuk kembali mendayung sampan.&lt;br /&gt;Lima menit ia beraksi. Setelah itu kutarik kepalanya dan kuposisikan kakinya menjuntai ke lantai. Kubuka mini bar dan kuambil beberapa potong es batu di dalam gelas. Kujepit es batu tadi dengan bibirku dan aku berjongkok di depan kakinya. Kurenggangkan kedua kakinya lalu dengan jariku bibir vaginanya kubuka. Bibirku segera menyorongkan es batu ke dalam vaginanya yang merah merekah. Ia terkejut merasakan perlakuanku. Kaki dan badannya sedikit meronta, namun kutahan dengan tanganku.&lt;br /&gt;“Ouhh.. Jokaw.. Kamu.. Gila.. Gila.. Jangan.. Cukup Kaw!” ia berteriak.&lt;br /&gt;Aku tidak menghiraukan teriakannya dan terus melanjutkan aksiku. Rupanya sensasi dingin dari es batu di dalam vaginanya membuatnya sangat terangsang. Kujilati air dari es batu yang mencair dan mulai bercampur dengan lendir vaginanya.&lt;br /&gt;“Jokaw.. Maniak kamu..,” ia masih terus memekik setiap kali potongan es batu kutempelkan ke bagian dalam bibir vagina dan klitorisnya.&lt;br /&gt;Kadang es batu kupegang dengan jariku menggantikan bibirku yang tetap menjilati seluruh bagian vaginanya. Kakinya masih meronta, namun ia sendiri mulai menikmati aksiku. Kulihat ke atas ia menggigit ujung bantal dengan kuat untuk menahan perasaannya.&lt;br /&gt;Akhirnya semua potongan es batu yang kuambil habis. Aku masih meneruskan stimulasi dengan cara cunilingus ini. Meskipun untuk ronde kedua aku yakin bisa bertahan lebih lama, namun untuk berjaga-jaga akan kuransang dia sampai mendekati puncaknya. yang pasti aku tak mau kalah ketika bermain dengannya. Kurang lebih sepuluh menit aku melakukannya.&lt;br /&gt;Ia terhentak dan mengejang sesaat ketika klitorisnya kugaruk dan kemudian kujepit dengan jariku. Kulepas dan kujepit lagi. Ia merengek-rengek agar aku menghentikan aksiku dan segera melakukan penetrasi, namun aku masih ingin menikmati dan memberikan foreplay dalam waktu yang agak lama. Beberapa saat aku masih dalam posisi itu. tangan kanannya memegang kepalaku dan menekannya ke celah pahanya. Tangan kirinya meremas-remas payudaranya sendiri.&lt;br /&gt;Aku duduk di dadanya. Kini ia yang membrikan kenikmatan pada penisku melalui lidah dan mulutnya. Dikulumnya penisku dalam-dalam dan diisapnya lembut. Giginya juga ikut memberikan tekanan pada batang penisku. Dilepaskannya penisku dan kini dijepitnya dengan kedua payudaranya sambil diremas-remas dengan gundukan kedua dagingnya itu. Kugerakkan pinggulku maju mundur sehingga peniskupun bergesekan dengan kulit kedua payudaranya.&lt;br /&gt;Kuubah posisiku dengan menindihnya berhadapan, kemudian mulutku bermain disekitar payudaranya. Anis kelihatan tidak sabar lagi dan dengan sebuah gerakan tangannya sudah memegang dan mengocok penisku dengan menggesekannya pada bibir vaginanya. Tanganku mengusap gundukan payudaranya dan meremas dengan pelan dan hati-hati. Ia menggelinjang. Mulutku menyusuri leher dan bahunya kemudian bibirnya yang sudah setengah terbuka segera menyambut bibirku. kami segera berciuman dengan ganas sampai terengah-engah. Penisku yang sudah mengeras mulai mencari sasarannya.&lt;br /&gt;Kuremas pantatnya yang padat dan kuangkat pantatku.&lt;br /&gt;“Jokaw.. Ayo.. Masukk.. Kan!”&lt;br /&gt;Tangannya menggenggam penisku dan mengarahkan ke dalam guanya yang sudah basah. Aku mengikuti saja. Kali ini ia yang mengambil inisiatif untuk membuka lebar-lebar kedua kakinya. Dengan perlahan dan hati-hati kucoba memasukan penisku kedalam liang vaginanya. Masih sulit juga untuk menembus bibir vaginanya. tangannya kemudian membuka bibir vaginanya dan dengan bantuan tanganku maka kuarahkan penisku ke vaginanya.&lt;br /&gt;Begitu melewati bibir vaginanya, maka kurasakan lagi sebuah lorong yang sempit. Perlahan-lahan dengan gerakan maju mundur dan memutar maka beberapa saat kemudian penisku sudah menerobos kedalam liang vaginanya.&lt;br /&gt;Aku bergerak naik turun dengan perlahan sambil menunggu agar pelumasan pada vaginanya lebih banyak. Ketika kurasakan vaginanya sudah lebih licin, maka kutingkatkan tempo gerakanku. Anis masih bergerak pelan, bahkan cenderung diam dan menungguku untuk melanjutkan serangan berikutnya.&lt;br /&gt;Kupercepat gerakanku dan Anis bergerak melawan arah gerakanku untuk menghasilkan sensasi kenikmatan. Aku menurunkan irama permainan. Kini ia yang bergerak liar. Tangannya memeluk leherku dan bibirnya melumat bibirku dengan ganas. Aku memeluk punggungnya kemudian mengencangkan penisku dan menggenjotnya lagi dengan cepat.&lt;br /&gt;Kubisikkan untuk berganti posisi menjadi doggy style. Ia mendorong tubuhku agar dapat berbaring tengkurap. Pantatnya dinaikkan sedikit dan tangannya terjulur kebelakang menggenggam penisku dan segera menyusupkannya kedalam vaginanya. Kugenjot lagi vaginanya dengan menggerakkan pantatku maju mundur dan berputar. Kurebahkan badanku di atasnya. kami berciuman dengan posisi sama-sama tengkurap, sementara kemaluan kami masih terus bertaut dan melakukan aksi kegiatannya.&lt;br /&gt;Aku menusuk vaginanya dengan gerakan cepat berulang kali. Iapun mendesah sambil meremas sprei. Aku berdiri di atas lututku dan kutarik pinggangnya. Kini ia berada dalam posisi nungging dengan pantat yang disorongkan ke kemaluanku. Setelah hampir sepuluh menit permainan kami yang kedua ini, Anis semakin keras berteriak dan sebentar-bentar mengejang. Vaginanya terasa semakin lembab dan hangat. Kuhentikan genjotanku dan kucabut penisku.&lt;br /&gt;Anis berbalik terlentang dan sebentar kemudian aku naik ke atas tubuhnya dan kembali menggenjot vaginanya. Kusedot putingnya dan kugigit bahunya. Kutarik rambutnya sampai mendongak dan segera kujelajahi daerah sekitar leher sampai telinganya. Ia semakin mendesah dan mengerang dengan keras. Ketika ia mengerang cukup keras, maka segera kututup bibirnya dengan bibirku. Ia menyambut bibirku dengan ciuman yang panas. Lidahnya menyusup ke mulutku dan menggelitik langit-langit mulutku. Aku menyedot lidahnya dengan satu sedotan kuat, melepaskannya dan kini lidahku yang masuk ke dalam rongga mulutnya.&lt;br /&gt;kami berguling sampai Anis berada di atasku. Anis menekankan pantatnya dan peniskupun semakin dalam masuk ke lorong kenikmatannya.&lt;br /&gt;“Ouhh.. Anis,” desahku setengah berteriak.&lt;br /&gt;Anis bergerak naik turun dan memutar. Perlahan-lahan kugerakkan pinggulku. Karena gerakan memutar dari pinggulnya, maka penisku seperti disedot sebuah pusaran. Anis mulai mempercepat gerakannya, dan kusambut dengan irama yang sama. Kini ia yang menarik rambutku sampai kepalaku mendongak dan segera mencium dan menjilati leherku. Hidungnya yang mancung khas Timur Tengah kadang digesekkannya di leherku memberikan suatu sensasi tersendiri.&lt;br /&gt;Anis bergerak sehingga kaki kami saling menjepit. kaki kirinya kujepit dengan kakiku dan demikian juga kaki kiriku dijepit dengan kedua kakinya. dalam posisi ini ditambah dengan gerakan pantatnya terasa nikmat sekali. Kepalanya direbahkan didadaku dan bibirnya mengecup putingku.&lt;br /&gt;Kuangkat kepalanya, kucium dan kuremas buah dadanya yang menggantung. Setelah kujilati dan kukecup lehernya kulepaskan tarikan pada rambutnya dan kepalanya turun kembali kemudian bibirnya mencari-cari bibirku. Kusambut mulutnya dengan satu ciuman yang dalam dan lama.&lt;br /&gt;Anis kemudian mengatur gerakannya dengan irama lamban dan cepat berselang-seling. Pantatnya diturunkan sampai menekan pahaku sehingga penisku masuk terbenam dalam-dalam menyentuh rahimnya.&lt;br /&gt;kakinya bergerak agar lepas dari jepitanku dan kini kedua kakiku dijepit dengan kedua kakinya. Anis menegakkan tubuhnya sehingga ia dalam posisi duduk setengah jongkok di atas selangkanganku. Ia kemudian menggerakan pantatnya maju mundur sambil menekan kebawah sehingga penisku tertelan dan bergerak ke arah perutku. Rasanya seperti diurut dan dijepit sebuah benda yang lembut namun kuat. Semakin lama semakin cepat ia menggerakkan pantatnya, namun tidak menghentak-hentak. darah yang mengalir ke penisku kurasakan semakin cepat dan mulai ada aliran yang merambat disekujur tubuhku.&lt;br /&gt;“Ouhh.. Sshh.. Akhh!” Desisannyapun semakin sering. Aku tahu sekarang bahwa iapun akan segera mengakhiri pertarungan ini dan menggapai puncak kenikmatan.&lt;br /&gt;“Tahan Nis, turunkan tempo.. Aku masih lama lagi ingin merasakan nikmatnya bercinta denganmu”.&lt;br /&gt;Aku menggeserkan tubuhku ke atas sehingga kepalaku menggantung di bibir ranjang. Ia segera mengecup dan menciumi leherku. Tak ketinggalan hidungnya kembali ikut berperan menggesek kulit leherku. Aku sangat suka sekali ketika hidungnya bersentuhan dengan kulit leherku.&lt;br /&gt;“Jokaw.. Ouhh.. Aku tidak tahan lagi!” ia mendesah. Kugelengkan kepalaku memberi isyarat untuk bertahan sebentar lagi.&lt;br /&gt;Aku bangkit dan duduk memangku Anis. Penisku kukeraskan dengan menahan napas dan mengencangkan otot PC. Ia semakin cepat menggerakkan pantatnya maju mundur sementara bibirnya ganas melumat bibirku dan tangannya memeluk leherku. Tanganku memeluk pinggangnya dan membantu mempercepat gerakan maju mundurnya. Dilepaskan tangannya dari leherku dan tubuhnya direbahkan ke belakang. Kini aku yang harus bergerak aktif.&lt;br /&gt;Kulipat kedua lututku dan kutahan tubuhnya di bawah pinggangnya. Gerakanku kuatur dengan irama cepat namun penisku hanya setengahnya saja yang masuk sampai beberapa hitungan dan kemudian sesekali kutusukkan penisku sampai mentok. Ia merintih-rintih, namun karena posisi tubuhnya ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Kini aku sepenuhnya yang mengendalikan permainan, ia hanya dapat pasrah dan menikmati.&lt;br /&gt;Kutarik tubuhnya dan kembali kurebahkan tubuhnya ke atas tubuhku, matanya melotot dan bola matanya memutih. Giginya menggigit bahuku. Kugulingkan tubuhku, kini aku berada diatasnya kembali.&lt;br /&gt;Kuangkat kaki kanannya ke atas bahu kiriku. Kutarik badannya sehingga selangkangannya dalam posisi menggantung merapat ke tubuhku. Kaki kirinya kujepit di bawah ketiak kananku. Dengan posisi duduk melipat lutut aku menggenjotnya dengan perlahan beberapa kali dan kemudian kuhentakkan dengan keras. Iapun berteriak dengan keras setiap aku menggenjotnya dengan keras dan cepat. Kepalanya bergerak-gerak dan matanya seperti mau menangis. Kukembalikan kakinya pada posisi semula.&lt;br /&gt;Aku masih ingin memperpanjang permainan untuk satu posisi lagi.&lt;br /&gt;kakiku keluar dari jepitannya dan ganti kujepit kedua kakinya dengan kakiku. Vaginanya semakin terasa keras menjepit penisku. Aku bergerak naik turun dengan perlahan untuk mengulur waktu. Anis kelihatan sudah tidak sabar lagi. Matanya terpejam dengan mulut setengah terbuka yang terus merintih dan mengerang. Gerakan naik turunku kupercepat dan semakin lama semakin cepat.&lt;br /&gt;Kini kurasakan desakan kuat yang akan segera menjebol keluar lewat lubang penisku. Kukira sudah lebih dari setengah jam lamanya kami bergumul. Akupun sudah puas dengan berbagai posisi dan variasi. Keringatku sudah berbaur dengan keringatnya.&lt;br /&gt;Kurapatkan tubuhku di atas tubuhnya, kulepaskan jepitan kakiku. Betisnya kini menjepit pinggangku dengan kuat. Kubisikan, “OK baby, kini saatnya..”.&lt;br /&gt;Ia memekik kecil ketika pantatku menekan kuat ke bawah. Dinding vaginanya berdenyut kuat menghisap penisku. Ia menyambut gerakan pantatku dengan menaikan pinggulnya. Bibirnya menciumku dengan ciuman ganas dan kemudian sebuah gigitan hinggap pada bahuku.&lt;br /&gt;Satu aliran yang sangat kuat sudah sampai di ujung lubang penisku. Kutahan tekanan penisku ke dalam vaginanya. Gelombang-gelombang kenikmatan terwujud lewat denyutan dalam vaginanya bergantian dengan denyutan pada penisku seakan-akan saling meremas dan balas mendesak.&lt;br /&gt;Denyut demi denyutan, teriakan demi teriakan dan akhirnya kami bersama-sama sampai ke puncak sesaat kemudian setelah mengeluarkan teriakan keras dan panjang.&lt;br /&gt;“Anis.. Ouhh.. Yeaahh!!”&lt;br /&gt;“Ahhkk.. Lakukan Jokaw.. Sekarang!!”&lt;br /&gt;Akhirnya aliran yang tertahan sejak tadipun memancar dengan deras di dalam vaginanya. Kutekan penisku semakin dalam di vaginanya. Tubuhnya mengejang dan pantatnya naik. Ia mempererat jepitan kakinya dan pelukan tangannya. Kupeluk tubuhnya erat-erat dan tangannya menekan kepalaku di atas dadanya. Ketika dinding vaginanya berdenyut, maka kubalas dengan gerakan otot PC-ku. Iapun kembali mengejang dan bergetar setiap otot PC-ku kugerakkan.&lt;br /&gt;Napas dan kata-kata penuh kenikmatan terdengar putus-putus, dan dengan sebuah tarikan napas panjang aku terkulai lemas di atas tubuhnya. kami masih saling mengecup bibir dan keadaan kamarpun menjadi sunyi, tidak ada suara yang terdebgar. hanya ada napas yang panjang tersengal-sengal yang berangsur-angsur berubah menjadi teratur.&lt;br /&gt;Lima belas menit kemudian kami berdua sudah bermain dengan busa sabun di kamar mandi. Kami saling menyabuni dengan sesekali melakukan cumbuan ringan. Setelah mandi barulah kami merasa lapar setelah dua ronde kami lalui. Sambil makan Anis menelpon familinya, kalau malam ini ia tidak pulang dengan alasan menginap di rumah temannya. Tentu saja ia tidak bilang kalau temannya adalah seorang laki-laki bernama Jokaw.&lt;br /&gt;Malam itu dan malam berikutnya tentu saja tidak kami lewatkan dengan sia-sia. Mandi keringat, mandi kucing, mandi basah dan tentunya mandi kenikmatan menjadi acara kami berdua.&lt;br /&gt;Esoknya setelah mengecek ke agen Merpati ternyata aku masih mendapat seat penerbangan ke kota propinsi, seat terakhir lagi. Ketika chek out dari hotel kusisipkan selembar dua puluh ribuan ke tangan security temanku. Ia tersenyum.&lt;br /&gt;“Terima kasih Pak,” katanya sambil menyambut tasku dan membawakan ke mobil.&lt;br /&gt;“Kapan kesini lagi, Pak? kalau Anis nggak ada, nanti akan saya carikan Anis yang lainnya lagi,” bisiknya ketika sudah berangkat ke bandara.&lt;br /&gt;Anis mengantarku sampai ke bandara dan sebelum turun dari mobil kuberikan kecupan mesra di bibirnya. Sopir mobil hotel hanya tersenyum melihat tingkah kami.&lt;br /&gt;Setahun kemudian aku kembali lagi ke kota itu dan ternya Anis tidak berada di kota itu lagi. Ketika kutelpon ke nomor yang diberikannya, penerima telepon menyatakan tidak tahu dimana sekarang Anis berada. Dengan bantuan security temanku maka aku mendapatkan perempuan lainnya, orang Jawa Tinur. Lumayan, meskipun kenikmatan yang diberikannya masih di bawah Anis, the arabian girl who has passion as like as Arabian horse&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-4212105372536061655?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/4212105372536061655/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=4212105372536061655' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4212105372536061655'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4212105372536061655'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/liarnya-gadis-arab.html' title='Liarnya gadis arab'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-1174663187973330604</id><published>2009-01-26T01:57:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T01:59:53.582-08:00</updated><title type='text'>Yenny</title><content type='html'>Kulebarkan kedua kaki Yenny, kemudian kuposisikan diriku di tengah-tengah vaginanya. Kutempelkan hidungku dan kihirup aromanya dalam-dalam, kepalaku serasa berputar. Aromanya sungguh segar dan memabukan. Setelah beberapa kali kuhirup dan kunikmati aromanya, kujulurkan lidahku dan menyentuh bibir vaginanya. Lembut, basah dan menakjubkan. Kujilat pelan-pelan seperti anak kucing menjilati susunya. Kutelan semua madu yang berhasil dikumpulkan oleh lidahku. Makin lama makin basah, akupun sudah tidak sabar lagi, aku ingin meneguk madu cintanya. Kulahap vaginanya dan kukeringkan madu yang berceceran disekitarnya. Kugunakan jariku untuk menggeser G string nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam aku di telepon oleh saudara perempuanku yang bernama Yenny. Dia adalah anak dari adik perempuan ibuku. Umurnya 4 tahun lebih tua dariku. Hubungan keluargaku dengan keluarga adik ibuku lumayan dekat dan akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu adalah Jumat malam kira-kira pukul 23.00, aku diminta tolong untuk menjemputnya di sebuah cafe di salah satu hotel berbintang 5. Salah satu temannya mengadakan acara pesta ulang tahun. Karena tidak ada yang bisa menjemput maka aku dimintai tolong. Orang tuanya sedang pulang kampung dan suaminya sedang dinas di luar negeri. Padahal aku sendiri juga ada janji kumpul bareng teman-teman dan menginap. Aku berpikiran, hanya menjemput dan mengantar pulang saja tidak akan makan waktu lama, apalagi sudah tengah malam, aku masih bisa menyusul teman-temanku yang sedang dugem. Setelah kuparkir mobilku di basement, aku langsung naik elevator dan menuju lantai 3 tempat cafe itu berada dari depan dapat kudengan dentuman suara musik dance yang cepat. Suasana di dalam gelap, hanya ada beberapa penerangan di sudut-sudut ruangan. Aku berkeliling mencari Yenny. Ternyata dia sedang di lantai bernari dengan sedikit liar bersama teman-teman wanitanya. Ada beberapa yang seksi dan menarik perhatian ku. Tapi tujuan utama ku adalah mengantar Yenny pulang dan bergabung kembali dengan teman-temanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;«Yenny!», Seruku.&lt;br /&gt;Ternyata dia tidak mendengar karena musik yang dimainkan sangat keras. Kupegang pundaknya, ia pun menoleh dan langsung mengenaliku.&lt;br /&gt;«Indra...!», Sapanya.&lt;br /&gt;Aku dapat mencium bau alkohol dari mulutnya, dan dia memang terlihat sangat mabuk.&lt;br /&gt;«Kapan datangnya? Sudah lama?», tanyanya sambil bergoyang mengikuti alunan musik.&lt;br /&gt;«Baru sampai, Sudah jam 11 lewat nanti Jimmy marah loh kalo pulangnya kemaleman.», Jawabku sambil sedikit berteriak.&lt;br /&gt;«Iya aku tahu... Sebentar ya...», Yenny meninggalkanku dan berpamitan pada teman-temannya.&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, Yenny menghampiriku dan kami pun meninggalkan tempat pesta itu. Setelah berjalan beberapa langkah, Yenny kehilangan keseimbangannya dan hampir terjatuh. Secara reflek aku memegang lengan dan pinggangnya.&lt;br /&gt;«Apakah kamu baik-baik saja?», tanyaku.&lt;br /&gt;«Iya... Tidak apa-apa koq..», jawabnya.&lt;br /&gt;Karena takut dia jatuh, maka aku terus memegangi pinggang dan lengannya.&lt;br /&gt;Setelah sampai di mobil, langsung kunyalakan mesin dan kuarahkan ke rumahnya. Tidak sampai lima menit, Yenny telah tertidur dengan pulas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;15 menit kemudian aku telah sampai di rumahnya. Aku coba untuk membangunkannya, tetapi tidak bisa. Yenny benar-benar tertidur lelap sekali.&lt;br /&gt;Ku buka tas tangannya dan kuambil kunci rumahnya. Terpaksa aku menggendongnya ke dalam rumah.&lt;br /&gt;Kubaringkan dia di ranjangnya dan timbul sebuah ide di dalam kepalaku. Aku telah bersusah payah menggendongnya ke kamarnya yang terletak di lantai 2, seharusnya aku mendapatkan imbalan yang setimpal. Imbalan yang kuinginkan tidak lain adalah kepuasan duniawi untuk penisku.&lt;br /&gt;Aku langsung membongkar lemari pakaiannya. Tanganku meraba-raba celana dalamnya yang semuanya berukuran mini dan halus dengan berbagai warna, seleranya memang bagus. Kuambil satu yang berwarna kulit dan kuhirup dalam-dalam. Tidak tercium aroma dari vaginanya, tapi cukup untuk membuatku bergairah. Aku berpaling ke arah Yenny, dia masih tertidur. Tiba-tiba saja aku tersentak dan langsung aku kembali membongkar-bongkar lemari bajunya. Akhirnya aku menemukan apa yang kucari, namun terdapat juga sedikit rasa kecewa. Dengan tangan yang sedikit bergetar kuangkat harta karun ku. Kubuka lipatannya dengan perlahan, terbentanglah sebuah stocking nylon berwarna kulit yang sheer toe dan lacy top ( transparan sampai ujung kaki dan pengikatnya berupa renda-renda yang seksi ). Penisku langsung berereksi dengan kuat. Langsung otaku memerintahkan seluruh tubuhku untuk masturbasi sambil mengenakan stocking dan celana dalam Yenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekali lagi kuperhatikan Yenny yang sedang tidur, kemudian aku masuk ke kamar mandi dan melepaskan semua pakaianku. Perlahan-lahan ku tarik stocking tersebut sampai ke tengah pahaku. Seluruh tubuhku diselimuti oleh getaran-getaran erotis ketika stockingnya bergesekan dengan kulitku. Demikian pula ketika celana dalamnya menyelimuti selangkanganku, pantatku dan buah zakar ku. Celananya terlalu kecil sehingga tidak dapat menyelimuti penisku, tapi ini memudahkanku untuk bermasturbasi. Akan lebih nikmat lagi jika ada sebuah celana dalam lagi untuk membalut kejantananku, maka akupun keluar dari kamar mandi dan kuambil sebuah celana dalam lagi yang berwarna merah muda. Langsung kubalutkan pada penisku. Ku kocok penisku sambil membayangkan bercinta dengan saudaraku.&lt;br /&gt;Tanpa sadar aku menoleh ke arah Yenny dan timbul sebuah pemikiran untuk langsung bersetubuh dengannya. Namun ada pertentangan di dalam batinku. Akhirnya aku memutuskan untuk bermasturbasi dengan melihat Yenny dari dekat dan mencoba untuk menyentuhnya bila memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berutut di samping ranjang Yenny. Dia tidur dengan terlentang, kuamati dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Wajahnya yang cantik dan manis, rambutnya yang sedikit dicat coklat selalu terbayang-bayang di dalam hatiku. Payudaranya yang tidak terlalu besar namun padat berisi. Gaun pestanya berwarna hitam terbuat dari sutra yang halus, hanya ada sebuah tali yang menyimpang dari pundaknya untuk menggantung gaun tersebut. Gaun sutra itu membungkus tubuhnya yang langsing dan padat dengan ketat, dan berakhir di atas lututnya. Ditambah lagi ada belahan di sebelah kanan sampai tengah pahanya menambah keseksian gaun tersebut dan tentu saja pemakainya. Kakinya padat dan proporsional di balut oleh stocking hitam yang sangat transparan dan kakinya memakai sepatu tali ( hanya ada 3 buah tali ) berwarna hitam yang menggiurkan. Kutelan ludahku, tidak dapat kupercaya saudara ku yang sering menjadi fantasi masturbasiku terbaring di hadapanku, seolah-olah mengundangku untuk menyetubuhinya. Dengan gugup jari tengah kananku menyentuh pergelangan kaki kanannya. Kuamati wajah Yenny, ternyata tidak ada reaksi. Kutelusuri tulang keringnya sampai tengah pahanya dengan jariku. Tidak ada reaksi darinya. Kugunakan telapak tanganku dan kutelusuri kembali sampai ke pergelangan kakinya. Kejantananku berdenyut-denyut dengan hebat, rasanya aku bisa orgasme dengan hanya mengelus-elus kakinya yang di lapisi oleh stocking yang halus. Berulang kali aku mengelus-elus kaki kanan dan kirinya dan sesekali memperhatikan wajah Yenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusentuh dengan ringan pipinya yang halus dan kencang, kudekatkan wajahku dengan wajahnya, sampai aku dapat mendengar nafasnya. Kukecup bibirnya dengan lembut, rasanya sungguh menghanyutkan. Kukulum dan kujilat bibirnya untuk beberapa saat, kemudian ku kecup dan kujilati dadanya. Payudaranya terasa lembut dan benar-benar pas dengan pijatan tanganku. Aku hendak mencicipinya namun gaun yang masih ia kenakan, terpaksa kukecup bersama gaunnya yang tipisdan halus. Aku tidak menyangka Yenny tertidur begitu lelap hingga tidak dapat merasakan payudaranya sedang kuremas-remas. Pertama-tama kuremas dengan pelan dan lembut, kemudian remasan ku bertambah kuat dan kuat tetapi tetap lembut, karena aku tidak ingin menyakitinya. Melihat reaksi Yenny yang tetap tidak terbangun dengan apa yang sedang kulakukan, memompa gairahku untuk bertindak lebih jauh, bahkan saat ini aku tidak perduli jika saudaraku yang cantik ini terbangun. Aku beralih ke jar-jari kakinya. Kutempelkan hidungku pada jari kakinya yang mungil yang masih terbungkus manis oleh stocking dan sepatu talinya. Kuhirup dalam-dalam, aromanya benar-benar membuat kepalaku melayang, tidak tercium bau kaki yang memuakan tetapi suatu wangi yang seksi dan menggetarkan. Ku kecup satu persatu semua jari kakinya kemudian kulahap ke dalam mulutku. Hasratku meledak saat itu juga, ku oral kakinya yang terbalut stocking hitam yang halus dan lembut. Baru kali ini aku begitu bernafsu french kiss dengan kaki perempuan. Aku tidak mau melakukannya jika pasangan seksku tidak memakai stocking tau pantyhose. Setelah puas melahap jar-jari kakinya, aku lanjutkan kecupan dan jilatanku ke pergelangan kakinya, pelan-pelan naik ke betis dan lututnya. Ku geser roknya sampai ke pertengahan pahanya. Yenny mengenakan stocking dengan bagian atas yang berenda ( lacy top ) dan benar-benar cocok di pahanya yang putih mulus. Tidak diragukan lagi, kujilati dan kukecup semua bagian pahanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba HP ku berbunyi. Aku terkejut dan langsung berlari dan mematikan suara HP ku. Ternyata aku mendapat SMS dari temanku, dan aku baru ingat kalau aku ada janji dengan mereka. Aku tidak mungkin melewatkan kesempatan yang langka ini, meskipun tabu tetapi aku tetap ingin menikmatinya. Akhirnya kubatalkan rencanaku dengan teman-temanku. HP aku matikan, dan aku kembali menghadap Yenny yang tidur bagaikan patung. Ku kocok sebentar penisku yang sekeras batu dan kulanjutkan kembali menodai saudaraku. Siapa suruh dia begitu cantik dan merangsang gairahku. Ku angkat roknya sampai di atas lembah cintanya. Spontan saja kejantananku bergetar dengan kuat, sekujur tubuhku serasa lumpuh dengan gairah yang kurasakan. Tidak kusangka ia mengenakan celana dalam G string berwarna hitam yang sangat kecil. Bagian depannya hanya berupa segitiga kecil yang berpangkal di tempat bulu pubik tumbuh, hebatnya lagi Yenny mencukur bulunya sampai bersih. Kain yang menyentuh bibir vaginanya tidak lebih dari 2 cm sehingga terbenam di dalam bibir vaginanya yang berwarna merah belia segar. Secara tidak sadar aku melepaskan desahan nafsu dan hasratku. Kusentuh segitiga kecil yang seksi itu, bahannya benar-benar halus dan lembut. Kutarik garis lurus ke arah gua cintanya. Bagaikan petir yang menyambar tubuhku, ternyata vaginanya terasa basah dan licin. Jari tengah kananku bolak balik menelusuri garis kenikmatannya. Makin lama makin terasa basah. Madu cintanya pasti terperangkap di dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulebarkan kedua kaki Yenny, kemudian kuposisikan diriku di tengah-tengah vaginanya. Kutempelkan hidungku dan kihirup aromanya dalam-dalam, kepalaku serasa berputar. Aromanya sungguh segar dan memabukan. Setelah beberapa kali kuhirup dan kunikmati aromanya, kujulurkan lidahku dan menyentuh bibir vaginanya. Lembut, basah dan menakjubkan. Kujilat pelan-pelan seperti anak kucing menjilati susunya. Kutelan semua madu yang berhasil dikumpulkan oleh lidahku. Makin lama makin basah, akupun sudah tidak sabar lagi, aku ingin meneguk madu cintanya. Kulahap vaginanya dan kukeringkan madu yang berceceran disekitarnya. Kugunakan jariku untuk menggeser G string nya. Mulutku langsung menampung dan menyedot madu yang mengalir dengan deras. Aku terus menyedot bagaikan vacuum. Tak dapat dihindari, suara sedotan pun terdengar nyaring. Aku tidak melihat lagi bagaimana ekspresi atau keadaan Yenny karena malam ini Aku akan bercinta dengan saudaraku. Setelah mereda, kukulum bibir vaginanya. Aku berhenti sejenak dan memperhatikan bibir vaginanya yang mekar bagaikan bunga. Kugunakan ke dua jariku untuk membuka pintu kenikmatannya, lidahku langsung menelusuri sisi dalamnya. Klitoris adalah sasaran utamaku. Kukulum dan lidahku menari dengan irama sedang. Klitorisnya tak dapat menolak ajakan dansaku dan bergerak mengikuti iramaku. Aku dapat merasakan tubuh Yenny bergetar dan sedikit bergerak. Ini adalah tanda yang bagus. Ia pasti menikmatinya. Kunaikkan iramaku dan lidahku berdansa dengan liar. Tubuh saudaraku menggeliat dan otot-otot pinggulnya bergetar. Aku semaki terpacu dan bernafsu. Kuvariasikan gerakan lidahku dan kadang-kadang ku gigit dengan lembut. Tubuh Yenny semakin tidak terkendali. Kunaikan pandangan mataku dan kulihat matanya masih tertutup, mulutnya sedikit terbuka, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, tangan dan kakinya pun ikut bergerak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih ingin menikmatinya lebih lama, ku arahkan lidahku ke dalam gua kenikmatan duniawinya. Kujulurkan lidahku sejauh mungkin dan kujelajahi semua bagian dalamnya yang hangat dan lembut. Cairan hasratnya terus mengalir dan membasahi hidung dan daguku.&lt;br /&gt;Yenny sangat menikmatinya sama seperti aku. Aku jadi ingin bercinta dengannya dalam keadaan sadar, pasti akan lebih seru lagi. Aku iri sekali dengan suaminya, tetapi malam ini Yenny adalah milikku. Aku kembali pada klitorisnya. Tidak lama, aku mendengar suara desahan halus yang bagaikan musik di telingaku.&lt;br /&gt;Desahannya makin kencang dan cepat, pinggulnya terangkat dan otot-otonya mengejang, untuk sesaat tidak terdengar desahannya. Setelah beberapa detik pinggulnya mendarat kemabli ke kasur, Yenny kembali mendesah dengan penuh kenikmatan, otot-ototnya mengejang dan mengendur beberapa kali dan madu cintanya kembali membanjir keluar. Tidak kusia-siakan sedikitpun madu yang keluar. Badannya mulai tenang, tapi kini giliranku. Kuposisikan tubuhku di atasnya dan bertumpu dengan tanganku. Kukecup bibirnya yang sedikit terbuka. Dengan sedikit dorongan kejantananku masuk ke dalam lembah kenikmatan yang hangat. Badan Yenny sedikit terangkat laluturun lagi. Kudorong lagi penisku hingga setengah panjangnya. Yenny kembali menggeliat, dan mulutnya terbuka lebih lebar dan kepalanya sedikit terangkat. Kutarik ke luar sampai ujung kepala penisku lalu kudorong masuk lagi untuk beberapa kali, tidak ada hambatan yang terjadi, yang ada hanyalah jalan tol yang mulus.&lt;br /&gt;Kali ini kudorong masuk semuanya. Vaginanya terasa kencang dan hangat. Aku tidak berani menimpanya jadi kusangga tubuh bagian atasku dengan tangan, pinggangku bergerak perlahan-lahan. Aku tidak berani terlalu cepat dan kencang, tapi aku jadi penasaran minuman beralkohol apa yang dia minum. Belum pernah aku bersetubuh dengan gerakan selambat ini, alhasil aku dapat merasakan semua sensasi yang terjadi pada waktu mendorong dan menarik. Yenny kembali mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuangkat kaki kanannya dan posisi Yenny bertumpu pada sisi badan sebelah kiri. Kupeluk kakinya yang menggairahkan dan kaki kiriku berada di depan, seperti posisi berlutut dengan satu kaki. Kuposisikan kejantananku pada gerbang kenikmatan cintanya dan kudorong masuk dan kutarik keluar dengan perlahan. Kubelai-belai kakinya yang mulus dan kupeluk bagaikan guling. Kembali kulahap jari-jari kakinya. Ini benar-benar menakjubkan, orgasmeku sudah berada diambang kenikmatan. Ingin sekali kukeluarkan madu murniku di dalam goa cintanya.&lt;br /&gt;Kukembalikan posisi Yenny sehingga ia tidur terlentang. Kuangkat ke dua kakinya membentuk huruf V. Kutarik penisku sampai hampir keluar dari pintu surga dunianya, kemudian kudorong masuk hingga ke pangkalnya. Setiap dorongan masuk yang mantap selalu membuat tubuh Yenny menegang. Melihat respons yang indah ini, kupercepat irama percintaanku. Ternyata memang benar, tubuhnya menggeliat dengan hebat. Suara merdunya kembali terdengar menyanyikan puncak kenikmatan duniawi yang hanya dapat dicapai dengan orgasme. Tubuhnya bergetar dan berkontraksi dengan hebat, dapat kurasakan dinding-dinding vaginanya menegang dengan kuat kemudian merenggang sebentar dan menegang lagi. Aku pun semakin bernafsu menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orgasme yang melanda Yenny sungguh hebat, meskipun tidak sadar tetapi organ seksualnya masih bekerja dengan baik. Satu dorongan, dua dorongan, tiga dorongan, akhirnya tibalah waktuku untuk menikmati indahnya dunia. Kucabut kejantananku, dan kuposisikan diriku di bawah dagunya. Tangan kiriku dengan intensif mengocok penisku yang hampir meledak. Tubuhku bergetar dengan sangat kuat, kesadaranku diambil alih oleh dahsyatnya orgasme. Kutempelkan ujung penisku pada pipi kirinya, semprotan pertamaku yang begitu kuat mencapai alisnya. Guncangan tubuhku yang kuat menggeser posisi penisku ke dagu Yenny. Disinilah aku menghabiskan empat semprotan terakhir. Lima gelombang ejakulasi yang panjang, membuat tubuhku melayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah tenang, aku memperhatikan hasil karyaku. Ada sebuah garis putih dari alis kirinya, memanjang ke mata dan pipinya dan berakhir di dagunya. Dagunya dipenuhi oleh madu cintaku sampai mengalir sepanjang lehernya. Ada cukup banyak maduku yang mendarat di bibirnya, aku yakin ada yang masuk ke dalam mulutnya. Tiba-tiba Yenny menelannya, spontan aku terkejut dan menjadi terangsang lagi. Wajahnya yang cantik berhiaskan madu putihku membuatnya begitu cantik dan menggairahkan. Aku segera mengambil HP dan memotretnya dengan kamera HP. Kuhabiskan seluruh memory untuk fotonya. Aku berpose dengan penisku di bibirnya, dan juga ketika penisku memasuki gerbang kenikmatannya. Ini adalah koleksi yang sangat berharga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-1174663187973330604?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/1174663187973330604/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=1174663187973330604' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/1174663187973330604'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/1174663187973330604'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/yenny.html' title='Yenny'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-1993456538434363207</id><published>2009-01-21T06:06:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T06:13:29.244-08:00</updated><title type='text'>Pengalaman Sensasional</title><content type='html'>“Iyaa.. Iyaa.. Oohh” terdengar desisan Mas Andy..&lt;br /&gt;Kukulum dan kujilati kedua batang kemaluan itu secara bergantian, dari sudut mataku.. Aku melihat Mas Andy memperhatikan perbuatanku itu demikian juga Joni.&lt;br /&gt;Lama kuoral kedua batang kemaluan mereka, kemudian Joni merubah posisinya.. Ia menungging ditepian ranjang.. Sementara Mas Andy mengambil sesuatu dari atas meja.. Akupun sadar apa yang akan mereka lakukan, rupanya permainan akan segera dimulai.. pikirku, tampak Mas Andy mengolesi batang kemaluannya dengan cream yang ia tuangkan dari botol, dan aku pun segera beraksi.. Kujilati anus Joni yang ditumbuhi bulu-bulu.. itu.. Terasa beberapa kali tubuh Joni tersentak-sentak karena nikmat.. Kucolok-colok ujung lidahku ke dalam..&lt;br /&gt;“Aaahkk.. Ooh.. Nggkk..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi pengalamanku yang kutuangkan dalam tulisan, mungkin ini adalah kejadian yang umum, tetapi bagiku.. Ini adalah pengalaman yang sensasional dan terjadi pada masa sekarang. Dan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.. Sengaja nama pelaku aku samarkan, kecuali namaku.&lt;br /&gt;Dalam posisiku sebagai sekretaris sekarang ini, maka hubungan dengan relasi tidak bisa aku hindari.. Tugas entertaint selalu diberikan kepadaku, mungkin bos ku tahu benar bagaimana memanfaatkan kecantikanku didalam menghadapi klien atau relasinya, hingga akhirnya aku berkenalan.. Sebut saja namanya Mas Andy.. Seorang eksekutif muda.. Usianya kira-kira 30 tahun, tinggi 175 cm dengan bentuk tubuh proposional. Mas Andy ini sudah berkeluarga dan punya 2 putra, dalam sehari bisa 3-4 kali Mas Andy menghubungiku via telepon..&lt;br /&gt;Dari membicarakan hal-hal yang berhubungan dengan bisnis sampai ke permasalahan rumah tangganya.. Hingga akhirnya aku mendengarkan pengakuan dari Mas Andy, ternyata dia seorang bisexual.. Gila..? Memang gila.. Tetapi aku malah antusias mendengarkan ceritanya, dan menurut pengakuannya.. Sekarang ini dia juga jalan dengan salah satu karyawannya.. Dan mereka telah jalan 1 tahun lamanya tanpa sepengetahuan siapa-apa.. Kecuali aku..&lt;br /&gt;Sejak pengakuannya itu.. Mas Andy sering menelponku.. Dan apabila pembicaraan sudah menyinggung hubungan dengan karyawannya itu.. Aku tidak sungkan untuk mengodanya, kata.. Wah.. Asyik nih main pedang.. Atau gimana sih Mas ML nya.. Candaku selalu dijawab dengan tertawa saja oleh Mas Andy.&lt;br /&gt;Hari itu adalah hari jumat, dan seperti biasa Mas Andy kembali menghubungiku via telepon.&lt;br /&gt;“Hallo.. Selamat sore Nia” serunya.&lt;br /&gt;“Oh.. Mas Andy.. Selamat sore juga Mas” sahutku.&lt;br /&gt;“Apa nih acaranya nanti malam?”&lt;br /&gt;“Wah.. enggak ada acara nih Mas”&lt;br /&gt;“Gimana kalau nanti malam kita jalan.. Nanti kukenalkan temanku” seru Mas Andy lagi.&lt;br /&gt;Aku tahu yang dimaksud “temannya” itu adalah teman jalannya, dan memang akupun penasaran seperti apasih teman Mas Andy itu.&lt;br /&gt;“Boleh aja Mas” jawabku.&lt;br /&gt;“Oke.. Nanti aku jemput jam 8 malam yaa” serunya lagi.&lt;br /&gt;Jam 19.30 aku sudah berdandan rapih, aku memakai t’shirt dan jeans ketat, dibalik itu aku memakai bra dan g-string berwarna pink.. Warna favoritku, rambut hitamku yang panjang kubiarkan terurai kebelakang, dan benar.. Tepat jam 20.00 Mas Andy datang menjemputku, aku pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan duduk di depan.&lt;br /&gt;“Wah.. Malam ini kamu cantik sekali Nia” puji Mas Andy, aku hanya tersenyum saja, lalu.&lt;br /&gt;“Nia.. Kenalkan temanku” seru Mas Andy.&lt;br /&gt;Ternyata dibangku belakang duduk seorang laki-laki, aku pun menoleh sembari mengulurkan tanganku.&lt;br /&gt;“Nia.. “sahutku,&lt;br /&gt;“Joni..” sahut pria itu sembari menjabat tanganku.&lt;br /&gt;Mhmm.. Ternyata yang namanya Joni ini macho juga.. pikirku. Selama perjalanan kami banyak ngobrol, dan dari pembicaraannya aku tahu kalau usia Joni ini sepantaran dengan aku yaitu 24 tahun, dan dia berasal dari daerah.. Dikota ini dia mengontrak rumah dan tinggal sendirian.&lt;br /&gt;Malam itu kami habiskan dengan duduk-duduk dan ngobrol di sebuah cafe.. Dan aku merasa geli juga melihat tingkah laku Mas Andy dan Joni.. kadang-kadang dalam tawa canda mereka.. Suka saling pandang dan sekali-kali saling berpegangan tangan layaknya seperti dua orang kekasih.. Apalagi sedari tadi tidak henti-hentinya mereka berdua memesan draft beer.. Minuman ringan kata mereka.. Sementara aku hanya memesan long island.. Minuman ringan juga.. menurutku?&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 ketika kami keluar dari cafe itu, tampak sekali Mas Andy dan Joni sudah mulai dipengaruhi alkohol, sedangkan aku.. kepalaku mulai rada-rada pusing.. Karena pengaruh alkohol juga. Dari situ kita pergi ketempat Joni.. Jelas maksud Mas Andy adalah mendrop Joni terlebih dahulu, tetapi ternyata kamipun mampir ditempat Joni.. Dan aku menurut saja ketika disuruh turun.. Masuk ke dalam rumah Joni, akupun duduk diruang tamu.. Sementara Mas Andy dan Joni masuk ke dalam.. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan didalam..&lt;br /&gt;Tetapi menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan.. Apalagi pengaruh alkohol sudah memenuhi kepalaku, aku pun berjalan ke dalam.. Menuju kesebuah kamar yang tidak tertutup.. Tampak cahaya lampu terang dari dalam kamar itu, ketika aku melihat ke dalam.. Terkejutlah aku.. Tampak Mas Andy dan Joni sedang.. berdiri ditengah kamar.. Dan berciuman.. Hah! Mas Andy hanya mengenakan jelana jeansnya.. Sementara kaosnya sudah entah kemana.. Dan Joni dia hanya memakai celana kolor saja..&lt;br /&gt;Aku hanya berdiri bengong diambang pintu.. Melihat adegan itu.. Tampak mereka sangat ganas sekali berciuman.. Joni lebih sedikit agresif.. Dia berusaha melepas celana jeans Mas Andy hingga akhirnya terlepas lalu celana kolor Mas Andy pun dilepasnya.. Maka tampaklah batang kemaluan Mas Andy yang.. Besar dan tegang itu.. Ohh, segera Joni mencekal batang kemaluan Mas Andy itu lalu dikocok-kocoknya dengan tangan kanannya.. Setelah itu Jonipun berjongkok dihadapan Mas Andy.. Dan.. Astagaa..&lt;br /&gt;Dengan ganas Joni mengisap batang kemaluan Mas Andy itu.. Woowww.. Sungguh indah sekali pemandangan di depanku itu.. Tampak batang kemaluan Mas Andy langsung dihisap oleh Joni.. Dijilat-jilat kepalanya terus dihisap lagi.. Joni mengerakkan kepalanya maju mundur sehingga tampak batang kemaluan Mas Andy keluar masuk mulut Joni.. Melihat itu semua membuat pikiranku jadi kacau.. Tetapi aku tidak mau berkedip sekalipun melihat itu..&lt;br /&gt;Tiba-tiba Mas Andy menoleh kepadaku.. Dan tersenyum..&lt;br /&gt;“Nia.. Jangan bengong aja.. Ayo masuk kesini” serunya.&lt;br /&gt;Aku sempat terkejut.. Tetapi akupun berhasil menguasai diriku.. Lalu aku membalas senyum Mas Andy itu.. Dan.. Aku melangkah masuk ke dalam.. Duduk ditepian ranjang, dan memperhatikan adegan itu tanpa berkedip.. Maklum.. Aku suka banget melihatnya, kemudian Mas Andy menyuruh Joni duduk disampingku.. Dan dia berlutut dilantai diantara kedua kaki Joni.. Ditariknya celana kolor Joni itu hingga terlepas.. Tampak olehku batang kemaluan Joni.. yang berdiri tegak itu.. Tidak terlalu besar jika dibanding milik Mas Andy.. Tapi mengairahkan juga.. Oohh..&lt;br /&gt;Dengan rakus Mas Andy langung memasukkan batang kemaluan Joni ke dalam mulutnya.. Dijilatinya.. Dari kepala sampai kebiji pelirnya.. Ohh indahnya.. Diam-diam akupun terangsang hebat.. Sementara Joni hanya mengelinjang keenakan dengan mata setengah terpejam.. Lalu Mas Andy mengangkat kedua paha Joni dan ditekuknya ke atas.. Lalu dia menjilati bagian bawah biji pelir Joni.. Tampak tubuh Joni tersentak-sentak keenakan.. Gilaa.. Aku hanya duduk menonton adegan itu.. Sungguh mengairahkan..&lt;br /&gt;“Hayoo.. Nia.. Ikutan” seru Mas Andy.&lt;br /&gt;Aku hanya tersenyum saja.. Tapi gairahku.. Ohh.. Aku sudah tidak tahan lagi, akhirnya akupun mendekatkan kepalaku ke batang kemaluan Joni itu.. Tercium aroma khas.. Penis laki-laki, kemudian kujuiurkan lidahku menjilati batang kemaluan Joni.. Aaahh.. Nikmatnya.. Kukulum batang kemaluan Joni hingga.&lt;br /&gt;“Aahh.. Nggkk.. Uuhh..” terdengar erangan Joni..&lt;br /&gt;Rupanya hal itu membuat Mas Andy kepingin batang kemaluannya dioral olehku, lalu dia berlutut ditepi ranjang dan menyodorkan batang kemaluannya hingga menyentuh pipiku.. Gilaa.. Aku tidak mau menyia-nyiakan itu.. Segera kukulum kepala batang kemaluan Mas Andy..&lt;br /&gt;“Iyaa.. Iyaa.. Oohh” terdengar desisan Mas Andy..&lt;br /&gt;Kukulum dan kujilati kedua batang kemaluan itu secara bergantian, dari sudut mataku.. Aku melihat Mas Andy memperhatikan perbuatanku itu demikian juga Joni.&lt;br /&gt;Lama kuoral kedua batang kemaluan mereka, kemudian Joni merubah posisinya.. Ia menungging ditepian ranjang.. Sementara Mas Andy mengambil sesuatu dari atas meja.. Akupun sadar apa yang akan mereka lakukan, rupanya permainan akan segera dimulai.. pikirku, tampak Mas Andy mengolesi batang kemaluannya dengan cream yang ia tuangkan dari botol, dan aku pun segera beraksi.. Kujilati anus Joni yang ditumbuhi bulu-bulu.. itu.. Terasa beberapa kali tubuh Joni tersentak-sentak karena nikmat.. Kucolok-colok ujung lidahku ke dalam..&lt;br /&gt;“Aaahkk.. Ooh.. Nggkk..”&lt;br /&gt;Joni mengerang keenakan.. Lalu Mas Andy menyerahkan botol cream itu padaku.. Kutuang isinya ketelapak tanganku.. Lalu kuolesi ke sekitar anus Joni.. Sembari sekali-kali kususupkan telunjukku ke dalam lobang pantat Joni itu.. Setelah itu Mas Andy berdiri dibelakang bokong Joni dan segera mengarahkan batang kemaluannya ke lobang pantat Joni.. Akupun tidak tinggal diam.. Kubuka belahan pantat Joni.. Hingga tampak lobang anus Joni merekah.. Dan.. Bless.. Perlahan tapi pasti.. Batang kemaluan Mas Andy masuk ke dalam..&lt;br /&gt;“oohh.. Nggkk.. Aahh” erang Joni..&lt;br /&gt;Setelah itu tampak gerakan erotis pinggul Mas Andy maju-mundur.. Akupun turun dari ranjang sembari memperhatikan adegan itu.. Ohh.. Sangat.. Sangat sensasional.. Dan tanpa sepengetahuan mereka.. Aku mulai melepas pakaianku.. Hingga telanjang bulat..&lt;br /&gt;Kemudian kupeluk tubuh Mas Andy dari belakang sehingga kedua buah dadaku menyentuh punggungnya.. Dan kedua tanganku pun melingkar di dadanya.. Kutempelkan perutku dan pinggulku ke tubuh bagian belakang Mas Andy..&lt;br /&gt;“Aahh.. Nggkk.. ” terdengar desisan Mas Andy..&lt;br /&gt;Dalam posisi demikian.. Pinggulku pun kugerak-gerakan maju mundur mengikuti gerakan Mas Andy.. Aahh.. nikmatnya, kuciumi tengkuk Mas Andy dari belakang.. Aku benar-benar lost kontrol.. Rupanya Mas Andy tahu.. kegelisahanku.. Iapun mengulurkan tangan kanannya kebelakang dan langsung meraba kemaluanku.. Kurenggangkan pahaku agar tangan Mas Andy leluasa meraba-raba kemaluanku.. Aaahh.. Ohh.. Aku merintih.. Nikmat ketika jari-jari Mas Andy menyodok-nyodok liang kemaluanku.. Akupun segera mendekap semakin erat tubuh Mas Andy dari belakang dengan tetap mengikuti irama pergerakan pinggulnya.&lt;br /&gt;“Kamu mau Nia..” bisik Mas Andy.&lt;br /&gt;“Ooh.. Iya.. Mas.. Iya” sahutku.&lt;br /&gt;“Naik deh ke atas ranjang” serunya lagi.&lt;br /&gt;Akupun segera naik ke atas ranjang, dan menungging ditepian ranjang disamping Joni.. menanti dengan pasrah.. Lalu&lt;br /&gt;“Mau dimasukin kemana Nia..?” tanya Mas Andy.&lt;br /&gt;“Terserah mass” sahutku pelan.&lt;br /&gt;Ternyata Mas Andy memilih kemaluanku..&lt;br /&gt;“Aah.. Oohh.. Aaghhkk” rintihku ketika terasa batang kemaluan Mas Andy yang masih berlumuran cream masuk ke dalam liang vaginaku.. Aku benar-benar merasakan nikmat.. Lalu Joni yang masih menungging disampingku menoleh padaku.. Akupun menoleh padanya lalu ia menjulurkan lidahnya.. Akupun segera menjilati lidah Joni dengan lidahku, akhirnya bibir kami bertautan.. Oohh.. Nikmatnya..&lt;br /&gt;Setelah agak lama.. Akhirnya kami ganti posisi.. Joni terlentang diatas ranjang dan aku naik ke atas tubuhnya.. Perlahan-lahan aku memasukan batang kemaluan Joni ke dalam liang vaginaku.. Oohh.. Aaahh.. Nikmatnya.. Setelah itu aku menekuk kedua lututku kedepan sehingga dari belakang Mas Andy bebas memasukan batang kemaluannya ke dalam lobang pantatku..&lt;br /&gt;Nggkk.. Aaahh.. Terasa seret.. Tapi peralahan-lahan.. Amblas juga seluruh batang kemaluan Mas Andy ke dalam lobang pantatku.. Gillaa.. Gilaa.. Nikmat.. Sekali.. Ohh.. Susah aku menuliskan apa yang aku rasakan tetapi.. Sungguh sensasi sekali.. Apalagi Joni.. Dia tidak tinggal diam.. Dengan rakusnya Joni mengisap-isap kedua puting payudaraku bergantian.. Oohh.. Sungguh.. Saat itu aku tidak mau permainan kami berakhir.. Dan walaupun aku sudah dua kali klimaks tetapi.. Aku tidak mau.. Permainan ini berakhir..&lt;br /&gt;Akupun segera mengambil inisiatif. Aku minta agar posisi diubah.. Mas Andy terlentang diatas ranjang.. Sementara aku terlentang diatas tubuh Mas Andy, dan tetap batang kemaluan Mas Andy didalam anusku.. Dan Joni.. Telungkup diatas tubuhku dengan batang kemaluannya tertancap didalam vaginaku.. Oohh.. Nikmaatt..&lt;br /&gt;Setiap gerakan yang mereka lakukan membuat tubuhku mengejang-ngejang menahan nikmat, apalagi tangan Mas Andy tak henti-hentinya meremas-remas payudaraku.. Ooh.. Aahh.. Ruaarr biassaa..&lt;br /&gt;Lalu aku menekuk kedua lututku ke atas dan kedua kakiku segera merangkul pinggang Joni.. Nikmat sekali.. Apalagi Joni juga aktif menciumi bibirku, leherku dan seluruh wajahku dijilatinya, aku hanya bisa memejamkan mataku.. Menikmati kenikmatan yang tiada taranya ini, perlahan tapi pasti.. Joni mulai mempercepat gerakkannya, sementara pinggul Mas Andypun tidak mau diam, dia menghentak-hentakkan pinggulnya ke atas sehingga batang kemaluannya keluar masuk lobang pantatku. Ooohh.. Enak sekali, hingga akhirnya.&lt;br /&gt;“Aaggkk.. Aku.. Mau keluar.. Aku mau keluar” erang Joni.&lt;br /&gt;“Saya juga.. Oohh.. Aaakk..” erang Mas Andy juga.&lt;br /&gt;Gilaa.. Aku tidak mau.. Tidak mau permainan ini berakhir, aku pun menjadi egois sekali..&lt;br /&gt;“Jangan.. Jangan dulu Mas.. Nanti aja.. Ohh” seruku dengan nafas memburu.&lt;br /&gt;“Kenapa.. Nia.. Nggkk.. Kamu belum puas..?” bisik Mas Andy.&lt;br /&gt;“Jangan dulu.. Mas.. Biar kuminum sperma kalian..” seruku.&lt;br /&gt;Gilaa.. Akupun tidak sadar mengucapkan kata-kata itu.. Tapi jujur.. Aku kepingin sekali.. Karena belum 100% puas jika belum menelan sperma mereka.&lt;br /&gt;Lalu akupun duduk ditepi ranjang sementara mereka berdua berdiri dengan masing-masing batang kemaluan mengarah ke bibirku.. Kukocok-kocok batang kemaluan mereka dengan kedua tanganku.. Sementara lidahku menjilati kesana-kemari.. Kuisap dan kukulum kedua batang kemaluan itu secara bergantian dan..&lt;br /&gt;“Aaaggkk.. Nggkk.. Aarrgghhkk..” tiba-tiba terdengar suara erangan Mas Andy.&lt;br /&gt;Aku segera membuka mulutku dan.. Crott.. Croott.. Keluarlah sperma Mas Andy yang segera masuk ke dalam mulutku.. Nikmatt.. Sekali.. Dan kujulurkan lidahku menjilati lobang kencing Mas Andy.. Aku tidak mau kehilangan setetespun sperma Mas Andy itu.&lt;br /&gt;Beberapa detik kemudian Joni.. Dia mengerang panjang juga.. Walau mulutku masih penuh sperma Mas Andy.. Akupun siap menerima muncratan sperma Joni.. Kumasukan kepala batang kemaluan Joni itu ke dalam mulutku, dan.. Crot.. Crot tersemburlah sperma Joni didalam mulutku.. Ohh.. Banyak.. Sekali.. Sampai beberapa kali aku harus menelannya..&lt;br /&gt;Akhirnya kami bertigapun rebah diatas ranjang.. Peluh membasahi tubuh kami..&lt;br /&gt;“Nia.. Nia.. Tidak disangka.. Kamu luar biasa..” seru Mas Andy.&lt;br /&gt;“Benar.. Kamu hebat Nia” tambah Joni, dan aku hanya tersenyum saja.&lt;br /&gt;“Kalian juga aneh.. Tapi hebat” seruku.&lt;br /&gt;“Tapi ada satu permintaanku Mas..” tambahku.&lt;br /&gt;“Apa tuh Nia..” tanya Mas Andy.&lt;br /&gt;“Aku mau kita komitment.. Hanya sebatas ini saja.. Oke?” seruku.&lt;br /&gt;“Iya dong Nia.. Aku kan punya isteri.. Dan kamu juga.. Ada tunangan kamu” sahut Mas Andy.&lt;br /&gt;Akupun tersenyum puas.. Dan tanpa sadar aku melirik ke jam didinding.. Gilaa.. Sudah jam 2 pagi. Dan benar.. Mas Andy benar-benar memegang komitmentnya, setelah kejadian itu dia tetap sopan kepadaku, dan tidak sekalipun dia menyinggung-nyinggung kejadian itu, dan aku.. Akupun demikian.. Nothing happened beetwen us..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-1993456538434363207?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/1993456538434363207/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=1993456538434363207' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/1993456538434363207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/1993456538434363207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/pengalaman-sensasional.html' title='Pengalaman Sensasional'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-5871325772621251238</id><published>2009-01-18T08:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-18T08:29:55.669-08:00</updated><title type='text'>Swim, Baby Swim</title><content type='html'>“Essttt…, bibir memeknya…” tangan si om yang duduk disebelah kanan merayap dan menggesek-gesek belahan bibir vaginaku, kemudian tangannya kembali merayap naik merayapi pangkal pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhhhhh…. Ommmm…. Nnnnnhhhh…” Aku merintih-rintih ketika merasakan jilatan-jilatan kasar pada belahan vaginaku, lidah itu menggeliat-geliat dan terjepit dengan kuat oleh bibir bawahku, sesekali mulut si om menghisap kuat-kuat lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awwwkssss….. CRRRTTT… CRRRRTTTT” Aku menjerit kecil merasakan cairan kenikmatan itu berdenyut-denyut keluar , mulut Si Om dengan kasar menyeruput cairan kental yang meleleh disela-sela lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhhhh…” aku mengeliatkan tubuhku dibalik selimbut hangat, hujan deras kemarin malam membuat pagi ini semakin dingin, untungnya hari ini hari minggu, aku memandangi langit-langit kamar kostku, setelah menggeliat malas kesana kemari dengan mengumpulkan seluruh tenagaku aku berteriak keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiaaaaa….tt !! Huupppp…!!” Aku melompat dari tempat tidurku menerjang dinginnya pagi hari ini, Huuuhhhhhh ? astaga dingin amattt… aku buru-buru kembali melompat keatas ranjang dan bersembunyi dibalik selimutku yang hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa saat aku kembali bermalas-malasan dibalik selimutku yang hangat, menggeliat-geliat dengan asik kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mayaaaa, Tok Tok Tokkk” terdengar suara temanku Farida berteriak-teriak memanggil namaku dari luar kamar,ketukan dipintu kamarku semakin keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Duhhh, ngak mauuuu, masih ngantuk, aku mengeluh dalam hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maya.. bangunnnn…, duh dasar si pemalasss…!” Vivi mengumpat dari luar kamar, berkali-kali tangannya ikut mengetuk-ngetuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“YA UDAH, KITA TINGGAL YUKK !!” suara Reina terdengar agak keras&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suara - suara diluar kamarku mendadak menghilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah, ditinggal ? aduh teganya…!! Aku melompat dan dengan cekatan membuka kunci pintu kamarku “Klikkkkkk”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ikutttt !” Aku berteriak sambil membuka pintu kamarku dan berlari mengejar tiba-tiba dibelakangku terdengar suara tawa yang semakin keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha Ha Ha Ha.. akhirnya bangun juga…” Reina cekakakan menertawaiku, tubuh mereka bertiga merapat didinding luar kamarku, mereka melangkah menghampiriku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dadanya kecil ya ?”Vivi tertawa cekikikan sambil menunjuk kearah baju piyamaku disebelah atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhhh… , Yeee malah ngintip…!”aku buru-buru merapikan kancing baju piyama yang kukenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kayanya gedean yang aku deh” Vivi membusungkan dadanya, aku cemberut mengaku kalah, diantara kami berempat memang “perabotan” Vivi yang paling gede&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Biarin…, biar kecil tapi banyak yang suka”jawabku dengan pede karena kecantikan wajahku yang lebih menonjol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan jahil kuremas dada Vivi yang sedang membusung sambil berteriak keras “Jurusss Nagaaaaaaaaa….!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Owwwww…!! ” tentu saja Vivi berteriak kaget sambil menarik dadanya, ia hendak membalasku namun aku dengan gesit menghindari remasan tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vivi melotot, aku mencibirkan bibirku kemudian terdengar suara tawa canda memecah keheningan dipagi hari itu, sementara teman-temanku bercanda dipagi hari aku mengambil handuk dan masuk kekamar mandi yang ada dikamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunyalakan kran shower, air hangat segera mengguyur tubuhku, duh asiknya, sabun kesana sabun kemari usap sana usap sini akhirnya selesai juga acara bersih - bersihnya ^^. Sambil mengeringkan tubuhku aku memperhatikan diriku didepan cermin, wajah yang cantik, rambut yang indah sepunggung, tubuh yang halus mulus, pinggang yang rata dan ramping, aku menatap kebawah leherku sambil membusungkan dua buah gundukan payudara di dadaku .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HHhhhhhhhhhhhh…., aku menghela nafas panjang, coba deh kalau dadaku seperti dada Vivi, dapet nilai 100 dah, karena dadaku rada-rada kecil turunlah nilaiku menjadi 100 kurang 0 hohohohoh, ngak mau kalah Ehhmmmmmmm… ^^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mayaaaaaa….., Mayyyyyyy!! ” kembali terdengar teriakan teriakan keras diluar kamarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya bentarrrrr….” Aku buru-buru memakai pakaianku kemudian sambil cengengesan aku keluar kamar, tidak berapa lama sebuah mobil segera meluncur keluar dari rumah kostku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat lain…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sebuah rumah seorang pria gemuk berperut buncit sedang sibuk berkhayal, tangannya tampak sedang sibuk menggosok-gosok benda miliknya, diselangkangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;****************************&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamar ganti dikolam renang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Rei.., kamu duluan gih yang keluar…”Farida mendorong punggung Reina, sebelah tangan Farida menyilang didada melindungi buah dadanya yang tercetak dengan jelas dari balik pakaian renangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngak.. mau ahh kamu aja gihhh..”Reina malah balas mendorong punggung Farida, ia juga sama masih merasa risih untuk keluar dari dalam kamar ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Minggir semua…, biar aku duluan, makanya kalau punya dada jangan terlalu kecil, harus gede kaya punya ku.. jadi ngak malu kalau sampe diliat orang he he he he”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Huuuuu!!” terdengar suara riuh dari mulut kami bertiga sementara Vivi melenggak lenggok keluar dari kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku, Reina dan Farida perlahan-lahan melangkah keluar mengikuti langkah Vivi. Tidak berapa lama terdengar suara “Byurrrr…” Byurrrr” Byurrrrrr” Byurrrrr”, satu persatu kami berempat berloncatan masuk kedalam kolam renang, setelah kecapaian bolak balik berenang akhirnya kami berkumpul merapat membuat lingkaran kecil mirip kayak “Knight Of The Round”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian secara tidak sengaja aku menatap ke sebuah pojok di bawah tempat yang teduh, sekumpulan om-om sedang bersantai sambil ngemil kue Butter Cookies, mata mereka yang nakal memandangi kami berempat, waduh, pada melotot deh, sambil sesekali berbisik-bisik, entah apa yang sedang mereka bisikkan, terus tertawa-tawa sambil memandang kearah kami, serem banget ih…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara tidak sadar aku merapatkan tubuhku kearah Farida,sambil berbisik&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Fa.. liat ngak Om om, diujung sono…” Aku mencolek pinggul Farida&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Hah ? napa emanggg ?” Farida melirik tempat berkumpulnya para om-om disudut itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mereka ngeliatin kita melulu…sebell.!”aku cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmm.. , Ehh kita kerjain yuk…”Reina tersenyum nakal sambil melirik kearah para om nakal yang sedang berkumpul ditempat yang teduh itu. Aku, Reina, Farida dan Vivi naik dari dalam kolam, dengan santai kami mendekati tempat para om-om yang sedang mangkal, dari tatapan mata mereka keliatan banget kalo lagi mikir yang ngeres-ngeres.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Huh dasar srigala berbulu domba, waktu dideketin malah pura pura baik memandang kearah lain, kami berempat berhenti tepat didepan mereka dalam posisi membelakangi mata-mata nakal yang selalu mecuri-curi pandang memperhatikan bagian-bagian tubuh kami yang sensitif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduhhhh… Vi pegel amat ya.. Mmmmmm ” Reina menggeliatkan tubuhnya kesana kemari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengibaskan rambutku yang terurai sambil memamerkan kecantikan dan keindahan tubuhku, demikian juga halnya dengan Farida sedikit menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan lembut sambil terkadang menunggingkan tubuhnya sedikit. Yang paling dahsyat serangan Vivi sibuah dada besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya nihhh….Ennnghhhhhh” Vivi menyampingkan tubuhnya kemudian membusungkan dadanya kedepan, sedangkan kedua tangannya terentang keatas, sehingga terlihat jelas tojolan besar itu seolah-olah mendak melompat keluat dari baju renang yang dikenakannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhukkk…!!” “Ehmmm” “Heeekkkk Khekkkk” terdengar suara terbatuk-batuk dari arah para om nakal yang tersedak dengan mata mereka yang melotot bulat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian setelah menoleh sebentar kearah mereka yang terbatuk-batuk, kami berempat melangkah santai kearah kantin meninggalkan para om nakal yang masih terbatuk-batuk dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He he he… rasain…”aku dan teman-temanku tertawa kecil mendengar suara para om nakal yang masih terdengar ahak uhuk tersedak akibat serangan kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Vi.. tadi liat ngak, itunya pada berdiri he he he” kata Reina sambil melingkarkan tangannya kepinggang gadis itu, Vivi cuma cengengesan sambil mengangguk kecil wajahnya bersemu merah, entah apa yang dipikirkan oleh Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He-ehhh, gila ya…, kaya mau nerkam gitu ihh, ekspresinya..Seyem!! ” Aku menyahut menimpali, aku agak merinding ketika mengingat ekspresi wajah para om nakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalo nerkam sih, tar Kita kasihin si Maya aja, supaya digarap rame-rame….HE HE HE”Vivi terkekeh-kekeh sambil melirik kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelihatannya Vivi masih dendam karena tadi pagi jurus nagaku berhasil mencengkram buah dadanya yang bongsor He he he…..^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Enak aja…, Loe aja kaliiii, Gua enggakkkk… “aku meniru kebiasaan Ruben &amp; Eko Patrio ^^, sambil menggoyang-goyangkan pinggulku dengan nakal, kemudian mencibirkan bibirku kearah Vivi, aku buru-buru ngacir ketika Vivi mengejarku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat duduk mengelilingi sebuah meja, lama amat ngak nyampe-nyampe deh pesanan kami berempat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kruuyuuuuuukkkk….. ” perutku berbunyi keras, aduh malu-maluin deh, aku memegangi perutku yang berbunyi keras..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayam siapa tuhhhh yang lagi berkokok ? ” Farida menolehkan kepalanya kekiri dan kekanan, aku menyikut buah dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aduhh.. duhhh” Farida meringis ,namun tidak berapa lama kemudian tangannya merayap kebawah meja merayapi pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Farida…, Ahhh ” aku merapatkan kedua pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Santei aja… kamu kan dipojok, ngak akan ada yang liat ini he he he” Farida merapatkan bangkunya kesisiku sedangkan Vivi dan Reina tersenyum sambil menggeser bangku mereka merapatkan barisan berusaha menjadi tembok pelindung. Aku mulai berani merenggangkan kedua pahaku sedikit, Farida tersenyum kemudian tangannya mengelus-ngelus bagian dalam pahaku, nafasku semakin terasa sesak. Aku sedikit tersentak ketika Farida menyusupkan tangannya kedalam pakaian renang yang kukenakan dari sebelah sisi selangkanganku, aku menolehkan wajahku kearah lain ketika Vivi dan Reina tersenyum senyum kecil menatapku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida mendadak bangkit dari kursinya, tangannya dengan agak kasar menarik tanganku, aku ikut berdiri dan mengikuti langkah kakinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hajar Faaaa…! jangan dikasih ampunn He he he” Reina terkekeh-kekeh sedangkan Vivi mengerlingkan matanya dengan nakal kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cklekkkkk…” Farida mengunci pintu ruangan untuk ganti baju,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mayaaaaa.. Ohhh….” Farida memeluk tubuhku, Wajahnya semakin dekat dengan wajahku dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hmmmm… Mmmmmmm” mulutku dikulum dengan lembut oleh Farida. Tubuhku sedikit meronta kehabisan nafas namun kedua tangan Farida membelit pinggangku kuat - kuat. Mulut Farida semakin kuat mengulum dan menghisap mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haa…Uffffff…. Ampunnn, aku nyerahh…”aku kehabisan nafas, aku menggeleng-gelengkan kepalaku kekiri dan kekanan menghindari mulut Farida yang merusaha menyumpal bibirku, kedua tangannya memegangi pipi kanan dan pipi kiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Heee… EMMMMMMMMHHH” bibirku kembali menjadi bulan-bulanan Farida, bibirku kembali disekap oleh bibirnya, Farida tampak rakus mengulum dan melumat-lumat bibirku, tangannya merayap mengelus-ngelus bongkahan buah pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan Farida dengan tidak sabar menarik pakaian renangku sampai melorot sebatas dada, tersembullah payudaraku yang mungil dihiasi oleh puting susu yang sudah mengeras. Aku menelan ludah ketika merasakan jari telunjuk Farida melingkari puting susuku, rasa geli membuatku menggeliat resah sambil meringis-ringis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahmmmmmmhhhhh…. Mmmmmmmmhh” Aku berusaha menutup mulut rapat-rapat agar suaraku tidak terdengar terlalu keras ketika Farida merendahkan kepalanya dan menghisap kuat-kuat puncak payudaraku, mulut Farida bukan hanya sekedar menghisap, lidahnya menggeliat-geliat menggelitiki puting susuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mendekap kepala Farida yang sedang asik mengemuti puncak buah Susuku. “Fa…… ” aku memanggil Nama Farida dengan lirih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Uhhhh….!! “aku agak kaget ketika Farida dengan kasar menyentakkan pakaian renangku semakin kebawah , ia berlutut dihadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mengerti apa yang Farida inginkan, aku segera mempersembahkan bukit mungil diselangkanganku kehadapan kepalanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pelan pelan Fa… Ahhh…”Aku mengeluh ketika Farida mengecup-ngecup bibir Vaginaku dengan kasar, kasar sekali, nafasku semakin lama semakin tersendat-sendat,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bernafas sedikit lega ketika Farida menghentikan serangannya, Farida menengadahkan kepalanya , matanya memandangiku yang berusaha mengatur nafas, bibir Farida tersenyum nakal, tidak berapa lama kemudian tatapan mata Farida terfokus pada keindahan belahan mungil diselangkanganku. Jari telunjuknya mengulas-ngulas belahan mungil diselangkanganku, lendir-lendir nakal semakin banyak membanjiri belahan diselangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Utssssssshhhhh….!! ” kedua lututku serasa goyah ketika jari tangan Farida menekan pinggiran bibir vaginaku agar sedikit merekah. Jilatan-jilatan lidah Farida dengan kasar mengulas-ngulas klitorisku, sesekali diemutnya kuat-kuat “kacang mungil” diselangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Faaaa…, Shhhh… Ahhhh ” tanganku menggapai-gapai mencari pegangan, akhirnya aku berpegangan pada dinding kayu dikamar ganti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haaa Ahhhhhh… Crrrrrr. Crrrrrrrr” aku semakin kuat berpegangan pada dinding Kayu dipinggirku, tubuhku mengejang ketika merasakan denyutan-denyutan nikmat itu menerpa bagian tubuhku diselangkangan yang sangat sensitif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He he he… Cruttttttt….dehhhh”kata Farida sambil menengadahkan kepalanya memandangiku, sambil tersenyum kecil telapak tangan kiri Farida menyeka cairan lengket milikku yang tercecer disudut mulutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida berdiri ia membalikkan tubuhku, kedua tangannya merayapi buah dadaku dari belakang, sesekali tangannya menggenggam induk buah dadaku sambil meremas-remas induk payudaraku. Jari telunjuk Farida mengulas-ngulas ujung puting susuku ia berbisik ditelingaku…..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau aku kaki-laki, langsung deh, kamu aku perkosa ditempat ini he he he” Farida mengigit lembut daun kupingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau kamu laki-laki juga, aku langsung ngacir, takut kamu perkosa he he he” Aku membalas candaan Farida, kemudian sambil tertawa kecil Farida memeluk tubuhku dengan erat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udah yukk, makanan kita pasti udah datang…” Aku berusaha melepaskan tubuhku dari dekapan Farida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ntar , santai aja” Tangan Farida merayap mengelus bukit mungil diselangkanganku, sesekali tangan itu meremas selangkanganku, kemudian Farida membalikkan tubuhku dan kemudian bibir kami kembali saling mengulum&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cpppp… Cpppp.. Cppppp” Suara-suara berdecak-decak itu kembali terdengar. Aku membalas memeluk tubuhnya kali ini aku yang menciumi leher Farida kemudian ciumanku merambat kebahunya, kugigit bahu Farida dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida mendesah ketika aku mulai mempermainkan ujung puttingnya, kujepit puting susu Farida dengan jari jempol dan jari telunjukku kemudian kupelintir-pelintir sehingga pemiliknya mendesah-desah keenakan, sesekali kutarik-tarik puting susu Farida dengan lembut. Bongkahan payudara Farida semakin keras dan kenyal, aku menundukkan kepalaku dan kuciumi dengan lembut bulatan payudara Farida, sambil meremas-remas induk payudaranya. Farida tidak mau kalah ia mendorong tubuhku merapat kedinding kayu itu kedua tangannya balas mengelusi buah dadaku, lidah Farida terjulur keluar mengajakku untuk melakukan pertarungan, aku mengeluarkan lidahku kemudian lidah kami saling membelit dan saling kait, mulut Farida dengan rakus menghisapi lidahku. Kedua tangan Farida merayap kebelakang kepalaku dan menarik kepalaku agar semakin merapat kewajahnya, ia melumat bibirku kuat-kuat. Aku hendak melakukan perlawanan namun Farida dengan kasar merentangkan kedua tanganku keatas sambil berbisik”lebih baik kamu diam saja manis…, he he he” Ciuman Farida merambat turun, nafasku kembali sesak merasakan mulut Farida mengecupi buah dadaku, sesekali dijilatinya bulatan buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akkk…!”. Aku menjerit kecil ketika merasakan gigitan lembut diputing susuku, Aduh, enak amat sihhhhh…. ^^, mulut Farida mengenyot puncak payudaraku, kepalaku terkulai kekiri , kadang kadang terkulai kekanan sambil mendesis merasakan nikmatnya kemutan mulut Farida dibuah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman Farida semakin lama semakin turun kearah selangkanganku dan aku merintih-rintih agak keras sambil memundurkan vaginaku agar terhindar dari cumbuan Farida,nafasku semakin tersendat-sendat menahan sesuatu yang sulit untuk dibendung lagi. Farida tambah liar mencumbui bibir vaginaku, lidahnya mengait-ngait kelentitku yang mungil , kemudian mulut Farida menghisap kuat-kuat lubang Vaginaku dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Akkkk… Ahhhhh CRRRTTTT… CRRRTTTT” aku memejamkan mataku rapat-rapat merasakan kenikmatan yang baru saja meluluhkan tubuhku. Terdengar suara menyeruput ketika mulut Farida menyedot cairan kenikmatan yang baru saja jebol dari lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida kembali berdiri dan memeluk tubuhku erat-erat, aku pun balas memeluknya dengan erat, untuk beberapa lama kami hanya berdiri sambil berpelukan satu sama lain. Beberapa saat kemudian pintu kamar ganti itu terbuka lebar-lebar, kami berdua melangkah keluar sambil tersenyum-senyum kecil. Aku melangkah disamping Farida, didepan sana Vivi dan Reina memandangi kami berdua sambil berbisik-bisik kemudian tertawa-tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi…, Gimana Skornya ?” Reina bertanya ingin tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“He he he… gua menang 2-0, nyam nyam ” Farida dengan bangga menjawab pertanyaan Reina, mulutnya penuh dengan sesendok nasi goreng seafood pesanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yuk Rei…” Vivi berdiri sambil menarik tangan Reina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lohhh… kalian mau kemana sih?” Aku bertanya pura-pura bodoh, Vivi dan Reina hanya tersenyum nakal dan melangkah menuju kamar ganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mo pipis dulu…” Aku bangkit sambil meneguk segelas air Jeruk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Farida menggeser kursinya sambil memberi jalan padaku “Loh ? kan tadi udah pipis dua kali he he he” Farida cengengesan , aku mencubit pangkal lengannya sampai Farida mengaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku melirik kekiri dan kekanan, duh sepi amat ya ? ngak kira-kira nih yang bikin WC, ngak kejauhan apa ?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kree ketttttt” Suara pintu Wc yang jangan terpakai itu, hmm, lumayan bersih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selesai buang air kecil aku membuka pintu WC….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Deggggg….!! Jantungku melompat karena kaget, didepan pintu WC bergerombollah Para Om nakal lengkap dengan senyuman mesum menghiasi wajah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haii cantikkkk…..” salah seorang dari mereka meyapaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Boleh dong kita kenalan…” salah seorang lagi menghadang jalanku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tidak menjawab dan menghindar sampai….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awwww…!! Jangan kurang ajar yaa!! ” aku membentak sambil menepiskan tangan salah seorang dari mereka yang meremas buah pantatku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku membalikan tubuhku sambil melayangkan tanganku hendak menampar orang brengsek itu namun dengan cekatan orang itu menangkap tanganku selanjutnya salah seorang dari mereka mengulurkan tangannya dari belakang dan meremas buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tolllllhhhmmmm….” Aku hendak berteriak minta tolong namun mulutku dibekap oleh tangan yang lain, semakin kuat aku meronta, semakin kuat juga mereka memegangi kedua tanganku sedangkan tangan-tangan yang lain meremas-remas buah Susuku dalam gerakan yang teratur, yang lainnya meremas dan mengelusi buah pantatku, dua pasang tangan lainnya asik merayapi kemulusan sepasang pahaku yang merapat ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahhhh !!! gawattt…!! aku harus mengatur strategi melawan kekerasan dengan kelembutan, aku menjulurkan lidahku dan mengulas-ngulas telapak tangan orang yang sedang membekap mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ehhh…!! Wahh..! kayaknya dia mau nehhh…!” orang itu memandangiku dengan tatapan wajahnya yang mesum, aku pura-pura menatap orang dihadapanku dengan tatapan mata yang sayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajah-wajah itu tersenyum ceria ketika aku merenggangkan kedua pahaku melebar. Sebuah tangan segera mampir dan mengusap-ngusap selangkanganku, tangan itu sepertinya sangat ahli dalam memberikan rangsangan dan tahu sebelah mana bagian yang membuat tubuhku merinding dengan nikmat, entah siapa nama om Nakal yang cengengesan berjongkok dihadapanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang itu melepaskan bekapan tangannya dari mulutku, kini tangannya dipakai untuk menarik kepalaku dan kemudian “Hmmmm… Mmmmmhhh…” tubuhku bergetar dengan hebat ketika bibir orang itu mengulum bibirku dengan liar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“MMMMM….HHH” sepasang telapak tangan kini menyusup masuk kedalam pakaian renangku disebelah dada dari belakang dan meremasi payudaraku, telapak tangan orang itu yang kasar mengelusi permukaan buah dadaku yang lembut, Kecupan-kecupan nakal Para Om nakal hinggap silih berganti, mereka begitu asiknya mempermainkan tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nafasku semakin tersendat-sendat ketika sebuah kepala mengendus-ngendus selangkanganku, lidahnya yang nakal menyelinap menggeliat dengan nakal dari sisi kanan pakaian renangku disebelah bawah, aku menolehkan kepalaku kebelakang ketika merasakan bokongku ditekan perlahan kedepan sehingga kini aku seolah-olah sedang menyodorkan bagian tubuhku yang paling sensitive untuk satu , ohhh tidak..!! bahkan sekarang tambah jadi dua lidah nakal yang menyelinap dari sisi kiri dan sisi kanan.pakaian renangku disebelah bawah. Dua orang dihadapanku menarik pakaian renangku sampai melorot turun sebatas dada, kemudian dua pasang tangan mereka yang kasar seolah berebutan mengelusi dan meremasi buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ohhhhhhhhhhhh…….” Aku hanya dapat mendesah ketika merasakan cubitan-cubitan kecil diputing susuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesekali tangan mereka memelintir-melintir puting payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata mereka berbinar-binar menatap buah dadaku yang kecil namun indah dan mulus ini, wajah mereka semakin mendekati payudaraku dan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhhhh…. Nnnnnnnggg…. Ssssshhhhhh” aku mendesis-desis merasakan lidah mereka mengulas-ngulas putting susuku. “Slllccckkk… Slllllcccckkk” suara jilatan-jilatan itu terdengar dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menolehkan wajahku kearah belakang ketika merasakan seseorang yang mendorong bokongku dari belakan, menciumi telingaku, pada saat yang bersamaan, dua orang yang sedang menjilati buah dadaku melakukan kenyotan-kenyotan kasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awwwhmmmm Mmmmmmmh” jeritan kecilku tengelam ketika mulut orang dibelakangku menyumpal bibirku dan mengemut-ngemut dengan kuat, tangan orang itu sedikit menjambak rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang laki-laki lain mengambil posisi berdiri disisi kanan dan kiriku kemudian mereka menarik merentangkan tanganku kearah selangkangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;WHAAAAAAAA…!!, dari sebelah atas celana renang mereka, kedua orang itu memasukkan tanganku kedalam celana renang masing-masing, ada benda keras kenyal yang berdenyut-denyut tersentuh oleh tanganku, dengan reflek aku hendak menarik tanganku namun kedua orang itu menahan gerakanku sambil memasukkan tanganku semakin dalam kedalam celana renang mereka, Aduh, ada cacing raksaksa yang mengeliut-geliut dan berdenyut-denyut tersentuh oleh telapak tanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terkekeh-kekeh sambil terus menggeluti tubuhku, salah seorang diantara mereka berkata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahhhh… , asik nehhh, kita gilir gadis ini sampe puas…” sambil tangannya menarik tanganku kearah kamar mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku bertahan agar tubuhku tidak terseret oleh orang itu, orang itu menolehkan kepalanya , wajahnya tampak beringas, aku tersenyum nakal kemudian aku mengalungkan kedua lenganku pada orang dihadapanku, aku melangkah mundur dengan perlahan-lahan menjauhi kamar mandi, sambil terkekeh-kekeh orang itu mengikuti tarikan kedua tanganku dilehernya, sedangkan kedua tangannya merayap sambil sesekali meremasi sepasang buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhhhh… Shhhhhh… Ahhhhh…”mulutku berusaha mendesah-desah menggoda , sambil membimbing orang dihadapanku agar terpisah dari gerombolan para om nakal yang terpaku dengan penuh nafsu memandangiku, rencananya sih aku bakal mengeluarkan Jurus tinju Bayanganku kedada orang itu , setelah pelukannya terlepas aku melakukan jurus hebat lainnya, Ehhhmmm, jurus langkah seribu alias ngacir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba si om nakal yang sedang kupeluk menerkam tubuhku, kedua tangannya membelit melingkari pinggulku, kemudian om nakal dengan tubuh yang kekar berisi itu mengangkat tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awww…. Aduhh.. duhhhh….” Aku menjerit kecil ketika merasakan tubuhku terangkat dan melayang diudara dalam dekapan tangan orang itu, mulut si om nakal yang kini sejajar dengan buah dadaku menghisapi dan lidahnya yang kasar menjilati kesana kemari, mulutnya terus mencumbui payudaraku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ohh Tidak ! MAMPUS AKU..! RENCANAKU GAGAL TOTAL…!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;orang itu melangkahkan kakinya kearah bangku panjang tanpa sandaran yang terlindung dibalik sebuah pohon rindang. Tampaknya situasi dan kondisi yang bergejolak semakin kurang menguntungkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menurunkan tubuhku si om nakal menekan bahuku agar duduk diatas kursi panjang itu, kemudian ia berlutut sambil menangkap kedua kakiku, tangannya bergerak keatas mengangkat dan mengangkangkan kedua kakiku melebar, secara otomatis kedua tanganku bergerak kebelakang menopang berat tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“WAhhh..! cetakan memek kamu bagus amat…He He He” Si Om berseru kagum sambil memandangi selangkanganku, ia menatap belahan vaginaku yang tercetak dengan jelas dari balik pakaian renang yang kukenakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Haahhh ?..” Mataku melotot, sedangkan mulutku terbuka lebar ketika salah seorang diantara mereka merogoh sesuatu dari balik celana renangnya dan menarik benda panjang dan hitam itu keluar, tangannya menarik kepalaku dan menjejalkan kepala kemaluan itu kedalam mulutku, aku mencoba menahan rasa jijik dan membuka mulutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada rasa asin dan kesat ketika kepala penis itu masuk kedalam mulutku dan memenuhi rongga mulutku, Si Om terkekeh-kekeh sambil menyuruhku untuk menghisap kepala penisnya, Ihhhhhh…, ada sedikit lendir lengket yang tertelan olehku. Dua orang om lainnya berlutut dibelakang punggungku dan membantu menopang punggungku dengan tangan mereka sedangkan tangan mereka yang satunya merayap dari belakang dan mengelusi buah dadaku yang mungil. Dua orang om yang lain duduk disamping kiri dan kananku, tangan mereka masing masing merebut kaki kanan dan kiriku kemudian menarik kedua kakiku mengangkang keatas. Telapak tangan mereka yang kasar mengelusi pangkal pahaku yang halus dan lembut, salah seorang dari mereka berkata padaku. “Rupanya kamu seorang gadis yang baik dan penurut… He he he”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Om liat ya…!!, ngintip dikit ngak apa kan !!!!”Kata Si Om yang berlutut diantara kedua kakiku,ia merendahkan kepalanya , kedua tangannya menarik pinggiran pakaian renang diselangkanganku, matanya melirik dari samping dan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wheeeewww…. Gila, Ck Ck Ckk ” mulutnya berdecak kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;aku hanya dapat mengumpat dalam hati dan menyumpahi, moga-moga bintit tu matanya !!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan si om perlahan-lahan menarik dan menyibakkan pinggiran pakaian renangku diselangkangan kearah tengah agar ia dapat lebih jelas melihat keindahan vaginaku. Terdengarlah seruan-seruan kagum ketika belahan diselangkanganku dengan terpaksa menampakkan segala keindahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Essttt…, bibir memeknya…” tangan si om yang duduk disebelah kanan merayap dan menggesek-gesek belahan bibir vaginaku, kemudian tangannya kembali merayap naik merayapi pangkal pahaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhhhhh…. Ommmm…. Nnnnnhhhh…” Aku merintih-rintih ketika merasakan jilatan-jilatan kasar pada belahan vaginaku, lidah itu menggeliat-geliat dan terjepit dengan kuat oleh bibir bawahku, sesekali mulut si om menghisap kuat-kuat lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awwwkssss….. CRRRTTT… CRRRRTTTT” Aku menjerit kecil merasakan cairan kenikmatan itu berdenyut-denyut keluar , mulut Si Om dengan kasar menyeruput cairan kental yang meleleh disela-sela lubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mataku terpejam rapat merasakan belaian, remasan dan elusan dari telapak tangan mereka yang kasar namun memberikan sebuah sensasi yang berbeda jika dibandingkan dengan elusan tangan Vivi, Farida ataupun Reina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ahhhhhh… !! ” Aku berontak sambil menyilangkan kedua tanganku berusaha melindungi kegadisanku ketika merasakan sebuah benda memaksa hendak menerobos memasuki diriku, suara terkekeh-kekeh terdengar disekelilingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Diammm…!!” si om yang berlutut dihadapanku membentak dengan galak, tangan kanannya memegangi sebuah benda yang besar dan panjang, sedangkan tangan yang kiri menepiskan kedua tanganku dengan kasar, aku menarik pinggulku kebelakang menghindari kepala kemaluan si om yang bergerak-gerak hendak memangsa kegadisanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kayanya dia ngak mau sama elu deh…, gimana kalau sama om aja, mau yah manis…? ” si om yang disebelah kiri membelai-belai rambutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ngak bisa!!, sama Om aja yukkkk….! ” si om yang disebelah belakang kanan ikut protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jangannn mau sama mereka, Om yang paling hebat, dijamin kamu bakal puas… He eh he” seorang lagi ikut protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udahhh…LAHHH !!, gimana kalau dia aja yang pilih , mau sama siapa kamu Hahhh ? ” Si Om yang ada dihadapanku tampak sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berpikir dengan cepat, yang samping kanan gembrot dan besar, yang samping kiri tampak berotot kekar, dua om-om yang menyangga punggungku tampak beringas…dan bertubuh tinggi tegap, Yang depan apa lagi, udah jelek, gembrot berlemak , sangar kasarrrrr bangetttttt ! Aku menoleh ke si om bertubuh kurus kerempeng yang tadi minta dioral, Hmmmmm…, kayaknya, ini deh yang cocok&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sama Om Aja….” aku menatap dengan yakin kearah si om bertubuh kurus, si om yang berlutut dihadapanku berdiri dan mengomel panjang lebar, protes dan lain-lain….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menolakkan tubuh si om kurus yang hendak merangkulku sambil mengarahkan kemaluannya kelubang vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lohhh… kenapa ? katanya mau sama Ommm Hemmmm…?” Tangan si om kurus mengelus pahaku yang terjuntai dipinggiran bangku panjang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malu Ommmm, Banyak Orangggg….” Jawabku sambil mendesah-desah , dengan manja.aku berpegangan pada bahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Udahh…, semuanya sana , ntar tunggu giliran… He he he” si om kurus terkekeh-kekeh, para om yang lain segera melangkahkan kakinya agak menjauh sambil terus melotot menatapi sekujur tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri, mataku menatap kebawah kearah si om bertubuh kurus kerempeng yang lagi cengar-cengir menatap keatas kearah buah dadaku yang menggantung dengan indah. Si Om bertubuh kurus itu berdiri dan kemudian merendahkan kepalanya sedikit., lidahnya terjulur keluar dan menempel dipuncak buah Susuku, Lidah Si Om mengulas-ngulas bulatan payudaraku, sesekali mulutnya mampir kepuncak buah Susuku dan mengemut puncak Payudaraku kuat-kuat. Kaki Si Om sedikit mengangkang ketika tanganku merayap membelai kepala kemaluannya. HMMMMMM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rasa inilah saatnya yang paling tepat aku melepaskan…. keperawanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehhhh….bukan !! Maksudku melepaskan serangan perawan…..!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hiattttt….!!!!” Dengan sekuat tenaga aku menghantamkan lututku kearah selangkangannya, mata orang itu mendelik dan….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Plakkkkkkkkk…..!!!” setelah melakukan tamparan yang keras kewajah orang itu aku melompat kebelakang , korbanku terjengkang jatuh duduk kebelakang, Para Om Nakal yang sedang bergerombol berseru kaget….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Heiii…!” seseorang dari mereka melompat hendak menyergapku,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Awwwww…!! ” dengan gesit Aku buru-buru menghindar sergapan orang itu dan lari terbirit-birit ketakutan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sialan luuuu…!Haaddduhhhhhh…!! Addddduhhhh “korbanku memegangi selangkangannya ,wajahnya mengernyit kesakitan, mulutnya terus mengaduh-ngaduh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang dari mereka menyelipkan jempolnya diantara Jari telunjuk dan jari tengah kemudian mengacungkannya “tanda maksiat” itu kearahku, matanya memandangiku dengan tatapan marah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah membenahi pakaian renangku yang sempat melorot, aku balas mencibirkan bibirku sambil mengacungkan jari tengahku kearah gerombolan para Om nakal yang menyebalkan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upssssss.. gawatttt!!! aku buru-buru ngacir ketika mereka tampak semakin marah dan bergegas hendak menghampiriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lama amat May…Ehhh ada apa ? “Vivi tampak kaget sambil menatap ekspresi wajahku yang ketakutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ngak.., ngakkk apa koqq…”aku berusaha menenangkan diri, sambil menghabiskan air jeruk pesananku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pulang yuk…cape mo bobo ” Reina bergelayut dengan manja ditangan Vivi, tidak berapa lama terdengar suara bangku yang digeser karena ditinggalkan oleh para gadis cantik yang mendudukinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum naik kemobil aku menolehkan kepalaku kebelakang,dari kejauhan segerombolan om nakal memandangiku dengan tatapan mata yang berkobar-kobar antara nafsu dan marah, aku buru-buru masuk kedalam kemobil dan duduk baik-baik disebelah Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mayyy, tadi kamu Onani dulu ya di WC?, Koq lama amat sihh…” Vivi mengerlingkan matanya kearahku, bibirnya tersenyum-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ngak semaniak kamu dehhhh, Cuphhhh.. “Aku menjawab sambil mencium pipi Vivi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajahku merah padam membayangkan apa yang sebenarnya terjadi tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ha Ha HA Mukanya merah, Jadi tadi keluar lagi yahhhh ?” Reina ikut nimbrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahhhh… Si Maya sampe tiga kali, puas banget donggghh May…”Farida menyindirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Glekkkkk…..” aku menelan ludah, kenikmatan yang ketiga hampir saja membuatku kehilangan kegadisanku, aku merinding ngeri membayangkan keberingasan om-om tua yang lebih pantas menjadi ayahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi , Sebenarnya sih selain ada rasa takut dan kengerian yang menggedor-gedor dadaku, ada juga rasa nikmat yang sulit kuungkapkan dengan kata-kata, akibat elusan-elusan tangan - tangan kasar mereka ditubuhku, ciuman mereka dileher, dibahuku, belum lagi hisapan-hisapan mulut yang rakus di lubang Vagina dan buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-5871325772621251238?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/5871325772621251238/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=5871325772621251238' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/5871325772621251238'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/5871325772621251238'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/swim-baby-swim.html' title='Swim, Baby Swim'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-4145282771797357754</id><published>2009-01-13T18:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T19:08:30.660-08:00</updated><title type='text'>Bersama tante Mira</title><content type='html'>Tante Meri yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Dedi minta?" tanyaku.&lt;br /&gt;Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan, "Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno" href="http://17tahun.us"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namaku dedi, umur 24 tahun. Aku seorang gigolo di kota Bandung. Aku akan menceritakan pengalamanku melayani sekaligus 4 pelangganku dalam semalam. Aku menggeluti profesi ini sudah 4 tahun, dan sejak itu aku mempunyai pelanggan tetap namanya Tante Mira (bukan nama asli), dia seorang janda tidak mempunyai anak, tinggal di Bandung, orangnya cantik, putih, payudaranya besar walaupun sudah kendor sedikit, dia keturunan tionghoa. Dia seorang yang kaya, memiliki beberapa perusahaan di Bandung dan Jakarta, dan memeiliki saham di sebuah hotel berbintang di Bandung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu pukul 7 pagi, HP-ku berbunyi dan terdengar suara seorang wanita, dan kulihat ternyata nomor HP Tante Mira.&lt;br /&gt;"Hallo Sayang.. lagi ngapain nich.. udah bangun?" katanya.&lt;br /&gt;"Oh Tante.. ada apa nich, tumben nelpon pagi-pagi?" kataku.&lt;br /&gt;"Kamu nanti sore ada acara nggak?" katanya.&lt;br /&gt;"Nggak ada Tante.. emang mo ke mana Tante?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Nggak, nanti sore anter Tante ke puncak yach sama relasi Tante, bisa khan?" katanya.&lt;br /&gt;"Bisa tante.. aku siap kok?" jawabku.&lt;br /&gt;"Oke deh Say.. nanti sore Tante jemput kamu di tempatmu", katanya.&lt;br /&gt;"Oke.. Tante", balasku, dengan itu juga pembicaraan di HP terputus dan aku pun beranjak ke kamar mandi untuk mandi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore jam 5, aku sudah siap-siap dan berpakaian rapi karena Tante Mira akan membawa teman relasinya. Selang beberapa menit sebuah mobil mercy new eye warnah hitam berkaca gelap berhenti di depan rumahku. Ternyata itu mobil Tante Mira, langsung aku keluar menghampiri mobil itu sesudah aku mengunci seluruh pintu rumah dan jendela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun langsung masuk ke dalam mobil itu duduk di jok belakang, setelah masuk mobil pun bergerak maju menuju tujuan. Di dalam mobil, aku diperkenalkan kepada dua cewek relasinya oleh tante, gila mereka cantik-cantik walaupun umur mereka sudah 40 tahun, namanya Tante Lisa umurnya 41 tahun kulitnya putih, payudaranya besar, dia merupakan istri seorang pengusaha kaya di Jakarta dan Tante Meri 39 tahun, payudaranya juga besar, kulitnya putih, juga seorang istri pengusaha di Jakarta. Mereka adalah relasi bisnis Tante Mira dari Jakarta yang sedang melakukan bisnis di Bandung, dan diajak oleh Tante Mira refreshing ke villanya di kawasan Puncak. Keduanya keturunan Tionghoa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam mobil, kami pun terlibat obralan ngalor-ngidul, dan mereka diberitahu bahwa aku ini seorang gigolo langganannya dan mereka juga mengatakan ingin mencoba kehebatanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa menit obrolan pun berhenti, dan kulihat Tante Lisa yang duduk di sebelahku, di sofa belakang, tangannya mulai nakal meraba-raba paha dan selangkanganku. Aku mengerti maksudnya, kugeser dudukku dan berdekatan dengan Tante Lisa, lalu tangan Tante Lisa, meremas batang kemaluanku dari balik celana. Dengan inisatifku sendiri, aku membuka reitsleting celana panjangku dan mengeluarkan batang kemaluanku yang sudah tegak berdiri dan besar itu. Tante Lisa kaget dan matanya melotot ketika melihat batang kemaluanku besar dan sudah membengkak itu. Tante Lisa langsung bicara kepadaku, "Wow.. Ded, ****** kamu gede amat, punya suamiku aja kalah besar sama punya kamu.." katanya.&lt;br /&gt;"Masa sich Tante", kataku sambil tanganku meremas-remas payudaranya dari luar bajunya.&lt;br /&gt;"Iya.. boleh minta nggak, Tante pengen ngerasain ****** kamu ini sambil kontolku dikocok-kocok dan diremas-remas, lalu dibelai mesra?" katanya.&lt;br /&gt;"Boleh aja.. kapan pun Tante mau, pasti Dedi kasih", kataku yang langsung disambut Tante Lisa dengan membungkukkan badannya lalu batang kemaluanku dijilat-jilat dan dimasukakkan ke dalam mulutnya, dengan rakusnya batang kemaluanku masuk semua ke dalam mulutnya sambil disedot-sedot dan dikocok-kocok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tante Meri yang duduk di jok depan sesekali menelan air liurnya dan tertawa kecil melihat batang kemaluanku yang sedang asyik dinikmati oleh Tante Lisa. Tnganku mulai membuka beberapa kancing baju Tante Lisa dan mengeluarkan kedua payudaranya yang besar itu dari balik BH-nya. lalu kuremas-remas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tante.. susu tante besar sekali.. boleh Dedi minta?" tanyaku.&lt;br /&gt;Tante Lisa hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu tanganku mulai meremas-remas payudaranya. Tangan kiriku mulai turun ke bawah selangkangannya, dan aku mengelus-ngelus paha yang putih mulus itu lalu naik ke atas selangkangannya, dari balik CD-nya jariku masuk ke dalam liang kewanitaannya. Saat jariku masuk, mata Tante Lisa merem melek dan medesah kenikmatan, "Akhhh.. akhhhh.. akhhh.. terus sayang.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian, aku sudah tidak tahan mau keluar.&lt;br /&gt;"Tante... Dedi mau keluar nich.." kataku.&lt;br /&gt;"Keluarain di mulut Tante aja", katanya.&lt;br /&gt;Selang beberapa menit, "Crooot.. crooot.. crottt.." air maniku keluar, muncrat di dalam mulut Tante Lisa, lalu Tante Lisa menyapu bersih seluruh air maniku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian aku pun merobah posisi. Kini aku yang membungkukkan badanku, dan mulai menyingkap rok dan melepaskan CD warna hitam yang dipakainya. Setelah CD-nya terlepas, aku mulai mencium dan menjilat liang kewanitaannya yang sudah basah itu. Aku masih terus memainkan liang kewanitaannya sambil tanganku dimasukkan ke liang senggamanya dan tangan kiriku meremas-remas payudara yang kiri dan kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepuluh menit kemudian, aku merubah posisi. Kini Tante Lisa kupangku dan kuarahkan batang kemaluanku masuk ke dalam liang senggamanya, "Blesss.. belssss." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaannya, dan Tante Lisa menggelinjang kenikmatan, ku naik-turunkan pinggul Tante Lisa, dan batang kemaluanku keluar masuk dengan leluasa di liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu jam kemudian, kami berdua sudah tidak kuat menahan orgasme, kemudian kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaannya, lalu kusuruh Tante Lisa untuk mengocok dan melumat batang kemaluanku dan akhirnya, "Crooot.. crott.. croottt.." air maniku muncrat di dalam mulut Tante Lisa. Seketika itu juga kami berdua terkulai lemas. Kemudian aku pun tertidur di dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sesampainya di villa Tante Mira sekitar jam 8 malam. Lalu mobil masuk ke dalam pekarangan villa. Kami berempat keluar dari mobil. Tante Mira memanggil penjaga villa, lalu menyuruhnya untuk pulang dan disuruhnya besok sore kembali lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;kami berempat pun masuk ke dalam villa, karena lelah dalam perjalanan aku langsung menuju kamar tidur yang biasa kutempati saat aku diajak ke villa Tante Mira. Begitu aku masuk ke dalam kamar dan hendak tidur-tiduran, aku terkejut ketika ke 3 tante itu masuk ke dalam kamarku dalam keadaan telanjang bulat tanpa sehelain benang pun yang menempel di tubuhnya. Kemudian mereka naik ke atas tempat tidurku dan mendorongku untuk tiduran, lalu mereka berhasil melucuti pakaianku hingga bugil. Batang kemaluanku diserang oleh Tante Meri dan Tante Mira, sedangkan Tante Lisa kusuruh dia mengangkang di atas wajahku, lalu mulai menjilati dan menciumi liang kewanitaan Tante Lisa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan ganasnya mereka berdua secara bergantian menjilati, menyedot dan mengocok batang kemaluanku, hingga aku kewalahan dan merasakan nikmat yang luar biasa. Kemudian kulihat Tante Meri sedang mengatur posisi mengangkang di selangkanganku dan mengarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Blesss.. bleeesss.." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Meri, lalu Tante Meri menaik turunkan pinggulnya dan aku merasakan liang kewanitaan yang hangat dan sudah basah itu. Aku terus menjilat-jilat dan sesekali memasukkan jariku ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa, sedangakan Tante Mira meremas-remas payudara Tante Meri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jam kemudian, Tante Meri sudah orgasme dan Tante Meri terkulai lemas dan langsung menjatuhkan tubuhnya di sebelahku sambil mencium pipiku. Kini giliran Tante Mira yang naik di selangkanganku dan mulai memasukan batang kemaluanku yang masih tegak berdiri ke liang senggamanya, "Bleesss.. bleesss.." batang kemaluanku pun masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Mira. Sama seperti Tante Meri, pinggul Tante Mira dinaik-turunkan dan diputar-putar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, Tante Mira sudah mencapai puncak orgasme juga dan dia terkulai lemas juga, langsung kucabut batang kemaluanku dari liang kewanitaan Tante Mira, lalu kusuruh Tante Lisa untuk berdiri sebentar, dan aku mengajaknya untuk duduk di atas meja rias yang ada di kamar itu, lalu kubuka lebar-lebar kedua pahanya dan kuarahkan batang kemaluanku ke liang kewanitaannya, "Blesss.. .bleeess.." batang kemaluanku masuk ke dalam liang kewanitaan Tante Lisa. Kukocok-kocok maju mundur batang kemaluanku di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, dan terdengar desahan hebat, "Akhhh.. akhhh.. akhhh.. terus sayang.. enak.." Aku terus mengocok senjataku, selang beberapa menit aku mengubah posisi, kusuruh dia membungkuk dengan gaya doggy style lalu kumasukan batang kemaluanku dari arah belakang. "Akhhh.. akhhh.." terdengar lagi desahan Tante Lisa. Aku tidak peduli dengan desahan-desahannya, aku terus mengocok-ngocok batang kemaluanku di liang kewanitaannya sambil tanganku meremas-remas kedua buah dada yang besar putih yang bergoyang-goyang menggantung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku merasakan liang kewanitaan Tante Lisa basah dan ternyata Tante Lisa sudah keluar. Aku merubah posisi, kini Tante Lisa kusuruh tiduran di lantai, di atas karpet dan kubuka lebar-lebar pahanya dan kuangkat kedua kakinya lalu kumasukkan batang kemaluanku ke dalam liang kewanitaannya, "Blesss.. blessss.. blessss.." batang kemaluanku masuk dan mulai bekerja kembali mengocok-ngocok di dalam liang kewanitaannya. Selang beberapa menit, aku sudah tidak tahan lagi, lalu kutanya ke Tante Lisa, "Tante, aku mau keluar nich.. di dalam apa di luar?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Di dalam aja Sayang.." pintanya.&lt;br /&gt;Kemudian, "Crottt.. crooottt.. croottt.." air maniku muncrat di dalam liang kewanitaan Tante Lisa, kemudian aku jatuh terkulai lemas menindih tubuh Tante Lisa sedangkan kejantananku masih manancap dengan perkasanya di dalam liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berempat pun tidur di kamarku, keesokan harinya kami berempat melakukan hal yang sama di depan TV dekat perapian, di kamar mandi, maupun di dapur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-4145282771797357754?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/4145282771797357754/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=4145282771797357754' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4145282771797357754'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4145282771797357754'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/bersama-tante-mira.html' title='Bersama tante Mira'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-4373429723988632890</id><published>2009-01-08T23:52:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T23:56:38.059-08:00</updated><title type='text'>Isteri Yang Berselingkuh, Adik Ipar Dan Aku part 2</title><content type='html'>Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku," kata Jenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno" href="http://17tahun.us"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jenny! Teganya kamu?" teriak Sherly terdengar hamper menangis, tapi Jenny Cuma tersenyum sinis.&lt;br /&gt;"Teganya aku? Kakak pasti bercanda! Coba kakak periksa rekaman video di bawah. Itu rekaman perselingkuhan Bob dengan kak Sherly," balas Jenny said lalu kemudian dengan mata menatap kea rah kakaknya, dia memasukkan batang penisku hingga ke batangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anak-anak mana?" tanyaku merasa tak nyaman. Aku coba untuk bergerak, tapi Jenny tak membiarkanku. Dia ingin agar Sherly melihat aksi kami berdua.&lt;br /&gt;"Kutitipkan di rumah mami. Aku mau memberimu kejutan ‘a night out alone’," jelasnya, nampak jelas rasa kecewa dan terkejutnya.&lt;br /&gt;"Nah, aku rasa yang terkejut sekarang adalah kakak. Apa kakak benar-benar berharap kalau rekaman itu tak akan diketahui oleh siapapun?" Tanya Jenny. Sherly menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Kakak keliru," kata Jenny, lalu menambahkan dengan nada sinis, "Nah, sekarang impas kan?" tangis Sherly benar-benar pecah sekarang dan dia berlari meninggalkan kamar. Bukannya merasa puas telah membalas dendam, tapi aku malah merasa sangat tidak enak. Kudorong tubuh Jenny menjauh dan pergi menyusul Sherly. Kutemukan dia di ruang keluarga, sedang menyaksikan rekaman videonya dengan Bob. Dia menoleh dan memandangku dengan tatapan yang berlinang air mata.&lt;br /&gt;"Aku sungguh-sungguh minta maaf!" ucapnya diantara isak tangisnya. "Itu terjadi begitu saja bulan lalu. Bob tengah frustrasi karena Jenny tak juga hamil. Kami minum-minum dan aku tak ingat pasti apa yang terjadi kemudian, yang kuingat saat aku terbangun, kita tidur berdua di ranjangnya. Apakah kamu mau memaafkanku?" tanyanya. Aku hendak mulai menjawab, tapi Jenny sudah berada di ruangan ini.&lt;br /&gt;"Abang percaya semua omong kosong ini? Itu mungkin benar kejadian pertama kalinya, tapi bagaimana dengan yang berikutnya? Kak Sherly terlihat jelas sangat menikmatinya dalam video itu," potong Jenny dengan marah. Wajah Sherly berubah merah oleh rasa malu.&lt;br /&gt;"Kami melakukannya cuma dua kali saja," bela Sherly lirih, meskipun dia sadar itu tak banyak membantunya.&lt;br /&gt;"Kejadian yang kedua terjadi saat Bob menelphone-ku untuk dating dan bicara. Aku juga terkejut saat mendapati ada sebuah kamera yang dalam keadaan siap rekam. Lalu dia memperlihatkan padaku rekamannya dengan Jenny yang sedang bercumbu. Kami sepakat untuk menghentikan affair ini, tapi Bob ingin membuatsebuah video sebagai kenang-kenangan."&lt;br /&gt;"Dan kakak tak mampu menolaknya, kan?" potong Jenny dengan tajam.&lt;br /&gt;"Aku mau menolaknya!" jawab Sherly, tapi kemudian meneruskan dengan suara pelan, "Tapi video kalian berdua benar-benar membuatku jadi terangsang. Melihatmu bercumbu dengan Bob sangat membuatku terangsang."&lt;br /&gt;"Kakak jadi terangsang karena melihatku?" Tanya Jenny tak percaya. Sherly tak berani menatap kami berdua, tapi dia hanya mengangguk. Aku gelengkan kepala. Aku benar-benar kaget dengan apa yang dikatakan Sherly barusan.&lt;br /&gt;"Jenny, Sherly dan aku menikah di usia muda. Aku tidak heran jika kakakmu membayangkan apa yang hilang dari masa mudanya setelah kami menikah dulu. Aku juga merasakan hal itu."&lt;br /&gt;"Lalu apa abang berselingkuh di belakang kakak?" Tanya Jenny asked. Kugelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Tidak sampai hari ini," jawabku. Sherly mulai merasa tak nyaman.&lt;br /&gt;"Aku benar-benar minta maaf! Aku sangat mencintaimu dan tak ingin kehilanganmu," kata Sherly. Aku tersenyum mendapati situasi ini. Ketakutan terbesarku adalah jika Sherly sudah tidak mencintaiku lagi. Sekarang aku tahu itu tidak benar.&lt;br /&gt;"Aku tak akan meninggalkan kamu. Andai saja kamu ceritakan padaku tentang semua ini sebelum kamu membuat keputusan, mungkin kita bisa lakukan itu bersama."&lt;br /&gt;"Bersama?" tanyanya. Dia terlihat jelas terkejut.&lt;br /&gt;"Ya. Sherly, aku punya sebuah fantasi yang ikin kulakukan. Aku tak pernah menceritakannya padamu karena kupikir kamu sangat konservative tentang seks dan kupikir kamu akan marah jika kuajak membicarakannya. Aku tak ingin kehilangan kamu."&lt;br /&gt;"Sungguhkah?" tanyanya, ketakutanna perlahan berubah menjadi sebuah harapan. Kurengkuh dia ke dalam pelukanku dan memberinya sebuah ciuman yang sangat dalam sebagai jawabannya.&lt;br /&gt;"Jadi, abang mengijinkan pria lain menikmati tubuh isteri abang?" Tanya Jenny tak percaya Aku mengangkat bahu dan tersenyum.&lt;br /&gt;"Aku tak masalah jika Sherly bercinta dengan orang lain, Cuma syaratnya aku harus ada di sana dan dia pulang ke rumah kembali bersamaku."&lt;br /&gt;"Menakjubkan," kata Jenny, tak tahu harus berkata apalagi.&lt;br /&gt;"Jenny, meskipun ini tak membantu, Bob mengatakan padaku kalau hanya dengankulah satu-satunya wanita yang pernah berselingkuh dengannya. Aku percaya padanya. Bob benar-benar mencintaimu," kata Sherly, masih memelukku. Jenny masih tetap menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutarik kembali Sherly dalam sebuah ciuman. Aku masih tetap telanjang, sedangkan Sherly masih berpakaian lengkap. Aku mulai melucuti pakaiannya. Dan dia membantu mempercepatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, bagaimana dengan aku?" Tanya Jenny. Sherly memandangku seakan meminta ijin. Aku mengangguk, masih meraba-raba kemana ini akan berakhir. Isteriku menatap adiknya dan menyeringai lebar.&lt;br /&gt;"Jenny, kamu sangat boleh bergabung dengan kami," undangnya. "Sudah kukatakan, Aku sangat suka melihatmu bercinta dengan Bob. Kurasa melihatmu melakukannya dengan suamiku pasti akan lebih dahsyat lagi!" Aku sama terkejutnya dengan Jenny, tapi aku sudah terlalu terangsang oleh wanita yang kunikahi hamper dua puluh tahun ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sherly dan aku tak menunggu jawaban Jenny lagi. Kupanggul Sherly menuju ke kamar tidur kami dan melemparkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi tengkurap. Dia protes soal aroma dan kenyataan kalau sepreinya telah habis dipakai, tapi protesnya tersebut langsung terhenti begitu kulesakkan batang penisku ke dalam lubang vaginanya. Kupegangi pinggulnya saat aku mulai bergerak keluar masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, setubuhi aku sayang!" teriaknya. Sherly tidak pernah berkata mesum saat berhubungan seks sebelumnya. Birahiku benar-benar terbakar oleh perubahan isteriku ini. Kami berdua benar-benar terhanyut dengan irama persetubuhan ini hingga aku dikejutkan oleh sebuah tangan yang memegang buah zakarku.&lt;br /&gt;"Jadi, akhirnya kamu putuskan untuk bergabung dengan kami," kataku pada Jenny. Dia mengangkat bahunya, tersenyum nakal dan kemudian menciumku.&lt;br /&gt;"Aku tak akan pernah melewatkan kesempatan untuk menikmati batang penis abang lagi," katanya begitu lumatan bibirnya denganku berakhir. Kemudia dia menampar pantat Sherly dengan keras. Sherly teriak terkejut.&lt;br /&gt;"Disamping itu, aku masih belum memberikan hukuman pada wanita jalang yang sudah menyetubuhi suamiku ini," katanya sebelum memberi sebuah tamparan lagi.&lt;br /&gt;"Hey! Hentikan," cegahku. Aku mencintai Sherly dan tidak ingin melihat dia disakiti.&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa! Aku memang pantas mendapatkannya," kata Sherly, mengejutkanku, tapi kurasa Jenny sudah mengira akan hal ini.&lt;br /&gt;"Nah kakakku yang jalang, kakak suka dengan kekerasan ya," kata Jenny dengan yakin sambil memilin putting kakaknya dengan kasar. Sherly berteriak antara sakit dan nikmat. Baru saja aku mau menghentikan semua ini, tapi Sherly malah mulai meledak orgasmenya. Ini akan menjadi sebuah eksplorasi yang menarik dilain waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny menarikku menjauh dan menaiki batang penisku. Tak perlu menunggu waktu untuk penyesuaian yang lama lagi seperti saat pertama kali, dia kemudian mulai bergerak naik turun di atasku sekali lagi. Aku sudah dekat dengan orgasmeku saat akhirnya Sherly pulih kondisinya setelah ledakan orgasmenya. Dia melumat bibirku dengan liar sebelum tangannya bergerak meremas pangkal batang penisku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, hentikan, kakak merusak iramaku!" Jenny komplain. Sherly tersenyum, melepaskan cengkeramannya dan menarik Jenny dalam sebuah ciuman. Ciuman keduanya sangat lama dan juga basah, tapi saat akhirnya selesai Jenny kembali komplain.&lt;br /&gt;"Wanita jalang!" teriaknya, yang sebenarnya hanya terkejut oleh aksi Sherly barusan. Isteriku hanya tersenyum.&lt;br /&gt;"Sudah kubilang kan, kalau melihatmu bisa membuatku sangat terangsang. Apa yang kamu harapkan saat memutuskan untuk bergabung dengan kami?" jawab Sherly, dan kemudian tangannya bergerak ke bawah untuk memainkan kelentit Jenny. Segera saja nafas Jenny mulai tersengal.&lt;br /&gt;"Aku tidak tertarik pada wanita! Singkirkan tangan kakak!" perintahnya, tapi Jenny tidak melakukan apa-apa untuk menghentikan Sherly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku juga belum pernah melakukannya dengan seorang wanita sebelumnya. Aku rasa kamu juga. Bagaimana kamu tahu kalau kamu tak suka?" Tanya Sherly.&lt;br /&gt;"Tapi aku kan adikmu!" jawab Jenny. Sherly tak menghiraukannya.&lt;br /&gt;"Aku yakin kalau mulutmu pasti akan lebih bermanfaat daripada hanya bicara tak karuan begitu," jawab Sherly, lalu kemudian kembali melumat bibir adiknya lagi.&lt;br /&gt;"Wow! Sherly, ini sangat hot! Jika saja aku tahu lebih awal kalau kamu juga mau melakukannya denga wanita juga," kataku dengan seringai lebar. Sherly hanay mengangkat bahu.&lt;br /&gt;"Siapa kira? Aku juga tak pernah membayangkan sebelumnya sampai aku lihat videonya Jenny dengan Bob," jawabnya sebelum kemudian membungkuk kedepan untuk menghisap salah satu putting payudara Jenny. Mengerang keras Jenny mulai orgasme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mencoba untuk bertahan, tapi segera saja aku seburkan spermaku ke dalam vagina Jenny juga. Jenny membuat kami berdua terkejut saat dia menjambak rambut kakaknya agar mendekat padanya dan melumat bibirnya dengan liar ditengah ledakan orgasme yang melandanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sherly meraih batang penisku dan memasukkannya ke dalam mulutnya begitu orgasme yang mendera kami berdua mereda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iih, menjijikkan! Penis abang kan penuh dengan cairanku," kata Jenny dengan wajah menyeringai. Sherly hanya tersenyum lalu mendorong tubuh adiknya hingga terlentang. Dia bergerak menaiki tubuh Jenny dan duduk di atas dada montoknya. Membuat vaginanya berada sangat dekat ke mulut Jenny. Jenny meronta beberapa saat, tapi Sherly lebih kuat dan lagipula tubuhnya berada di atas menindih Jenny.&lt;br /&gt;"Sekarang giliranku untuk orgasme dank arena kamu sudah memakai penis suamiku untuk orgasme, kamu harus menggantikan tugasnya. Jilat vaginaku Jenny!" perintah Sherly. Aku hanya menyaksikan dengan terpesona. Aku tengah menyaksikan bagian dari diri Sherly yang tak pernah kusangka dimilikinya. Jenny mencoba memprotes, tapi Sherly sama sekali tak mengacuhkan. Disorongkan vaginanya kea rah mulut adiknya dan mendesah keras beberapa saat kemudian ketika lidah Jenny menelusup ke dalam lubang vaginanya.&lt;br /&gt;"Ya, begitu Jennyy! Tepat di situ!" ceracau Sherly. Mereka berdua seakan asyik masyuk dalam dunianya sendiri dalam beberapa menit ke depan sebelum pada akhirnya Jenny mendorong tubuh Sherly dari atasnya.&lt;br /&gt;"Hey!" protes Sherly, tapi Jenny cuma tertawa. Dia kemudian mengatur untuk melakukan posisi enam-sembilan dengan isteriku. Kuamati lidah Jenny langsung melata keluar masuk ke dalam vagina kakaknya. Sherly ragu untuk beberapa saat sebelum akhirnya lidahnya juga memberi aksi yang sama terhadap vagina Jenny.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlihat jelas bahwa kedua wanita ini sangat menikmati dan larut terhadap apa yang tengah mereka perbuat. Sudah cukup lama mereka saling memuaskan birahi satu sama lainnya dan aku yakin kalau keduanya sudah mendapatkan paling tidak sebuah orgasme. Batang penisku akhirnya sekali lagi mengeras sepenuhnya dan aku tengah bingung untuk memutuskan apa yang akan kulakukan. Jenny melihat kebingunganku dan mengedip kepadaku sambil sebuah jarinya menyelip masuk ke dalam lubang anus Sherly. Sherly mengerang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny terus memainkan jemarinya di dalam lubang anus Sherly sambil tetap mengoral vaginanya. Sejenak kemudian Jenny mengisyaratkan padaku untuk mendekat. Dicengkeramnya batang penisku dan menempatkan kepala penisku tepat di lubang anus Sherly. Kudoeng sedikit hingga kepalanya masuk sebelum Sherly akhirnya menyadari apa yang tengah terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu!" teriaknya, tapi Jenny tetap berkonsentrasi pada kelentitnya dan itu membuat perhatian Sherly kabur. Kumasukkan beberapa centi lagi.&lt;br /&gt;"Hentikan, ini sakit!" erang Sherly. Jenny menampar pantat isteriku dengan keras.&lt;br /&gt;"Tapi rasanya sangat nikmat, kan?" tanyanya pada isteriku. Sherly hanya mengerang. Kumasukkan lagi lebih dalam.&lt;br /&gt;"Ya!" Sherly semakin mengerang keras.&lt;br /&gt;"Jadi, diam dan nikmati saja!" perintah Jenny menampar pantat Sherly lagi. Jenny merangkak ke bawah tubuh Sherly dan mulai mempermainkan kelentitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terus mendorongkan penisku semakin ke dalam anus Sherly. Rasanya sangat rapat dan aku tak yakin sepenuhnya apakah dia menikmati ini ataukah tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kamu ingin aku berhenti?" tanyaku meyakinkan.&lt;br /&gt;"Jangan! Masukkan seluruhnya. Sodomi aku!" teriak Sherly. Dan jawaban itu membuatku melesakkan sisa penisku selurhnya tanpa ragu lagi. Dia langsung mulai orgasme. Kurasakan denyutannya seiring tiap sodokanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusodomi Sherly dengan keras dan cepat, membuat buah zakarku menghantam dahi Jenny. Segera saja aku orgasme beberapa menit kemudian. Sherly dan aku rebah kecapaian sedangkan Jenny meberi kami masing-masig sebuah ciuman yang penuh nafsu yang dalam. Tak disangsikan lagi kalau dia juga sangat membutuhkan sebuah pelapasan yang sangat mendesak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu kondisiku dan isteriku mulai pulih, tanpa menyia-nyiakan waktu lagi kami berdua langsung berkonsentrasi pada vagina Jenny. Dengan bergantian lidah kami mengeksplorasi seluruh titik sensitifnya. Dan itu membuat Jenny merintih memintaku agar segera menyetubuhinya langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuposisikan dia dalam dogy-style, Sherly memposisikan dirinya diantara tubuhku dan Jenny dan mencumbu anus adiknya dengan menggunakan lidah. Hal ini terlalu berlebihan untuk dapat ditahan Jenny lebih lama lagi dan orgasme segera menggulungnya. Denyutan liar dinding vagina Jenny tak mampu kutahan, kulit penisku yang terasa sangat sensisit segera memberiku ledakan orgasme yang berikutnya. Isteriku terus saja mencumbui lubang anus adiknya saat aku semburkan kembali spermaku di dalam vagina adik iparku untuk kesekian kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami bertiga hanya mampu berbaring kelelahan dengan tubuh bersimbah keringat untuk sekian waktu. Saat akhirnya kami mampu bergerak, hanya dengan gerakan tubuh yang lemah dan pelan. Secara bregiliran kami mandi menyegarkan tubuh, berpakaian dan bertemu di meja makan. Sherly menyiapkan sesuat untuk mengganjal perut kami semua yang kelaparan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lapar," Jenny said.&lt;br /&gt;"Aku juga," timpalku.&lt;br /&gt;"Aku rasa kita sudah membangkitkan selera makan kita," Sherly tersenyum. Hampir disepanjang acara makan kami diwarnai keheningan. Masing-masing tenggelam dalam alam pikirannya. Aku lihat Sherly sedang menata mentalnya untuk membuka omongan. Akhirnya dia menatapku begitu acara makan kita selesai.&lt;br /&gt;"Jadi, apakah kita semua baik-baik saja?" nada bicaranya terdengar nervous. Kami saling menatap satu sama lain dalam beberapa saat dan kemudia aku mengangguk. Senyuman Sherly terkembang.&lt;br /&gt;"Bagaimana dengan kamu?" Tanya Sherly pada adiknya.&lt;br /&gt;"Mmm, aku belum tahu," jawab Jenny dengan jujur, tapi kemudian dia tersenyum lebar dan bertanya, "Yang kamu maksud itu tentang kamu dan Bob atau kenyataan bahwa baru saja aku sadar kalu aku seorang lesbian yang juga menikmati hubungan incest?"&lt;br /&gt;"Kamu bukan lesbian," jawabku sambil tersenyum.&lt;br /&gt;"Dia benar," Sherly menambahkan. "Kamu seorang biseksual yang menikmati hubungan incest." Jenny tidak bias menahan diri. Dia tertawa terbahak. Sherly dan aku ikut tertawa, tapi dengan cepat tawa kami berhenti.&lt;br /&gt;"Jenny, beri Bob kesempatan," kata Sherly dengan lebih serius. Jenny menarik nafas.&lt;br /&gt;"Akan kupikirkan."&lt;br /&gt;"Dan diskusikan dengannya soal belum juga hamilnya kamu. Kalian berdua mungkin harus membicarakan hal tersebut. Mungkin sekaranglah waktunya untuk datang ke dokter ahli."&lt;br /&gt;"Wow, sekali nasehat langsung komplit," jawab Jenny dengan tersenyum. Dia terlihat agak bimbang.&lt;br /&gt;"Hei, kamu boleh menyewa suamiku sebagai gantinya kalau yang jadi masalahmu adalah Bob," gurau Sherly, mencoba untuk membuat adiknya tersenyum. Senyuman Jenny semakin terkembang lebar saat tangannya bergerak mengelus perutnya.&lt;br /&gt;"Masalah itu mungkin sudah terpecahkan kalau memang yang bermasalah aadalah Bob. Minggu ini adalah periode masa paling suburku dan suamimu sudah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik saat mengisiku dengan spermanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alis Sherly's, dan tentu saja alisku, terangkat karena terkejut. Kami saling mamandang dan kemudian menoleh ke arah Jenny. Akhirnya kami bertiga hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu issue untuk besok saja," jawab Sherly.&lt;br /&gt;"Kalau memang jadi," Jenny menambahkan.&lt;br /&gt;"Beritahu kami kalau akhirnya kamu memutuskan untuk memaafkan Bob," kataku, merubah topic pembicaraan. "Akan tiba waktunya bagi Bob dan aku untuk membicarakannya, tapi itu persoalan lain lagi. Dan jika semuanya berjalan baik dan antara kamu dan Bob ok, aku rasa aku ingin melihat Bob dan Sherly melakukannya secara langsung. Aku yakin itu akan terlihat lebih hebat dari pada di dalam video."&lt;br /&gt;"Hanya selama aku diberi kesempatan dengan kamu lagi," jawab Jenny menimpali ‘tantanganku. Dia kemudian menoleh kea rah Sherly dan dengan tersenyum menambahkan, "Tentu saja dengan kamu juga."&lt;br /&gt;"Aku bisa menggaransi kalau soal itu," balas Sherly.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny memberi sebuah pelukan pada kami berdua sebelum dia pergi. Sherly dan aku saling menatap dalam kebisuan untuk beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang bagaimana?" Tanya Sherly. Awalnya aku hanya mengangkat bahu, tapi kemudian kuhembuskan nafas. Aku sadar jika kami berdua membutuhkan sebuah aturan dasar dalam hal ini.&lt;br /&gt;"Pertama, aku rasa kita harus saling setuju dan berjanji bahwa kita tidak akan saling bermain dengan orang lain tanpa persetujuan salah satu dari kita. Tak ada lagi affair," jelasku dengan ringkas. Sherly tampak sedikit malu dan mengangguk setuju.&lt;br /&gt;"Kita harus ekstra hati-hati terhadap anak-anak. Aku tidak mau gaya hidup kita yang baru ini membawa sebuah dampak bagi mereka semua," Sherly menambahkan.&lt;br /&gt;"Setuju."&lt;br /&gt;"Kamu puny ide yang lain lagi?" Tanya Sherly. Aku menyeringai.&lt;br /&gt;"Ya, masih ada sebuah hukuman yang menunggumu."&lt;br /&gt;"Hukuman?" Tanya Sherly, matanya berbinar.&lt;br /&gt;"Yeah, sekarang aku tahu kalau kamu suka sedikit kekerasan dan rasa sakit, aku rasa kita harus kembali lagi ke kamar. Lagipula anak anak tidak ada dan kita hanya berdua saja sekarang."&lt;br /&gt;"Apa yang kamu rencanakan?" Tanya Sherly curiga. Aku hanya tersenyum lebar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami habiskan beberapa jam berikutnya dengan saling memuaskan dan memanjakan satu sama lain. Tidak semua yang kami coba berjalan dengan baik, tapi saat itu tidak berjalan sesuai harapan, kami hanya tertawa dan kemudia mencoba sesuatu yang lainnya lagi. Untuk pertama kalinya Sherly dan aku saling berbagi seluruh fantasi seksual dalam kehidupan dua puluh tahun perkawinan kami. Kami sadar kalau tidak semua fantasi tersebut bisa diwujudkan dalam satu malam ini, tapi kami sudah melakukan sebuah awal yang bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mentari pagi hanya menunggu satu dan dua jam untuk terbit saat akhirnya kami merasa terlalu lelah untuk mencoba sesuatu yang lain lagi, tapi kami berdua belum merasa mengantuk juga. Sekali lagi kami mandi lagi dan melangkah menuju ke kamar tamu. Kamar ini memiliki pemandangan yang indah saat mentari terbit dan juga seprei yang bersih dan segar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua berbaring dan berbincang seakan sudah tak saling bicara selama bertahun-tahun. Aku bahkan tak begitu yakin apa yang sedang kami diskusikan, tapi pada akhirnya aku merasa lebih dekat dengan isteriku melebihi sebelumnya. Manteri terbit mengantarkan kami berdua lelap dalam mimpi indah dengan saling memeluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-4373429723988632890?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/4373429723988632890/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=4373429723988632890' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4373429723988632890'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4373429723988632890'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/isteri-yang-berselingkuh-adik-ipar-dan_08.html' title='Isteri Yang Berselingkuh, Adik Ipar Dan Aku part 2'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-6705044431071963149</id><published>2009-01-08T23:48:00.000-08:00</published><updated>2009-01-08T23:51:49.835-08:00</updated><title type='text'>Isteri Yang Berselingkuh, Adik Ipar Dan Aku part 1</title><content type='html'>Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku. Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya. Jenny merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno" href="http://17tahun.us"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adegan dalam video ini sungguh sangat membuatku shock, mulutku terbuka melongo. Aku merasa seperti orang dungu yang ditendang tepat diselangkangan. Apa yang terpampang dalam layer TV adalah rekaman isteriku dengan suami adik iparku. Dan mereka tengah bersetubuh. Aku tak bias mempercayainya! Tidak hanya kenyataan bahwa isteriku yang menghianatiku, tapi juga dia melakukannya dengan Bob, suami dari adiknya sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny, adik iparku berdiri di sebelahku mengamati reaksiku akan rekaman video tersebut. Tampak jelas dia terluka dan marah. Dia menemukan rekaman video ini dalam laci yang tersembuni di meja kerja suaminya hanya beberapa jam yang lalu. Adegan di TV terus berjalan, aku berjalan menuju pantr di ruang sebelah dan menuangkan minuman ke dalam dua buah gelas. Jenny menerimanya tanpa sepatah katapun. Kami berdua meneruskan melihat rekaman video tersebut dalam diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampak jelas betapa usaha Bob dalam mengolah bentuk tubuhnya, tapi aku merasa senang karena betapapun hasil latihannya telah membuat otot tubuhnya menjadi besar dan kekar tapi itu tak membuat batang penisnya jadi lebih besar. Setidaknya aku masih lebih hebat dibagian itu. Tentu saja, Sherly terlihat menikmati apa yang didapatkan dari Bob terkecuali terhadap ukuran kejantanannya, aku cukup mengenal Sherly akan hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isteriku mempunyai bentuk tubuh yang atletis. Dia rutin pergi ke gym dan selalu berusaha mengajakku ke tempat itu juga, tapi aku tak pernah punya ketertarikan dengan hal-hal semacam itu. Saat melihat adegan video tersebut, aku membayangkan apa mungkin hal tersebut akan mambawa perbedaan…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny melangkah pergi untuk mengambil minuman, kupandangi dia, Jenny berumur 10 tahun lebih muda dari isteriku dan memiliki bentuk tubuh yang lebih montok dibandingkan kakaknya. Payudaranya juga lebih besar. Aku melihat perkembangan kedewasaan tubuhnya hingga menjadi seorang wanita muda yang cantik dalam beberapa tahun belakangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia dan Bob menikah dua tahun yang lalu. Sherly dan aku menikah jauh sebelumnya dan sekarang sudah memiliki 3 orang anak. Kami akan segera merayakan ulang tahun pernikahan kami yang ke duapuluh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tahu sudah berapa lama ini terjadi?" tanyaku begitu video tersebut berakhir. Sherly menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Mungkin sudah setahun lebih!" sambungnya ketus. Aku gelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Tidak, ini terjadi baru-baru ini. Kelakuan Sherly berubah aneh sejak sekitar bulan lalu dan sekarang aku baru mengerti sebabnya," jawabku.&lt;br /&gt;"Kakak kandungku sendiri!" kata Jenny dengan geram. Aku mengangkat bahu. Aku benar-benar tak bisa berkata apapun untuk membuat kenyataan ini menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;"Apa yang akan kita lakukan?" tanyanya, tampak jelas nada kemarahan dalam suaranya.&lt;br /&gt;"Aku belum tahu," ku hela nafas. Aku masih sangat terguncang untuk dapat berpikir jernih.&lt;br /&gt;"Abang belum tahu?" tanyanya tak percaya. Aku hanya mengangkat bahu kembali.&lt;br /&gt;"Kakakmu dan anak-anak sedang berakhir pekan di rumah pantai dan kakek nenek mereka juga ikut di sana. Aku rasa aku butuh waktu 24 jam untuk membuat keputusan drastis."&lt;br /&gt;"Well, aku sudah tahu apa yang akan kulakukan!" potong Jenny. Kupegang kedua bahunya dengan tanganku untuk meredakannya.&lt;br /&gt;"Bukankah Bob sedang diluar kota sekarang ini?"&lt;br /&gt;"Ya," jawabnya, tapi segera menambahkan dengan nada marah sebelum aku mampu melanjutkan, "Mungkin sekarang ini dia sedang meniduri wanit lain lagi!"&lt;br /&gt;"Aku rasa tidak," jawabku sambil menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Apa?"&lt;br /&gt;"Dengar, aku cukup mengenal Bob dengan baik dan dia bukan tipe lelaki yang suka main perempuan," kataku, meskipun sadar betapa menggelikannya penjelasanku ini.&lt;br /&gt;"Kamu pasti bercanda," tukas Jenny. Aku hanya mengangkat bahu.&lt;br /&gt;"Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi aku tak percaya kalau Sherly dan Bob sengaja melakukan ini."&lt;br /&gt;"Itu kan sudah terlihat jelas di video itu!" teriak Jenny.&lt;br /&gt;"Apa ada kelakuan Bob yang aneh akhir-akhir ini? Aku tahu kalau sekarang ini Sherly sedang mengalami puber kedua. Dia baru saja memasuki usianya yang ke tiga puluh sembilan dan perasaan akan berumur empat puluh di tahun depan sangat membuatnya resah."&lt;br /&gt;"Itu bukan alasan!"&lt;br /&gt;"Aku tidak bilang ini suatu alas an, tapi aku rasa itu bukan bagian dari penyebabnya," jawabku. Jenny menatapku dan menggelengkan kepala, tapi kemudian dia menarik nafas dan kelihatan agak sedikit mereda emosinya.&lt;br /&gt;"Sudah satu tahun kami mencoba untuk mendapatkan seorang bayi, tapi belum juga beruntung. Aku tahu itu sangat mengganggu Bob," jelasnya sambil menggosok kedua lengannya, tapi kemudian ketenangannya sirna dan matanya berkilat marah, "Itu juga sangat menggangguku, tapi aku tidak lari dan tidur dengan salah satu saudaranya!"&lt;br /&gt;"Kamu benar," jawabku, coba menenangkannya. "Tapi aku masih merasa kalau kita butuh waktu beberapa hari untuk berfikir sebelum membuat keputusan besar."&lt;br /&gt;"Baiklah! Mungkin abang benar, tapi aku merasa itu tak akan membantu," tukasnya, Rasa sakit dan marahnya terlalu besar untuk ditahannya.&lt;br /&gt;"Besok malam kamu kembali saja kemari dan kita bicarakan lagi," tawarku. "Sebelum itu kita berdua punya waktu untuk menenangkan diri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny terlihat tidak puas, tapi dia mengangguk setuju. Dia mengeluarkan video tersebut dari dalam player dan pergi tanpa mengucapkan sepatah kata lagi. Aku berharap dia tidak melakukan suatu tindakan yang bodoh sampai dia merasa tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuputuskan untuk mandi, aku merasa kotor. Aku pergi ke kamar mandi, menyetel suhu air panas dan melihat pantulan bayanganku di dalam cermin. Kamar mandi ini mulai terisi uap panas saat kutatap mataku. Ini akan jadi sebuah malam yang panjang dan aku merasa ragu akankah berangkat kerja besok pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;* * *&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny dating ke rumahku malam berikutnya. Dia terlihat lebih kurang tidur dibandingkan aku, tapi setidaknya dia terlihat jauh lebih tenang dibandingkan kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, apa keputusan abang?" tanyanya langsung tanpa basa-basi. Aku mengangkat bahu.&lt;br /&gt;"Apa ini tidak membuat abang marah?" tanyanya gusar.&lt;br /&gt;"Tentu saja ini membuatku marah, tapi aku tetap tak bisa merubah apa yang sudah terlanjur terjadi." Kenyataannya adalah aku lebih merasa sakit karena dikhianati dari pada kelakuan mereka.&lt;br /&gt;"Astaga, aku benar-benar heran dengan abang? Aku akan minta cerai pada Bob! Abang juga mestinya menceraikan Sherly!" kata Jenny. Aku gelengkan kepala, aku sudah punya keputusan sendiri.&lt;br /&gt;"Itu tak akan terjadi. Kakakmu Sherly dan aku punya tiga orang anak. Kami sudah berumah tangga hamper dua puluh tahun," kutarik nafas, lalu melanjutkan, "Aku sangat mencintai kakakmu, dan perbuatannya dengan Bob tak akan mampu menghapus cinta itu begitu saja. Aku merasa sakit dan aku akan mencari tahu kenapa dia merasa harus mengkhianatiku, tapi aku tak akan menceraikan dia." Jenny menatapku tajam.&lt;br /&gt;"Abang akan memaafkannya," tanyanya tak percaya. Aku mengangguk. Jenny menggelengkan kepalanya, air matanya mulai keluar. Aku merengkuhnya ke dalam pelukanku dan dia mulai terisak. Ini berlangsung untuk beberapa saat lamanya hingga akhirnya dia dapat mengendalikan diri.&lt;br /&gt;"Aku rasa aku tak akan bisa memaafkan Bob," akhirnya dia berkata.&lt;br /&gt;"Jenny, apa kamu benar-benar ingin berpisah dengan Bob?" tanyaku. Sejenak dia ragu sebelum akhirnya menggelengkan kepala.&lt;br /&gt;"Tapi aku tak bisa membiarkan begitu saja perbuatannya," jawabnya lirih.&lt;br /&gt;"Ayo kita ambil minum dulu," tawarku. Dia mengangguk setuju.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelas yang pertama terasa hanya untuk membasahi tenggorokan saja. Gelas yang ke dua baru terasa pengaruhnya. Aku bilang ingin pergi ke kamar mandi sebentar saat jenny menuangk minuman pada gelas ketiganya. Ketika aku keluar dari kamar mandi aku mendapati dia melihat rekaman video tersebut lagi. Aku menghela nafas, menghampirinya untuk mematikan TV.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tahu kan, ini tak akan membantu," kataku. Di menghela nafas. Kami meminum gelas ketiga dalam diam. Kali ini giliran Jenny yang pergi ke kamar mandi saat aku menuang gelas yang keempat. Aku masih belum merasa mabuk, tapi rasa sakit di hati sedikit terasa hilang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arahku. Segera saja aku menyadari ada sesuatu yang berubah. Pertama, Jenny terlihat sudah mengambil sebuah keputusan. Yang kedua, tak mungkin rasanya kalau tak melihat kalau beberapa kancing bajunya yang atas terbuka dan dia tak lagi memakai bra. Aku dapat melihat jelas putting payudaranya dari balik blouse-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jenny, apa yang kamu lakukan?" tanyaku bingung.&lt;br /&gt;"Aku akan melakukan sesuatu yang mungkin bisa mempertahankan pernikahanku setelah pengkhianatan Bob. Aku akan meniduri abang," jawabnya. Aku baru saja akan memprotesnya, tapi dia sudah langsung melumat bibirku. Disamping itu, kalau mau jujur, meskipun aku memutuskan untuk memaafkan Sherly, aku juga sama terlukanya dengan Jenny. Meniduri Jenny, benar atau salah, mungkin saja akan menolong. Aku merasa sangsi kalau ini akan bisa menyakiti mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sekejap saja kami sudah tak berpakaian lagi dan aku terkejut melihat buah dada Jenny bahkan lebih besar dari yang pernah kubayangkan. Ukuran payudara Sherly breasts sekitar B cup. Tapi menurutku putingnya yang mesar mencuat itu terlihat seksi pada ukuran payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Payudara Jenny yang jauh lebih besar dibandingkan isteriku tampak sangat menggiurkan. Mungkin ukurannya C cup, tapi sangat pasti kalau ini adalah ukuran full C cup. Putingnya tidak sepanjang punya kakaknya, tapi lebih gemuk. Dia tersenyum memergoki aku yang terpana melihat dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini milikmu sepenuhnya," kata Jenny sambil menyangga kedua buah dadanya dengan kedua tangannya sekaligus meremasnya menggoda. Kuhabiskan gelas keempatku dan segera membenamkan wajahku ke dalam dua bongkahan daging kenyal didepanku. Tangan Jenny bergerak ke bawah untuk meraih batang penisku.&lt;br /&gt;"Wah, punya abang besar sekali!" katanya, gairahnya terdengar besar dalam nada suaranya. Aku bergerak turun menelusuri lekuk tubuhnya, melewati perutnya dan mulai menyapukan lidahku pada bibir vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia segera bersandar pada dinding di dekatnya dan memegangi kepalaku dengan kedua tangannya sambil mendesah. Segera saja tubuh Jenny mulai tergetar ketika aku konsentrasi pada kelentitnya. Langsung saja dia meraih orgasme pertamanya dan aku harus menyangga tubuhnya sebelum dia jatuh. Lalu kugendong dia menuju ke kamar tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kurebahkan tubuhnya di atas ranjang, Jenny menjulurkan kedua lengannya ke depan menmintaku untuk segera naik. Aku merangkak menaiki tubuhnya dan memberinya sebuah ciuman yang dalam. Nafasnya tercekat saat ujung kepala penisku menemukan jalan masuk ke dalam vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu yakin mau melakukan ini?" tanyaku. Dia mengangguk.&lt;br /&gt;"Kakakku, isteri abang, meniduri suamiku. Aku rasa baru adil kalau aku menyetubuhi abang di atas ranjangnya sendiri. Ini cara untuk membalas kelakuan Bob dan Sherly diwaktu yang sama," nada amarah terdengar dalam jawabannya, tapi dia kemudian tersenyum dan menambahkan, "Lagipula, aku tak akan melepaskan begitu saja setelah melihat ukuran penis abang ini." Kemudian segera saja lenguhan nikmat terlepas dari bibirnya saat dia menggunakan kakinya untuk menarik tubuhku ke arahnya.&lt;br /&gt;"Aku merasa sangat penuh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batang penisku hanya baru masuk 3/4nya saja ke dalamnya. Kudorongkan lagi, tapi dia merintih kesakitan. Aku coba hentikan, tapi dia tidak mengijinkanku. Nafasnya tersengal terdengar antara menahan deraan nikmat atau sakit, dan dia terus mengguna kan pahanya untuk menarikku semakin erat. Bahkan tangannya mencengkeram pantatku dan menariknya dengan keras hingga seluruh batang penisku terkubur dalam lubang anusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh mami!" teriakan lepas keluar dari bibirnya saat aku berhasil membenamkan batang penisku seluruhnya. Aku diamkan tanpa bergerak agar dia terbiasa dengan ukuranku.&lt;br /&gt;"Ayo bang! Setubuhi aku!" akhirnya dia berkata dan memang itu yang segera akan aku lakukan. Pada awalnya secara perlahan kukeluar masukkan, tapi atas desakan Jenny segera saja aku menyentaknya dengan keras dan cepat. Langsung saja orgasme kedua diraihnya dan tanpa henti. Aku piker dia akan pingsan saat teriakan nikmatnya terdengar keras sekali.&lt;br /&gt;"Jenny, aku hamper keluar!" teriakku. Dia mendorong tubuhku berganti posisi hingga dia berada diatas dan mulai menunggangi batang penisku.&lt;br /&gt;"Lakukan, bang! Isi rahimku dengan benih abang!" ucapnya semakin membakar gairahku.&lt;br /&gt;"Tapi, kita tidak pakai pelindung!" kataku ragu. Tapi keraguanku malah semakin membuat pantulan tubuhnya semakin keras saja dan tak ayal aku langsung keluar jauh di dalam rahimnya. Kusemburkan begitu spermaku ke dalam vaginanya hingga meleleh keluar pada pahanya seiring pompaan naik turun tubuhnya di atasku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berdua rebah tak bergerak dengan tubuhnya yang masih menindihku untuk beberapa waktu. Akhirnya dia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu tidak apa-apa?" tanyaku khawatir tapi dia malah tertawa.&lt;br /&gt;"Aku merasa sangat ehmm…! Saat ini, aku tidak tahu apakah akan meninggalkan Bob dan tak akan bicara dengan Sherly lagi ataukah aku mestinya berterima kasih pada mereka. Abang sangat menakjubkan," katanya. Aku tertawa dan menurunkan tubuhnya dari atasku.&lt;br /&gt;"Aya mandi, aku sangat ingin bermain lagi dengan dada montokmu ini," Kataku sambil meremas buah dadanya lalu menggamit tangannya. Kami bawa serta gelas minuman yang kosong, mengisinya lagi untuk yang terakhir kalinya sebelum bergandengan tangan masuk ke kamar. Lansung saja kami habiskan gelas terakhir kami setelah mengatur suhu shower. Tawa riang tak hentinya keluar dari bibir kami saat air hangat mulai turun membasahi kedua tubuh berkeringat kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusabuni dada montoknya dan menghabiskan setidaknya sekitar sepuluh menit meremasinya. Disaat yang bersamaan dia juga menyabuni batang penisku. Begitu penisku kembali mengeras, aku bergerak ke belakang tubuhnya, masih tetap meremasi buah dadanya. Aku mulai menciumi lehernya dan batang penisku kugesekkan pada celah bongkahan pantatnya. Penisku masih berlumuran sabun sehingga dengan mudah melesak masuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat bibir kami saling melumat dalam ciuman yang dalam, kepala penisku terdorong masuk ke dalam lubang anusnya. Jenny merenggangkan pahanya dan penisku melesak masuk dengan sendirinya seakan punya maksud sendiri, Aku terkesiap dan berusaha menariknya keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry! Ini masuk begitu saja..." aku berusaha menjelaskan, tapi Jenny malah menyeriangai lebar dan mendorong pantatnya ke belakang membuat kepala penisku semakin menyelam ke dalam lubang anusnya. Aku mengerang keenakan.&lt;br /&gt;"Jangan bilang kalau kak Sherly tidak pernah mengijinkan abang melakukan anal seks?" tanyanya menggoda.&lt;br /&gt;"Tidak, tidak pernah," jawabku.&lt;br /&gt;"Baiklah kalau begitu, kalau abang mau abang boleh merasa bebas menyetubuhi anusku semau abang!" katanya manantang dan bagai api yang disiram minyak, langsung saja aku lesakkan batang penisku jauh ke dalam lubang anusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua tangannya terjulur kedepan pada dindning untuk menahan tubuhnya yang terguncang dengan keras oleh sodokanku. Buah dadanya yang montok terayun menggoda, membuatku dengan segera bergerak meremas keduanya. Tapi tanganku langsung beralih untuk mencengkeram pinggulnya untuk menjaga keseimbangan kedua tubuh kami karena ayunanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya! Terus bang! Dorong penis abang ke dalam anusku! Makin dalam bang!" teriak Jenny dalam kenikmatan. Salah satu tangannya masih menahan tubuhnya pada dinding sedangkan yang satunya lagi mulai bergerak kea rah selangkangannya.&lt;br /&gt;"Yes!" teriaknya saat aku semakin keras mengayunkan batang penisku semakin ke dalam. Dapat kurasakan otot pantatnya yang mulai mengencang saat dia menggesek kelentitnya sendiri. Tak mampu lagi kutahan, kulesakkan seluruh batang penisku terkubur seutuhnya dalam cengkeraman lubang anusnya dan kembali, sekali lagi aku keluar dengan hebatnya. Sentakanku yang terakhir membuat kaki Jenny benar benar terangkat dari lantai kamar mandi karena kerasnya. Dan hal tersebut membuat Jenny bergabung bersamaku dalam ledakan orgasmu sejenak kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami berjalan berpelukan dengan sempoyongan keluar dari kamar mandi menuju ke kamar tidur kembali. Aroma seks tercium sangat pekat di dalam kamar dan kami kesulitan untuk menemukan area sprei yang kering di tempat tidur. We stumbled out of the shower and back to the bedroom. The room smelled like sex and we had problems finding a dry spot on the bed. I was barely settled before Jenny crawled between my legs and started blowing me.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu benar-benar liar!" kataku.&lt;br /&gt;"Ternyata balas dendam itu rasanya jauh lebih manis dari yang kudugatimpalnya dengan tersenyum puas. Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Dia benar benar wanita muda yang penuh amarah, tapi… apapun itu adik iparku ini benar benar sangat menggairahkan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenny merapatkan kedua daging payudaranya yang kenyal menjepit batang penisku dan mengocoknya begitu batangku mengeras lagi. Dia masih asik melakukannya ketika tiba-tiba saja Sherly berjalan masuk ke dalam kamar tidur...!!!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-6705044431071963149?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/6705044431071963149/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=6705044431071963149' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/6705044431071963149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/6705044431071963149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/isteri-yang-berselingkuh-adik-ipar-dan.html' title='Isteri Yang Berselingkuh, Adik Ipar Dan Aku part 1'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-768752583518418830</id><published>2009-01-03T02:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T02:51:16.600-08:00</updated><title type='text'>Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai part 2</title><content type='html'>Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang penis besarnya terayun-ayun diselangkangannya. Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ke arah isteriku lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk, lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai berkemas dan berjalan menuju mobil, kami berjalan dengan santai dan saat kami tiba ke tempat parkir, yang tersisa hanya sebuah mini-van kecil dan orang yang masih ada berjumlah delapan orang. Iseriku adalah satu-satunya wanita dikelompuk ini dan pria yang kukenal dalam grup ini hanyalah Gary dan Dave. Garry naik ke kursi pengemudi dan menyuruh kita semua untuk segera masuk ke dalam mobil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barusaja aku hendak menyuruh isteriku agar duduk di kursi belakang, namun Dave yang berada dikursi depan berkata, "Hey, Dayu, duduk disini saja, kupangku! Biar semuanya cukup."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu sama sekali tak melirikku untuk meminta persetujuan. "Oke," dia tertawa manja, "Tapi jangan macam-macam!" Kemudian dia naik ke pangkuan Dave, dengan masih hanya memakai penutup tubuh bawahnya saja. Para pria yang lainnya dengan cepat saling berebut naikke kursi tengah, membuatku terpaksa duduk jauh dibelakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang kecuali aku dan Gary sudah dalam keadaan lumayan mabuk. Aku duduk dibelakang, disamping seorang pria yang keadaannya sudah mabuk berat, dan berbicara tentang sepak bola dengan suara yang sangat keras. Semua orang nampak asik dengan topik yang diangkat pria ini, jadi ada empat orang pria yang mabuk saling teriak satu sama lainnya dalam mini-van ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tak begitu ingin ikut masuk dalam pembicaraan mereka, karena aku ingin konsentrasi mengawasi isteriku yang berada di depan. Aku tak mau Dave mengambil kesempatan dlam situasi ini. Sudut pandangnku sangat kurang menguntungkan dan aku harus membungkuk ke depan untuk dapat melihat apa yang terjadi dikursi depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada awalnya kulihat isteriku nampak bersandar ke tubuh Dave di belakangnya, yang berusaha memasang sabuk pengaman ke tubuh mereka berdua. Itu membuatnya harus meraih kedepan dan tangannya menyentuh payudara Dayu karenanya. Dave melakukannya lebih lama dari yang seharusnya, tapi Dayu hanya membiarkannya saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mulai memasuki jalanan yang jelek, membuat mini-van ini melompat-lompat dan yang berada didalamnya terguncang. Ditengah guncangan yang terjadi itu kuamati tangan Dave yang semula berada di dada Dayu bergeser ke pahanya. Keduanya asik mengobrol dan tertawa-tawa, tapi karena keberadaanku di belakang dan ditambah pula suar berisik para pria mabuk ini yang membicarakan sepak bola dengan sura yang keras membuatku dapat mendengar apa yang tengah dibcarakan Dayu dengan Dave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu dari pria mabuk ini menoleh padaku dan bertanya tentang team sepak boal favoritku. Aku berusaha untuk tetapa fokus pada kejadian di kursi depan, tapi aku tak ingin menarik perhatian para pria mabuk ini. Jadi kujawab pertanyaaan pria tersebut dan mulai masuk dalam perbicangan tentang sepak bola ini. Jalanan yang kami lalui bertambah semakin parah, dan aku harus susah payah menjaga posisiku agar tetap stabil dan pada perbincangan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat akhirnya aku bisa melirik ke arah depan lagi, keperhatikan Dayu dan Dave sudah tak memakai sabuk pengaman lagi. Tak ada yang kelihatan aneh. Tangan Dave masih berada dipinggang isteriku, meskipun sekarang posisi duduk Dayu agak lebih naik di pangkuan Dave dan terguncang naik turun. Kupikir guncangan tersebut disebabkan oleh buruknya kondisi jalan, namun saat mobil berhenti dilampu merah, kuperhatikan tubuh Dayu tetap bergerak naik turun. Aku tak bisa melihat ekspresi keduanya dan tiba-tiba saja sebuah prasangka buruk menyergap otakku, mungkin saat ini Dave sedang menyetubuhinya. Kecurigaanku semakin besar saat kuamati mereka berdua sama sekali diam tak saling bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disisa perjalanan aku membungkuk ke depan dan mengamati tubuh isteriku terayun naik turun, menerka-nerka tentang kemungkinan kemungkin yang terjadi dikursi depan. Setelah sekitar dua puluh menitan, mobil berbelok arah dan sudah tampak resort di depan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku yang paling terakhir keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menyusul Dayu yang sudah berjalan didepan bersama Dave dan Gary. Saat akhirnya aku berhasil menyusulnya, kuperhatikan kalau wajahnya tampak memerah dan dia sedikit berkeringat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey," kataku, saat semua pria sudah berjalan menjauh didepan. "Apa yang sudah terjadi dikursi depan tadi?"&lt;br /&gt;"Apa? Apa yang sudah kamu lihat?" tanyanya, terdengar terkejut namun juga bersemangat.&lt;br /&gt;"Aku tak bisa melihat, tapi kuperhatikan kalau Dave terlihat sangat menikmati keadaannya," jawabku mencoba berkilah.&lt;br /&gt;"Jangan marah, sayang, kami hanya bercanda saja," dia mulai menjelaskan. "Dave terus mengeluh tentang celananya yang sangat sesak, jadi aku menyuruhnya untuk menurunkannya sedikit kalau dia mau. Sebenarnya aku cuma bercanda dan bermaksud menggodanya saja. Aku tak bermaksud agar dia benar-benar melakukannya, tapi dia sungguh-sungguh melakukannya. Andai saja kamu melihat betapa batang penisnya sungguh sangat besar " terangnya dengan suara pelan namun punuh gairah&lt;br /&gt;"Sayang, batang penisnya itu sungguh besar. Aku menggeseknya dengan pantatku beberapa saat. Lalu dia sepertinya menarik penutup tubuh bawahku kesamping dan kepala penisnya menyelinap masuk ke dalam bibir vaginaku begitu saja. Aku rasa itu tak sengaja. Dan kamu tahu kondisi jalannya yang sangat parah kan? Tubuhku jadi terangkat naik turun dan itu membuat batang penisnya semakin masuk bertambah dalam, hingga akhirnya… kamu mungkin tak percaya sayang, batang penisnya jadi masuk semuanya! Tapi baru sebentar saja aku merasakan vaginaku terisi penuh, mobilnya menghantam gundukan yang besar dan batang penisnya jadi tercabut keluar begitu saja, lalu kubetulkan lagi penutup tubuh bawahku dan selesai, itu saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi wajahnya jadi bergairah dan menghiba disaat yang bersamaan. "Tak apa-apa kan sayang? Bukan masalah besar kan? Ini benar-benar kecelakaan dan lagipula dia tak sampai keluar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sama sekali tak mampu bicara. Isteriku telah berterus terang dengan sangat gamblang kalau dia baru saja menyetubuhi seorang pria. Tapi apa yang bisa kuperbuat? Aku tak mungkin membuat keributan besar di resort ini, di hadapan semua orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah... kalau dia tak sampai keluar, kurasa itu tak maslah," akhirnya jawabku lirih.&lt;br /&gt;"Kamu sungguh suami yang sangat pengertian sayang!" teriaknya senang sambil memelukku. "Ayo, kita cari sesuatu untuk makan malam!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dinner berlalu tanpa ada kejadian berarti. Kami makan sandwich di kamar hotel. Aku lebih diam sekarang, berharap Dayu akan meminta maaf atau mngucapkan sesuatu tapi dia sepertinya terlihat menghindar terus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berbaring di atas ranjang, bermaksud untuk mengistirahatkan mataku sebentar, tapi aku pasti telah jatuh tertidur. Saat aku bangun, jam sudah menunjukkan pukul 10:30, dan Dayu sudah tak berada di dalam kamar. Aku bergegas turun menuju emperan belakang hotel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sudah ramai di sekitar hot tub, minum dan tertawa. Dayu memang sudah berada disana, dia pasti sudah pergi dulu saat aku tertidur tadi. Beberap wanita sudah tak memakai penutup dada lagi, dan telah banyak yang saling bercumbu dengan terang-terangan. Susana ini seperti layaknya pesta saat kuliah dulu, bukan sebuah pesta kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu berjalan menghampiriku, dia sudah dalam keadaan mabuk dan langsung memberiku sebuah pelukan hangat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sayang, tak apa-apa kan kalau aku lepaskan semua penutup tubuhku?" tanyanya.&lt;br /&gt;"Apa?" aku sangat terkejut. "Semuanya?"&lt;br /&gt;"Ayolah sayang, bukan masalah besar kan?," jawabnya. "Semua orang sudah melihat payudaraku, dan beberapa orang juga sudah melihatku telanjang saat Eddie menurunkan penutup tubuh bawahku. Orang lain juga sudah telanjang, kita semua disini memang datang kesini untuk bersenang-senang dan merasa nyaman."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu tak menunggu responku, dia hanya berbalik dan berjalan menuju hot-tub dan mulai melepas pentup dadanya. Saat para pria mulai bersiul padanya, dia menurunkan penutup tubuh bagian bawahnya, memperlihatkan pantatnya yang bulat dan kencang. Para pria yang berada dihadapannya mendapatkan pemandangan menawan dari vaginanya, dan semua orang menatap ke arahnya saat dengan perlahan dia mulai turun dan masuk ke dalam hot tub.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu menyusup diantara wanita lain yang juga bertelanjang dada dan kemudian duduk, menurunkan tubuhnya hingga hanya bahunya yang nampak menyembul dari atas permukaan air. Setidaknya dia membiarkan air menutupi tubuhnya, pikirku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berjalan menuju ke bar di dekat situ dan minum beberapa botol bir dingin lalu berbincang dengan para pria yang berada di sana. Perhatianku tertuju pada sekelompok orang di sebuah sudut didekatku dan kulihat Melly berada dalam kelompok tersebut. Dia bertelanjang dada, payudaranya yang kecil namun terlihat kencang tersebut nampak indah dihiasi putting yang lebih besar dari milik isteriku dan mencuat keras. Terlihat dia sangat semangat bicara dan itu membuat semua pria disekelilingnya tertawa. Tiba-tiba saja dia menurunkan bagian depan dari penutup tubuh bawahnya dan memperlihatkan vaginanya yang tercukur bersih. Para lelaki tersebut riuh menyambutnya dan mata mereka melahap dengan rakus pemandangan indah dan gratis dihadapan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku fokuskan perhatianku untuk berusaha mendengar apa yang mereka perbincangkan. "Rasanya sungguh hebat!" kudengar Melly berkata sambil menaikkan lagi penutup tubuh bawahnya. "Sekali kamu di wax, kamu tak akan bisa berhenti lagi! Suruh kekasih kalian untuk mencobanya."&lt;br /&gt;"Yeah, kalau kamu bilang begitu," salah seorang pria berkata. "Maksudku, itu memang terlihat bagus. Aku akan bilang kekasihku tentang ini."&lt;br /&gt;"Mungkin dia akan lebih merasa yakin kalau kamu melakukannya lagi," canda salah seorang pria. Pria yang lainnya tertawa dengan riuh menimpalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melly memutar bola matanya dengan seksi. "Ini, lihat yang baik," katanya lalu menurunkan penutup tubuh bawahnya tersebut hingga ke mata kakinya. Sekarang telanjang bulat, dia tersenyum sambil menggoyanggan pinggulnya yang disambut engan siulan nakal para pria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang terpesona dengan tubuh kencang milik Melly saat telingaku mendengar seseorang dari arah hot tub berteriak, "Ini terlalu penuh!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey Dayu, duduk dipangkuanku sini!" kata Eddie. "Biar yang lain kebagian tempat!"&lt;br /&gt;Isteriku tertawa manja. "Tapi orang-orang akan bisa melihat dadaku!"&lt;br /&gt;"Bagus kan!" balas Dave, diiringi suara tawa orang-orang.&lt;br /&gt;"Ayolah, lagipula kami sudah pernah melihat semuanya tadi," jawab Eddie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu tertawa lalu berdiri, mengangkat payudaranya dari dalam air. Dia berjalan melintas dan duduk dipangkuan Eddie, terlihat payudaranya terguncang saat dia duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddie merangkulnya dan memegangi kedua daging payudara isteriku dengan telapak tangannya. "Nah, begini" katanya, "sekarang tak seorangpun yang bisa melihat payudara Dayu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang tertawa, termasuk isteriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu mereka kembali asik mengobrol lagi, namun perhatianku tetp tertuju pada isteriku dan Eddie. Tangannya tetap tak dia singkirkan dari dada isteriku, dan tak beberapa lama kemudian tangannya mulai bergerak meremas dan membelai. Dayu bersandar ke belakang dan membisikkan sesuatu ke telinga Eddie, dan kemudian tangan Eddie mulai memilin putingnya dengan lembut. Dayu tersenyum lebar dan mengatur posisi tubuhnya hingga Eddie lebih leluasa meremas dan membelai payudaranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku baru saja hendak melangkah mendekati isteriku saat Nina berjalan mendekatiku dan mulai bicara. Aku tak mau bersikap kasar, kudengar dengan seksama saat dia yang kondisinya sudah mabuk tersebut muali bicara betapa cantik baiknya isteriku dan bagaimana senangnya dia bisa bekerja bersama Dayu dikantor. Aku terus berusaha melirik kea rah isteriku dan Eddie tapi Nina menghalangi pandanganku. Setelah beberap lama aku menyerah dan mengalihkan seluruh perhatianku pada Nina. Dia terlihat sangat menarik dengan rambut ikalnya yang panjang dan postur tubuh yang menyerupai seorang model. Dia mengenakan pakaian renang one-piece warna hitam yang terlihat tak mampu menampung payudaranya yang begitu besar. Aku merasa nyaman memandanginya, karena keadaannya yang mabuk jadi dia tak akan menyadarinya, atau mungkin juga karena keadaanku yang sudah agak mabuk. Dia terus bicara tentang dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu mau melihatnya?" tiba-tiba dia bertanya padaku, menyentakkanku dari lamunan.&lt;br /&gt;"Mm, melihat… nya?" jawabku, mencoba menutupi kalau aku tadi tak memperhatikannya&lt;br /&gt;"Anting pusarku! Kamu mau melihatnya?" dia mengulangi.&lt;br /&gt;"Uh, tentu," jawabku. Aku tak begitu yakin bagaimana cara dia memperlihatkannya padaku, karena itu berada dibalik pakaiannya, dan pada awalnya dia berusaha menyingkapkan pakaian renangnya untuk memperlihatkan pusarnya padaku. Tapi pakaiannya tersebut sangat ketat. Setelah beberapa saat dia kemudian menyerah, dan yang membuatku terkejut, dia mulai menurunkan tali penahan dari bahunya. Dia turunkan hingga pinggangnya, mengekspos payudaranya yang besar dan perutnya yang kencang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat kan?" katanya sambil menunjuk anting di pusarnya. "Aku rasa agak kebesaran ukurannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sedang berusaha agar terlihat memperhatikan antingnya, tapi mulutku menjawab dengan terbata-bata dengan mataku yang tak mau lepas dari dadanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aw, kamu sangat manis," jawabnya. "Dayu sangat beruntung memilikimu!" Kemudian dia melangkah pergi, dengan dadanya masih terekspos, meninggalkanku berpikir ada apa dengan orang-orang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba aku kembali teringat akan isteriku dan Eddie, lalu aku menoleh tepat disaat kulihat Dayu sedang mengangkat tubuhnya dari pangkuan Eddie. Keduanya terlihat berat nafasnya dan Eddie tersenyum dengan lebar. Dia bangkit dan mengangkat tubuhnya dari dalam tub dan sekarang kulihat dia telanjang bulat, batang penis besarnya terayun-ayun diselangkangannya. Bayangan tubuh telanjang isteriku diatas pangkuannya segera membuatku merasa resah dan khawatir kalau pria ini sudah menyetubuhi isteriku seperti halnya Dave.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulihat ke arah isteriku lagi dan kulihat dia tengah duduk di dalam hot tub dan asik mengobrol dengan salah seorang wanita yang bertelanjang dada. Wanita tersebut menunjuk ke arah Eddie dan Dayu mengangguk, lalu keduanya menjerit genit dan tertawa keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di titik ini aku merasa sudah terlambat untuk berbuat sesuatu, dan hanya berdiri saja disana melihat semua yang tengah terjadi. Aku mulai merasa aneh dan takut kalau aku tak lagi memusingkan ini semua. Tanpa memberitahu isteriku, aku putuskan untuk kembali ke kamar. Aku rasa kalau dia melihatku pergi, dia akan sadar kalau aku sudah marah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh, ternyata aku salah. Aku tak bisa memejamkan mata dan sangat resah. Tiga jam berikutnya Dayu akhirnya masuk ke dalam kamar. Dia masih telanjang bulat dan tangannya memegangi pakaian renangnya. Setelah dia mandi dan kemudian menyusulku naik ke atas ranjang,merebahkan tubuhnya dengan punggungnya menghadap ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berharap dia akan mengucapkan sesuatu, tapi tak terdengar apapun kecuali kesunyian. Setelah beberapa lama, aku merasa takut kalau dia jatuh tertidur akhirnya aku bicara. "Jadi, apa yang sudah terjadi di hot tub?" bisikku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia membalikkan tubuh dan memandangi ekspresi wajahku. Tangannya bergerak ke dalam celanaku dan mulai membelai batang penisku saat dia mulai bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, jangan marah sayang, tapi aku memang agak terbawa suasana. Saat aku mulai masuk ke dalam hot tub, Eddie bergurau dengan mengatakan kalau sudah tak ada tempat lagi bagi kita semua dan dia menyuruhku untuk duduk di atas pangkuannya. Jadi aku pindah untuk duduk di atas pangkuannya agar semuanya mendapat tempat. Dia mulai bermain dengan payudaraku dan itu sangat membuatku terangsang. Jadi kubiarkan dia melakukannya lebih lama lagi. Kemudian dia menarikku lebih merapat dan aku jadi tahu kalau dia tak memakai apapun lagi, tapi sebelum aku sempat bereaksi, dia sudah lebih dulu mendorong batang besarnya masuk ke vaginaku!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia mulai mengocoknya keluar masuk dan itu terasa sungguh indah, itulah kenapa kubiarkan saja dia melakukannya. Dan kurasa para pria lainnya juga tahu yang sedang terjadi, karena kemudian semuanya yang berada di hot tub memandangi kami berdua tanpa berkedip. Aku jadi merasa malu dan berpikir untuk menghentikannya, tapi kemudian kurasakan dia menusukkan seluruh batang penisnya ke dalam vaginaku dengan keras dan kurasakan batangnya itu berdenyut. Kamu tidak marah, kan? Aku benar-benar tak merencanakan dia keluar di dalam tapi itu sudah terlambat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhenti beberapa saat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu... bukanlah semua yang terjadi," ucapnya agak ragu.&lt;br /&gt;"Sayang, berapa pria yang memasukkan batang penis mereka ke dalam vaginamu?" tanyaku, tak berharap dia menjawabnya.&lt;br /&gt;"Yeah, sebenarnya semuanya, setidaknya sekali saja," jawabnya. "Tapi itu salah satu bagian dari game yang berlangsung!"&lt;br /&gt;"SEBUAH GAME?" tanyaku dengan nada cukup keras, dan kocokan tangannya pada batang penisku semakin bertambah cepat dan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, setelah beberapa lama kemudian," sambungnya, "Kami semua sudah benar-benar mabuk. Maksudku sangat, sangat mabuk. Dan berikutnya hanya tinggal Kristin, Melly, Nina dan aku saja yang berada dalam hot tub bersama dengan semua pria. Dan beberapa pria mulai berdebat tentang batang penis siapa yang paling besar. Lalu Melly menyarankan biar para wanita saja yang memutuskan. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian para pria mulai melepas celana mereka dan membiarkan para wanita melihatnya. Sayang, aku tak tahu apakah aku memang sudah sangat mabuk atau bagaimana, tapi kulihat mereka semua sangat besar! Bahkan yang paling kecilpun terlihat masih agak lebih besar dibanding milikmu ini. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kami mulai penilaiannya, tapi kemudian Eddie kelepasan bicara kalau dia sudah menyetubuhiku, dan itu jadi tak adil lagi karena aku sudah tahu lebih banyak dibandingkan yang lainnya. Dan Dave juga mengatakan kalau dia juga sudah melakukannya denganku, meskipun tidak sampai keluar. Lalu Gary mengatakan bahwa dia dan Melly juga sudah bersetubuh saat dipantai. Hingga akhirnya Kristin memutuskan agar adilnya, semua pria harus memasukkan tiap batang penis mereka ke dalam vagina tiap wanita, jadi para wanita akan tahu semua bagaimana rasanya. Bukan bersetubuh atau yang lainnya, hanya memasukkannya sebentar. Dengan begitu akan adil bagi penilaian para wanita. Kamu pikir juga begitu kan, sayang?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi normal pasti akan kutolak penjelasan logikanya, tapi perbuatan tangannya pada batang penisku sudah berefek, dan aku hanya mampu menelan ludah lalu mengangguk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kami semua akhirnya setuju dan para pria mulai mengambil gilirannya. Aku mendapatkan Alan untuk pertama kalinya, dia masukkan batang penisnya ke dalam vaginaku dan mulai mengocoknya keluar masuk beberapa kali, agar aku bisa merasakan dan membuat penilaian. Batang penisnya terasa lebih besar dari ukuran aslinya saat aku berhasil membuatnya orgasme."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tahu itu! Dayu terlalu mabuk untuk mengingat kebohongannya diawal tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan berikutnya Eddie lagi dan kemudian Gary. Mereka berdua menusukkan batang penisnya untuk beberapa saat agar aku bisa melakukan penilaian pada batang penis mereka. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu akhirnya giliran Dave. Dia yang paling akhir, dan dia berbisik ditelingaku kalau tak adil jika kami tak menyelesaikan apa yang sudah kami awali di dalam mobil sebelumnya. Kemudian dia mulai memasukkan batang penisnya ke dalam vaginaku. Dialah yang paling besar, itu sudah pasti dan juga paling keras! Dan aku sudah merasa sangat terangsang setelah beberapa pria sebelumnya, dan aku adalah wanita yang terakhir bagi Dave. Jadi aku membiarkan dia menyetubuhiku agak lebih lama dibandingkan yang lainnya. Para wanita lainnya juga melakukan hal yang sama pada pria yang mendapatkan giliran terakhir dengan mereka, jadi aku rasa itu bukan masalah dan masih adil penilaiannya. Kami semua seolah saling berlomba bersetubuh untuk beberapa waktu lamanya hingga akhirnya kurasakan spermanya menyembur hebat dalam vaginaku. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu semua yang terjadi, sayang. Bukan masalah besar, kan?"&lt;br /&gt;"Bukan," nafasku tecekat ditenggorokan saat aku orgasme, lebih hebat dari yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku tiba-tiba merasa menyesalinya, karena itu membuatku terlihat menikamti menyaksikan isteriku sendiri disetubuhi oleh sekelompok pria yang mereka semua dalah rekan kerjanya sendiri. Padahal sesungguhnya aku harus merasa marah karenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku rasa kamu menyukainya," jawabnya lirih. Lalu dia membalikkan tubuhnya dan menarik selimut ke atas. "Selamat tidur, sayang, I love you"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-768752583518418830?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/768752583518418830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=768752583518418830' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/768752583518418830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/768752583518418830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/petualangan-isteriku-disebuah-pesta_03.html' title='Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai part 2'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-7959463877015710455</id><published>2009-01-03T02:18:00.000-08:00</published><updated>2009-01-03T02:27:47.987-08:00</updated><title type='text'>Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai part 1</title><content type='html'>Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu minggu yang lalu isteriku, Dayu dan aku diundang hadir ke sebuah beach resort bersama dengan rekan-rekan kerjanya. Isteriku bekerja pada bagian marketing di sebuah perusahaan besar yang sangat sukses beberapa tahun belakangan, dan hal tersebut berimbas pada kesejahteraan karyawannya yang semakin naik dan beberapa bonus juga, salah satunya adalah perjalanan ke resort kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sangat bergairah untuk pergi, meskipun dia merasa khawatir bertemu dengan rekan-rekan kerja isteriku. Kantor Dayu bekerja sangatlah berkultur informal, dan kadang Dayu cerita padaku tentang semua godaan dan cubitan yang berlangsung selama jam kerja. Aku bekerja pada sebuah firma hukum, yang sangat disiplin dan professional, dan bercanda apalagi saling goda merupakan hal yang tak bisa ditolerir dalam perusahaan. Dan hal itu mempengaruhi sikap dan perilakuku dalam keseharian, aku menjadi seorang yang tegas dan formal. Aku tak begitu yakin bisa berbaur dengan rekan kerja Dayu nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu sendiri adalah seorang wanita periang dan mudah bergaul. Berumur 30 tahun, potongan rambut pendek seleher dan berwajah manis. Dia agak sedikit pendek dibawah rata-rata, pahanya ramping yang bermuara pada pinggang dengan pantat yang kencang. Sosok mungilnya berhiaskan sepasang payudara yang lumayan besar dan namun bulat kencang meskipun tanpa memakai penyangga bra. Kami berjumpa dibangku kuliah dan menjadi dekat dalam waktu singkat lalu menikah tak lama setelah kami lulus. Dia tak begitu berpengalaman dalam hal seks, meskipun aku bukanlah lelaki pertama yang berhubungan seks dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala hari perjalanan itu tiba, kami mengenderai mobil menuju resort tersebut. Dalam perjalanan kesana Dayu menceritakan kalau dia telah membeli sebuah bikini baru untuk akhir pekan kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mau pamer tubuh ke orang-orang, ya?" candaku padanya.&lt;br /&gt;"Mungkin," jawabnya dengan tersenyum.&lt;br /&gt;"Maksudmu?" tanyaku penasaran. Dayu yang kutahu tak begitu suka mempertontonkan tubuhnya, aku selalu merasa sulit untuk sekedar memaki pakaian renang yang minim.&lt;br /&gt;"Nggak ada, bukan apa-apa" Dayu tertawa menggoda suaminya. "Sudah pernah kubilang padamu kan kalau dikantor kita senang bercanda dan saling menggoda. Liburan ini pasti tak ada bedanya, hanya tempat dan suasananya yang beda untuk sedikit genit didepan para pria."&lt;br /&gt;"Kamu juga genit di depan teman-teman priamu?" tanya Wisnu gusar.&lt;br /&gt;"Bukan cuma aku, sayang. Semua teman wanitaku juga melakukannya kok," jawab Dayu menjelaskan. "Cuma sedikit genit, menggoda dan bercanda. Kamu tahu, kadang saling bercanda mmm… yeah bercanda agak jorok, seks dan juga sedikit tontonan."&lt;br /&gt;"Tunggu, apa?" suara Wisnu agak meninggi. "Tontonan? Kamu mempertontonkan tubuhmu ke teman-teman priamu?"&lt;br /&gt;"Oh, sayang, ini bukan sungguh-sungguh," jawab Dayu. "Cuma menggoda kok. Hanya sedikit menyingkap baju, kadang sedikit memberi bonus dengan memperlihatkan dada sebentar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terhenyak, isteriku memperlihatkan payudaranya pada pria lain? Pria lain di kantornya? Ini bukan seperti sosok Dayu yang kukenal selama ini. Hanya seberapa dekat dia dengan teman kerja prianya? Kepalaku dipenuhi oleh pikiran yang berkecamuk tak karuan hingga akhirnya kami tiba di resort.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera kuparkir kendaraan kami. Begitu memasuki lobby dengan bawaan kami, sekelompok orang melambai ke arah Dayu untuk mendekat. Mereka adalah beberapa orang dari rekan-rekan kerjanya dan Dayu memperkenalkanku. Alan, Dave, Eddie, Gary adalah nama taman-teman prianya dan yang wanitanya Sasha, Kristin, Melly dan Nina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka berkata pada Dayu kalau semua orang harus bertemu di kolam renang pribadi dan minum-minum dulu sebelum berikutnya pergi ke pantai. Kami setuju untuk menyusul mereka secepatnya setelah menaruh bawaan dikamar dan berganti pakaian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja mereka beranjak, Alan sudah beraksi dengan mencubit pinggul Dayu yang langsung memekik kegelian dan mendorong tubuh Alan menjauh. Aku sangat terkejut mendapati hal tersebut dan hampir saja teriak marah, tapi mereka semua mulai tertawa, termasuk Dayu, jadi aku pikir inilah sebagian dari cara mereka saling menggoda dan bercanda. Aku tak mau dianggap seorang yang kolot dan tak bisa berbaur di lima menit pertama kehadiranku, jadi aku hanya diam saja membiarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami menuju ke kamar kami dan mulai berganti pakaian dengan pakaian renang. Dayu masuk ke kamar mandi untuk berganti pakaian dan kemudian keluar dengan sebuah handuk membalut tubuhnya. Aku ingin melihat apa yang dipakainya dibalik handuk tersebut, tapi dia langsung memotongku sebelum mampu berkata sepatah kata "Ayo, kita turun!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuraih sebuah buku dan berjalan mengikutinya menuju kolam renang. Kantor Dayu pasti sudah menyewa seluruh kolam tersebut, karena ada logo perusahaan pada semua handuk dan pada tulisan selamat datang. Ada sekitar lima puluhan orang di area kola mini. Kebanyakan dari mereka adalah pria, dan yang membuatku kecewa, kebanyakan dari mereka terlihat muda dan menarik. Para wanitanya juga tak ada yang mengecewakan. Kebanyakan mereka hanya berbikini minim memperlihatkan keindahan tubuh muda mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku hendak bertanya dimanakah teman-temannya yang tadi, saat kulihat isteriku sedang membuka handuk penutup tubuhnya. Apa yang terpampang dihadapanku sangat membuatku terpaku, dibalik handuk tersebut dia memakai sebuah bikini warna merah tua dan… sangat minim. Bagian atasnya hanya menutup sebagian depan dari payudaranya, dan tali penahannya yang terkalung dileher jenjangnya terlihat seakan siap untuk dilepas. Sedangkan bagian bawah hampir menyerupai thong, memperlihatkan keindahan paha dan bongkahan pantatnya. Dia terlihat begitu menawan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak heran dia menutupinya dengan handuk saat dikamar tadi, pikirku. Dia tahu kalau aku pasti akan meributkan apa yang dipakainya. Baru saja aku hendak berkomentar namun terpotong oleh sebuah teriakan dari seberang kolam, "Hey, lihat Dayu!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan langsung disusul oleh riuh rendah suara yang diiringi siulan nakal dari para pria di area kolam tersebut. Dayu hanya tertawa riang lalu melakukan sebuah pose, memperlihatkan perutnya yang rata dan kemulusan pahanya sambil mengoleskan sun-block ke tubuhnya. Dia menoleh ke arahku dan berkata, "Lihat kan? Hanya menggoda saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk dan terdiam. Aku harapdia mengatakan sesuatu tentang betapa terbukanya pakaian renang yang dia pakai ini tapi itu bukan sesuatu yang perlu dipermasalahkan, ini tetap hanya sebuah bikini. Jika para pria ingin memandangi tubuh isteriku, apa salahnya dengan itu? Bahkan aku bisa merasa bangga akan hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku rebah di atas bangku malas dan mulai membuka buku yang kubawa sedangkan Dayu berjalan menghampiri teman-temannya. Aku berencana menghabiskan waktu dengan membaca, namun mataku terus melayang ke arah dimana isteriku berada. Setiap kali aku melihat Dayu, dia tengah asik bercanda dengan teman prianya. Akhirnya kuputuskan untuk berhenti membaca, dan hanya memperhatikan setiap tingkah lakunya sambil terus pura-pura membaca bukuku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di salah satu sudut kolam tersebut ada bar yang menyuguhkan berbagai macam minuman dan sudah berulang kali aku kesana untuk sebotol bir dingin. Kelihatannya minumannya sudah dipersiapkan dalam jumlah dan ragam yang banyak untuk membuat pesta ini berjalan meriah. Kuamati Dayu sudah berulang kali pergi ke sana untuk segelas margaritas dan entah sudah berapa banyak orang yang pergi mengambilkan minuman untuknya. Namun yang jelas dia semakin bertambah mabuk seiring berjalannya waktu. Ditambah lagi para pria yang mendorongnya dan juga para wanita lainnya untuk minum lebih banyak lagi. Pada suatu kesempatan Dave menantang Dayu untuk berlomba menghabiskan minuman dalam gelas mereka, yang tentu saja dimenangkan Dave dengan mudah, melihat kondisi Dayu sudah lebih dari sekedar mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru saja aku mulai kembali membaca, Dayu datang menghampiri. Dia baru saja keluar dari dalam kolam dan tubuhnya basah kuyup. Dengan kain penutup tubuh yang dia kenakan menempel erat disetiap lekuk tubuhnya, membuat dia semakin terlihat menggoda.&lt;br /&gt;"Hai, sayang," sapanya. "Sudah lebih santai?"&lt;br /&gt;"Yeah," jawab Wisnu. "Kamu sendiri, bisa bersenang-senang?"&lt;br /&gt;"Oh, ya," dia tersenyum manja. "Aku sudah agak mabuk."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu terlihat jelas, tapi aku tak mau lebih mendesaknya. Dayu mengeringkan tubuhnya dengan handuknya, lalu melangkah kembali ke teman-temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku kembali pada bacaanku, hingga tiba-tiba saja kudengar suara jeritan. Dengan cepat aku menoleh ke arah suara tersebut, tepat disaat kulihat Melly yang tengah menutupi payudara telanjangnya dengan tangannya. Salah satu dari pria tersebut menarik lepas penutup dadanya dan sekarang tengah berlari dipinggiran kolam dengan menenteng penutup dada tersebut. Melly mengejarnya, dengan lengan menyilang menutupi dadanya hingga si pria berhenti lalu menangkap tubuh Melly dan menariknya bersamanya menceburkan diri ke dalam kolam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dengar sebuah suara jeritan lagi dan salah seorang wanita yang tak kukenal sekarang juga tak berpenutup dada. Alih-alih menutupi payudaranya, kali ini si wanita hanya membiarkan saja pria yang menarik lepas penutup dadanya itu berlari menjauh dan dia terus mengobrol dengan temannya seakan tak terjadi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memandang sekeliling untuk mencari Dayu. Dia sedang sedang mengobrol dengan seorang pria di kolam yang dangkal. Kuperhatikan Alan sedang berenang ke arahnya dari belakang dan muncul tepat dibelakangnya lalu menyentakkan tali penahan penutup dadanya di leher. Penutup dada Dayu tertarik erat menekan daging bulat kenyal tersebut dan tiba-tiba saja payudaranya terayun meloncat lepas dari penutupnya. Dia memekik dan tubuhnya berbalik ke belakang untuk memukul Alan. Alan mengangkat penutup dada tersebut tinggi ke atas, Dayu hanya tertawa keras lalu melompat mencoba merebutnya. Nampak payudaranya terayun seiring tiap lompatannya, puting merah mudanya terlihat jelas mencuat keras membuat seluruh pria dikolam tersebut bersorak riuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dave bergerak ke belakang Dayu lalu menangkap pinggangnya dan mengangkatnya tinggi tinggi agar bisa meraih penutup dada yang dipegangi Alan. Dayu rebut penutup dada tersebut dari tangan Alan lalu mengibaskannya pada Alan dengan tertawa genit. Dayu mulai memakai kembali penutup dadanya, namun masih kalah cepat dengan tangan Alan yang menjulur ke arahnya untuk meremas payudara telanjangnya yang sebelah kiri. Kembali Dayu memekik dan menepis tangan Alan untuk menjauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupanya para wanita tak membiarkan begitu saja dengan perbuatan para pria terhadap penutup dada mereka. Beberapa menit setelah Dave membantu Dayu tadi, nampak Melly berjalan mengendap dibelakang Dave yang sekarang berdiri di depan Bar lalu menarik turun celana renang yang dipakai Dave. Sebuah batang penis yang besar menyembul keluar dan seluruh wanita menjerit riuh tak terkecuali Dayu. Dave hanya tertawa keras dan mulai mengejar Melly yang berlari mengitari tepian kolam. Dengan konyol Dave berlari mengejr dan mengibas-ngibaskan batang penisnya ke arah Melly yang berlari, menjerit dan tertawa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa menit kemudian, Dayu keluar dari kolam renang dan berjalan ke arahku. Sebelum dia mampu mengucap sepatah kata, aku sudah memberondongnya dengan pertanyaan tentang apa yang sedang terjadi disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, sayang, bukan apa-apa. Mereka hanya bersenang-senang, itu saja," jawab Dayu.&lt;br /&gt;"Aku rasa melihatmu telanjang dada dan juga menyentuh dadamu bukan sekedar bercanda atapun senang-senang!" kataku ketus.&lt;br /&gt;"Sayang, jangan terlalu kolot begitu. Lagipula aku sudah memakai penutup dadaku lagi. Lihat para pria itu, mereka melepas beberapa penutup dada teman wanitaku yang lainnya lagi dan sebagian dari para merka, mereka tak ambil pusing untuk memakainya lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia berhasil memojokkanku. Beberapa teman wanitanya sekarang sudah mondar-mandir dengan telanjang dada, terkadang salah seorang pria akan mendekat untuk sekedar menyentuh atau meremas payudara mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagipula," Dayu membungkuk dan tiba-tiba memelankan suaranya, "Bukankah ini membuatmu terangsang melihat para pria melirikku? Mengintip dadaku dan menyentuhnya sedikit?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi terdiam karena memang itu kenyataannya. Aku merasakan rangsangan setelah melihat para pria tersebut menggoda isterinku, namun aku juga merasakan cemburu yang sangat besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Semua hanya coba bersenang-senang dan tak ada yang dirugikan," sambung Dayu lagi. "Coba pikirkan saja betapa nakalnya isterimu ini, membiarkan para pria melihat dadanya dan menyentuhnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menganggukkan kepala pelan dan dia tersenyum lebar lalu melangkah pergi. Aku merasa harus mengucapkan sesuatu, namun moment tersebut telah musnah. Lagipula, jika para pria berlaku seperti itu pada semua wanita di sini, tak ada alasan bagiku untuk merasa marah. Aku coba lagi untuk konsentrasi pada buku yang kubawa, namun tak berapa lama rasa kantuk melanda. Aku ambil kacamatku lalu dengan cepat terlelap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku terbangun, suasana menjadi sangat riuh di dalam kolam. Kebanyakan para wanita yang berada disana sudah tak memakai penutup dada lagi, termasuk Kristin yang tengah berjalan lewat di depan tempatku berada. Kristin berbadan lebih tinggi dibandingkan Dayu, tapi payudaranya lebih kecil. Dadanya terekspos bebas, dan penutup dadanya terlihat menggantung dilehernya, mungkin hasil usil beberapa pria yang melepaskan pengaitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku masih merasa ngantuk namun sudah terjaga, dan dengan kaca mata yang menutupi mataku terlihat aku masih tertidur. Aku sapukan pandangan ke seantero area kolam untuk mencari istriku dan kusaksikan suasana sudah semakin memanas, beberapa pasang pria wanita bahkan terlihat saling bercumbu di dalam kolam renang tanpa mempedulikan sekeliling lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kutemukan keberadaan Dayu, yang sedang duduk dipinggir kolam dengan kakinya masuk ke dalam air. Alan menemaninya di dalam kolam, lengannya bertumpu di atas paha Dayu. Keduanya terlihat asik ngobrol dengan wajah yang hampir bersentuhan. Ekspresi wajah Dayu terlihat jengah, sedangkan Alan terlihat sedang merajuk tentang sesuatu. Sebentar-sebentar terdengar suara tawa renyah pecah dari mulut Dayu, terdengar jelas kalau dia masih dalam kondisi mabuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa menit berselang, terlihat Dayu mengangkat lengannya dan mengangkat salah satu tali penahan penutup dadanya dibahunya kemudian pelan-pelan dia turunkan dari bahunya. Alan mengucapkan sesuatu yang kembali membuat tawa isteriku pecah. Kemuadian dia memegang tangan Dayu dan menariknya masuk ke dalam air diantara kedua pahanya. Brengsek, umpatku dalam hati. Apa Alan sudah membuat isteriku menyentuh batang penisnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu memekik terkejut pada awalnya lalu kembali dia tertawa. Dia tetap membiarkan tangannya berada di dalam air, lalu mulailah terlihat dia menggerakkan tangannya. Kembali Alan mengucapkan sesuatu dan Dayu tertawa lagi, lalu dia angkat tangannya dari dalam air dan menurunkan tali penahan penutup dadanya yang satu lagi dari bahunya. Dia memandang sekilas kearahku, dan aku terdiam tak berani bergerak. Aku pasti telah membuatnya yakin kalau aku masih tertidur lelap karena kemudian dia menoleh kembali pada Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penutup dadanya sekarang hanya bergantung ditahan hanya oleh daging bulat payudaranya saja. Alan sekarang memandanginya tanpa sungkan-sungkan lagi dan mengobrol dengan penuh semangat. Aku tak tahu apa yang tengah dia ucapkan, tapi melihat isteriku yang terlihat melakukan setiap apapun yang Alan pinta, itu pasti sebuah paduan sempurna dari sebuah humor dan rayuan. Beberapa saat berikutnya kembali tangan Dayu masuk ke dalam air. Kali ini dia terlihat menahan nafas. Apapun yang dia pegang di dalam air tersebut, itu membuatnya terkesan. Alan tertawa dan membisikkan sesuatu yang membuat tawa Dayu lebih pecah dengan kerasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali Dayu mengangkat tangannya dari dalam air kemudian meremas kedua lengannya rapat-rapat. Belahan daging payudaranya terangkat sedikit, cukup untuk membuat penutup dadanya sedikit lebih turun lagi, membuat putingnya sekarang terekspos di hadapan mata Alan. Putingnya yang merekah terlihat sangat keras dan mencuat menggiurkan dari bulat kenyalnya payudaranya yang indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menyaksikan hal itu membuatku sangat terkejut sekaligus merasa api birahiku berkobar hebat, batang penisku langsung tebangun dan ereksi penuh. Aku tak bisa percayai kalau isteriku telah mengekspos dirinya dihadapan seorang pria seperti itu, dan aku tak bisa percaya kalau diriku sendiri merasa terangsang karena melihat kejadian tersebut. Apa yang salah dengan diriku?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alan sangat menikmati waktunya mengamati keindahan payudara Dayu untuk bebeapa waktu, kemudian dia membungkuk mendekat ke arah Dayu dan membisikkan sesuatu di telinganya. Dayu tertawa genit dan kembali tangannya bergerak masuk ke air. Keduanya diam tak berbicara untuk beberapa saat sedangkan tangan Dayu bergerak naik turun di dalam air. Terlihat nyata kalau Dayu tengah mengocok batang penis Alan. Beberapa detik kemudian Dayu menoleh ke arahku dengan ragu-ragu. Aku yakin jika dia melihatku bergerak, maka dia akan langsung menghentikan apapun yang tengah dia lakukan itu, tapi aku tetap diam tak bergerak. Aku merasa seberapa besar rasa cemburu dalam dadaku, maka sebesar itu pula keinginanku untuk melihat apa yang akan terjadi berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah memastikan kalau aku masih tetap tertidur, Dayu turun dari tepian kolam lalu masuk ke dalam air. Sekarang dia berdiri berhadapan dengan Alan, penutup dadanya menempel diperutnya. Kedua tangannya kembali masuk ke dalam air lalu keduanya nampak sedikit menggeliat untuk beberapa saat. Aku hanya mampu menebak apa yang tengah mereka lakukan hingga celana renang Alan tiba-tiba saja muncul dari dalam air disamping tubuhnya. Dayu telah melepaskannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya tertawa berbarengan, lalu kembali Dayu memasukkan tangannya kedalam air. Nafas Alan mulai terlihat berat dan tatapan matanya terpaku pada payudara indah milik isteriku. Dayu hanya tertawa genit atas tatapan mata Alan pada payudaranya tersebut dan bahkan beberapa kali nampak dia sedikit menggoyangkan dadanya untuk memberikan sedikit tontonan pada Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu mulai menggerakkan tangannya naik turun dengan cepat dan semakin bertambah cepat, sementara itu Atatapan mata Alan tak pernah lepas dari payudara isteriku. Tiba-tiba Alan memejamkan matanya rapat-rapat dan menggigit bibir bawahnya. Dayu melihat ke bawah dan menatap air seakan terhipnotis saat Alan mulai menggelinjang. Setelah beberapa saat dia berhenti menggelinjang dan membuaka matanya kembali. Lalu Alan membisikkan sesuatu padanya yang membuat Dayu menjerit dengan nada genit marah dan mendorong Alan menjauh. Alan tertawa dan menggenggam celana renangnya, sedangkan Dayu memakai penutup dadanya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku sudah tak yakin lagi apakah yang mampu membuatku terkejut lagi, menyaksikan isteriku memasturbasi pria lain didepan mataku ataukah kenyataan bahwa tak ada seorangpun yang memperhatikannya. Melihat sekeliling, kusaksikan begitu banyak orang yang saling mencumbu, dan aku rasa mereka berdua merasa sangat yakin kalau tak ada seseorangpun yang memperhatikan apa yang mereka perbuat. Aku bertanya kalau diriku masih seorang pria lugu dan kolot lagi sekarang, benarkah begitu? Benakku menjawab, masih, namun batang penisku yang ereksi berkata tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah setengah jam berikutnya, Kristin berdiri, masih bertelanjang dada mengumumkan bahwa saatnya untuk pergi ke pantai telah tiba. Perusahaan telah menyewa beberapa van untuk mengangkut semua orang disana dan tidak memperbolehkan memakai mobil sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pura-pura baru bangun dari tidurku saat Dayu berjalan mendekatiku. Dia masih agak mabuk, jika tak mau dikatakan mabuk dan kuputuskan untuk melihat apakah dia akan mengungkapkan semuanya. "Ada yang terjadi lagi saat aku tertidur?"&lt;br /&gt;"Tak begitu banyak, sayang," jawabnya.&lt;br /&gt;"Ada lagi yang mencuri lepas penutup dada?" desakku.&lt;br /&gt;"Kenapa?" tanya istriku dengan nada menggoda. "Apa kamu ingin dengar tentang itu?"&lt;br /&gt;"Mungkin," jawabku, meskipun dengan cara penyampaiannya itu membuatku terdengar sangat ingin mendengarnya.&lt;br /&gt;"Well, tak ada lagi yang mencuri lepas penutup dada, tapi Alan masih ingin melihat payudaraku dan dia terus merajuk. Jadi kupikir dia juga sudah melihatnya, aku memberinya sedikit bonus lagi."&lt;br /&gt;"Oh," jawabku.&lt;br /&gt;"Jadi kuturunkan sedikit penutup dadaku dan membiarkan dia melihatnya. Tapi hanya itu saja. Tak apa-apa kan sayang? Kamu tak marah padaku karena sudah memperlihatkan payudaraku sebentar pada teman priaku?" jawabnya dengan nada merajuk.&lt;br /&gt;"Aku rasa begitu..." jawabku datar. Aku sedang membayangkan dia memasturbasi Alan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mengemasi handuk kami dan kemudian berjalan mengikuti yang lain menuju ke area parkir. Kami masuk ke dalam van yang semua orang di dalamnya tak kukenal lalu mulailah kami berangkat menuju ke pantai. Jalanan yang dilalui sangat jelek dan membuat van yang kami tumpangi terlonjak-lonjak, namun aku tak begitu merasakannya karena aku tengah fokus pada usaha untuk mengingat apa yang kusaksikan pada Dayu dan Alan tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat tiba di pantai, kuperhatikan kalau perusahaan juga sudah mengeset sebuah erena untuk permainan bola voli lengkap dengan net-nya dan segera saja Kristin dan Nana sudah berinisiatif untuk memuali sebuah pertandingan. Kuputuskan untuk rebah diatas pasir saja dan melihat, berusaha untuk menata perasaan dan melegakan himpitan dalam dada, sedangkan Dayu langsung bergabung dalam permainan. Kedua team terbagi dalam kelompok wanita dan pria. Sebenarnya pertandingan tersebut menyenangkan untuk disaksikan karena para pemainnya ternyata lumayan mahir dan juga karena para wanita terlihat begitu menawan saat melompat dalam balutan bikini minim mereka. Seiring jalannya pertandingan, suasana semakin bertambah panas, kata-kata jorokdan ejekan penuh sendau gurau terus bersahutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang tibalah saatnya bagi isteriku untuk serve. "Siap-siap guys, kali ini kalian ak akan bisa mengemblikan!" teriaknya.&lt;br /&gt;"Kamu mau bertaruh untuk penutup dadamu?" teriak Eddie membalas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langsung terdengar riuh rendah suara menyambut dari para penontonnya. Dayu terdiam beberapa saat, mimik wajahnya menggambarkan ekspresi yang sangat seksi kemudian belas menyahut, "Kalau kamu tak bisa mengembalikannya, kamu harus melepas celanamu!"&lt;br /&gt;"Ok, tapi itu tak akan terjadi sayang!" balas Eddie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu merespon dengan melempar bola ditangannya tinggi-tinggi dan mengirimkan sebuah serve yang sangat kuat. Aku tak yakin berapa banyak rekan kerjanya yang tahu, kalau dia saat kuliah dulu termasuk andalan dalam team bola voli. Bola tersebut mengarah sangat sesuai dengan yang dia inginkan, mendarat dengan tajam diantara dua pemain yang paling payah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para wanita bersorak menyambutnya sedangkan para pria terlihat menepuk kepalnya sambil mengerang kesal. Eddie bersiul dan menghadap ke arah Dayu, kemudian mencengkeram celananya kemudian menurunkannya. Batang penisnya tak sepanjang milik Dave namun jauh lebih besar. Benar-benar cukup besar untuk mengundang siulan dan teriakan dari para wanita. Dayu menatapnya dengan senyum birahi tergambar pada wajahnya. Belum pernah diamenatap bang penisku dengan ekspresi seperti itu sebelumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu bersiap untuk serve berikutnya dan berteriak pada seorang pria yang tak kukenal, "Hey, Don! Mau bertaruh yang sama juga?"&lt;br /&gt;Doni melihat ke arah Eddie, lalu beralih ke dada isteriku dan kemudian menjawab, "Tentu saja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu memberikan sebuah serve penuh tenaga lagi, namun kali ini para pria sudah lebih siap menyambutnya. Salah seorang pria melompat menyambut datangnya bola, bola tersebut melayang cukup tinggi bagi Dave untuk menyambutnya dengan smash yang keras. Para wanita terlihat terkejut dengan serangan tersebut, dan begitu bola mendarat mulus diatas pasir, para pria berteriak menyambutnya, "Lepas! Lepas!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu menutup wajahnya dengan kedua telapak tanganna, dia tertawa malu, lalu tangannya bergerak kebelakang tubuhnya untuk melepaskan penutup dadanya. Dia menahannya didada untuk beberpa saatdan kemudian melepas kain penutup dada tersebut ke samping. Payudara bulat indahnya yang dihiasi putting merah mencuat terpampang jelas tanpa penghalang lagi. Para pria mulai bersiut dan berteriak menyambutnya, sedangkan Dayu tampak memerah wajahnya dan tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dayu memainkan sisa pertandingan dengan bertelanjang dada, membuat semua orang mendapatkan sebuah tontonan indah. Setiap kali dia berlari atau melompat untuk mengembalikan bola, payudaranya akan memantul dengan seksi. Kuperhatikan semua selangkangan para pria terlihat menonjol karena ereksinya melihat semua gerakan isteriku, khususunya Eddie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian game tersebut berakhir dengan kemenangan dipihak team isteriku. Dayu dia berjalan memungut penutup dadanya, tapi tak memakainya kembali. Lalu dia berjalan menghampiri Eddie, yang baru saja mengambil celananya. Kuamati dia agak merentangkan punggungnya ke belakang, membuat payudaranya lebih menonjol kedepan. Mereka mulai mengobrolkan sesuatu, dan kuperhatikan pandangan isteriku lebih sering tertuju pada batang penis besarnya Eddie dan mata Eddie seakan juga tak mau lepas dari dada isteriku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddie mengucapkan sesuatu, lalu mendorongkan batang penisnya kearah isteriku. Dayu tertawa genit dan menggelengkan kepalanya, tapi pandangannya tak beralih dari batang penis tersebut. Eddie tetap pada posisinya, tak bergerak dan setelah beberapa lama tangan isteriku menggapai ke depan dan menggenggam batang penis milik Eddie. Dia memeganginya sejenak, kemudian dia sedikit menggoyangkannya dan dia tertawa senang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eddie juga tertawa, kemudian tangannya terjulur kedepan dan menarik bagian depan dari kain penutup selangkangan yang dipakai Dayu. Dia membungkuk kedepan untuk mengintip vagina isteriku, sedangkan Dayu menjerit malu namun tak berusaha menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba saja Eddie menyentakkannya turun hingga ke pergelangan kaki isteriku. Dayu menjerit, membuat semua orang menoleh ke arahnya dan menyaksikan vaginanya yang dihiasi rambut tercukur rapi terekspos penuh. Tubuh indah isteriku telah telanjang seutuhnya sekarang, dan ekspresi malunya semakin membuatnya terlihat sangat cantik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan cepat Dayu menaikkan penutup tubuh bawahnya dengan diiringi sorakan para pria, namun dia tak memakai kembali penutup dadanya. Matahari sudah mulai beranjak ke peraduannya sekarang, lalu Kristin meminta semua orang untuk kembali ke resort, semuanya diminta untuk berkumpul kembali di hot tub jam 10 nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-7959463877015710455?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/7959463877015710455/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=7959463877015710455' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/7959463877015710455'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/7959463877015710455'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2009/01/petualangan-isteriku-disebuah-pesta.html' title='Petualangan Isteriku Disebuah Pesta Pantai part 1'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-4836627704155362687</id><published>2008-12-21T04:40:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T04:53:21.727-08:00</updated><title type='text'>Mulusnya pacar kakak</title><content type='html'>"Jangan Dod," pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. "Adik"-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siang itu, ponselku berbunyi, dan suara merdu dari seberang sana memanggil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di, kamu ke rumahku duluan deh sana, saya masih meeting. Dari pada kamu kena macet di jalan, mendingan jalan sekarang gih sana."&lt;br /&gt;"Oke deh, saya menuju rumah kamu sekarang. Kamu meeting sampai jam berapa?"&lt;br /&gt;"Yah, sore sudah pulang deh, tunggu aja di rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meluncurlah aku dengan motor Honda ke sebuah rumah di salah satu kompleks di Jakarta. Vina memang kariernya sedang naik daun, dan dia banyak melakukan meeting akhir-akhir ini. Aku sih sudah punya posisi lumayan di kantor. Hanya saja, kemacetan di kota ini begitu parah, jadi lebih baik beli motor saja dari pada beli mobil. Vina pun tak keberatan mengarungi pelosok-pelosok kota dengan motor bersamaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan, pekerjaanku di sebuah biro iklan membuat aku bisa pulang di tengah hari, tapi bisa juga sampai menginap di kantor jika ada proyek yang harus digarap habis-habisan. Vina, pacarku, mendapat fasilitas antar jemput dari kantornya. Jadi, aku bisa tenang saja pergi ke rumahnya tanpa perlu menjemputnya terlebih dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumahnya, pagar rumah masih tertutup walau tidak terkunci. Aku mengetok pagar, dan keluarlah Marta, kakak Vina, untuk membuka pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Loh, enggak kerja?" tanyaku.&lt;br /&gt;"Nggak, aku izin dari kantor mau ngurus paspor," jawabnya sambil membuka pintu pagarnya yang berbentuk rolling door lebar-lebar agar motorku masuk ke dalam.&lt;br /&gt;"Nyokap ke mana?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Oh, dia lagi ke rumah temannya tuh, ngurusin arisan," kata Marta, "Kamu mau duduk di mana Dodi? Di dalam nonton tv juga boleh, atau kalau mau di teras ya enggak apa juga. Bentar yah, saya ambilin minum."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah motor parkir di dalam pekarangan rumah, kututup pagar rumahnya. Aku memang akrab dengan kakak Vina ini, umurnya hanya sekitar dua tahun dari umurku. Yah, aku menunggu di teras sajalah, canggung juga rasanya duduk nonton tv bersama Marta, apalagi dia sedang pakai celana pendek dan kaos oblong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa lama menunggu Vina di teras rumah, aku celingukan juga tak tahu mau bikin apa. Iseng, aku melongok ke ruang tamu, hendak melihat acara televisi. Wah, ternyata mataku malah terpana pada paha yang putih mulus dengan kaki menjulur ke depan. Kaki Marta ternyata sangat mulus, kulitnya putih menguning.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta memang sedang menonton tv di lantai dengan kaki berjelonjor ke depan. Kadang dia duduk bersila. Baju kaosnya yang tipis khas kaos rumah menampakkan tali-tali BH yang bisa kutebak berwarna putih. Aku hanya berani sekali-kali mengintip dari pintu yang membatasi teras depan dengan ruang tamu, setelah itu barulah ruang nonton tv. Kalau aku melongokkan kepalaku semua, yah langsung terlihatlah wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi rasanya ada keinginan untuk melihat dari dekat paha itu, biar hanya sepintas. Aku berdiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ta, ada koran enggak yah," kataku sambil berdiri memasuki ruang tamu.&lt;br /&gt;"Lihat aja di bawah meja," katanya sambil lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mencari-cari koran itulah kugunakan waktu untuk melihat paha dan postur tubuhnya dari dekat. Ah, putih mulus semua. Buah dada yang pas dengan tubuhnya. Tingginya sekitar 160 cm dengan tubuh langsing terawat, dan buah dadanya kukuh melekat di tubuh dengan pasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ingin dada itu," kataku membatin. Aku membayangkan Marta dalam keadaan telanjang. Ah, 'adikku' bergerak melawan arah gravitasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh! Kok kamu ngeliatin saya kayak gitu?! Saya bilangin Vina lho!," Marta menghardik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan aku hanya terbengong-bengong mendengar hardikannya. Aku tak sanggup berucap walau hanya untuk membantah. Bibirku membeku, malu, takut Marta akan mengatakan ini semua ke Vina.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa kamu melotot begitu, mau ngancem?! Hah!"&lt;br /&gt;"Astaga, Marta, kamu.. kamu salah sangka," kataku tergagap. Jawabanku yang penuh kegamangan itu malah membuat Marta makin naik pitam.&lt;br /&gt;"Saya bilangin kamu ke Vina, pasti saya bilangin!" katanya setengah berteriak. Tiba-tiba saja Marta berubah menjadi sangar. Kekalemannya seperti hilang dan barangkali dia merasa harga dirinya dilecehkan. Perasaan yang wajar kupikir-pikir.&lt;br /&gt;"Marta, maaf, maaf. Benar-benar enggak sengaja saya. saya enggak bermaksud apa-apa," aku sedikit memohon.&lt;br /&gt;"Ta, tolong dong, jangan bilang Vina, kan cuma ngeliatin doang, itu juga enggak sengaja. Pas saya lagi mau ngambil koran di bawah meja, baru saya liat elu," kataku mengiba sambil mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta malah tambah marah bercampur panik saat aku mendekatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ngapain nyamperin saya?! Mau ngancem? Keluar kamu!," katanya garang. Situasi yang mencekam ini rupanya membuatku secara tidak sengaja mendekatinya ke ruang tamu, dan itu malah membuatnya panik.&lt;br /&gt;"Duh, Ta, maaf banget nih. Saya enggak ada maksud apa-apa, beneran," kataku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, situasi telah berubah, Marta malah menganggapku sedang mengancamnya. Ia mendorong dadaku dengan keras. Aku kehilangan keseimbangan, aku tak ingin terjatuh ke belakang, kuraih tangannya yang masih tergapai saat mendorongku. Raihan tangan kananku rupanya mencengkeram erat di pergelangan tangan kirinya. Tubuhnya terbawa ke arahku tapi tak sampai terjatuh, aku pun berhasil menjaga keseimbangan. Namun, keadaan makin runyam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh! kamu kok malah tangkep tangan saya! Mau ngapain kamu? Lepasin enggak!!," kata Marta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, tangan kananku tidak melepaskan tangan kirinya. Mungkin aku belum sempat menyadari situasinya. Merasa terancam, Marta malah sekuat tenaga melayangkan tangan kanannya ke arah mukaku, hendak menampar. Aku lebih cekatan. Kutangkap tangan kanan itu, kedua tangannya sudah kupegang tanpa sengaja. Kudorong dia dengan tubuhku ke arah sofa di belakangnya, maksudku hanya berusaha untuk menenangkan dia agar tak mengasariku lagi. Tak sengaja, aku justru menindih tubuh halus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta terduduk di sofa, sementara aku terjerembab di atasnya. Untung saja lututku masih mampu menahan pinggulku, namun tanganku tak bisa menahan bagian atas tubuhku karena masih mencengkeram dan menekan kedua tangannya ke sofa. Jadilah aku menindihnya dengan mukaku menempel di pipinya. Tercium aroma wangi dari wajahnya, dan tak tertahankan, sepersekian detik bibirku mengecup pipinya dengan lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ayal, sepersekian detik itu pula Marta meronta-ronta. Marta berteriak, "Lepasin! Lepasin!" dengan paraunya. Waduh, runyam banget kalau terdengar tetangga. Yang aku lakukan hanya refleks menutup mulutnya dengan tangan kananku. Marta berusaha vaginaik, namun tak bisa. Yang terdengar hanya, "Hmmm!" saja. Namun, tangannya sebelah kiri yang terbebas dari cengkeramanku justru bergerak liar, ingin menggapai wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah! Tak terpikir, posisiku ini benar-benar seperti berniat memperkosa Marta. Dan, Marta sepertinya pantas untuk diperkosa. Separuh tubuhnya telah kutindih. Dia terduduk di sofa, aku di atasnya dengan posisi mendudukinya namun berhadapan. Kakinya hanya bisa meronta namun tak akan bisa mengusir tubuhku dari pinggangnya yang telah kududuki. Tangan kanannya masih dalam kondisi tercengkeram dan ditekan ke sofa, tangan kirinya hanya mampu menggapai-gapai wajahku tanpa bisa mengenainya, mulutnya tersekap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh yang putih itu dengan lehernya yang jenjang dan sedikit muncul urat-urat karena usaha Marta untuk vaginaik, benar-benar membuatku dilanda nafsu tak kepalang. Aku berpikir bagaimana memperkosanya tanpa harus melakukan berbagai kekerasan seperti memukul atau merobek-robek bajunya. Dasar otak keparat, diserang nafsu, dua tiga detik kemudian aku mendapatkan caranya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa diduga Marta, secepat kilat kulepas cengkeraman tanganku dari tangan dan mulutnya, namun belum sempat Marta bereaksi, kedua tanganku sudah mencengkeram erat lingkaran celana pendeknya dari sisi kiri dan kanan, tubuhku meloncat mundur ke belakang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kaki Marta yang meronta-ronta terus ternyata mempermudah usahaku, kutarik sekeras-kerasnya dan secepat-cepatnya celana pendek itu beserta celana dalam pinknya. Karena kakinya meronta terus, tak sengaja dia telah mengangkat pantatnya saat aku meloncat mundur. Celana pendek dan celana dalam pink itu pun lolos dengan mudahnya sampai melewat dengkul Marta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astaga! Berhasil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta jadi setengah bugil. Satu dua detik Marta pun sempat terkejut dan terdiam melihat situasi ini. Kugunakan kelengahan itu untuk meloloskan sekalian celana pendek dan celana dalamnya dari kakinya, dan kulempar jauh-jauh. Marta sadar, dia hendak vaginaik dan meronta lagi, namun aku telah siap. Kali ini kubekap lagi mulutnya, dan kususupkan tubuhku di antara kakinya. Posisi kaki Marta jadi menjepit tubuhku, karena dia sudah tak bercelana, aku bisa melihat vaginanya dengan kelentit yang cukup jelas. Jembutnya hanya menutupi bagian atas vagina. Marta ternyata rajin merawat alat genitalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pekikan Marta berhasil kutahan. Sambil kutekan kepalanya di sandaran sofa, aku berbisik,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Marta, kamu sudah kayak gini, kalau kamu teriak-teriak dan orang-orang dateng, percaya enggak orang-orang kalau kamu lagi saya perkosa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta tiba-tiba melemas. Dia menyadari keadaan yang saat ini berbalik tak menguntungkan buatnya. Kemudian dia hanya menangis terisak. Kubuka bekapanku di mulutnya, Marta cuma berujar sambil mengisak,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dodi, please... Jangan diapa-apain saya. Ampun, Di. saya enggak akan bilang Vina. Beneran."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, keadaan sudah kepalang basah, syahwatku pun sudah di ujung tanduk rasanya. Aku menjawabnya dengan berusaha mencium bibirnya, namun dia memalingkan mukanya. Tangan kananku langsung saja menelusup ke selangkangannya. Marta tak bisa mengelak.&lt;br /&gt;Ketika tanganku menyentuh halus permukaan vaginanya, saat itulah titik balik segalanya. Marta seperti terhipnotis, tak lagi bergerak, hanya menegang kaku, kemudian mendesis halus tertahan. Dia pun pasti tak sengaja mendesah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti mendapat angin, aku permainkan jari tengah dan telunjukku di vaginanya. Aku permainkan kelentitnya dengan ujung-ujung jari tengahku. Marta berusaha berontak, namun setiap jariku bergerak dia mendesah. Desahannya makin sulit ditutupi saat jari tengahku masuk untuk pertama kali ke dalam vaginanya. Kukocokkan perlahan vaginanya dengan jari tengahku, sambil kucoba untuk mencumbu lehernya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan Dod," pintanya, namun dia tetap mendesah, lalu memejamkan mata, dan menengadahkan kepalanya ke langit-langit, membuatku leluasa mencumbui lehernya. Dia tak meronta lagi, tangannya hanya terkulai lemas. Sambil kukocok vaginanya dan mencumbui lehernya, aku membuka resleting celanaku. "Adik"-ku ini memang sudah menegang sempurna sedari tadi, namun tak sempat kuperlakukan dengan selayaknya. Karena tubuhku telah berada di antara kakinya, mudah bagiku untuk mengarahkan penisku ke vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Marta sebetulnya masih dalam pergulatan batin. Dia tak bisa mengelak terjangan-terjangan nafsunya saat vaginanya dipermainkan, namun ia juga tak ingin kehilangan harga diri. Jadilah dia sedikit meronta, menangis, namun juga mendesah-desah tak karuan. Aku bisa membaca situasi ini karena dia tetap berusaha memberontak, namun vaginanya malah makin basah. Ini tanda dia tak mampu mengalahkan rangsangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penisku mengarah ke vaginanya yang telah becek, saat kepala penis bersentuhan dengan vagina, Marta masih sempat berusaha berkelit. Namun, itu semua sia-sia karena tanganku langsung memegangi pinggulnya. Dan, kepala penisku pun masuk perlahan. Vagina Marta seperti berkontraksi. Marta tersadar,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan..." teriaknya atau terdengar seperti rintihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasa hangat langsung menyusupi kepala penisku. Kutekan sedikit lebih keras, Marta sedikit menjerit, setengah penisku telah masuk. Dan satu sentakan berikutnya, seluruh penisku telah ada di dalam vaginanya. Marta hanya memejamkan mata dan menengadahkan muka saja. Ia sedang mengalami kenikmatan tiada tara sekaligus perlawanan batin tak berujung. Kugoyangkan perlahan pinggulku, penisku keluar masuk dengan lancarnya. Terasa vagina Marta mengencang beberapa saat lalu mengendur lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanganku mulai bergerilya ke arah buah dadanya. Marta masih mengenakan kaos rumah. Tak apa, toh tanganku bisa menyusup ke dalam kaosnya dan menyelinap di balik BH dan mendapati onggokan daging yang begitu kenyal dengan kulit yang terasa begitu halus. Payudara Marta begitu pas di tanganku, tidak terlalu besar tapi tidak juga bisa dibilang kecil. Kuremas perlahan, seirama dengan genjotan penisku di vaginanya. Marta hanya menoleh ke kanan dan ke kiri, tak mampu melakukan perlawanan. Pinggulnya ternyata mulai mengikuti goyangan pinggulku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku buka kaos Marta, kemudian BH-nya, Marta menurut. Pemandangan setelah itu begitu indah. Kulit Marta putih menguning langsat dengan payudara yang kencang dan lingkaran di sekitar pentilnya berwarna merah jambu Pentil itu sendiri berwarna merah kecokelatan. Tak menunggu lama, kubuka kemejaku. Aktivitas ini kulakukan sambil tetap menggoyang lembut pinggulku, membiarkan penisku merasai seluruh relung vagina Marta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil aku bergoyang, aku mengulum pentil di payudaranya dengan lembut. Kumainkan pentil payudara sebelah kanannya dengan lidahku, namun seluruh permukaan bibirku membentuk huruf O dan melekat di payudaranya. Ini semua membuat Marta mendesah lepas, tak tertahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku mulai mengencangkan goyanganku. Marta mulai makin sering menegang, dan mengeluarkan rintihan, "Ah... ah..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam goyangan yang begitu cepat dan intens, tiba-tiba kedua tangan Marta yang sedang mencengkeram jok kursi malah menjambak kepalaku."Aaahhh," lenguhan panjang dan dalam keluar dari mulut mungil Marta. Ia sampai pada puncaknya. Lalu tangan-tangan yang menjambak rambutku itu pun terkulai lemas di pundakku. Aku makin intens menggoyang pinggulku. Kurasakan penisku berdenyut makin keras dan sering.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bibir Marta yang tak bisa menutup karena menahan kenikmatan itu pun kulumat, dan tidak seperti sebelum-sebelumnya, kali ini Marta membalasnya dengan lumatan juga. Kami saling berpagut mesra sambil bergoyang. Tangan kananku tetap berada di payudaranya, meremas-remas, dan sesekali mempermainkan putingnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Vagina Marta kali ini cukup terasa mencengkeram penisku, sementara denyut di penisku pun semakin hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uhhh," aku mengejang. Satu pelukan erat, dan sentakan keras, penisku menghujam keras ke dalam vaginanya, mengiringi muncratnya spermaku ke dalam liang rahimnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat saat itu juga Marta memelukku erat sekali, mengejang, dan menjerit, "Aahhh". Kemudian pelukannya melemas. Dia mengalami ejakulasi untuk kedua kalinya, namun kali ini berbarengan dengan ejakulasiku. Marta terkulai di sofa, dan aku pun tidur telentang di karpet. Aku telah memperkosanya. Marta awalnya tak terima, namun sisi sensitif yang membangkitkan libidonya tak sengaja kudapatkan, yaitu usapan di vaginanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, dia sudah pernah bercinta dengan kekasihnya terdahulu. Dia hanya tak menyangka, aku-pacar adiknya malah menjadi orang kedua yang menyetubuhinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Grrreeekkk. Suara pagar dibuka. Vina datang! Astaga! aku dan Marta masih bugil di ruang tamu, dengan baju dan celana yang terlempar berserakan ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-4836627704155362687?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/4836627704155362687/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=4836627704155362687' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4836627704155362687'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/4836627704155362687'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/mulusnya-pacar-kakak.html' title='Mulusnya pacar kakak'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-5371563446737177739</id><published>2008-12-21T04:32:00.000-08:00</published><updated>2008-12-21T04:35:37.860-08:00</updated><title type='text'>Hadiah Dari Mbak Yuni</title><content type='html'>Segera aku melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Yuni memperhatikan burungku yang berdenyut-denyut, aku lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.&lt;br /&gt;"Ooh.. Ris.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh.." Mbak Yuni mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian ini terjadi ketika aku lulus dari SMU. Perkenalkan, namaku Aris. Kejadian ini tidak akan terlupakan karena ini adalah pertama kalinya aku merasakan nikmatnya sex yang sebenarnya. Pada waktu itu aku make love dengan Mbak Yuni yang umurnya kira-kira 10 tahun lebih tua dariku. Wajahnya manis dan kulitnya putih.&lt;br /&gt;Mbak Yuni adalah anak tetangga nenekku di desa daerah Cilacap yang ikut dengan keluargaku di Kota Semarang sejak SMP. Waktu SD ia sekolah di desa, setelah itu ia diajak keluargaku di kota untuk melanjutkan sekolah sekaligus membantu keluargaku terutama merawat aku. Kami sangat akrab bahkan di juga sering ngeloni aku. Mbak Yuni ikut dengan keluargaku sampai dia lulus SMA atau aku kelas 2 SD dan dia kembali ke desa. Namanya juga anak kecil, jadi aku belum ada perasaan apa-apa terhadapnya.&lt;br /&gt;Setelah itu kami jarang bertemu, paling-paling hanya setahun satu atau dua kali. Tiga tahun kemudian ia menikah dan waktu aku kelas dua SMP aku harus pindah luar Jawa ke Kota Makassar mengikuti ayah yang dipindah tugas. Setelah itu kami tidak pernah bertemu lagi. Kami hanya berhubungan lewat surat dan kabarnya ia sekarang telah memiliki seorang anak. pada waktu aku lulus SMA aku pulang ke rumah nenek dan berniat mencari tempat kuliah di Kota Yogya.&lt;br /&gt;Sesampai di rumah nenek aku tahu bahwa Mbak Yuni sudah punya rumah sendiri dan tinggal bersama suaminya di desa seberang. Setelah dua hari di rumah nenek aku berniat mengunjungi rumah Mbak Yuni. Setelah diberi tahu arah rumahnya (sekitar 1 km) aku pergi kira-kira jam tiga sore dan berniat menginap. Dari sinilah cerita ini berawal.&lt;br /&gt;Setelah berjalan kurang lebih 20 menit, akhirnya aku sampai di rumah yang ciri-cirinya sama dengan yang dikatakan nenek. Sejenak kuamati kelihatannya sepi, lalu aku coba mengetok pintu rumahnya.&lt;br /&gt;"Ya sebentar.." terdengar sahutan wanita dari dalam.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian keluar seorang wanita dan aku masih kenal wajah itu walau lama tidak bertemu. Mbak Yuni terlihat manis dan kulitnya masih putih seperti dulu. Dia sepertinya tidak mengenaliku.&lt;br /&gt;"Cari siapa ya? tanya Mbak Yuni".&lt;br /&gt;"Anda Mbak Yuni kan?" aku balik bertanya.&lt;br /&gt;"Iya benar, anda siapa ya dan ada keperluan apa?" Mbak Yuni kembali bertanya dengan raut muka yang berusaha mengingat-ingat.&lt;br /&gt;"Masih inget sama aku nggak Mbak? Aku Aris Mbak, masak lupa sama aku", kataku.&lt;br /&gt;"Kamu Aris anaknya Pak Tono?" kata Mbak Yuni setengah nggak percaya.&lt;br /&gt;"Ya ampun Ris, aku nggak ngenalin kamu lagi. Berapa tahun coba kita nggak bertemu." Kata Mbak Yuni sambil memeluk tubuhku dan menciumi wajahku.&lt;br /&gt;Aku kaget setengah mati, baru kali ini aku diciumi seorang wanita. Aku rasakan buah dadanya menekan dadaku. Ada perasaan lain muncul waktu itu.&lt;br /&gt;"Kamu kapan datangnya, dengan siapa" kata Mbak Yuni sambil melepas pelukannya.&lt;br /&gt;"Saya datang dua hari lalu, saya hanya sendiri." kataku.&lt;br /&gt;"Eh iya ayo masuk, sampai lupa, ayo duduk." Katanya sambil menggeret tanganku.&lt;br /&gt;Kami kemudian duduk di ruang tamu sambil mengobrol sana-sini, maklum lama nggak tetemu. Mbak Yuni duduk berhimpitan denganku. Tentu saja buah dadanya menempel di lenganku. Aku sedikit terangsang karena hal ini, tapi aku coba menghilangkan pikiran ini karena Mbak Yuni sudah aku anggap sebagai keluarga sendiri.&lt;br /&gt;"Eh iya sampai lupa buatin kamu minum, kamu pasti haus, sebentar ya.." kata Mbak Yuni ditengah pembicaraan.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian ia datang, "Ayo ini diminum", kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Kok sepi, pada kemana Mbak?" Tanyaku.&lt;br /&gt;"Oh kebetulan Mas Heri (suaminya Mbak Yuni) pergi kerumah orang tuanya, ada keperluan, rencananya besok pulangya dan si Dani (anaknya Mbak Yuni) ikut" jawab Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Belum punya Adik Mbak dan Mbak Yuni kok nggak ikut?" tanyaku lagi.&lt;br /&gt;"Belum Ris padahal udah pengen lho.. tapi memang dapatnya lama mungkin ya, kayak si Dani dulu. Mbak Yuni ngurusi rumah jadi nggak bisa ikut" katanya.&lt;br /&gt;"Eh kamu nginep disini kan? Mbak masih kangen lho sama kamu" katanya lagi.&lt;br /&gt;"Iya Mbak, tadi sudah pamit kok" kataku.&lt;br /&gt;"Kamu mandi dulu sana, ntar keburu dingin" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Lalu aku pergi mandi di belakang rumah dan setelah selesai aku lihat-lihat kolam ikan di belakang rumah dan kulihat Mbak Yuni gantian mandi. Kurang lebih lima belas menit, Mbak Yuni selesai mandi dan aku terkejut karena ia hanya mengenakan handuk yang dililitkan di tubuhnya. Aku pastikan ia tidak memakai BH dan mungkin CD juga karena tidak aku lihat tali BH menggantung di pundaknya.&lt;br /&gt;"Sayang Ris ikannya masih kecil, belum bisa buat lauk" kata Mbak Yuni sambil melangkah ke arahku lalu kami ngobrol sebentar tentang kolam ikannya.&lt;br /&gt;Kulihat buah dadanya sedikit menyembul dari balutan handuknya dan ditambah bau harum tubuhnya membuatku terangsang. Tak lama kemudian ia pamit mau ganti baju. Mataku tak lepas memperhatikan tubuh Mbak Yuni dari belakang. Kulitnya benar-benar putih. Sepasang pahanya putih mulus terlihat jelas bikin burungku berdiri. Ingin rasanya aku lepas handuknya lalu meremas, menjilat buah dadanya, dan menusuk-nusuk selangkangannya dengan burungku seperti dalam bokep yang sering aku lihat. Sejenak aku berkhayal lalu kucoba menghilangkan khayalan itu.&lt;br /&gt;Haripun berganti petang, udara dingin pegunungan mulai terasa. Setelah makan malam kami nonton teve sambil ngobrol banyak hal, sampai tak terasa sudah pukul sembilan.&lt;br /&gt;"Ris nanti kamu tidur sama aku ya, Mbak kangen lho ngeloni kamu" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Apa Mbak?" Kataku terkejut.&lt;br /&gt;"Iya.. Kamu nanti tidur sama aku saja. Inget nggak dulu waktu kecil aku sering ngeloni kamu" katanya.&lt;br /&gt;"Iya Mbak aku inget" jawabku.&lt;br /&gt;"Nah ayo tidur, Mbak udah ngantuk nih" kata Mbak Yuni sambil beranjak melangkah ke kamar tidur dan aku mengikutinya dari belakang, pikiranku berangan-angan ngeres. Sampai dikamar tidur aku masih ragu untuk naik ke ranjang.&lt;br /&gt;"Ayo jadi tidur nggak?" tanya Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Lalu aku naik dan tiduran disampingnya. Aku deg-degan. Kami masih ngobrol sampai jam 10 malam.&lt;br /&gt;"Tidur ya.. Mbak udah ngantuk banget" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Iya Mbak" kataku walaupun sebenarnya aku belum ngantuk karena pikiranku semakin ngeres saja terbayang-bayang pemandangan menggairahkan sore tadi, apalagi kini Mbak Yuni terbaring di sampingku, kurasakan burungku mengeras.&lt;br /&gt;Aku melirik ke arah Mbak Yuni dan kulihat ia telah tertidur lelap. Dadaku semakin berdebar kencang tak tahu apa yang harus aku lakukan. Ingin aku onani karena sudah tidak tahan, ingin juga aku memeluk Mbak Yuni dan menikmati tubuhnya, tapi itu tidak mungkin pikirku. Aku berusaha menghilangkan pikiran kotor itu, tapi tetap tak bisa sampai jam 11 malam. Lalu aku putus kan untuk melihat paha Mbak Yuni sambil aku onani karena bingung dan udah tidak tahan lagi.&lt;br /&gt;Dengan dada berdebar-debar aku buka selimut yang menutupi kakinya, kemudian dengan pelan-pelan aku singkapkan roknya hingga celana dalam hitamnya kelihatan, dan terlihatlah sepasang paha putih mulus didepanku beitu dekat dan jelas. Semula aku hanya ingin melihatnya saja sambil berkhayal dan melakukan onani, tetapi aku penasaran ingin merasakan bagaimana meraba paha seorang perempuan tapi aku takut kalau dia terbangun. Kurasakan burungku melonjak-lonjak seakan ingin melihat apa yang membuatnya terbangun. Karena sudah dikuasai nafsu akhirnya aku nekad, kapan lagi kalau tidak sekarang pikirku.&lt;br /&gt;Dengan hati-hati aku mulai meraba paha Mbak Yuni dari atas lutut lalu keatas, terasa halus sekali dan kulakukan beberapa kali. Karena semakin penasaran aku coba meraba celana dalamnya, tetapi tiba-tiba Mbak Yuni terbangun.&lt;br /&gt;"Aris! Apa yang kamu lakukan!" kata Mbak Yuni dengan terkejut.&lt;br /&gt;Ia lalu menutupi pahanya dengan rok dan selimutnya lalu duduk sambil menampar pipiku. Terasa sakit sekali.&lt;br /&gt;"Kamu kok berani berbuat kurang ajar pada Mbak Yuni. Siapa yang ngajari kamu?" kata Mbak Yuni dengan marah.&lt;br /&gt;Aku hanya bisa diam dan menunduk takut. Burungku yang tadinya begitu perkasa aku rasakan langsung mengecil seakan hilang.&lt;br /&gt;"Tak kusangka kamu bisa melakukan hal itu padaku. Awas nanti kulaporkan kamu ke nenek dan bapakmu" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Ja.. jangan Mbak" kataku ketakutan.&lt;br /&gt;"Mbak Yuni kan juga salah" kataku lagi membela diri.&lt;br /&gt;"Apa maksudmu?" tanya Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Mbak Yuni masih menganggap saya anak kecil, padahal saya kan udah besar Mbak, sudah lebih dari 17 tahun. Tapi Mbak Yuni masih memperlakukan aku seperti waktu aku masih kecil, pakai ngeloni aku segala. Trus tadi sore juga, habis mandi Mbak Yuni hanya memakai handuk saja didepanku. Saya kan lelaki normal Mbak" jelasku.&lt;br /&gt;Kulihat Mbak Yuni hanya diam saja, lalu aku berniat keluar dari kamar.&lt;br /&gt;"Mbak.. permisi, biar saya tidur saja di kamar sebelah" kataku sambil turun dari ranjang dan berjalan keluar.&lt;br /&gt;Mbak Yuni hanya diam saja. Sampai di kamar sebelah aku rebahkan tubuhku dan mengutuki diriku yang berbuat bodoh dan membayangkan apa yang akan terjadi besok. Kurang lebih 15 menit kemudian kudengar pintu kamarku diketuk.&lt;br /&gt;"Ris.. kamu masih bangun? Mbak boleh masuk nggak?" Terdengar suara Mbak Yuni dari luar.&lt;br /&gt;"Ya Mbak, silakan" kataku sambil berpikir mau apa dia.&lt;br /&gt;Mbak Yuni masuk kamarku lalu kami duduk di tepi ranjang. Aku lihat wajahnya sudah tidak marah lagi.&lt;br /&gt;"Ris.. Maafkan Mbak ya telah nampar kamu" katanya.&lt;br /&gt;"Seharusnya saya yang minta maaf telah kurang ajar sama Mbak Yuni" kataku.&lt;br /&gt;"Nggak Ris, kamu nggak salah, setelah Mbak pikir, apa yang kamu katakan tadi benar. Karena lama nggak bertemu, Mbak masih saja menganggap kamu seorang anak kecil seperti dulu aku ngasuh kamu. Mbak tidak menyadari bahwa kamu sekarang sudah besar" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Aku hanya diam dalam hatiku merasa lega Mbak Yuni tidak marah lagi.&lt;br /&gt;"Ris, kamu bener mau sama Mbak?" tanya Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Maksud Mbak?" kataku terkejut sambil memandangi wajahnya yang terlihat bagitu manis.&lt;br /&gt;"Iya.. Mbak kan udah nggak muda lagi, masa' sih kamu masih tertarik sama aku?" katanya lagi.&lt;br /&gt;Aku hanya diam, takut salah ngomong dan membuatnya marah lagi.&lt;br /&gt;"Maksud Mbak.., kalau kamu bener mau sama Mbak, aku rela kok melakukannya dengan kamu" katanya lagi.&lt;br /&gt;Mendengar hal itu aku tambah terkejut, seakan nggak percaya.&lt;br /&gt;"Apa Mbak" kataku terkejut.&lt;br /&gt;"Bukan apa-apa Ris, kamu jangan berpikiran enggak-enggak sama Mbak. Ini hanya untuk meyakinkan Mbak bahwa kamu telah dewasa dan lain kali tidak menganggap kamu anak kecil lagi" kata Mbak Yuni&lt;br /&gt;Lagi-lagi aku hanya diam, seakan nggak percaya. Ingin aku mengatakan iya, tapi takut dan malu. Mau menolak tapi aku pikir kapan lagi kesempatan seperti ini yang selama ini hanya bisa aku bayangkan.&lt;br /&gt;"Gimana Ris? Tapi sekali aja ya.. dan kamu harus janji ini menjadi rahasia kita berdua" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Aku hanya mengangguk kecil tanda bahwa aku mau.&lt;br /&gt;"Kamu pasti belum pernah kan?" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Belum Mbak, tapi pernah lihat di film" kataku.&lt;br /&gt;"Kalau begitu aku nggak perlu ngajari kamu lagi" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Mbak Yuni lalu mencopot bajunya dan terlihatlah buah dadanya yang putih mulus terbungkus BH hitam, aku diam sambil memperhatikan, birahiku mulai naik. Lalu Mbak Yuni mencopot roknya dan paha mulus yang aku gerayangi tadi terlihat. Tangannya diarahkan ke belakang pundak dan BH itupun terlepas, sepasang buah dada berukuran sedang terlihat sangat indah dipadu dengan puting susunya yang mencuat kedepan. Mbak Yuni lalu mencopot CD hitamnya dan kini ia telah telanjang bulat. Penisku terasa tegang karena baru pertama kali ini aku melihat wanita telanjang langsung dihadapanku. Ia naik ke atas ranjang dan merebahkan badannya terlentang. Aku begitu takjub, bayangkan ada seorang wanita telanjang dan pasrah berbaring di ranjang tepat dihadapanku. Aku tertegun dan ragu untuk melakukannya.&lt;br /&gt;"Ayo Ris.. apa yang kamu tunggu, Mbak udak siap kok, jangan takut, nanti Mbak bantu" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera aku melepaskan semua pakaianku karena sebenarnya aku sudah tidak tahan lagi. Kulihat Mbak Yuni memperhatikan burungku yang berdenyut-denyut, aku lalu naik ke atas ranjang. Karena sudah tidak sabar, langsung saja aku memulainya. Langsung saja aku kecup bibirnya, kulumat-lumat bibirnya, terasa ia kurang meladeni bibirku, aku pikir mungkin suaminya tidak pernah melakukannya, tapi tidak aku hiraukan, terus aku lumat bibirnya. Sementara itu kuarahkan tanganku ke dadanya. Kutemukan gundukan bukit, lalu aku elus-elus dan remas buah dadanya sambil sesekali memelintir puting susunya.&lt;br /&gt;"Ooh.. Ris.. apa yang kau lakukan.. ergh.. sshh.." Mbak Yuni mulai mendesah tanda birahinya mulai naik, sesekali kurasakan ia menelan ludahnya yang mulai mengental. Setelah puas dengan bibirnya, kini mulutku kuarahkan ke bawah, aku ingin merasakan bagaimana rasanya mengulum buah dada. Sejenak aku pandangi buah dada yang kini tepat berada di hadapanku, ooh sungguh indahnya, putih mulus tanpa cacat sedikitpun, seperti belum pernah terjamah lelaki. Langsung aku jilati mulai dari bawah lalu ke arah putingnya, sedangkan buah dada kanannya tetap kuremas-remas sehingga tambah kenyal dan mengeras.&lt;br /&gt;"Emmh oh aarghh" Mbak Yuni mendesah hebat ketika aku menggigit puting susunya.&lt;br /&gt;Kulirik wajahnya dan terlihat matanya merem melek dan giginya menggigit bibir bawahnya. Kini jariku kuarahkan ke selangkangannya. Disana kurasakan ada rumput yang tumbuh di sekeliling memeknya. Jari-jariku kuarahkan kedalamnya, terasa lubang itu sudah sangat basah, tanda bahwa ia sudah benar-benar terangsang. Kupermainkan jari-jariku sambil mencari klentitnya. Kugerakkan jari-jariku keluar masuk di dalam lubang yang semakin licin tersebut.&lt;br /&gt;"Aargghh.. eemhh.. Ris kam.. mu ngapainn oohh.." kata Mbak Yuni meracau tak karuan, kakinya menjejak-jejak sprei dan badannya mengeliat-geliat. Tak kupedulikan kata-katanya. Tubuh Mbak Yuni semakin mengelinjang dikuasai nafsu birahi. Kuarasakan tubuh Mbak Yuni menegang dan kulihat wajahnya memerah bercucuran keringat, aku pikir dia sudah mau klimaks. Kupercepat gerakan jariku didalam memeknya.&lt;br /&gt;"Ohh.. arghh.. oohh.." kata Mbak Yuni dengan nafas tersengal-sengal dan tiba-tiba..&lt;br /&gt;"Oohh aahh.." Mbak Yuni mendesah hebat dan pinggulnya terangkat, badannya bergetar hebat beberapa kali. Terasa cairan hangat memenuhi memeknya.&lt;br /&gt;"Ohh.. ohh.. emhh.." Mbak Yuni masih mendesah-desah meresapi kenikmatan yang baru diraihnya.&lt;br /&gt;"Ris apa yang kamu lakukan kok Mbak bisa kayak gini" tanya Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Kenapa emangnya Mbak? Kataku.&lt;br /&gt;"Baru kali ini aku merasakan nikmat seperti ini, luar biasa" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Ia lalu bercerita bahwa selama bersama suaminya ia tidak pernah mendapatkan kepuasan, karena mereka hanya sebentar saja bercumbu dan dalam bercinta suaminya cepat selesai.&lt;br /&gt;"Mbak sekarang giliranku" kubisikkan ditelinganya, Mbak Yuni mengangguk kecil.&lt;br /&gt;Aku mulai mencumbunya lagi. Kulakukan seperti tadi, mulai dari bibirnya yang kulumat, lalu buah dadanya yang aku nikmati, tak lupa jari-jariku kupermainkan di dalam memeknya.&lt;br /&gt;"Aarghh.. emhh.. ooh.." terdengar Mbak Yuni mulai mendesah-desah lagi tanda ia telah terangsang.&lt;br /&gt;Setelah aku rasa cukup, aku ingin segera merasakan bagaimana rasanya menusukkan burungku ke dalam memeknya. Aku mensejajarkan tubuhku diatas tubuhnya dan Mbak Yuni tahu, ia lalu mengangkangkan pahanya dan kuarahkan burungku ke memeknya. Setelah sampai didepannya aku ragu untuk melakukannya.&lt;br /&gt;"Ayo Ris jangan takut, masukin aja" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Perlahan-lahan aku masukkan burungku sambil kunikmati, bless terasa nikmat saat itu. Burungku mudah saja memasuki memeknya karena sudah sangat basah dan licin. Kini mulai kugerakkan pinggulku naik turun perlahan-lahan. Ohh nikmatnya.&lt;br /&gt;"Lebih cepat Ris arghh.. emhh" kata Mbak Yuni terputus-putus dengan mata merem-melek.&lt;br /&gt;Aku percepat gerakanku dan terdengar suara berkecipak dari memeknya.&lt;br /&gt;"Iya.. begitu.. aahh.. ter.. rrus.. arghh.." Mbak Yuni berkata tak karuan.&lt;br /&gt;Keringat kami bercucuran deras sekali. Kulihat wajahnya semakin memerah.&lt;br /&gt;"Ris, Mbak mau.. enak lagi.. oohh.. ahh.. aahh.. ahh.." kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar dan kurasakan memeknya dipenuhi cairan hangat menyiram penisku.&lt;br /&gt;Remasan dinding memeknya begitu kuat, akupun percepat gerakanku dan.. croott.. akupun mencapai klimaks aahh.., kubiarkan air maniku keluar di dalam memeknya. Kurasakan nikmat yang luar biasa, berkali-kali lebih nikmat dibandingkan ketika aku onani. Aku peluk tubuhnya erat-erat sambil mengecup puting susunya menikmati kenikmatan sex yang sesungguhnya yang baru aku rasakan pertama kali dalam hidupku. Setelah cukup kumenikmatinya aku cabut burungku dan merebahkan badanku disampinya.&lt;br /&gt;"Mbak Yuni, terima kasih ya.." kubisikkan lirih ditelinganya sambil kukecup pipinya.&lt;br /&gt;"Mbak juga Ris.. baru kali ini Mbak merasakan kepuasan seperti ini, kamu hebat" kata Mbak Yuni lalu mengecup bibirku.&lt;br /&gt;Kami berdua lalu tidur karena kecapaian.&lt;br /&gt;Kira-kira jam 3 pagi aku terbangun dan merasa haus sekali, aku ingin mencari minum. Ketika aku baru mau turun dari ranjang, Mbak Yuni juga terbangun.&lt;br /&gt;"Kamu mau kemana Ris.." katanya.&lt;br /&gt;"Aku mau cari minum, aku haus. Mbak Yuni mau?" Kataku.&lt;br /&gt;Ia hanya mengangguk kecil. Aku ambil selimut untuk menutupi anuku lalu aku ke dapur dan kuambil sebotol air putih.&lt;br /&gt;"Ini Mbak minumnya" kataku sambil kusodorkan segelas air putih.&lt;br /&gt;Aku duduk di tepi ranjang sambil memandangi Mbak Yuni yang tubuhnya ditutupi selimut meminum air yang kuberikan.&lt;br /&gt;"Ada apa Ris, kok kamu memandangi Mbak" katanya.&lt;br /&gt;"Ah nggak Papa. Mbak cantik" kataku sedikit merayu.&lt;br /&gt;"Ah kamu Ris, bisa aja, Mbak kan udah tua Ris" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Bener kok, Mbak malah makin cantik sekarang" kataku sambil kukecup bibirnya.&lt;br /&gt;"Ris.. boleh nggak Mbak minta sesuatu" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Minta apa Mbak?" tanyaku penasaran.&lt;br /&gt;"Mau nggak kamu kalau.." kata Mbak Yuni terhenti.&lt;br /&gt;"Kalau apa Mbak?" kataku penuh tanda tanya.&lt;br /&gt;"Kalau.. kalau kamu emm.. melakukannya lagi" kata Mbak Yuni dengan malu-malu sambil menunduk, terlihat pipinya memerah.&lt;br /&gt;"Lho.. katanya tadi, sekali aja ya Ris.., tapi sekarang kok?" kataku menggodanya.&lt;br /&gt;"Ah kamu, kan tadi Mbak nggak ngira bakal kayak gini" katanya manja sambil mencubit lenganku.&lt;br /&gt;"Dengan senang hati aku akan melayani Mbak Yuni" kataku.&lt;br /&gt;Sebenarnya aku baru mau mengajaknya lagi, e.. malah dia duluan. Ternyata Mbak Yuni juga ketagihan. Memang benar jika seorang wanita pernah merasa puas, dia sendiri yang akan meminta. Kami mulai bercumbu lagi, kali ini aku ingin menikmati dengan dengan sepuas hatiku. Ingin kunikmati setiap inci tubuhnya, karena kini aku tahu Mbak Yuni juga sangat ingin. Seperti tadi, pertama-tama bibirnya yang kunikmati. Dengan penuh kelembutan aku melumat-lumat bibir Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Aku makin berani, kugunakan lidahku untuk membelah bibirnya, kupermainkan lidahku. Mbak Yuni pun mulai berani, lidahnya juga dipermainkan sehingga lidah kami saling beradu, membuatku semakin betah saja berlama-lama menikmati bibirnya. Tanganku juga seperti tadi, beroperasi di dadanya, kuremas-remas dadanya yang kenyal mulai dari lembah hingga ke puncaknya lalu aku pelintir putingnya sehingga membuatnya menggeliat dan mengelinjang. Dua bukit kembar itupun semakin mengeras. Ia menggigit bibirku ketika kupelintir putingnya.&lt;br /&gt;Aku sudah puas dengan bibirnya, kini mulutku mengulum dan melumat buah dadanya. Dengan sigap lidahku menari-nari diatas bukitnya yang putih mulus itu. Tanganku tetap meremas-remas buah dadanya yang kanan. Kulihat mata Mbak Yuni sangat redup, dan ia memagut-magut bibirnya sendiri, mulutnya mengeluarkan desahan erotis.&lt;br /&gt;"Oohh.. arghh.. en.. ennak Ris.. emhh.." kata Mbak Yuni mendesah-desah.&lt;br /&gt;Tiba-tiba tangannya memegang tanganku yang sedang meremas-remas dadanya dan menyeretnya ke selangkangannya. Aku paham apa yang diinginkannya, rupanya ia ingin aku segera mempermainkan memeknya. Jari-jarikupun segera bergerilya di memeknya. Kugerakkan jariku keluar masuk dan kuelus-elus klentitnya membuatnya semakin menggelinjang tak karuan.&lt;br /&gt;"Ya.. terruss.. aargghh.. emmhh.. enak.. oohh.." mulut Mbak Yuni meracau.&lt;br /&gt;Setiap kali Mbak Yuni terasa mau mencapai klimaks, aku hentikan jariku menusuk memeknya, setelah dia agak tenang, aku permainkan lagi memeknya, kulakukan beberapa kali.&lt;br /&gt;"Emhh Ris.. ayo dong jangan begitu.. kau jahat oohh.." kata Mbak Yuni memohon.&lt;br /&gt;Mendengarnya membuatku merasa kasihan juga, tapi aku tidak akan membuatnya klimaks dengan jariku tetapi dengan mulutku, aku benar-benar ingin mencoba semua yang pernah aku lihat di bokep.&lt;br /&gt;Segera aku arahkan mulutku ke selangkangannya. Kusibakkan rumput-rumpuat hitam yang disekeliling memeknya dan terlihatlah memeknya yang merah dan mengkilap basah, sungguh indah karena baru kali ini melihatnya. Aku agak ragu untuk melakukannya, tetapi rasa penasaranku seperti apa sih rasanya menjilati memek lebih besar. Segera aku jilati lubang itu, lidahku kujulurkan keluar masuk.&lt;br /&gt;"Ris.. apa yang kamu lakukan.. arghh itu kan ji.. jik emhh.." kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Ia terkejut aku menggunakan mulutku untuk menjilati memeknya, tapi aku tidak pedulikan kata-katanya. Ketika lidahku menyentuh kelentitnya, ia mendesah panjang dan tubuhnya menggeliat tak karuan dan tak lama kemudian tubuhnya bergetar beberapa kali, tangannya mencengkeram sprei dan mulutku di penuhi cairan yang keluar dari liang kewanitaannya.&lt;br /&gt;"Ohmm.. emhh.. ennak Ris.. aahh.." kata Mbak Yuni ketika ia klimaks.&lt;br /&gt;Setelah Mbak Yuni selesai menikmati kenikmatan yang diperolehnya, aku kembali mencumbunya lagi karena aku juga ingin mencapai kepuasan.&lt;br /&gt;"Gantian Mbak diatas ya sekarang" kataku.&lt;br /&gt;"Gimana Ris aku nggak ngerti" kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;Daripada aku menjelaskan, langsung aku praktekkan. Aku tidur telentang dan Mbak Yuni aku suruh melangkah diatas burungku, tampaknya ia mulai mengerti. Tangannya memegang burungku yang tegang hebat lalu perlahan-lahan pinggangnya diturunkan dan memeknya diarahkan ke burungku dan dalam sekejap bless burungku hilang ditelan memeknya. Mbak Yuni lalu mulai melakukan gerakan naik turun, ia angkat pinggangnya dan ketika sampai di kepala penisku ia turunkan lagi. Mula-mula ia pelan-pelan tapi ia kini mulai mempercepat gerakannya.&lt;br /&gt;Kulihat wajahnya penuh dengan keringat, matanya sayu sambil merem melek dan sesekali ia melihat kearahku. Mulutnya mendesis-desih. Sungguh sangat sexy wajah wanita yang sedang dikuasai nafsu birahi dan sedang berusaha untuk mencapai puncak kenikmatan. Wajah Mbak Yuni terlihat sangat cantik seperti itu apalagi ditambah rambut sebahunya yang terlihat acak-acakan terombang ambing gerakan kepalanya. Buah dadanya pun terguncang-guncang, lalu tanganku meremas-remasnya. Desahannya tambah keras ketika jari-jariku memelintir puting susunya.&lt;br /&gt;"Oh emhh yaah.. ohh.." itulah kata-kata yang keluar dari mulut Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Aku nggak kuat lagi Ris.." kata Mbak Yuni sambil berhenti menggerakkan badannya, aku tahu ia segera mencapai klimaks.&lt;br /&gt;Kurebahkan badannya dan aku segera memompa memeknya dan tak lama kemudian Mbak Yuni mencapai klimaks. Kuhentikan gerakanku untuk membiarkan Mbak Yuni menikmati kenikmatan yang diperolehnya. Setelah itu aku cabut penisku dan kusuruh Mbak Yuni menungging lalu kumasukkan burungku dari belakang. Mbak Yuni terlihat hanya pasrah saja terhadap apa yang aku lakukan kepadanya. Ia hanya bisa mendesah kenikmatan.&lt;br /&gt;Setelah puas dengan posisi ini, aku suruh Mbak Yuni rebahan lagi dan aku masukkan lagi burungku dan memompa memeknya lagi karena aku sudah ingin sekali mengakhirinya. Beberapa saat kemudian Mbak Yuni ingin klimaks lagi, wajahnya memerah, tubuhnya menggelinjang kesana kemari.&lt;br /&gt;"Ahh.. oh.. Mbak mau enak lagi Ris.. arrghh ahh.." kata Mbak Yuni.&lt;br /&gt;"Tunggu Mbak, ki kita bareng aku juga hampir" kataku.&lt;br /&gt;"Mbak udah nggak tahan Ris.. ahh.." kata Mbak Yuni sambil mendesah panjang, tubuhnya bergetar hebat, pinggulnya terangkat naik. Cairan hangat menyiram burungku dan kurasakan dinding memeknya seakan-akan menyedot penisku begitu kuat dan akhirnya akupun tidak kuat dan croott.. akupun mencapai klimaks, oh my god nikmatnya luar biasa. Lalu kami saling berpelukan erat menikmati kenikmatan yang baru saja kami raih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-5371563446737177739?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/5371563446737177739/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=5371563446737177739' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/5371563446737177739'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/5371563446737177739'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/hadiah-dari-mbak-yuni.html' title='Hadiah Dari Mbak Yuni'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-484065424224266828</id><published>2008-12-17T07:15:00.000-08:00</published><updated>2008-12-17T07:17:30.619-08:00</updated><title type='text'>Muridku dan Mamanya yang Kesepian</title><content type='html'>PLAAAKKK!!!! tamparan telak ke pipiku. Aku kaget bukan main tapi tangan itu kembali menjambak dan mendorong kepalaku supaya terus mengoralnya…&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat dibuatnya… tanda2 kalau dia juga mau sama mau mulai diperlihatkan. aku semakin intens memberikan variasi oral di klitorisnya. tanganku sesekali berputar2 mengorek bagian luar liang vaginanya. Rupanya Cynthia yang selama ini kukira cerdas dan baik2 memiliki bakat terpendam.. bad girls wanna be..&lt;br /&gt;Cynthia makin belingsatan, pinggulnya berayun2 dan nafasnya memburu…&lt;br /&gt;“ko.. An..dre, mmpfh… te..rus..in.. aaahk.. enak… kkoooh….” rintihnya terbata2 sambil menggigit bibir bawahnya..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku Andre, saat ini umur 23 tahun dan baru lulus kuliah. Sekilas tentang diriku,tampangku 6,5; body 7,5; kejantanan 18 cm (kalo dinilai 9, nanti disangka 9cm hehehe) badanku lumayan kekar karena darri SMP aku kadang2 ke gym. aku tidak termasuk golongan orang pintar secara keseluruhan, tapi aku punya kelebihan dibidang ilmu alam.&lt;br /&gt;Jadi cerita ini adalah tentang aku saat masih kuliah sambil memberi les pada anak2 SMP dan SMA dibidang IPA. Dari 9 orang muridku, 4 diantaranya duduk di bangku SMA kelas dua IPA. les yang aku berikan les privat dan aku yang dateng ke rumah muridku.&lt;br /&gt;Cynthia salah satu muridku yang paling cerdas, orangnya periang dan ramah. Mungkin sebenarnya dia tidak butuh les denganku, tapi karena dia anak tunggal dan sering ditinggal maka orangtuanya menaruh harapan besar terhadapnya. Ayahnya cuma punya waktu 1 minggu dalam satu bulan untuk tinggal dirumah, ibunya masih muda (37 tahun) dan suka jalan2 dengan teman2nya sampai lupa anak gadisnya juga butuh kasih sayang.&lt;br /&gt;Cynthia memiliki paras yang cantik dengan rambut se-tali bra, mirip sekali dengan Luna Maya. selain itu tubuhnya yang ramping dengan lekuk betis indah dan paha jenjang yang putih muluscukup membuat aku sering deg2an. Apalagi ukuran dadanya yang 32C itu, tubuhnya menjadi begitu sempurna.&lt;br /&gt;Aku mulai mengajar Cynthia sejak ia masuk SMA, jadi saat kejadian mengasikan ini terjadi aku sudah kenal dengan dia dan keluarganya kurang lebih 2 tahun (sudah hampir naik kelas 3).&lt;br /&gt;*****&lt;br /&gt;Hujan lebat mengguyur kota Jakarta pada Maret 2007, aku juga basah kuyup saat harus datang dengan sepeda motorku kerumah cynthia. “what a bad f**king day..” aku berbisik sambil menengadah kelangit.&lt;br /&gt;Hujan yang luar biasa lebat disore hari, pasti aku gak bisa pulang lagi sampe malem karena hujan. Tugas2ku juga sudah numpuk apalagi dua bulan kedepan aku harus sidang KP dan Skripsi.&lt;br /&gt;Pagar dibukakan si mbok, aku langsung mendorong motorku ke carport rumahnya dan mmelepas jas hujanku.&lt;br /&gt;“Ko, si non lagi keluar.. katanya sih sebentar aja” kata si mbok menjelaskan.&lt;br /&gt;“Oh, gak apa mbok saya tunggu saja” jawabku sambil menggantung jas hujan di motor.&lt;br /&gt;“Ya sudah silakan masuk, mbok buatkan teh hangat.” ujar si mbok sambil ngeloyor masuk lewat garasi.&lt;br /&gt;Aku masuk ke ruang tamu tapi aku gak berani duduk karena celanaku basah, aku takut mengotori sofa mahal dari bahan suede nya itu. Aku hanya berdiri sambil memandangi lukisan dan foto2 yang terpajang di tembok ruang tamu&lt;br /&gt;“lho kog ndak duduk,ko?” si mbok nyeletuk sambil meletakkan teh hangat.&lt;br /&gt;“iya nih mbok, abis basah sih!” jawabku jujur.&lt;br /&gt;“Ntar yah, tak ambilin anduk dan baju bekas bapak!”, singkat kata aku pun disuruh mandi air hangat supaya gak sakit, lagian si Cynthia blom pulang.&lt;br /&gt;Saat aku selesai mandi, cynthia sudah ada dikamarnya diatas. Aku pun berterima kasih sama si mbok dan langsung ke lantai dua. Aku ketuk pintu kamarnya lalu aku menuju ruang belajar yang persis diseberang kamarnya.&lt;br /&gt;Aku tunggu cynthia setengah jam tapi kog gak muncul2 juga, maka ku beranikan diri untuk membuka pintu kamarnya setelah kuketuk dan tidak dijawab lagi.&lt;br /&gt;Ternyata Cynthia sedang mandi, aku mendengar gemericik air dari kamar mandinya, dan aku melihat pakaian dalamnya berserakan dilantai.&lt;br /&gt;Seketika itu aku merasa terbakar urat hornyku.. Seperti suatu keinginan besar yang sudah lama dipendam dan saat ini saat paling tepat untuk dilepaskan..&lt;br /&gt;Aku berusaha mengontrol berahiku tapi memang nasib.. Cynthia keburu keluar kamar mandi dengan telanjang bulat, mempertontonkan lekuk tubuhnya yang paling pribadi dihadapanku.&lt;br /&gt;“KyaAaaaA…” teriaknya Cynthia spontan karena kaget.&lt;br /&gt;“Oooops…” hanya itu kata2ku dan cepat beringsut kearah pintu keluar.&lt;br /&gt;“Koko ngapain dikamar aku??” tanya Cynthia dengan suara yang tiba2 sudah terkendali.&lt;br /&gt;“Sori, aku gak sengaja!” jawabku sambil membelakanginya&lt;br /&gt;“Bohong…! Mo ngintip yah!!” serangnya sedikit ketus sekarang. aku sempat melirik lagi kearahnya, sekarang handuknya yg sebelumnya melingkar di kepala telah menutupi buah dadanya yang ranum itu.&lt;br /&gt;“Aku keluar dulu deh, kamu pake aja baju trus ntar aku baru jelasin. sori bgt!” cerocosku cepat sambil menarik handle pintu, tapi tiba2 aku berubah pikiran.&lt;br /&gt;Hujan lebat dan berisik sekali diluar sana, buktinya si mbok aja gak bisa denger jeritan Cynthia tadi, apa salahnya kalau aku coba berbuat nakal.. toh aku sudah hampir selesai kuliah dan mungkin akan pindah kota.&lt;br /&gt;Aku berbalik, kali ini dengan cepat aku sergap Cynthia. aaah.. aku bener2 sudah seperti binatang buas.&lt;br /&gt;Belum sempat meronta, aku langsung membekap tubuh Cynthia dari depan dan mengunci mulutnya dengan mulutku supaya dia tidak menjerit. Aku bawa dia ke ranjang dan masih terus ku kulum bibirnya yang sexy..&lt;br /&gt;Sejurus kemudian aku tarik handuknya, satu2nya penutup tubuh yang menempel dibadannya. Benar2 indah payudaranya, mengkel dan putih bersih lengkap dengan putingnya yang masih merah muda.&lt;br /&gt;Aku lahap kedua gunung kembar itu satu per satu. Supaya jeritannya tidak terdengar, aku tutup mulutnya dengan tangan kananku, sementara tangan kiriku menahan rontaannya dan mulutku menjelajah payudaranya yang indah itu.&lt;br /&gt;Aku terus mempermainkan puting susunya dan mulai berani melepas tangan kiriku di vaginanya yang mulai becek. Perlawanan Cynthia tidak terlalu berarti buatku.. Ia terus meronta-ronta tapi akhirnya kehabisan tenaga.&lt;br /&gt;“oouh…” lenguh Cynthia saat aku sentuh klitorisnya, matanya merem melek keenakan. Sirna sudah rontaan demi rontaan yang dari tadi dilakukan Cynthia, berganti goyangan pinggul malu2 dari seorang perawan.&lt;br /&gt;Aku mulai merasa Cynthia menyukai permainanku maka ku lepas tanganku dari mulutnya dan mulai meremasi payudaranya yang indah dengan kedua tanganku. Mulutku terus bergulir kebawah sambil menyapu tubuhnya dengan jilatan sampai akhirnya aku berhadapan dengan miss cheerful-nya. Aku intip sedikit, Cynthia pura2 tak melihatku, ia palingkan wajah ke samping tapi terlihat jelas ia sedang menanti2kan apa yang ingin segera kulakukan.&lt;br /&gt;Kusapu bibir vaginanya.. pantat Cynthia terangkat sedikit. Kusapu sekali lagi belahan vaginanya.. tubuh Cynthia menggelinjang kegelian.. lalu kulahap klitorisnya, kusedot2 dan kupilin2 dengan lidahku.. Cynthia langsung menjambak dan mengusap2 rambutku.. Kali ini dia sudah tak tahan utk bertindak pasif… Pinggulnya digoyang2 mengikuti irama bibirku melahap klitorisnya yang kini sudah basah.&lt;br /&gt;“ouuch…. sssh…..” rintihnya&lt;br /&gt;“mmmhh…. enak ya sayang? mmmh….”ujarku menyela&lt;br /&gt;PLAAAKKK!!!! tamparan telak ke pipiku. Aku kaget bukan main tapi tangan itu kembali menjambak dan mendorong kepalaku supaya terus mengoralnya…&lt;br /&gt;Aku semakin bersemangat dibuatnya… tanda2 kalau dia juga mau sama mau mulai diperlihatkan. aku semakin intens memberikan variasi oral di klitorisnya. tanganku sesekali berputar2 mengorek bagian luar liang vaginanya. Rupanya Cynthia yang selama ini kukira cerdas dan baik2 memiliki bakat terpendam.. bad girls wanna be..&lt;br /&gt;Cynthia makin belingsatan, pinggulnya berayun2 dan nafasnya memburu…&lt;br /&gt;“ko.. An..dre, mmpfh… te..rus..in.. aaahk.. enak… kkoooh….” rintihnya terbata2 sambil menggigit bibir bawahnya..&lt;br /&gt;“mmmph.. mmpphhhh…. mmpphhfff… aaakhhh… yes right there……!!”lenguhnya panjang sambil memeras payudaranya. rupanya Cynthia orgasme.. vaginanya menyemburkan cairan yang langsung kusapu dengan lidahku.&lt;br /&gt;Aku mengambil posisi disebelah Cynthia yang terpejam lemas sambil bertelajang. aku buka bajuku dan memeluknya dari samping-belakang. Kubelai rambutnya hingga ke buah dadanya.. kupeluk erat dan ku ciumi lehernya.&lt;br /&gt;“mmh.. wangi kamu enak Cyn.. wangi khas wanita..” bisikku ke telinganya..&lt;br /&gt;“ko.. kenapa ko andre tega sih…?” lirih bibir manis itu berucap&lt;br /&gt;“tega apa Cyn..? emang kamu gak suka ya?” aku bertanya balik&lt;br /&gt;“suka..” jawabnya lirih. sekarang Cynthia berbalik menatapku, “ko, tadi pas terakhir enak bgt!! itu orgasme yah?” lanjutnya&lt;br /&gt;“iya, itu orgasme sayang.. kamu suka?”&lt;br /&gt;“Suka bangeet… enak bgt… nanti aku mau lagi!” jawabnya.&lt;br /&gt;Huff.. tadinya aku berniat memperkosa dengan menanggung segala akibat, ternyata gadis manis ini malah minta lagi. “Sayang, kamu udah pernah pegang ****** cowok blom?” tanyaku.&lt;br /&gt;“Pernah, punya mantanku!” jawabnya cepat sambil mengelus kontolku dari luar celana.&lt;br /&gt;“Kalo gitu kali ini kamu kocokin aku ya..!” pintaku sedikit memelas manja.&lt;br /&gt;Cynthia langsung membuka celanaku, ditangkapnya batang kontolku yang sudah keras dan dia mulai turun kebawah memberikan servis oral.&lt;br /&gt;“mmh… enak bgt sayang. kamu jago oral tapi kog gak tau orgasme?” tanyaku setengah curiga.&lt;br /&gt;“hiha, hahu hulu hering horal hacarhu.. (iya, aku dulu sering oral pacarku)” jawabnya.&lt;br /&gt;“tapi itu dimobil, jadi dia gak pernah sentuh punyaku” lanjutnya lagi sambil terus mengocok batang kontolku dengan tangan.&lt;br /&gt;“Kontol ko Andre gede yah.. enak!” sambungnya lagi.&lt;br /&gt;“Kalo enak, diisepin lagi aja Cyn…” kataku lagi.&lt;br /&gt;Tiba2 pintu kamar Cynthia menjeblak terbuka. “Haaallooo manis..” suara itu terputus saat melihat aksi kami berdua. Ternyata itu mamanya Cynthia yang pulang shopping kena macet karena hampir banjir. tante Reni. Masih muda, lebih cantik dari Cynthia, badan terjaga dan lebih sintal. Dia cantik sekali dengan rambut bergelombangnya yang dicat sedikit pirang. Susah juga menjelaskan parasnya, karena gak terlalu mirip artis, tp yang pasti dia cantik.&lt;br /&gt;“Kalian apa2an..?” bentaknya..&lt;br /&gt;Kamipun baru sadar dan cepat2 berberes. berharap seolah2 mamanya Cynthia tidak melihat apa yang baru kami lakukan. Sebelum marah lebih jauh Cynthia memotong pembicaraan ibunya&lt;br /&gt;“Kenapa ma?? Apa Cuma mama yang boleh begini sama pak Asep??”&lt;br /&gt;Bukan main, ternyata tante cantik ini sering kesepian ditinggal suaminya dan sering minta jatah dari sang Supir.&lt;br /&gt;“Kamu… kamu…. kamu tau dari mana?” tanya mamanya kaget.&lt;br /&gt;“aku tau dari dulu ma! Tiap pergi arisan mama selalu begini kan di mobil?” Cynthia sengit.&lt;br /&gt;“ah udah deh, daripada saling ngadu ke Papa mendingan mama ikut aja sama ade.” Lanjutnya lagi.&lt;br /&gt;Kemudian si tante yang malu ngeloyor pergi keluar kamar. Aku yang kaget, takut dan bingung cuma bisa bengong dan menyesal kenapa pintu gak dikunci sampai tiba2 batangku digigit2 kecil oleh Cynthia.&lt;br /&gt;“mmmmffh… enak Cyn.. terus Sayang..” pintaku. Cynthia makin bernafsu mengulumi batang zakar dan biji peler ku. kepalanya berayun-ayun memberikan aku kenikmatan.&lt;br /&gt;Tak berapa lama pintu kamar terbuka lagi. Tante Reni masuk ke kamar setelah berpakaian lebih santai.&lt;br /&gt;“Andre, ternyata kamu liar juga yah…” katanya. “tante bayar kamu untuk beri les pelajaran, bukan yg seperti ini!” sambungnya lagi sambil duduk ditepi ranjang.&lt;br /&gt;Aku sendiri mulai ngerasa gak enak karena sebenarnya aku menaruh hormat pada setiap orang tua murid lesku.. Tapia pa boleh buat, anaknya yang binal masih saja mengulumi batang dan buah zakarku. Aku tidak dapat menjawab sepatah kata pun. Tapi tante reni langsung berinisiatif untuk mencium bibirku. Tante reni juga sudah bernafsu. Akupun langsung membalas ciumannya, ku sentuh pipinya lalu kurangkul tengkuknya supaya ciuman kami lebih hot!&lt;br /&gt;“tante, mau ikutan?” tanyaku sok asik.&lt;br /&gt;“iya dong, sekali2 tante pengen coba daun muda!” jawabnya nakal.&lt;br /&gt;“Cynthia, kamu sejak kapan kayak gini? kamu udah gak Virgin?” tanya tante Reni ke putri satu2nya itu.&lt;br /&gt;“Masih kog ma, kalo sama ko Andre sih baru kali ini..” jawabnya sambil melepas kulumannya dan mengocok kontolku dengan tangannya.&lt;br /&gt;“Dre, oralin tante sih.. pengen coba kemampuan kamu!” tanpa basa basi tante Reni langsung ngangkang diatas aku yang terduduk sambil menikmati oralan anaknya.&lt;br /&gt;Aku langsung melahap vagina tante Reni, kalo yang satu ini aku berani colok2 dengan jariku, karena toh memang sudah gak perawan.&lt;br /&gt;“ooh ndre, e….nak! terusin sayaaaang..” kata tante reni.&lt;br /&gt;Tiba2 aku mulai merasakan kontolku berkedut2 dan siap menyemburkan cairan sperma. Ku goyangan pinggulku maju mundur seperti sedang bersenggama tapi dengan bibir Cynthia.&lt;br /&gt;“Cyn.. terus.. yang.. aku.. udah … “. CROOTTTT spermaku memenuhi mulut Cynthia, yang langsung ditelan habis dan dijilati hingga bersih.&lt;br /&gt;Tapi tak tahu kenapa, aku tidak langsung lunglai.. Mungkin karena ada dua wanita cantik seperti model yang sedang bertelanjang dan mencari kenikmatan dari tubuhku.&lt;br /&gt;Batang zakarku masih keras, tapi cynthia berlari ke toilet. mungkin dia ingin berkumur pikirku. Tinggal aku berdua tante Reni.&lt;br /&gt;Kemudian tante Reni melepaskan vaginanya dari mulutku, ia turun kebawah mengambil posisi duduk di pangkal pahaku. Tangannya menggapai kontolku yang masih keras lalu mulai dikocok2 sedikit.&lt;br /&gt;“Andre, mau di oral lagi atau ngerasain memek tante?” tanyanya centil sambil merunduk dan menjilati dengan nakal pangkal kontolku.&lt;br /&gt;“mmmmfh…. terserah tante…”jawabku. si tante memberi servis oral, kontolku ditelan semuanya tapi aku bisa merasa lidahnya didalam sana berputar2 menyapu kepala kontolku, sedotan2 yang dibarengi gigitan kecil membuat aku merem melek&lt;br /&gt;setengah mati menahan nikmat. “ssssh….. aahh….. tan.. jago banget…” kataku. “entotin Andre, tante…” pintaku lagi sambil meresapi nikmatnya kenyotan tante Reni.&lt;br /&gt;“Emangnya oral-an tante gak senikmat Cynthia ya?” tanya tante Reni sambil kembali menduduki pangkal pahaku.&lt;br /&gt;“Justru enak banget.. aku takut gak tahan tan.. aku kan masih pengen ngerasain bercinta sama yang ahli..” sambungku.&lt;br /&gt;Bless.. kontolku tiba2 terasa hangat.. rupanya tante Reni gak mau nunggu lama untuk menjajal kontolku.&lt;br /&gt;“mmfh.. ****** kamu gede yah ndre”&lt;br /&gt;“suamiku punya sepanjang ini juga, tapi gak selebar kamu punya sayang..” sambung tante lagi.&lt;br /&gt;Sekarang posisi kami women on top, tapi tante Reni merebahkan badannya keatas badanku, sehingga dia bisa leluasa mencupangku atau mengulumi bibirku.&lt;br /&gt;Gerakan maju mundurnya pelan dan erotis, saat dia maju aku merasa seperti kontolku disedot2 (baru aku tau sekarang, itu namanya kempot ayam), lalu saat bergerak mundur pantatnya sengaja dicondongkan keatas supaya penisku seperti terjepit&lt;br /&gt;“sssh… oh yessh… nice baby..” aku tak kuasa menahan desahan.. nikmatnya benar2 seperti disurga-dunia. Leherku sudah merah2 dicupang, bibirku sampai kebas dikulumi, dan kontolku rasanya sedang mengalami kejadian maha dahsyat.&lt;br /&gt;Aku langsung mengubah sedikit posisiku. Kedua kakiku kutekuk sedikit sebagai kuda2. kuremas pantat berisi tante Reni lalu kuangkat sedikit. Kini ada rongga antara pangkal paha tante Reni dan aku. Aku mulai menghujamkan kontolku dengan irama karena sekarang aku yang memegang kendali.&lt;br /&gt;“ooooh.. mmmfh.. trus ndre!” Tante Reni meracau saat aku menghujamkan keras2 batang kemaluanku sampai amblas semuanya. tiga menit berselang aku mulai bosan, aku ajak tante mengubah posisinya lagi. Aku mau doggy Style, lalu si tante pun menuruti dengan berlutut membelakangi aku.&lt;br /&gt;Pahanya sedikit dirapatkan supaya sesuai dengan ketinggian aku yang berdiri dilantai. Lalu kurangkul pinggulnya dan kuarahkan kontolku.. aku terkesima melihat keindahan lekuk tubuhnya tante Reni yang begitu indah, kulitnya juga putih bersih dan mulus&lt;br /&gt;vaginanya juga terawat dan berwarna merah muda.. kubenamkan sedikit2 kontolku lalu ku pompa dengan penuh perasaan sesekali kuhujamkan keras2 secara tiba2.&lt;br /&gt;“aakh.. gila kamu ndre. enak bgt!! ssshh…” kepalanya kini dibenamkan diranjang. badannya miring hanya pantatny saja yang nungging.&lt;br /&gt;Cynthia sudah kembali dari toilet, mukanya kemerahan, dia berjalan kearah kami yang sedang ber-doggy-style. Cynthia hanya memandangi mamanya yang sedang melenguh dan merem melek menerima hujaman kontolku.&lt;br /&gt;Tante Reni memang sudah jago bercinta, disaat giliran aku yang memberi servis, pinggulnya ikut diliuk2kan membuat rasa kempotan memeknya makin memijat2 batang kontolku.&lt;br /&gt;Cynthia terlihat mulai panas dengan adegan kami, ia mendekati aku dan mulai menciumi bibirku.. disodorkannya juga buah dada kencangnya ke arah mulutku.&lt;br /&gt;Edan, aku dikerjai (atau mengerjai) ibu dan anak sekaligus.&lt;br /&gt;“Ma, kapan giliranku?” tanya Cyntia kepada ibunya yang sudah bermandi peluh dan terpejam2 merem melek.&lt;br /&gt;“iyah.. sab..har.. mama.. dikit lagi.. Terusin Ndre!” jawab tante Reni. Sekarang dia bangun dan bertumpu pada satu tangannya, tangan yang lain memainkan klit-nya.&lt;br /&gt;selang beberapa waktu tubuh tante Reni mulai bergetar. Sudah hampir orgasme tampaknya, makanya ku percepat aksiku. kutambahkan tempo dan hentakan2 pada liang vaginanya.&lt;br /&gt;“mmmfh.. yes… yes… akhhh… teruuusss… terusss… mmffh… enak sayang…”&lt;br /&gt;“terusss.. dikit lagi ndre!”&lt;br /&gt;“yes.. yes.. aaaaahh…. ssshh…….”&lt;br /&gt;Ceracau tante Reni menandakan dia sudah orgasme, badannya meliuk2 dan mukanya dibenamkan lagi di ranjang.. pelan2 ia keluarkan penisku yang masih keras dari vaginanya sambil menahan getaran tubuhnya.&lt;br /&gt;“makasih ya sayang, enak banget!!” ujarnya lalu tertelungkup dan tertidur.&lt;br /&gt;Cynthia yang dari tadi sudah berdiri ngangkang sambil mengelus2 memek beceknya pun siap menerima giliran. Hari ini badanku fit sekali, setelah orgasme yang pertama tadi kontolku masih tegang berdiri dan tahan lama.&lt;br /&gt;Lalu kurebahkan tubuh Cynthia disebelah mamanya.. aku minta dia telentang dan aku mengambil posisi missionary. Dalam pikiranku, memerawani gadis harus sambil menatap matanya.. aku mulai dengan pelan2 menggesekan kontolku dibibir vaginanya&lt;br /&gt;sensasi gesekan itu cukup membuat tubuh Cynthia menggelinjang..&lt;br /&gt;“udah siap Cyn?” tanyaku&lt;br /&gt;“iya, ko.. masukin aja.. tapi pelan2 yah”pintanya memelas&lt;br /&gt;Aku mulai mengarahkan kontolku dan memasukkan pelan2 kepala kontolku. Seret banget.. beda dengan mamanya. Kugoyang2kan pinggulku supaya cairan pelumasnya membasahi sempurna kontolku lalu ku masukan centi demi centi.&lt;br /&gt;darah mengalir dari keperawanannya, tapi mata Cythia tidak terpejam. Dia menatapku penuh arti, walaupun terbesit dimatanya rasa sakit perawan.&lt;br /&gt;Bless.. penisku masuk dengan mulus.. sengaja aku masukkan sampai pol lalu kudiamkan sejenak. Aku merebahkan tubuh dan menciumi bibirnya sampai ke pangkal leher.&lt;br /&gt;“tahan ya sayang.. nanti kerasa kog enaknya” bisikku manis di telinganya..&lt;br /&gt;tanganku menggerayangi buah dada sintalnya memilin2 puting susunya supaya lebih deras pelumasnya melelehi batang ****** yang sudah masuk sepenuhnya.&lt;br /&gt;Kaki Cynthia menjepit pinggulku, lalu ia mulai menggoyangkan pinggulnya kekiri dan kanan pelan2..&lt;br /&gt;“ko, entotin aku…” pintanya memelas. Akupun mulai mengambil posisi, gerakan maju mundur diatas tubuh manis gadis yang baru saja 17 tahun ini kubuat sepelan mungkin supaya tidak menyakitinya.&lt;br /&gt;“aaakh… sssh..” memeknya lebih menjepit daripada kempotan mamanya.&lt;br /&gt;“Cyn, enak banget memek kamu..” Hujan deras diluar sana menambah nikmatnya percintaan kami. Cynthia mulai menemukan irama bercinta. Memeknya sudah terbiasa dengan kontolku..&lt;br /&gt;Gerakan demi gerakan, Cynthia semakin binal.. tanganku dituntun nya untuk meremasi buahdadanya..&lt;br /&gt;“ko, aku pengen coba diatas” ucap Cynthia. Aku turuti saja, aku merebahkan diriku ke posisi Cynthia di samping tante Reni.&lt;br /&gt;Sekarang Cynthia yang asik sendiri mencari2 kenikmatan diatas batang kontolku. goyangannya semakin panas dan erotis. sementara itu aku mulai menjilati tanganku, kemudian mengobok2 memek tante Reni dari belakang.&lt;br /&gt;Dalam tidurnya tante Reni melenguh-lenguh.. kupermainkan klitorisnya, lalu kumasukan 3 jari ke memek tante Reni.. mungkin ia terlalu lelah sehingga hanya menerima saja perlakuanku.&lt;br /&gt;Rupanya Cynthia merasa kurang senang saat aku bercinta dengannya, tapi aku malah ngerjain mamanya. Cynthia pun meminta aku yang melayaninya. Sekarang posisi kami doggy style..&lt;br /&gt;Posisi favoritku, dimana sudah berkali2 aku membuat wanita melunglai karena menerima orgasme yang kuberikan (termasuk beberapa mantan pacarku).&lt;br /&gt;Lima menit berselang Cynthia yang masih baru pertama kali bercinta memang bukan lawan sebandingku.. Cynthia mulai meliuk2.. memeknya yang sempit makin kuat memijat2 batang penisku.&lt;br /&gt;“ko.. aku mau… orgas…me…. aaakhh…. sssh….”rintihnya..&lt;br /&gt;“Iya nikmatian aja sayang” jawabku.&lt;br /&gt;“oooh… yes… e…nak… mmfh… ssshh…” cynthia bergetar hebat karena orgasmenya tapi aku tetap menggenjotnya supaya dia menikmati orgasme panjangnya..&lt;br /&gt;DUa wanita tumbang bersebelahan, Cynthia dua kali, mamanya baru sekali, aku juga baru sekali. Kontolku masih berdiri keras, tapi sedikit lagi aku juga hampir orgasme.&lt;br /&gt;Aku tarik tubuh tante Reni kebibir ranjang, posisinya tidur miring.. lalu kubasahi memeknya dan kontolku dengan ludah dan kuhujamkan kedalam memek tante Reni.&lt;br /&gt;kocokanku benar2 egois, aku hanya ingin mencapai orgasmeku yang kedua. Permainanku yang kasar membangunkan tante Reni..&lt;br /&gt;“sssh… Dre, sa..kit…” rintihnya&lt;br /&gt;“tahan tante, Andre lagi enak nih..” jawabku.&lt;br /&gt;Genjotanku semakin kuat dan dalam-dalam. Si tante yang lunglai daritadi mulai terpancing berahinya. Tante Reni membalikan badannya, kedua kakinya diangkat dan ditumpangkan ke sebelah pundakku.&lt;br /&gt;Aku peluk kedua paha jenjang tante Reni sambil terus ngentotin memeknya..&lt;br /&gt;“mmmfhh… ssssh… terus sayang…” rintih tante Reni&lt;br /&gt;“tante udah mau keluar lagi?” tanyaku&lt;br /&gt;“iya sayang.. kamu masih lama?” tanyanya&lt;br /&gt;“udah hampir nih, kita bareng2 yah..” pintaku tersengal-sengal..&lt;br /&gt;“oouch.. sssh.. yes honey.. Fasteer.. YESSShhh… Faasteeerrrr…”jerit tante Reni..&lt;br /&gt;“I’m gonna Blow Honey…” jawabku&lt;br /&gt;“Me too baby…” tante reni menjawab cepat. Kedua tangannya memegangi buah dadanya yang bergoyang2 cepat.&lt;br /&gt;“Keluarin di dalem aja”sambungnya lagi&lt;br /&gt;Kocokanku makin cepat, memek tante makin keras memijit batang kontolku, aku sudah sampai puncaknya..&lt;br /&gt;Croott…. zzzrt… Crottth.. Crottth…&lt;br /&gt;Sperma hangatku menyembur kedalam memek tante Reni seiring sodokan kontolku. Kontolku terus kukocok, kamipun mengalami orgasme panjang.&lt;br /&gt;Penisku menyembur sekali lagi dibalas lelehan cairan orgasme tante Reni.&lt;br /&gt;“aaaaakhhh…. enak banget entotan sama tante” ujarku&lt;br /&gt;“kamu inget ya Andre, mulai sekarang berhentiin semua murid kamu” jawab tante Reni&lt;br /&gt;“biar tante yang bayar semua biayanya, tapi kamu harus selalu ada saat tante telpon” sambungnya lagi&lt;br /&gt;Aku sudah terjerembab diantara 2 wanita itu, aku mau beristirahat.. aku sudah tidak menjawab kata2 tante Reni lagi dan tertidur.&lt;br /&gt;Jam 7.30 Malam aku terbangun, Cynthia yang memanggilku dan mengajak ke ruang makan. Tante Reni sudah masak makanan spesial, Sapi masak Jamur (katanya bisa bikin “kuat”), Tiram mentah (ini juga bikin “kuat”), dan beberapa sayur lain.&lt;br /&gt;makanan pencuci mulutnya sarang walet (ini bisa nambah banyak spermanya yang artinya jadi lebih “kuat” juga).&lt;br /&gt;“Andre, diluar masih hujan. Di TV banyak daerah macet karena banjir” tante Reni membuka pembicaraan&lt;br /&gt;“Ko Andre malem ini nginep aja yaa!” lanjut Cynthia dengan suara manja&lt;br /&gt;“iya ndre, kamu disini aja..” tante Reni menambahkan&lt;br /&gt;“lagian masih banyak pelajaran yang mau aku tanya ke koko..” kata Cynthia dengan mata genit, tangannya menggerepe kontolku dari bawah meja makan.&lt;br /&gt;“tapi.. aku juga banyak tugas” jawabku&lt;br /&gt;“jangan alasan Dre, kamu kan gak perlu buru2 lulus” rayu tante Reni.&lt;br /&gt;“yah, okelah.. ada kalian berdua aku pasti seneng” jawabku tersenyum&lt;br /&gt;Malam itu pukul 11 saat pembantu2 terlelap, aku dan Cynthia menuju kamar tante Reni. Di Jacuzzi kamar mandinya kami bercinta gila2an lagi, kami juga sempat pindah ke kolam renang di taman belakangnya, tapi karena takut terlihat pembantu kami putuskan untuk pindah lagi ke ruang keluarga di dalam. Kami tidur jam 5 pagi. Aku dicekoki Viagra saat sudah lemas karena orgasme beberapa kali.&lt;br /&gt;Nampaknya tante Reni sedang “kemaruk” sehingga tiap saat ingin merasakan kontolku.&lt;br /&gt;Sejak hari itu aku resmi menjadi pemuas tante REni, pak Asep dipecat dan ganti supir baru yang tidak tahu apa2. Sedangkan Cynthia tidak terlalu sering ikutan karena memang tante Reni coba sembunyi2.&lt;br /&gt;Aku baru tahu kalau Ayahnya ternyata memang luar biasa kaya dan memiliki rumah di berbagai Negara, tentu saja lengkap dengan Selir2nya juga.&lt;br /&gt;Jadi Permaisuri kesepian ini biar aku saja yang puaskan.&lt;br /&gt;Aku sebenarnya paling suka kalau ada kesempatan berdua saja dengan Cynthia.. maklum lah, lebih seret dan tentu saja menjanjikan..&lt;br /&gt;Seperti permintaan tante Reni, aku berhenti mengajar. tapi aku tetap mengejar skripsiku. Selama setengah tahun hidupku bak Raja tapi juga serasa budak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-484065424224266828?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/484065424224266828/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=484065424224266828' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/484065424224266828'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/484065424224266828'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/muridku-dan-mamanya-yang-kesepian.html' title='Muridku dan Mamanya yang Kesepian'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-9107236081591075378</id><published>2008-12-14T07:25:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T07:36:00.927-08:00</updated><title type='text'>Call Girl part 3</title><content type='html'>Tanpa menjawab Pak Jacky langsung mendekapku dari belakang, disibaknya rambutku dan bibirnya mulai menciumi tengkuk, aku yang masih setengah tersadar menggelinjang geli. Sebelum aku sempat berbuat apa apa, tangannya sudah menyusup di balik kaos dan menggerayangi buah dadaku yang memang tidak mengenakan bra.&lt;br /&gt;"sudah sejak semalam aku ingin melakukan ini" bisiknya sambil mengulum telinga, membuat aku semakin menggelinjang.Secara reflek tangankupun mulai menggerayangi selangkangan Pak Jacky, ternyata sudah mengeras. Ketika kubuka resliting celananya, ternyata dia sudah tidak mengenakan celana dalam.&lt;br /&gt;Pak Jacky membalik tubuhku, diciuminya leher dan bibirku, hilang sudah rasa kantuk yang tadi masih menggelayut, berganti dengan gairah di pagi hari. Tak sampai semenit dia berhasil melucuti pakaian yang menutupi tubuhku dan ditariknya tubuh telanjang ini dalam pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian kami bertiga sudah berada di lobby, Bongo's terlihat cukup ramai apalagi ada live musik seperti biasanya. Pak Jackie terlihat sangat menikmati suasananya, apalagi ada 2 wanita cantik dan sexy mengapitnya, meskipun satu istrinya dan satunya lagi adalah "teman bobok". Bergantian kami dance, saat slow music mengalun diapun mengajakku. Diantara keremangan lampu Pub, tubuh kami menempel erat, agak ragu kusandarkan kepalaku di dadanya, entah istrinya melihat atau tidak. Aku tak kuasa menolak saat tangan Pak Jackie dengan nakal meremas remas pantatku, jangankan cuma meremas, lebih dari itupun dia sudah melakukan, tapi ini di depan istrinya, nekat juga dia.&lt;br /&gt;Alunan musik berubah menghentak ketika mbak Lita meminta suaminya kembali, tentu saja aku harus menyerahkannya, duduk sendirian tentulah akan mengundang mata mata jalang yang banyak beredar di tempat seperti ini. Meskipun dalam remang remang, aku sangat yakin banyak mata laki laki yang memperhatikanku, tentu kalau mereka berpikir aku wanita yang bisa di booking, pasti dia akan berpikir begitu juga pada mbak Lita yang datang bersamaku, apalagi pakaian kami yang memang sangat mengundang birahi.Tak lama kami di Bongo's, terus berpindah ke Fire Discoutik yang letaknya tidak jauh. Bagiku Fire Diskotik bagaikan halaman bermain, seperti halnya di Kowloon, meski aku tak pernah mencari tamu disitu tapi itulah tempat bagiku menumpahkan segala kekesalan dan keruwetan hidup. Dari pengamatanku, pengunjung diskotik rata rata orangnya sama dari hari ke hari, meskipun tidak tahu nama kami hanya mengenal wajah saja.Terus terang saat itu aku khawatir kalau ada ex-tamu atau langgananku yang berada disana, tentu akan membuka penyamaranku dimata mbak Lita.Tak ada yang menarik di dickotik itu, kecuali beberapa laki laki iseng ataupun germo yang coba mengajak kencan atau menawari tamu, aku sudah khawatir saja tapi ternyata mbak Lita hanya ketawa ketawa saja menghadapi ajakan ajakan seperti itu, sepertinya dia sudah terbiasa dan dengan cueknya dia tidak menggubris ajakan para laki laki itu.&lt;br /&gt;Entah pukul berapa kami meninggalkan Fire, terlalu malam untuk jalan kaki kembali ke hotel, meskipun jaraknya dekat demi keamanan kamipun mengambil taxi yang stand by disitu.&lt;br /&gt;"Jack, kita antar lily pulang dulu ya, kasihan udah jam segini pasti nggak aman kalo naik taxi sendirian" kata mbak Lita saat kami didalam taxi, dia terbiasa memanggil suaminya Papa atau hanya namanya saja.&lt;br /&gt;Sesaat kami terdiam, nggak tahu harus menjawab gimana, mengantar ke rumah tentu saja akan menimbulkan kecurigaan karena aku memang sewa kamar di tempat yang kebanyakan penghuninya tak jauh berbeda dengan profesiku, pasti dia akan curiga melihat suasana tempatku.&lt;br /&gt;"nggak usah repot repot, lagian udah terlalu larut, nggak enak sama tetangga, aku buka kamar aja deh" jawabku sekenanya tanpa minta persetujuan Pak Jacky.&lt;br /&gt;"good idea, lagian jam segini nggak baik dilihat orang, ntar dikirain wanita apaan" Pak Jacky menimpali pertanda setuju.&lt;br /&gt;Sesampai di hotel aku langsung check in, tentu saja hanya pura pura saja mendatangi meja receptionis, hanya ngobrol tanya tanya sedikit supaya dikira mbak Lita sedang check in, beruntung dia terlalu capek untuk ikutan ke receptionis, dia hanya menunggu di sofa.&lt;br /&gt;Aku berkeras tak mau diantar mereka sampai ke kamar."kalian kan capek, nggak usahlah, toh kita cuma beda beberapa lantai saja kok, dan disini kan aman" elakku, kalau sampai mbak Lita masuk ke kamarku tentu dia tahu kalau aku sebenarnya sudah check in.&lt;br /&gt;Sesampai di kamar aku langsung tidur tanpa berganti pakaian, terlalu lelah dan terlalu menegangkan untuk kulalui.&lt;br /&gt;Entah berapa lama aku tertidur ketika kudengar hp-ku berbunyi, ternyata dari Pak Jacky.&lt;br /&gt;"bangun bangun non, aku udah didepan pintu nih" kata suara dari seberang.&lt;br /&gt;Dengan mata masih berat kupaksakan berdiri dan membuka pintu, Pak Jacky sudah berdiri di depan dengan pakaian lengkap memakai jas segala.&lt;br /&gt;"jam berapa sih Pak kok pagi pagi begini udah rapi" sapaku dengan suara yang masih parau ngantuk.&lt;br /&gt;Tanpa menjawab Pak Jacky langsung mendekapku dari belakang, disibaknya rambutku dan bibirnya mulai menciumi tengkuk, aku yang masih setengah tersadar menggelinjang geli. Sebelum aku sempat berbuat apa apa, tangannya sudah menyusup di balik kaos dan menggerayangi buah dadaku yang memang tidak mengenakan bra.&lt;br /&gt;"sudah sejak semalam aku ingin melakukan ini" bisiknya sambil mengulum telinga, membuat aku semakin menggelinjang.Secara reflek tangankupun mulai menggerayangi selangkangan Pak Jacky, ternyata sudah mengeras. Ketika kubuka resliting celananya, ternyata dia sudah tidak mengenakan celana dalam.&lt;br /&gt;Pak Jacky membalik tubuhku, diciuminya leher dan bibirku, hilang sudah rasa kantuk yang tadi masih menggelayut, berganti dengan gairah di pagi hari. Tak sampai semenit dia berhasil melucuti pakaian yang menutupi tubuhku dan ditariknya tubuh telanjang ini dalam pelukannya.&lt;br /&gt;Puas menyusuri leher, buah dada dan melumat bibirku, Pak Jacky membopong tubuh telanjangku ke ranjang dan langsung menindih.Tanpa melepas jas yang dikenakannya, dia melanjutkan kulumannya pada buah dada, perut hingga ke selangkangan dan berhenti pada liang kenikmatanku. Gelinjang dipagi hari bertambah desahan dan rintihan nikmat, kuremas remas kepala yang ada diantara kedua pahaku. Pantatku turun naik mengimbangi permainan lidah yang tengah menari nari menyalurkan hasrat birahi yang menggebu, sesekali kakiku menjepit dan tak jarang pula naik ke kepala, dalam keadaan begini siapa yang peduli dengan apa yang namanya sopan santun.Desahan demi desahan meluncur deras dari mulutku, hingga dikagetkan bunyi hp-ku, sambil menerima jilatan di vagina, kuraih hp yang ada di meja dekat ranjang, pasti dari salah satu GM pagi pagi gini udah nelpon.&lt;br /&gt;Tanpa melihat siapa yang menelepon langsung kujawab.&lt;br /&gt;"halooo" jawabku dengan suara agak parau sambil sedikit menahan desah "pagi nyonya besar, baru bangun ya" ternyata mbak Lita, untung dia mengira suara parau itu suara bangun tidur bukannya suara desahan nikmat.Spontan kudorong kepala Pak Jacky yang masih berada diselangkanganku, aneh rasanya bicara sama mbak Lita sementara suaminya tengah berada dalam jepitan pahaku, tapi rupanya dia tak peduli.&lt;br /&gt;"eh mbak Lita, udah bangun ?" tanyaku dengan suara agak keras supaya Pak Jacky tahu kalau istrinya yang telpon, namun bukannya berhenti tapi malahan memperhebat serangannya, tangannya mulai ikut ikutan keluar masuk vagina.&lt;br /&gt;"he eh...ya mbak...ya....he he..." hanya itulah yang keluar dari mulutku sambil mendengar omongan mbak Lita bersamaan dengan permainan oral suaminya di vagina, sesekali kujepit atau kuremas kepalanya.&lt;br /&gt;Cukup lama mbak Lita bicara dan aku hanya menjawab sekenanya atau lebih tepatnya cuma jawaban pendek dan selama itu pula suaminya mempermainkan vaginaku. Namun begitu aku agak panik ketika Pak Jacky tanpa mempedulikan aku yang tengah bicara dengan istrinya tiba tiba membuka kakiku lebar lebar dan bersiap memasukkan penisnya. Aku berusaha menutup kakiku rapat rapat tapi tangan dia lebih kuat untuk mementangkannya kembali. Mataku melotot ke arahnya pertanda marah tapi dia hanya membalas dengan senyum kemenangan sambil mulai menyapukan penisnya ke vagina, akupun terpaksa menyesuaikan posisi tubuhku.Kupejamkan mata dan kugigit bibirku saat Pak Jacky perlahan melesakkan penisnya, sementara diseberang telepon istrinya terus nyerocos tanpa henti, aku yang berada diantaranya jadi serba salah.&lt;br /&gt;Pikiranku sudah tak konsentrasi lagi pada apa yang dibicarakan mbak Lita karena kocokan Pak Jacky yang semakin menghebat, semampuku menahan desahan kenikmatan, sungguh siksaan tersendiri. Hanya sesaat kudengar mbak Lita mengajakku ikut ke Jakarta saat pulang nanti malam, aku hanya menjawab "he eh, ya deh, terserah aja" jawabku pasrah lebih dikarenakan Pak Jacky.&lt;br /&gt;"...Jacky sekarang makin hot lho....menyerah aku dibuatnya...nggak rugi deh ikut di Surabaya...dia sangat berbeda saat di Jakarta...." lamat lamat kudengar suara mbak Lita dari seberang, aku tak terlalu menanggapi karena suaminya sedang mengocokku dari belakang dengan posisi dogie sambil meremas remas kedua buah dadaku. Entah apalagi yang diucapkan mbak Lita aku tak bisa menerima dengan jelas apalagi menanggapi.&lt;br /&gt;"... eh mbak ada telepon masuk nih, ntar aku sambung lagi ya" kataku berusaha memutus hubungan saat Pak Jacky memintaku di atas.&lt;br /&gt;"... oke deh aku yakin kamu dan Jacky pernah dekat tapi it was past, past is past but thanks anyway" katanya memutuskan pembicaraan.&lt;br /&gt;"kamu gila...gilaaaaaaaaaaaaaaa" Begitu hubungan telepon terputus, kulempatkan telepon ke ranjang dan langsung saja kuambil kendali, tubuhku dengan liar bergerak menari nari naik turun diatas Pak Jacky, diapun mulai berani mendesah, begitu juga aku.&lt;br /&gt;Pagi itu kami bercinta dengan penuh gairah dan nafsu, apalagi setelah tahu nanti malam mereka balik ke Jakarta dengan last flight, Pak Jacky menumpahkan semua nafsu birahi yang masih tersisa seakan menghabiskan semua yang ada padaku. Dan akupun menerima segala limpahan birahi tanpa mempedulikan istrinya yang tengah sendirian di kamar lain, kunikmata saat spermanya membanjiri vagina dan mulut.&lt;br /&gt;"kamu hebat, belum pernah aku melakukan seperti ini dengan Lita" katanya sebelum meninggalkan kamarku seraya meninggalkan sebuah check di meja yang nilainya jauh lebih tinggi daripada kalau aku menemani tamu lain dalam waktu yang sama, sungguh diluar dugaanku.&lt;br /&gt;Pukul 2 aku bersiap check out setelah beristirahat melayani Pak Jacky tadi pagi, Lita sudah menunggu di Lobby hotel, mereka juga akan check out tapi ntar sore.Untuk menghindari kecurigaan mbak Lita, kuminta room boy membawa pakaianku terlebih dahulu, jadi aku bisa turun tanpa membawa pakaian yang sudah kubawa beberapa hari.&lt;br /&gt;"Li, kamu ntar ikut kami ke Jakarta, nanti aku perkenalkan pada temanku, siapa tahu dia tertarik dan bisa menjadikan kamu salah satu modelnya, body dan wajah kamu sangat menunjang, sayang kalau disia siakan dan terbuang percuma apa yang kamu miliki, apalagi kamu masih muda. Aku jamin deh pasti temanku mau" ajaknya saat kami makan siang.&lt;br /&gt;Sebenarnya dunia modeling bukanlah terlalu baru bagiku, sebelum aku kawin aku pernah ikut model dan jadi peragawati amatir di kotaku dulu, sebuah kota kecil di Jawa Timur, meski hanya meraih runner up, tapi cukup membuat bangga saat itu dan merasa aku adalah paling cantik di kota itu.&lt;br /&gt;Aku sering mendengar, meski tidaklah bisa dipukul rata, bagaimana kehidupan para model atau peragawati yang tak jarang juga menerima bookingan tidur para laki laki dengan harga tinggi, apalagi kalau pernah tampil di majalah. Kesempatan emas serasa terbentang lebar di depan mata.Tapi entah mengapa rasanya terlalu berat meninggalkan kota Surabaya yang sudah mengukir berbagai macam pengalaman dalam hidupku.&lt;br /&gt;"kamu coba aja, ntar ikut aku dan kuperkenalkan sama beberapa photographer dan modelling agent yang menanganiku" lanjut mbak Lita melihat keragua raguanku.&lt;br /&gt;Aku diam saja tak menjawab, terus terang pikiran berkecamuk untuk mempertimbangkan tawaran itu.&lt;br /&gt;"udah, nggak usah diputusin sekarang, ikut aja 2-3 hari setelah itu kamu putuskan setelah melihat bagaimana kehidupan Jakarta dengan dunia modellingnya" katanya.&lt;br /&gt;Aku hanya menurut saja dalam kebimbangan.&lt;br /&gt;"kamu pulang dulu ntar malam kita berangkat sama sama, biar bill hotel aku jadikan satu aja" katanya. Aku panik, kalau sampai bill hotelku dibayari, tentu saja dia akan tahu kalau aku sebenarnya menginap beberapa hari.&lt;br /&gt;"permisi mbak aku ke toilet dulu" kataku selanjutnya.&lt;br /&gt;Tanpa setahu mbak Lita, aku langsung menyelesaikan bill hotel kamarku dan bergegas menghampiri concierge untuk minta tasku dan kutaruh di mobil. Kutelepon Pak Jacky minta pertimbangan karena mbak Lita mengajakku ke Jakarta, tapi tanpa menceritakan ajakan menjadi model, toh dia akan tahu juga nantinya.&lt;br /&gt;Seperti dugaanku, Pak Jacky langsung mendukung, tentu saja dia akan bisa mencumbuku lebih lama lagi, kesempatan menikmati tubuhku lebih jauh.&lt;br /&gt;Akhirnya, malam harinya aku ikut suami istri itu terbang ke Jakarta, kuabaikan bookingan yang datang. Kami duduk di deret bangku yang sama, karena Lita menyukai duduk di dekat jendela (meski malam hari tak bisa melihat apa apa diluar kecuali hanya gelap), maka Pak Jacky duduk ditengah antara aku dan Lita. Tentu saja menyenangkan Pak Jacky karena bisa duduk disampingku.&lt;br /&gt;Setelah sajian makan malam (waktu itu pesawat masih menyajikan makan pada penerbangannya, tidak seperti sekarang yang hanya sekedar kue dan aqua) dan lampu mulai redup, kurasakan tangan Pak Jacky mulai menggerayang di pahaku, apalagi istrinya seperti mulai terlelap. Tanpa perlu berkata kata, berulang kali tangan Pak Jacky berhasil meremas remas buah dadaku, padahal istrinya ada disamping. Aku membiarkan saja dan menggoda sambil meremas remas selangkangannya, dia pura pura tertidur dengan menutupkan koran pada paha, sebenarnya untuk menutupi tanganku yang berada diselangkangan.Sungguh tindakan berani pada celah yang sempit seperti di pesawat dengan istri yang duduk disamping.&lt;br /&gt;Untung perjalanan hanya satu jam, kalau tidak, mungkin Pak Jacky sudah orgasme di celana, apalagi sengaja kulepas bra saat aku ke toilet, sehingga Pak Jacky bisa makin leluasa mempermainkan putingku meski dari luar.&lt;br /&gt;Sopir sudah menunggu ketika kami keluar dari airport dan langsung menuju ke Hotel Mandarin, hotel yang dipilihkan Pak Jacky, belakangan baru kutahu kalau itu dekat dengan kantornya dan dia bisa segera menemuiku sepulang kantor atau sebelum ke kantor.&lt;br /&gt;Malam itu aku bisa tidur dengan nyenyak tanpa "gangguan" dari Pak Jacky, inilah pertama kali aku merasakan kesepian di kamar hotel, belum pernah aku sendirian begini di kamar, selalu ada laki laki yang menemani dan harus kulayani. Baru kusadari kenapa laki laki ingin ditemani bila perjalanan ke luar kota, karena sendirian di kamar tidaklah menyenangkan. Tak heran bila banyak tamuku yang ingin kutemani sampai pagi, meski hanya sebatas teman ngobrol maupun dengan all night long sex.Ingin rasanya kutelepon teman teman untuk sekedar teman ngobrol, pasti banyak yang masih bangun meski sudah pukul 11 malam, karena bagiku jam segitu masihlah sore, diskotik baru mulai.Kalau saja aku tahu seluk beluk Jakarta, tentu aku sudah keluar ke diskotik tapi Jakarta sangatlah asing bagiku. Meski beberapa kali aku menginap di Jakarta, belum pernah aku ke diskotik sendirian, selalu ada yang menemani dan selalu baru bisa tidur selepas pukul 3 pagi karena masih harus menyelesaikan "kewajiban". Justru lebih banyak rute Airport-Hotel-Airport tanpa tahu yang namanya Monas dimana, apalagi Ancol atau Taman Mini.&lt;br /&gt;Pukul 8.30 pagi Pak Jacky sudah berada di kamar sebelum ke kantor, bersamaan dengan mbak Lita yang menelepon. Maka kejadian morning fuck seperti di surabaya kemarin terjadi lagi.Sambil merasakan cumbuan dan nikmatnya kocokan suaminya, aku mendengarkan rencana mbak Lita hari ini, mengenalkan aku pada teman temannya.&lt;br /&gt;Selama di Jakarta, setiap pagi aku melayani nafsu birahi Pak Jacky sebelum ke kantor, tidak bisa lama lama karena setelah itu pukul 9-10 mbak Lita menjemput dan memperkenalkan pada teman temannya. Banyak pramugari,model bahkan para artis yang sudah punya nama dikenalkan, mereka yang selama ini hanya bisa aku lihat di majalah dan iklan, kali ini aku temui secara langsung. Begitu juga photografer, pokoknya siang hari aku berada dilingkungan selebrity, mengenal pergaulan mereka hingga malam larut dengan dunia malamnya ala selebrity yang sebenarnya menurutku tidaklah jauh berbeda dengan kehidupan malam yang selama ini aku jalani.Hanya bedanya, malamku hampir selalu berakhir dipelukan laki laki sedangkan mereka setelah clubbing aku tak tahu kemana mereka pergi.Tak kuduga sambutan teman teman mbak Lita sangat baik dan welcome, bahkan beberapa photographer telah langsung melakukan beberapa pemotretan.&lt;br /&gt;Seperti yang kuduga, selalu ada 1-2 ajakan agen atau photographer untuk tidur dengannya bila ingin cepat meng-orbit, entah dengan atau tanpa setahu mbak Lita. Aku hanya tersenyum saja menganggapi ajakan itu, meski tidaklah kaget tapu cukup kagum dengan kenekatan mereka yang mengajak dengan terus terang (aku tidak bermaksud mendeskreditkan siapapun yang terlibat dalam profesi seperti ini, tapi inilah pengalaman yang kualami).Selama 3 hari di Jakarta, entah sudah berapa ajakan tidur yang kutolak, dan selama itu pula setiap pagi kulayani birahi Pak Jacky. Dan akupun merasakan kesepian setiap kali kembali ke kamar hotel dari clubbing tanpa ada sentuhan dan belaian dari laki laki. Sebenarnya aku bisa saja mendapatkan laki laki, tapi rasanya aku masih memandang mbak Lita dan menjaga citra dihadapannya. Aku tidak tahu dan tidak mau tahu apakah mbak Lita juga mengalami hal yang sama denganku atau bahkan tidur dengan laki laki lain selain suaminya, itu bukanlah urusanku. Makanya aku tak pernah bercerita pada mbak Lita mengenai ajakan ajakan tidur itu.&lt;br /&gt;Sebenarnya pada hari kedua, mbak Lita mulai menyadari kesepianku sendirian di Hotel, dia menawari supaya tidur di rumahnya yang luas dibilangan Menteng tapi aku menolak, begitu juga ketika kutanyakan pada Pak Jacky (tanpa setahu mbak Lita tentu saja), dia tidak setuju karena tidak bisa bebas menemuiku sebelum ke kantor dan tak mungkin dilakukan di rumah.&lt;br /&gt;Hari ketiga aku sudah tidak tahan lagi dan ingin kembali "berbisnis" di Surabaya, apalagi selama di Jakarta tidaklah jelas bayaran yang aku terima selama melayani Pak Jacky dipagi hari, dan yang pasti sudah banyak kerugian karena tidak menerima tamu selama 3 hari selain Pak Jacky.&lt;br /&gt;Pagi itu pada hari ketiga, setelah melayani suaminya, akupun utarakan rencanaku untuk kembali ke Surabaya sore hari nanti, dia terkejut karena berharap aku bisa tinggal lebih lama lagi, paling tidak seminggu, masih banyak yang ingin ditunjukkan padaku mengenai dunianya yang penuh glamour, tapi aku bersikeras untuk pulang sore itu, maka mbak Lita-pun tak bisa menahan lebih lama lagi.&lt;br /&gt;Mbak Lita minta maaf karena tidak bisa mengantarku ke Airport, ada pemotretan iklan, sebenarnya dia ingin mengajakku juga karena pemotretannya dilakukan di Puncak.&lt;br /&gt;"sorry ya Ly, tapi aku bisa kirim sopir untuk mengantarmu ke airport" katanya via hp"ah nggak usah merepotkan mbak, aku bisa naik taxi kok"Meski mbak Lita memaksa aku tetap menolak dan kuputuskan naik taxi karena ada perasaan nggak enak dengan kebaikan mbak Lita selama ini dan aku masih tidur dengan suaminya, meski hanya sekedar bisnis.&lt;br /&gt;"Thanks ya mbak selama di Jakarta mau menemaniku dan memberiku wawasan baru, salam untuk Pak...eh Jacky" kataku hampir keceplosan.&lt;br /&gt;"oke deh kalau gitu, tolong pertimbangkan tawaranku selama ini, please, oke bye bye and see you " katanya.&lt;br /&gt;Limabelas menit kemudian, dia meneleponku."Ly, kebetulan Jacky ada acara mendadak harus ke Ujung Pandang, aku minta dia menjemputmu biar sekalian berangkat ke Airport, daripada kamu sendirian" katanya"pokoknya tunggu aja dia pasti datang menjemput kok" katanya tanpa menunggu persetujuanku.&lt;br /&gt;Satu jam kemudian aku sudah kembali duduk di samping Pak Jacky dalam BMW-nya menuju airport.&lt;br /&gt;Dia menyuruhku menunggu sebentar selagi dia beli tiket, aku kaget saat ditunjukkan dua tiket dengan tujuan Denpasar atas nama dia dan namaku.Pak Jacky hanya tersenyum melihat kekagetanku."kata mbak Lita kamu mau ke ............."".........ujung pandang ? itu hanya alasanku saja supaya dia tidak curiga, dan aku ingin bulan madu denganmu di Bali, 3 hari cukupkan, kalau nggak bisa kita extend kok" jawabnya dengan senyum penuh kemenangan.&lt;br /&gt;Maka jadilah aku menemani Pak Jacky kembali, hari pertama kami habiskan dengan penuh nafsu di Nusa Dua, Bali, sedangkan hari berikutnya atas usulku, kamipun menyebrang ke Lombok, berbulan madu di Hotel Sheraton. Dia benar benar menggunakan waktu sebaik baiknya atas diriku, seakan tak mau meluangkan waktu terbuang tanpa menyentuhku.Gairah dan birahinya benar benar ditumpahkan padaku tanpa mengenal lelah, seakan mewujudkan semua fantasy-nya selama ini pada diriku. Akupun mengimbanginya dengan godaan godaan penuh nafsu, setiap pagi kami sunbathing di pantai, sebagaimana turis yang ada disana, akupun mengikuti topless saat berjemur, meskipun aku mencari tempat yang teduh.Kami benar benar merasakan berbulan madu yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;Tiga hari di Lombok kami rasa tidaklah cukup tapi ada pekerjaan yang menuntutnya untuk segera kembali ke Jakarta, maka kamipun terpaksa harus meninggalkan Pulau Lombok yang exotic.Kamipun berpisah di Surabaya karena memang mencari pesawat yang transit di Surabaya, aku pulang dan kembali melanjutkan profesiku selama ini dan dia kembali ke istrinya yang cantik itu.&lt;br /&gt;Mengenai tawaran mbak Lita terpaksa harus aku abaikan karena banyak hal yang harus kupertimbakngkan (belakangan aku menyesali keputusanku ini, seandainya aku terima tawaran mbak Lita, mungkin aku sudah masuk lingkungan selebrity sekarang ini, toh lingkungan itu tidak jauh berbeda dengan lingkunganku di surabaya meski dengan nuansa yang berbeda, namun penyesalan selalu datang belakangan).&lt;br /&gt;Pada saat cerita ini ditulis, Pak Jacky sedang meringkuk di penjara karena terlibat korupsi dan KKN, maklum anak pejabat di masa Orde Baru, tahu sendirikan sepak terjangnya. Sedangkan mbak Lita, aku tak pernah lagi mendengar sepak terjangnya ataupun melihatnya di media masa. Sesekali kupandangi majalah lama dengan cover wajahnya yang cantik dan sexy itu.&lt;br /&gt;The End&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-9107236081591075378?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/9107236081591075378/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=9107236081591075378' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/9107236081591075378'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/9107236081591075378'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/call-girl-part-3.html' title='Call Girl part 3'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-8705233437770947255</id><published>2008-12-14T07:17:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T07:20:36.032-08:00</updated><title type='text'>Call Girl part 2</title><content type='html'>"aaagh...." tiba tiba aku dikagetkan teriakan Pak Jacky setelah beberapa menit kukocok dengan mulut, secara reflek kututup mulutnya dengan tangan supaya teriakan itu tidak keluar. Selagi aku masih berkonsentrasi pada teriakan Pak Jacky, tanpa kusangka dia memuntahkan spermanya di mulut, akupun terkaget dan berusaha menarik keluar tapi tangannya begitu kuat menahan kepalaku, tanpa bisa berbuat banyak akupun pasrah menerima semburan demi semburan sperma memenuhi mulutku.Sebelum sampai pada tetesan terakhir, kudengar suara air shower dimatikan, berarti Lita sudah selesai mandi, agak panik juga aku, apalagi dengan mulut penuh sperma, tak pernah kusangka hal ini sebelumnya. Tak ada pilihan, Lita bisa keluar setiap saat sementara aku masih harus merapikan pakaian yang agak awut awutan, terpaksa kutelan spermanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aku yakin nggak terlambat kok, masih ada waktu, kita lewat jalan tikus saja" kataku saat di perjalanan mengantar Dita. Ditengah kemacetan itu Dita mengganti celana jeans-nya dengan rok seragam sekolah, dilipatnya celana jeans dan jacket lalu dimasukkan dalam tas rangselnya.&lt;br /&gt;Kini kulihat Dita sangat jauh berbeda dengan Dita semalam, Dita sekarang adalah seorang anak sekolah yang cantik dan ceria, dengan wajah yang cantik, imut dan innocent, tak jauh beda dengan ABG lainnya. Kalau saja aku tidak mengalami sendiri semalam, pasti sulit untuk percaya bahwa ada sisi kehidupan lain Dita yang tak berbeda denganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disela sela kemacetan Dita bercerita kalau keperawanannya diambil pacarnya yang juga kakak kelas saat ulang tahunnya ke-17, dan mereka putus ketika pacarnya itu lulus SMA. Kini Dia kelas 3 dan sedang berpacaran dengan seorang anak kuliahan. Dua hari sekali mereka ketemu dan selalu melakukan hubungan sex. Atas bujukan temannya, Dita mau menerima bookingan laki laki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu kan udah nggak perawan, main sama satu orang atau dengan banyak orang itu nggak ada bedanya, tetap juga selingkuh dan tetap juga nggak perawan, mendingan sama laki laki yang sudah punya penghasilan, udah dapat enak dapat duit lagi" bujuk teman Dita. Mulanya dia memilih laki laki yang membookingnya, tapi setelah berjalan 3 bulan dia menyerahkan urusan "marketing" pada seorang GM atas "jasa" temannya itu. Semenjak itu dia memilih Kos di tempat dekat sekolahan dengan alasan capek kalau harus pulang balik ke rumahnya yang jauh terletak di daerah Tandes. Sebenarnya orang tua Dita cukup berada, materi tidak kurang untuk kehidupan yang wajar, bahkan Dita diberi motor ketika mulai kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan hidup berpisah dengan orang tuanya, Dita bisa bebas menerima tamu kapan saja selama tidak berbenturan dengan jadwal sekolahan seperti ujian maupun extra kulikuler wajib lainnya. Kalau sebelumnya hanya menerima laki laki setelah pulang sekolah dan sore harus pulang ke rumah, kini dia bisa bebas bahkan sampai bermalam seperti barusan juga bukanlah masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"setahuku ada 6 anak yang sama seperti aku ini disekolah, bisa jadi lebih" katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap Hari Sabtu dan Minggu dia pulang ke rumah, hanya sesekali saja tidak pulang kalau ada ketiatan sekolah atau ada bookingan keluar kota, tentu saja alasannya kegiatan sekolah juga. Dita membatasi bookingan hari hari itu sebulan sekali supaya orang tuanya tidak curiga.&lt;br /&gt;Masih banyak yang ingin kutanyakan darinya, tapi mobilku sudah berada didepan sekolahnya 3 menit sebelum pukul 7, berarti belum terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"jangan salah mbak ya, meskipun begini ini, aku selalu masuk rangking 5 besar disekolah dan sebentar lagi masuk Universitas Indonesia tanpa tes, lima tahun lagi mbak akan mendengar nama dr.Dita Anggraeni, dan kalo saat itu sudah terjadi aku janji akan mencari mbak" katanya sambil turun dari mobilku berbaur dengan teman temannya, meninggalkan aku yang masih melongo dengan ucapannya barusan, tak ada beda lagi antara Dita yang berseragam sekolah dengan murid lainnya.&lt;br /&gt;Kuamati terus Dita hingga ke pintu gerbang sekolah, tapi sebelum masuk pintu gerbang sekolah dia berlari ke arahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mbak jaga diri baik baik ya, dan..... aku nggak pake celana dalam lho" katanya lalu berlari meninggalkanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dasar pelacur cilik" umpatku dalam hati melihat Dita sudah menghilang dibalik Pintu Gerbang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The End.&lt;br /&gt;posted by Lily Panther @ 10:40 AM 0 comments&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sunday, April 10, 2005&lt;br /&gt;Silence of the lamb(e)&lt;br /&gt;"Ly, ada tamu minta nginap malam ini bisa nggak ?" tanya GM melalui hp pada suatu sore."bisa sih tapi agak maleman, mungkin setelah jam 9 malam gitu, gimana ?" jawabku karena udah ada bookingan dari GM lain nanti jam 6 di Hotel Sahid tapi nggak nginap."lebih sore nggak bisa ?" jawabnya lagi dengan nada memaksa "terlalu mepet waktunya, ntar dibilang nggak bisa on time""lagi ada orderan yaaaa, dari siapa sih" tanyanya penasaran"ada deeeeh, di mana nanti ?""Sheraton, ntar telpon aku kalo udah selesai, bikin lebih cepat ya, orderan gede nih""ya bossss" jawabku mengakhiri pembicaraan&lt;br /&gt;Setelah melayani tamuku di Hotel Sahid (tidak perlu diceritakan bagaimana jalannya permainan karena biasa biasa saja, tidak ada yang istimewa), aku langsung meluncur ke Hotel Sheraton, hanya perlu 10 menit untuk mencapai tujuan. Setelah kuberikan mobil pada Valet Parking aku masuk ke lobby menuju Bongo's, tidak banyak tamu yang ada disitu, maklum masih terlalu sore untuk tempat macam Bongo's. Jarum jam masih menunjukkan pukul 19:50 saat aku memesan minuman kesukaanku, 10 menit kemudian si GM datang menghampiriku, tak lama, lalu kami menuju ke lantai 8."Pak Jacky, ini Lily yang kuceritakan tempo hari, aku nggak bohong kan ?" sapanya ketika pintu kamar di buka.Seorang laki laki menyambut kedatangan kami di kamarnya, dia berbicara sebentar dengan GM yang membawaku, tak lama kemudian tinggallah kami berdua di kamar."aku mau kamu temani kami selama di Surabaya, mungkin sampai lusa, nggak apa kan ?" tanyanya sambil menyalakan Marlboro-nya."kami ?" aku sedikit terkaget, si GM itu tak memberitahukannya."ya, aku dan istriku" jawabnya sambil mengepulkan asapnya tinggi tinggi."jangan khawatir, istriku tidak tahu siapa kamu, ntar bilang aja kita teman lama, beres kan" lanjutnya seolah menjawab keterkejutanku."seharian penuh ?" tanyaku, kukira cuma nemanin malam saja."ya, siangnya kamu ajak dia jalan jalan ntar malamnya temanin aku di kamar ini, udah kubooking 2 malam"&lt;br /&gt;Aku yang sudah biasa menemani tamu yang agak aneh kali ini masih juga terkejut dengan kenekatan tamuku ini, sudah diikuti si istri masih juga mencari wanita lain. Dengan booking 24 jam seperti itu berarti aku tidak mungkin menerima tamu lain, berarti hilanglah orderan yang rata rata 2-4 kali sehari."terserah BApak saja, aku sih ngikutin" jawabku lalu permisi ke kamar mandi.Di kamar mandi diam diam kuhubungi si GM, menceritakan rencana tamuku ini. Dia hanya tertawa saja ketika kutanyakan soal pengaturan pembayarannya, tentu dia harus bisa mengganti "kerugian" ku akibat tidak terima tamu selama menemani mereka."jangan khawatirkan itu, yang jelas akan lebih banyak dibanding kalo kamu terima tamu 3 kali sehari, aku jamin itu" katanya menenangkan hatiku.&lt;br /&gt;Siraman air hangat yang membasahi tubuhku sangat menyegarkan dan menghilangkan rasa penat setelah seharian bekerja melayani 2 tamu. Sekeluar dari kamar mandi dia sudah di ranjang tertutup selimut, kulihat pakaiannya tergeletak di sofa, berarti dia tidak mengenakan pakaiannya lagi dibalik selimut itu.Tanpa banyak bicara, Pak Jacky menarikku ke pelukannya, handuk yang menutupi tubuhku melayang sedetik kemudian seiring dengan cumbuan dan lumatan di bibirku. Tubuhku segera mengikutinya masuk dalam selimut, dibawah selimut kami saling berpelukan dan berciuman penuh gairah.&lt;br /&gt;"kamu memang secantik dan se-sexy apa yang diceritakan" katanya sambil melumat bibir, lidahnya menyusuri leher hingga berhenti di putingku, dikulumnya dengan gigitan gigitan ringan, akupun mulai mendesis dan semakin keras dikala bibirnya mulai menyentuh klitorisku. Aku sebenarnya agak risih juga bila seorang laki laki dengan gairahnya mengulum dan menjilati vaginaku padahal belum satu jam yang lalu laki laki lain menumpahkan spermanya di lubang yang sama, tapi kebanyakan mereka salah mengerti penolakanku mengenai hal ini, tentu saja aku tak mungkin bicara terus terang.Justru semakin aku menolak kebanyakan mereka semakin bergairah memainkan lidahnya, akhirnya akupun tak peduli, toh aku sudah peringatkan.Cukup lama juga kepala Pak Jacky berada di selangkanganku sebelum kami ber-69, penisnya yang tidak terlalu besar begitu keras kurasakan saat mulai keluar masuk mulutku, begitu juga lidahnya semakin liar menari nari di bawah.&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian dia sudah mengocokku dari atas, tak ada yang istimewa darinya, tapi kulihat Pak Jacky begitu bersemangat, tak lebih 3 menit keringat sudah mengucur mambasahi tubuhnya. Wajahnya yang putih tampan terlihat memerah terbakar nafsu dan 2 menit kemudian menyemprotlah sperma Pak Jacky menyirami liang vaginaku. Aku menjerit terkaget mengiringi jeritannya, banyak sekali sperma yang ditumpahkannya, lebih dari 10 denyutan kuhitung, sebelum tubuhnya lemas menindihku dengan napas yang masih menderu.&lt;br /&gt;"kamu memang menggairahkan" komentarnya setelah turun dari tubuhku dan telentang disamping.Aku tidak menanggapi komentarnya,kuusap keringat dari tubuhnya dengan sprei lalu kumasukkan penisnya ke mulutku, dia terkaget menjerit namun tak menolak, hanya desah geli yang kudengar, tapi tak berlangsung lama saat dia minta berhenti.&lt;br /&gt;"gila, belum pernah aku dikulum setelah keluar gitu" katanya sambil membelai rambutku yang tergerai di atas dadanya.&lt;br /&gt;Kami berpelukan telanjang, menurunkan tegangan yang ada.&lt;br /&gt;Setelah beristirahat hampir satu jam, babak kedua berlanjut, kali ini aku aku diposisi atas.Perlahan tubuhku mulai naik turun dan semakin cepat, dia mendesah sambil meremas remas buah dadaku."ooouuuhhhh...sssssshhhh...trusss...yaaaa.. .trusss Lita...trusss..ya gitu Lita" desahnya menyebut nama seseorang entah siapa, tapi aku tak pedulikan, toh kuanggap bagian dari fantasy laki laki.Dengan posisi di atas aku memegang peranan, begitu kulihat dia sudah hampir mencapai puncak, kuhentikan gerakanku untuk menurunkan tegangannya, untungnya dia mengikuti permainanku sehingga bisa berlangsung lebih lama dari tadi, namun demikian tak lebih 10 menit diapun harus menyerah dalam serbuan birahinya sendiri. Orgasme kedua dia alami, padahal aku belum apa apa.&lt;br /&gt;Babak ketigapun kami lalui dengan tanpa "greget" bagiku, semua biasa biasa saja meskipun aku tahu Pak Jacky berusaha keras untuk memuaskanku tapi dia tidak berhasil melakukannya.Hingga pukul 12 tengah malam kami melakukannya sekali lagi, 4 babak telah kami lalui dengan cepatnya tanpa satu orgasmepun kuraih, apalagi babak terakhir dia minta orgasme di mulut.&lt;br /&gt;Beberapa menit kemudian dia meninggalkanku sendirian di kamar itu, untuk kembali ke pelukan istrinya yang tinggal satu lantai di atas kamar ini. Laki laki, kalau sudah dilanda birahi, nalarpun terabaikan, begitu nekat dia melakukan hal seperti ini, belum pernah aku menemui tamu yang senekat ini.&lt;br /&gt;Akupun karena kelelahan kurang tidur sejak kemarin, tertidur pulas tak lama sepeninggal Pak Jacky, bekas sperma masih tersisa di vaginaku tanpa sempat membersihkannya.&lt;br /&gt;Keesokan paginya aku terbangun bunyi telepon, hanya Pak Jacky dan si GM yang tahu aku dikamar ini, pasti salah satu dari mereka.&lt;br /&gt;"Pagi sayang" sapa suara yang tak kukenal yang aku yakin suara Pak Jacky&lt;br /&gt;"pagi juga sayang" jawabku tak kalah mesra meski kubuat buat.&lt;br /&gt;"gimana tidurnya ? nyenyak ? kalau kamarnya kurang enak upgrade aja kamarnya ntar siang" lanjutnya&lt;br /&gt;"kok pagi pagi udah bangun Pak" tanyaku kembali ke kebiasaanku yang hampir selalu memanggil Pak pada tamu yang baru kukenal.&lt;br /&gt;"sekarang udah jam 8 sayang, udah waktunya kerja cari duit" jawabnya, aku hanya tersenyum karena memang jam segini bagiku masih sangat terlalu pagi untuk cari duit.&lt;br /&gt;"gimana tidurnya ? nyenyak ? atau malah belum tidur ngelanjutin sama ibu ?" godaku dengan nada canda&lt;br /&gt;"mana bisa lagi, kamu habisin semuanya, udah nggak ada tenaga lagi, habis bis bis bissssss"&lt;br /&gt;Akhirnya dia memberi tahu skenarionya dan acaranya selama di Surabaya.Dia berusaha menjelaskan tentang masa lalunya dan akupun berusaha mengingatnya supaya tidak canggung saat berhadapan dengan si istri, tak lupa dia berpesan supaya aku mengaku seorang bisnis woman,terserah apa saja asal bukan wanita panggilan seperti ini.&lt;br /&gt;"oke, ntar makan siang aku kenalkan istriku, jangan bilang kalo kamu nginap disini dan jangan lupa pakai pakaian kantoran sewajarnya, kita ketemu di lobby jam 12 nanti" pesannya mengakhiri briefing.&lt;br /&gt;Aku sama sekali tak mempersiapkan pakaian ganti apalagi pakaian kantoran, jadi terpaksa harus pulang dulu.Meskipun tempat kost-ku tidak jauh tapi aku tak mau terlambat janjian ntar siang, segera aku mandi dan bersiap pulang.Tepat pukul 9:30 pagi aku sudah berada di lobby, kulirik sekitar, tak terlihat Pak Jacky disekitar situ.&lt;br /&gt;Ketika aku sedang menunggu mobil yang diambil petugas valet, hp-ku berbunyi.&lt;br /&gt;"sombong ya nggak mau nyapa" kata suara dari seberang tanpa basa basi, kulihat dilayar hp tertulis nama Dodi, salah seorang tamu langganan favoritku.&lt;br /&gt;"eh dimana kamu ?" tanyaku kaget, tumben sepagi ini sudah telepon&lt;br /&gt;"ada disekitar kamu yang memakai kaos pink dengan celana jeans street, tampak sexy deh kamu kalau begitu" godanya, aku membalikkan badanku dan kembali ke lobby mencari cari sosok Dodi berada, namun tak kutemukan.&lt;br /&gt;"nggak usah celingukan gitu, ntar dikira anak kehilangan bapaknya" katanya dari telepon, berarti dia memang di daerah lobby.&lt;br /&gt;Kusapukan mataku ke pelosok lobby, namun tak kulihat juga tampangnya, hingga kurasakan colekan di pundakku dari belakang.&lt;br /&gt;"sialan kamu" kataku sambil mematikan hp, kulihat panther-ku sudah siap di depan.&lt;br /&gt;"habis kerja ya, kok tumben pagi pagi gini sudah beredar" godanya.&lt;br /&gt;Hampir 1 bulan Dodi tak mem-booking-ku, terlihat wajahnya tambah segar dan ganteng, ingin rasanya kupeluk dan kurasakan kerinduan akan cumbuan serta permainan ranjangnya.&lt;br /&gt;"kamu sombong sekarang nggak mau telepon aku lagi, terakhir kan saat di tretes itu, lama banget" sapaku, petugas valet mendatangi dan memberitahu kalau mobilnya sudah siap, aku suruh pinggirin dulu karena ingin ngobrol lebih lama dengan Dodi.&lt;br /&gt;"kapan dong kita ulangi lagi" tanyaku merajuk&lt;br /&gt;"sekarang juga boleh" jawabnya sambil menatapku tajam, kalau saja aku tidak sedang "on book" tentu kesempatan ini tak kusia siakan, apalagi semalam aku sama sekali tak mengalami orgasme meskipun main 4 babak.&lt;br /&gt;Aku terdiam mempertimbangkan ajakannya sambil melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul 10, berarti hanya tersisa 2 jam, padahal aku harus pulang mengambil pakaian dulu, terlalu buru buru.&lt;br /&gt;"gimana, kalo oke mumpung aku lagi buka kamar untuk tamuku nanti siang, jadi bisa kita pake dulu" desaknya. Aku bingung, di satu sisi aku harus menghormati Pak Jacky yang telah mem-booking penuh namun di sisi lain akupun ingin mereguk kenikmatan bersama Dodi, yang mana tidak kudapat dari Pak Jacky dan bakalan tak akan kudapatkan dalam 2 hari kedepan.&lt;br /&gt;"jangan sekarang Dod, lusa aja ya, aku lagi banyak kerjaan nih" bujukku, tapi Dodi sepertinya tahu isi hatiku yang tengah haus akan kenikmatan birahi, dia maunya sekarang atau nggak.&lt;br /&gt;"janji deh, lusa aku milikmu, seharian atau sehari semalam juga nggak apa" kataku sudah mulai lemah posisiku, tapi dia tetap bersikeras.&lt;br /&gt;Karena sama sama bersikeras, akhirnya sama sama gagal, kulihat tatap kekecewaan dimatanya begitu juga aku, harus memendam kedongkolan, dasar laki laki tak mau mengalah sedikitpun.Awas kalau lusa jadi, akan kukerjain kamu, janjiku dalam hati.&lt;br /&gt;Setelah menyelipkan 20 ribuan pada petugas valet yang sudah kukenal, kupacu mobilku menuju tempat kost. Sepanjang jalan aku menggerutu mengumpat Dodi yang keras kepala, padahal kalau dipikir tentu tak ada yang salah, toh lusa aku bisa menghubungi dia lagi dan dengan bujuk rayu seperti biasa hampir dipastikan aku dapat menggiring dia ke tempat tidur. Tapi itu masih 2 hari lagi, padahal aku perlu pelampiasan sekarang.&lt;br /&gt;Sesampai di tempat kos, segera kupilih pakaian yang hendak kubawa, baik itu pakaian resmi, maupun santai termasuk pakaian dalam sexy dan lingerie.&lt;br /&gt;Kukenakan rok biru tua selutut berpadu dengan blazer menutupi kaos putih yang ketat membalut tubuhku. Kuamati penampilanku di kaca, tampak seperti layaknya orang kantoran, rambutku kukuncir kebelakang dan kusapu wajahku dengan make up tipis untuk lebih memberikan kesan wanita kantoran.&lt;br /&gt;Kupacu kembali mobilku menuju ke hotel, lebih baik aku menunggu di kamar daripada terlambat, pikirku.Tak lebih 30 menit kemudian aku sudah kembali berada di lobby hotel, dengan langkah kaki cepat seolah seorang bisnis woman sedang dikejar waktu, kulalui lobby hotel tanpa melihat sekeliling, langsung menuju Lift.Ketika aku sedang menunggu lift, kurasakan seseorang menggamit pundakku, ketika kutoleh ke belakang, ternyata berdiri di Dody dengan senyumannya yang masih menawan.&lt;br /&gt;"eh kok kamu masih disini" tanyaku terkaget polos tak menyangka dia masih berada di situ.&lt;br /&gt;Sebelum dia menjawab, pintu lift terbuka."sorry aku duluan yaa" pamitku tanpa menunggu jawaban darinya, namun tanpa kuduga diapun ikutan masuk lift.Di dalam Lift, kebetulan hanya kami berdua, Dody langsung memelukku dari belakang, aku terkaget dan panik tapi dekapannya begitu kuat disusul remasan tangannya pada buah dadaku, bersamaan dengan itu dia menciumi tengkukku.&lt;br /&gt;"gila kamu Dod, nekat" kataku disela kepanikan tanpa ada niatan untuk meronta, malah mulai menggelinjang ketika bibirnya menyentuh telinga.Aku yang sedari tadi memang "kehausan", tak menyia nyiakan kesempatan ini, tanganku segera menggapai diselangkangannya, begitu kudapati yang kutuju dan sudah mengeras segera kuremas remas.Lift berhenti di lantai 5, seorang bapak bapak masuk, sesaat dia menatapku tajam lalu berbalik membelakangi, tentu saja kami tak bisa melanjutkan lagi.&lt;br /&gt;"ketempatku aja dulu" bisik Dody, aku menatapnya berusaha menolak tapi dia memegang tanganku erat. Lantai 8 tempatku sudah berlalu dan ketika sampai di lantai 11 pintu lift terbuka, Dody memberiku isyarat untuk keluar, akupun hanya nurut saja tak mau terdengar ribut di depan bapak itu.&lt;br /&gt;"Dod, aku nggak bisa sekarang, ada janjian jam 12 nanti" kataku terus terang sambil berjalan menuju kamarnya.&lt;br /&gt;"sebentar aja kok, kita quicky deh" katanya sesampai didepan kamarnya. Aku tak bisa mundur lagi saat dia menarikku masuk dan memang tak ada niatan mundur, masih ada waktu paling tidak 30 menit.&lt;br /&gt;"oke tapi sebentar aja, swear ?" kataku karena aku tahu tidaklah mungkin bagi dia hanya menikmati diriku selama itu, jauh dari cukup.&lt;br /&gt;"swear, bahkan sebelum kamu melepas pakaianpun aku udah selesai" katanya sambil mengacungkan dua jarinya seperti orang bersumpah.Sebelum sempat aku melepas baju, Dody sudah menubrukku hingga tersandar di meja kerja.&lt;br /&gt;"Dod, ntar bajuku kusut nih" kataku ditengah sergapan penuh nafsu bibirnya yang menghunjam di bibirku, tapi dia tak peduli malahan semakin liar meremas remas buah dadaku menambah kusut baju katun yang memang mudah kusut itu.&lt;br /&gt;"kamu terlihat lain dengan pakaian seperti ini, makin sexy dan menggemaskan" bisiknya sambil menciumi leherku, tangannya tak pernah beranjak dari dadaku.&lt;br /&gt;Aku menyerah pasrah saat 2 kancing atas terlepas dan kepala Dody menyusup diantara kedua bukitku, desah perlahan mulai meluncur dari bibirku ketika putingku tersentuh lidah dan bibirnya. Kuremas remas kepalanya dan kulebarkan kakiku saat jari jemari Dody berada diselangkangan.Semenit kemudian, aku sudah telentang di atas meja dengan kaki terpentang lebar dan kepala Dody berada di antaranya. Desah kenikmatan semakin lancar meluncur dari bibirku karena jilatan Dody pada vagina, sesekali kujepit kepala itu dengan kedua pahaku. Celana dalam yang super mini tidaklah terlalu mengganggu meski tak dilepas dan memang tak terlihat ada niatan Dody untuk melepasnya. Bibir dan lidah itu dengan liar menari nari, menyusuri daerah selangkangan membuatku semakin menggelinjang dalam nikmat.Aku tak mau terlalu terhanyut dalam buaian birahi Dody, waktu semakin pendek sebelum pukul 12 siang, tak sempat lagi untuk foreplay yang lama seperti biasanya.&lt;br /&gt;"ugh..masukin Dod" pintaku, tapi dia masih juga asik menikmati selangkanganku, maka kutarik kepalanya naik."nggak ada waktu lagi" bisikku manja, untung dia mengerti dan membalas dengan tersenyum nakal.&lt;br /&gt;Tanpa melepas celana dalamku dan hanya mengeluarkan penis dari lubang resliting celananya, dia menyapukan penisnya ke bibir vaginaku yang sudah basah kuyup.Bersamaan dengan melesaknya penis yang besar itu mengisi vaginaku, hp-ku berbunyi, aku yakin betul bahwa itu Pak Jacky. Kuminta Dody mengambilkan tas Eigner-ku, tanpa menghentikan sodokannya dia meraihnya dan memberikan padaku, segera kuambil hp, ternyata benar dugaanku, Pak Jacky.&lt;br /&gt;"halo sayang" sapanya dari seberang sana&lt;br /&gt;"ya sayang....." jawabku karena dia juga memulai dengan kata yang sama.&lt;br /&gt;"udah sampai mana ?" tanyanya&lt;br /&gt;".....aku udah dijalan kok,macet nih.....tapi udah dekat, paling 15 menit lagi nyampe" jawabku sambil merasakan nikmatnya kocokan Dody dengan penisnya yang semakin keras menghunjam diiringi remasan kuat di buah dadaku.&lt;br /&gt;Pak Jacky kembali mengingatkan skenarionya tapi aku tak bisa sepenuhnya konsen pada ceritanya karena perhatianku terbagi dengan Dody yang semakin nakal mempermainkan emosiku.&lt;br /&gt;"ya..ya...mengerti..trus...apa ? yaa....beres Pak..." hanya itulah kata kata yang bisa kuucapkan, antara menanggapi ucapan Pak Jacky dan sodokan Dody.&lt;br /&gt;"....siap Boss, ntar aku kabari begitu sampai....daaaag sayang" kataku mengakhiri pembicaraan, takut aku tak tahan lagi menahan kenikmatan yang tengah melanda.&lt;br /&gt;Meja itu bergoyang keras seirama gerakan Dody terhadapku,di atasnya kami masih bersetubuh dengan pakaian lengkap meski pakaianku sendiri sudah berantakan tak karuan, antara pakai atau tidak sepertinya tak ada bedanya, dengan bebasnya dia mengacak acak penampilan dan make up yang sebenarnya untuk Pak Jacky. Dan dengan bebas pula dia mengaduk aduk vaginaku yang seharusnya masih "jatah" Pak Jacky. Akhirnya akupun tak peduli, siapa yang membayarku dialah yang berhak mendapatkannya, money is money and fun is fun.&lt;br /&gt;Kegairahan Dody ikut memacuku dan serasa menantang untuk segera menyelesaikannya tidak lebih dari 15 menit seperti janjiku pada Pak Jacky, biasanya kami melakukan lebih dari 30 menit dan sekarang harus dipercepat. Aku lebih nyaman kalau bercinta dalam keadaan telanjang tapi dia tak mengijinkanku melepas pakaian.Dengan pakaian berantakan, akupun mengimbangi permainannya, kami berdua bergerak liar seakan berkejaran dengan setan birahi. Dari posisi telentang, Dodi membalik tubuhku hingga tengkurap di atas meja, dalam posisi tak berdaya seperti itu dia menyodokkan penisnya semakin keras dan cepat, tak dihiraukan desah dan jerit kenikmatan yang meluncur dari mulutku.&lt;br /&gt;"rasakan ini Pelacur !!!!" hardiknya sambil menghentak keras, aku menggeliat, sudah menjadi kesenangannya untuk selalu mengumpat dengan kata kata kotor saat kami bercinta, dan itu membuatnya semakin bergairah. Tak jarang dia meludahi tubuh dan wajahku ketika bersetubuh, bagiku semua itu adalah bagian dari fantasy laki laki yang merasa superior di atas wanita, meski itu tidaklah selalu benar dan selama tidak ada kekerasan fisik aku masih bisa menerima segala macam penghinaan seperti itu, toh itu hanyalah sesaat dan dia pasti minta maaf setelah kami selesai melakukan persetubuhan.Beragam kata kata hina dan melecehkan terus meluncur deras dari mulutnya selama kami bersetubuh, dan selalu dibarengi dengan sodokan keras yang membuatku menggeliat.&lt;br /&gt;Dua kali kudapatkan orgasme darinya ketika akhirnya Dody menumpahkan spermanya memenuhi vaginaku, entah berapa denyutan kurasakan melanda kuat didalam, hanya kenikmatan dan kenikmatan yang kurasa.Tanpa mempedulikan aku yang tengah mengerang dalam lautan kenikmatan, dengan kasarnya dia menarik keluar penisnya, bergeser ke arah kepala lalu menyapukannya ke wajahku. Make up yang sudah awut awutan semakin berantakan bercampur cairan sperma, terakhir yang dia lakukan adalam memasukkan penis itu ke mulutku dan mengocoknya, semakin berantakanlah lipstik yang menghiasi bibir merahku.&lt;br /&gt;Vaginaku masih terasa panas agak pedih saat Dody memasukkan penis kembali ke sarangnya, tanpa dibersihkan, mungkin dianggap sudah bersih dengan mulutku.Beberapa saat aku masih tetap tengkurap di atas meja sampai nafasku normal kembali, Dodi sudah merapikan pakaiannya yang memang tidak terlalu acak acakan.&lt;br /&gt;"kalau udah selesai, tutup pintunya" katanya sambil melemparkan beberapa lembar 50-ribuan, lalu diapun meninggalkanku seorang diri dikamar, tak ada sama sekali romantisme darinya seperti biasanya, mungkin dia cemburu atau entahlah.&lt;br /&gt;Kupunguti satu demi satu lembaran uang yang berserakan dikamar, tak kuhitung lagi lalu kumasukkan ke dalam tas eigner yang selalu setia menemani.Pakaian yang menempel di tubuhku benar benar acak acakan, tak tampak lagi keanggunan yang kuperlihatkan 15 menit yang lalu, aku berusaha merapikan tapi kusut sekali dan tak mungkin dirapikan begitu saja. Akhirnya kuputuskan untuk berganti pakaian, kucari pakaian yang sesuai dari dalam tas pakaian yang kubawa tadi.&lt;br /&gt;Setelah membersihkan diri tanpa mandi, ber-make up dan ganti pakaian, aku keluar kamar itu. HP berbunyi saat aku menuju didepan lift hendak turun.&lt;br /&gt;"ya Pak, udah sampai sih, ini mau turun kok" jawabku tanpa sadar kalau sebenarnya aku harus naik dan bukan turun.Lift terbuka, ada 2 orang laki laki di dalam, mereka menyambutku dengan senyum ramah cenderung nakal, apalagi sorot mata yang genit melototi lekuk tubuhku. Dengan mengenakan rok agak mini, sejengkal di atas lutut dan tank top yang ditutupi blazer biru, tentu tak bisa menyembunyikan lekuk dan kemontokan tubuhku.Aku tak risih dipolototi seperti itu, tapi tetap diam saja acuh, kalau saja mereka tahu siapa diriku, aku sangat yakin mereka akan tertarik untuk mem-booking. Tatapan mata itu harus berakhir saat lift berhenti di lantai 8, dan aku keluar.&lt;br /&gt;Ketika kuhubungi hp Pak Jacky, ternyata yang menerima seorang wanita, aku langsung berpikir cepat bahwa itu adalah istrinya.&lt;br /&gt;"mbak Lita Ya ? Jacky ada mbak ?" tanyaku sok akrab dengan memanggil Jacky tanpa Pak, supaya dia tidak curiga"oh, mbak Lily ya, dia lagi mandi tuh, naik aja deh kesini aku juga baru bangun kok, nggak tahu tumben dia mandi lagi setelah dari luar tadi" ajaknya akrab sambil menyebut nomer kamarnya.Aku terdiam, sejenak mulai curiga jangan jangan mereka termasuk pasangan suami istri yang nyeleneh yang harus kulayani berdua seperti yang kualami sebelumnya.&lt;br /&gt;"mbak mau naik atau nunggu di lobby ?" sambung Lita, tentu saja dia tidak tahu kalau aku lagi di kamar yang semalam kupakai memacu nafsu dengan suaminya.&lt;br /&gt;"em, kalau nggak ngganggu sih, lagian nggak enak bengong sendirian disini" kataku"ya udah, naik aja" katanya sambil mengakhiri pembicaraan, akupun segera beranjak menuju kamar yang disebutkan.&lt;br /&gt;Begitu pintu kamar itu dibuka, tampaklah sosok wanita cantik dengan wajah polos tanpa make up, masih mengenakan gaun tidur yang sexy, aku tertegun dengan kecantikannya. Wajah itu serasa begitu kukenal tapi aku agak samar samar dimana."Dasar laki laki, udah punya istri cantik masih juga cari sampingan" umpatku tentu saja dalam hati.&lt;br /&gt;"Lily ya, masuk dulu mbak, dia mandinya lama biasanya, oh ya aku Lita istrinya" sapanya sambil mempersilahkan masuk dan kamipun berciuman pipi.&lt;br /&gt;"sorry berantakan nih, habis tadi aku masih tidur hingga tak sempat nyuruh room boy untuk ngeberesin" katanya sambil membereskan beberapa baju yang berserakan dan dimasukkan ke lemari, sepintas ada juga pakaian dalam sexy diantaranya,akupun berprasangka kalau mereka barusan bercinta.Aroma asap rokok masih kuat tercium di kamar, kulihat setengah rokok seperti baru saja dimatikan karena masih ada sedikit asap yang mengepul, sepertinya Lita yang barusan merokok.Beberapa majalah tertumpuk di meja, barulah aku menyadari kalau Lita adalah salah seorang peragawati yang menghiasi salah satu sampul majalah itu, pantesan tak asing lagi wajah cantiknya.&lt;br /&gt;"itu memang aku, tapi sudah 2 tahun yang lalu sih" rupanya Lita menangkap kekagumanku saat melihat foto di cover yang cantik itu sambil menyalakan sebatang rokok putih.&lt;br /&gt;"mbak cantik, malahan lebih cantik aslinya lho" kataku ikutan menyalakan rokok saat dia menghembuskan asap pertamanya.&lt;br /&gt;"kamu juga, pantesan Jacky sejak kemarin banyak cerita tentang kamu, bahkan dia mempromosikan kamu untuk jadi peragawati atau model paling tidak"&lt;br /&gt;"aku cuma orang udik, mana pantes berlenggak lenggok di atas catwalk kayak mbak Lita ini"&lt;br /&gt;"betul lho mbak, postur dan wajah mbak Lily udah memenuhi syarat kalau menurutku"&lt;br /&gt;"aku nggak mau bermimpi mbak, bisnis gini aja udah kewalahan kok, bahkan sepertinya nggak sempat untuk bernapas aja" jawabku jujur, tapi pasti dia mempunyai persepsi lain tentang usaha bisnisku.&lt;br /&gt;"ya kalau udah ngetop bisnis ini kan bisa ditinggalkan atau diserahkan ke anak buah"&lt;br /&gt;Selama pembicaraan kami sama sama mengepulkan asap rokok, ruangan jadi terasa pengap, apalagi tak ada ventilasi untuk ruangan ber-AC seperti ini.&lt;br /&gt;"kalau mbak memang berminat, aku bantu deh, jangan khawatir"&lt;br /&gt;Pembicaraan terpotong saat Pak Jacky keluar kamar mandi dengan tubuh berbalut handuk.&lt;br /&gt;"eh kamu udah datang rupanya" katanya kaget, aku yakin dia pura pura karena rasanya nggak mungkin dia tak tahu.&lt;br /&gt;"ih kamu jorok deh, masak ada tamu kok pake gituan aja, kan ada piyama di dalam" hardik Lita pada suaminya.&lt;br /&gt;"aku tunggu di loby aja deh" potongku, nggak enak rasanya dalam suasana seperti ini, tapi Lita mencegahnya.&lt;br /&gt;"nggak usah, wanita secantik kamu sendirian di lobby bisa berbahaya, mengundang para hidung belang, disini aja dan anggap rumah sendiri" cegahnya sambil menggandeng suaminya ke kamar mandi.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian mereka keluar, Jacky sudah mengenakan piyama.&lt;br /&gt;"oke kamu temenin dia dulu, ganti aku yang mandi" kata Lita lalu menghilang dibalik pintu kamar mandi, membiarkan aku dan suaminya berdua.&lt;br /&gt;Kami saling terdiam sesaat, hanya sorot mata penuh arti yang berbicara.Begitu terdengar suara gemericik air shower yang sudah dinyalakan, serta merta Pak Jacky menarikku dalam pangkuannya.&lt;br /&gt;"Gila, kamu nekat, ada istrimu tuh" bisikku saat bibirnya mulai menyentuh leherku.&lt;br /&gt;"anggap saja rumah sendiri" bisiknya pula&lt;br /&gt;Kembali kualami ketegangan kedua hari itu setelah tadi di lift sama Dody, kini dengan Pak Jacky di kamar sementara istrinya berada di kamar mandi.&lt;br /&gt;Pak Jacky menciumi tubuhku yang berada di pangkuannya, baru kusadari ternyata dia tidak mengenakan celana dalam. Segera kuraih penisnya, kubiarkan dia menjamah dan meremas remas buah dadaku tapi kucegah saat dia hendak menyelipkan tangannya dibalik pakaian, terlalu berbahaya, bisikku.&lt;br /&gt;Kami berpindah ke sofa di pojok ruangan, menghindari pandangan langsung dari pintu kamar mandi, paling tidak sebagai persiapan kalau istrinya sewaktu waktu keluar. Aku duduk di sofa dengan kaki terangkat tertumpu pada sandaran tangan di kiri kanan sedangkan rok-ku yang tersingkap ke atas, rambut kemaluanku tampak dari balik celana dalama mini yang tidak mampu menutupi keberadaannya. Sudah kucegah Pak Jacky untuk melakukan oral, rasanya kok nggak etis kalau vagina yang baru saja dipenuhi sperma laki laki lain kok harus diberikan padanya, tapi dia memaksa, maka akupun menyerah, toh udah aku peringatkan, pikirku.Dari celah celah celana dalam lidah Pak Jacky mulai menyusuri daerah selangkanganku, tidak seperti Dody, Pak Jacky menjilati dengan penuh perasaan, sedikit demi sedikit penuh kesabaran lidah itu menari nari dengan lembut, aku hanya menggigit bibir saat klitorisku mulai tersentuh, semakin lama semakin nikmat apalagi saat jari jari tangannya ikutan mengocok vagina. Kalau saja tak ingat istrinya sedang mandi, mungkin aku udah menjerit keras dalam nikmat, semakin lama bibirku kugigit semakin kuat menahan desahan.Meskipun demikian aku masih cukup tersadar untuk memonitor suara di kamar mandi, selama suara gemericik air masih terdengar, berarti masih aman, artinya Lita belum selesai mandi. Sambil meremas remas buah dadaku sendiri, kubenamkan kepala Pak Jacky semakin dalam ke vaginaku.&lt;br /&gt;Pak Jacky minta ganti posisi, aku langsung jongkok diantara kakinya dan tak lama kemudian penis Pak Jacky yang tidak besar itu sudah mem-porak porandakan lipstik yang ada di bibir, keluar masuk memenuhi mulutku, namun demikian aku tetap menjaga supaya make up-ku tetap terjaga rapi. Tangan Pak Jacky begitu rajin menjamah di dada, aku hanya berharap supaya pakaianku tidak kusut di bagian itu. Kulirik Pak Jacky sudah merem melek merasakan kulumanku, seperti halnya aku, dia memegang kepalaku dan menekan semakin masuk penis itu di mulut. Hampir semua penis itu memenuhi mulutku, karena memang tidak besar, bahkan jauh bila dibandingkan punya Dody barusan.&lt;br /&gt;"aaagh...." tiba tiba aku dikagetkan teriakan Pak Jacky setelah beberapa menit kukocok dengan mulut, secara reflek kututup mulutnya dengan tangan supaya teriakan itu tidak keluar. Selagi aku masih berkonsentrasi pada teriakan Pak Jacky, tanpa kusangka dia memuntahkan spermanya di mulut, akupun terkaget dan berusaha menarik keluar tapi tangannya begitu kuat menahan kepalaku, tanpa bisa berbuat banyak akupun pasrah menerima semburan demi semburan sperma memenuhi mulutku.Sebelum sampai pada tetesan terakhir, kudengar suara air shower dimatikan, berarti Lita sudah selesai mandi, agak panik juga aku, apalagi dengan mulut penuh sperma, tak pernah kusangka hal ini sebelumnya. Tak ada pilihan, Lita bisa keluar setiap saat sementara aku masih harus merapikan pakaian yang agak awut awutan, terpaksa kutelan spermanya.&lt;br /&gt;Setelah menelan habis sperma yang ada dimulut, aku beranjak ke cermin di depan meja, kurapikan pakaian dan kupoles kembali bibir dengan lipstik. Sebenarnya Pak Jacky masih menginginkanku duduk dipangkuannya tapi kutolak sambil memberi isyarat tangan ke kamar mandi, Lita bisa keluar anytime.&lt;br /&gt;Ternyata Lita tidak langsung keluar, sehingga masih ada waktu bagi Pak Jacky untuk kembali mem-briefing aku skenarionya. Sesaat Lita keluar, tapi hanya mengambil baju lalu masuk kembali ke kamar mandi, namun kali ini pintu kamar mandi tidak ditutup, dari tempat dudukku aku bisa melihat postur tubuh Lita yang masih bagus dan sexy, meski buah dadanya tidak semontok punyaku, kecil tapi sudah agak turun, mungkin terlalu sering tidak mengenakan bra, apalagi kalau ada show.&lt;br /&gt;Setengah jam kemudian, kami bertiga sudah duduk di coffea shop, sambil makan siang Pak Jacky menceritakan tentang diriku semasa sekolah dulu, tentu saja dengan bualannya sendiri, termasuk menyebut nama guru guru yang tidak kutahu namanya, aku hanya tersenyum dan salut akan kebohongannya.&lt;br /&gt;Selesai makan siang, Pak Jacky meninggalkan kami berdua karena ada meeting dan sesuai rencana kuajak Lita keliling kota Surabaya. Seperti halnya wanita pada umumnya, Lita lebih tertarik pada Mall dan shopping center, maka kuajak dia ke Mall Galaxy. Tak ada yang istimewa baginya, sama seperti halnya Mall lainnya, meski demikian dia sempat memborong beberapa sepatu dan lingerie, dari pilihan lingerie-nya aku bisa menebak bagaimana sexy-nya dia diatas ranjang. Ketika dia hendak membeli tas kulit, aku menyarankan supaya kita melihat dulu di Tanggulangin, Sidoarjo, pusat kerajinan kulit, mungkin itu bukan kelas dia tapi tak ada salahnya dicoba dulu, tapi bukan sekarang, besok aja.&lt;br /&gt;Tak terasa jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam ketika kami sampai di lobby hotel, entah sudah berapa jam kami habiskan di Mall tadi, perut udah berontak minta diisi, tanpa naik ke kamar kami makan malam di Coffea shop. Lita menelepon suaminya yang ternyata sudah datang sedari tadi, aku sudah mengetahuinya karena berulang kali dia kirim sms dan telepon tapi tak pernah kubalas karena memang tak ada kesempatan untuk itu, terakhir kuterima saat menyerahkan kunci mobil ke Valet, isinya, "aku sudah ada di hotel, hubungi bila nyampe", tapi tak kutanggapi, takut Lita curiga.&lt;br /&gt;"oke say, kamu turun deh gabung kami" kata Lita pada suaminya via telepon.&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Pak Jacky datang.&lt;br /&gt;"wah ngeborong nih" sapanya melihat tas belanja yang ada disamping kami&lt;br /&gt;"nggak kok, cuma sepatu dan itu tuh, kesukaan kamu" katanya sambil mencium suaminya&lt;br /&gt;Sembari makan, Lita menceritakan rencana besok ke Tanggulangin, kuamati kedua pasangan itu, sebenarnya mereka pasangan yang serasi, cantik dan ganteng, apalagi si istri yang begitu manja pada si suami, ada rasa iri dengan suasana dan kemesraan seperti itu, kemesraan yang sangat lama tidak kurasakan, bahkan sudah kulupakan tapi naluri kewanitaanku yang haus akan belaian kasih sayang seperti itu tetap ada dan tak mungkin kulupakan begitu saja, entah kapan kudapatkan kembali.&lt;br /&gt;"nanti kita ke discotique yuk, udah lama nih aku nggak clubbing, mau kan kamu temanin kami ?" tanya Lita padaku, tentu saja aku tak bisa memutuskan, semua tergantung pada Pak Jacky, tapi tak mungkin kutanyakan padanya di depan Lita.&lt;br /&gt;"terserah mbak Lita aja, aku sih ngikut kok selama nggak mengganggu acara kalian berdua" kataku sambil meneguk air dan melirik ke arah Pak Jacky, sekedar ingin tahu responnya, karena berarti malam ini aku tidak bisa melayani dia.&lt;br /&gt;"oke tapi janji tak lebih dari jam 12, besok aku ada meeting pagi pagi" kata Pak Jacky pada istrinya sambil melirik ke arahku.&lt;br /&gt;"yaaaa, jam segitu kan lagi rame ramenya, apalagi biasanya hari begini kan ladi's night" protes Lita tapi suaminya tetap bersikukuh. Akhirnya Lita menyerah.&lt;br /&gt;"kamu nggak usah pulang, mandi aja di tempatku, soal pakaian aku kira ukuran kita hampir sama kok" katanya padaku, tentu saja aku bingung, tak mungkin bilang kalau aku juga ada pakaian di kamar lain, menyesal juga tadi nggak beli pakaian sekalian, habis nggak tahu rencananya sih.&lt;br /&gt;Selesai makan kami kembali ke kamar mereka, kali ini kamar itu sudah rapi tidak seperti tadi pagi yang masih berantakan.&lt;br /&gt;Lita mempersilahkanku mandi duluan, meski aku menolak tapi dia memaksa. Dengan cepat aku membersihkan tubuh, tak lebih 10 menit, jauh lebih cepat dari biasanya kalau aku mandi sendirian. Kukenakan piyama yang ada di kamar mandi, lalu aku keluar, ternyata Lita sedang mencoba lingerie yang baru dia beli dihadapan suaminya, dia terlihat begitu cantik, sexy dan anggun mengenakan lingerie itu.Beberapa stel pakaian sudah disiapkan di atas ranjang untuk kupilih, semuanya pakaian casual yang sexy, ternyata dia juga menyukai jenis pakaian seperti itu, tak jauh beda dengan koleksiku.&lt;br /&gt;"selagi kamu pilih, aku mandi dulu ya" katanya kembali meninggalkan kami berdua, entah sengaja atau tidak, dalam keadaan normal tentu saja aku tak bisa berganti pakaian didepan suaminya.&lt;br /&gt;Begitu terdengar bunyi "klik" pintu kamar mandi ditutup, Pak Jacky segera memelukku dari belakang dan menyusupkan tangannya dibalik piyamaku, meraih buah dada dan meremasnya.&lt;br /&gt;"ssst, jangan dia belum mandi" bisikku, dan benar saja kembali terdengar bunyi pintu terbuka, dengan gugup dia menarik keluar tangannya, berpura pura memilihkan baju untukku.&lt;br /&gt;"Ly, kalau mau ganti, masuk aja, nggak dikunci kok" teriaknya dari dalam kamar mandi, kami seakan sudah akrab tidak lagi memanggil mbak.&lt;br /&gt;"ya mbak, bingung nih milihnya" kataku masih tetap memanggil mbak karena memang dia lebih tua dariku.&lt;br /&gt;"minta Jacky milihin, dia pintar tuh memadukan pakaian" katanya kemudian terdengar pintu ditutup kembali, disusul bunyi air shower.&lt;br /&gt;Tanpa membuang waktu lagi, Pak Jacky kembali memeluk dan memasukkan tangannya ke dadaku, ditariknya lepas tali pengikat piyama dan dibaliknya tubuhku hingga kami berhadapan. Tubuhku yang terbuka di bagian depan seakan menantangnya, Pak Jacky meraih buah dadaku, sambil menatap penuh nafsu tangannya menggerayang didada, mengelus dan meremas remas, sesekali dia memainkan putingku.&lt;br /&gt;"kamu makin cantik dan sexy aja" bisiknya disusul lumatan pada bibirku, tanpa mempedulikan si istri di kamar mandi, kamipun sudah berciuman, saling melumat dan beradu lidah.Tangan Pak Jacky sudah beralih ke selangkangan, hampir saja aku mendesah, untung masih tertutup bibirnya. Meskipun demikian konsentrasiku masih terpecah pada gemericik air dari kamar mandi, beruntung si Lita tidak berendam di bathtub.&lt;br /&gt;Gemericik air masih terdengar ketika Pak Jacky mulai mengocokku dari belakang, tanpa membuka piyama tentu saja kecuali tali yang terlepas tadi, hanya menyingkapnya hingga pinggang. Antara kenikmatan dan ketegangan datang silih berganti, kutelungkupkan mukaku ke bantal untuk meredam desahan yang hampir tak mungkin kutahan.&lt;br /&gt;Sambil mengocokku, sesekali Pak Jacky berbicara keras sendirian, berpura pura seakan sedang denganku, tentu saja aku tak bisa mengikutinya, takut suara desahanku malahan yang keluar.&lt;br /&gt;Sekitar 5 menit kemudian, vaginaku sudah dibanjiri spermanya, diiringi remasan kuat pada buah dada, aku menjerit tertahan dibalik bantal merasakan denyutan kuat yang melanda dinding dinding kenikmatanku.Sehabis denyutan itu, dia mencabut penisnya lalu mengusap usapkan pada wajah dan dadaku dan berakhir di mulut. Sisa sisa sperma yang ada di tubuhku hanya kubersihkan dengan piyama yang kukenakan, sia sia saja aku tadi mandi karena sekarang sudah kotor lagi, tapi nggak mungkin kalau mau mandi lagi, tentu Lita akan curiga.&lt;br /&gt;Setelah merapikan piyama yang kukenakan, aku memilih pakaian yang disediakan Lita, semua terlihat berpotongan press body, yang menonjolkan lekuk tubuh, dipadu dengan rok mini.Pak Jacky memilihkan kaos You Can See yang berbelahan dada rendah, aku yakin dengan sedikit membungkuk pasti terlihat buah dadaku, sambil memilih tangannya tak pernah berhenti menggerayangi tubuhku, apakah itu di dada ataupun pantat, apalagi tanpa pakaian dalam dibalik piyama.Sebenarnya bisa aja aku langsung ganti pakaian tapi tentu saja Lita akan curiga kalau itu kulakukan. Sambil menunggu istrinya keluar kamar mandi, kami kembali berciuman dan berpelukan, kurasakan sperma Pak Jacky meleleh keluar dari vaginaku tapi kubiarkan saja.&lt;br /&gt;Ternyata cukup lama juga Lita mandi, hampir 30 menit dia belum juga keluar, kalau tahu dia mandi begitu lama tentu kami bisa melakukan babak kedua, tapi itu justru memberi kami kesempatan untuk saling meraba lebih lama lagi, penis Pak Jacky sudah mulai kembali menegang.&lt;br /&gt;Untuk mengurangi kecurigaan, kuketuk pintu kamar mandi.&lt;br /&gt;"mbak, aku mau ganti baju yaaa" kataku minta permisi"masuk aja Ly, aku udah selesai kok" jawab suara dari dalam, ketika pintu kubuka ternyata mbak Lita memang udah selesai, mengenakan piyama seperti halnya aku, rambutnya basah tergerai semakin menambah pesonananya. Meski agak canggung, akupun berganti pakaian meskipun mbak Lita masih mengeringkan rambutnya.&lt;br /&gt;"body kamu bagus, nggak kalah lho sama peragawati" komentarnya melihat tubuh telanjangku dari belakang.&lt;br /&gt;Aku hanya diam saja mengingat suaminya telah menikmati kehangatan tubuh yang baru saja dikatakan bagus itu, dan itu juga telah terjadi hanya berselang beberapa menit yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-8705233437770947255?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/8705233437770947255/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=8705233437770947255' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/8705233437770947255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/8705233437770947255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/call-girl-part-2.html' title='Call Girl part 2'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-8587051836684173349</id><published>2008-12-14T07:01:00.000-08:00</published><updated>2008-12-14T07:05:54.042-08:00</updated><title type='text'>Call Girl part 1</title><content type='html'>Aku dan Dita bertukar posisi, Pak Bram meremas remas buah dadaku, mengulum putingnya sambil merasakan kuluman Dita pada penis, aku melirik ke bawah, meski terlihat sangat muda namun sepertinya Dita sudah cukup berpengalaman, dengan asyiknya penis itu keluar masuk mulut yang mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu duluan" bisiknya memberi perintah, sebelum aku menuruti perintahnya kuatur tubuhku hingga posisi 69 dan berbagi penis dengan Dita, bergantian mengulumnya, berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya, dua lidah menari nari bersamaan pada penis yang sama. Kurasakan jilatan Pak Bram di vaginaku, tidak istimewa memang tapi cukup membuatku terdesah nikmat dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari belumlah larut, jarum jam belum menyentuh angka 9 malam, masih sore bagiku. Sesore ini rasa penat dan capek sudah kurasakan, hari ini sebenarnya cukup menyenangkan hingga kejadian barusan yang membuatku benar benar kehilangan semangat, ingin rasanya menghabiskan malam ini dengan menyendiri di rumah, nonton tv bersama teman teman, kegiatan yang sudah lama tidak kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga orang laki laki telah kulayani dalam melampiaskan hasrat sexualnya, pagi tadi kuserahkan&lt;br /&gt;tubuhku pada seorang laki laki yang kutaksir tak lebih dari 45 tahun di Hotel Sahid, padahal masih pagi sekitar jam 10 dan aku baru bangun. Tak ada hal yang istimewa padanya, seperti tamuku lainnya yang datang dan pergi. Kami bermain 2 babak untuk satu setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tamu kedua adalah orang Korea, yang menikmati hangatnya tubuhku saat jam istirahat kantor, biasa bobok bobok siang atau Sex After Lunch di Hotel Westin (sekarang JW Marriot). Kulayani dia hanya satu babak sepanjang hampir 45 menit nonstop, mungkin karena banyak makan ginseng dan ditunjang usia yang masih muda, belumlah 40 tahun menurut pengakuannya. Beruntung hanya satu babak karena dia ada meeting di kantornya jam 2 siang nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki laki ketiga yang menyetubuhiku adalah anak muda chinese langgananku, biasa kalau sudah langganan tentu lebih banyak ngomongnya,lebih santai, sehingga meskipun kuhabiskan lebih lebih 2 jam menemaninya namun aku hanya melayaninya cuma 2 kali. Itupun yang kedua hanya bertahan tak lebih 5 menit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang membikin aku jengkel adalah tamuku yang keempat, yang membookingku setelah jam kerja kantor, jam 6 sore. Aku menemaninya di Palm Inn, hotel short time yang terletak di daerah Mayjend Sungkono, tempat itu sangatlah familiar bagiku. Entah sudah berapa puluh kali tubuhku dinikmati bermacam laki laki di tempat itu. Aku yakin semua kamar sudah pernah kupakai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang GM telah memintaku sejak siang tadi, saat aku menerima tamu Korea, karena sudah terlanjur menerima bookingan, maka kujanjikan sore kalau masih mau menunggu. Rupanya si tamu tidak mau dengan yang lain jadi dia bersedia masuk waiting list.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat aku tiba di Palm Inn, dia sudah menunggu di dalam. Agak terkaget saat melihatnya, wajahnya sepertinya tak asing bagiku, sepertinya telah mengenal dia, entah dimana, yang jelas&lt;br /&gt;wajah itu aku kenal namun tak kuingat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mungkin salah satu tamuku yang hanya booking sekali atau dua kali lalu tak nongol lagi" pikirku, tentu saja untuk tamu seperti ini aku lupa karena terlalu banyak laki laki yang datang dan pergi mengisi hari hariku. Kalau tidak ada hal yang istimewa, begitu berpisah dengan tamuku terlupakan sudah apa yang baru saja kami jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia memperkenalkan diri dengan nama Yanto, umurnya mungkin lebih 55 tahun, jadi seangkatan dengan papaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami ngobrol ringan, meskipun dia sudah berhenti merokok namun mengijinkan aku untuk merokok. Pak Yanto orangnya terlihat ramah dan sabar, 20 menit ngobrol dengannya aku semakin suka dengan pembawaannya yang tidak buru buru. Selama 20 menit itu pula aku mengingat ingat dimana kenal dengan wajah ini karena bagiku tampak tak asing sekali, ingin menanyakan takut dia tersinggung. Kalau aku menanyakan pada tamu apakah pernah mem-bookingku, tentu akan membuat tamu itu tersinggung karena berarti bagiku dia hanyalah biasa biasa saja, bagiku aku ingin memberi kesah kalau setiap tamu yang kulayani adalah laki laki istimewa dan unik yang tak gampang terlupa. Kalau aku ragu sama seorang tamu, maka akupun akan bersikap sok akrab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga Pak Yanto memintaku melepas pakaian, aku masih belum menemukan jawabannya meski sudah kuusahakan memancing beberapa pertanyaan yang mengarah, tetap saja gagal.&lt;br /&gt;Tubuhku yang sudah telanjang duduk dipangkuannya, kami saling berhadapan, Pak Yanto belum juga melepaskan pakaiannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu memang menggemaskan, menggairahkan dan menggoda, tak kusangka akhirnya aku dapat kesempatan ini" katanya disusul ciuman lembut di pipi dan bibir, lalu turun ke buah dada dan sedotan pada putingku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa saat Pak Yanto mencium pipi dan bibirku, bulu kudukku berdiri, seperti ada getaran aneh menyelimuti tubuhku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kuluman yang lembut pada bua dadaku perlahan semakin menggairahkan, tak dapat ditahan lagi akupun mulai menggeliat dan mendesah di atas pangkuannya, kuremas remas rambutnya. Tubuhku merosot turun diantara kakinya, kulucuti pakaiannya satu persatu hingga sama sama telanjang. Keelus lembut dan kukocok dengan tangan sambil menciuminya, saat hendak kukulum penisnya yang tegang itu, dia mengangkat mukaku, ditatapnya dalam dalam seakan menengok isi hatiku, bergidik aku jadinya, seperti ada benang merah yang tak dapat kumengerti antara aku dan dia, diciumnya kening dan bibirku, setelah itu dia diam saja ketika lidahku mulai menyentuh kepala penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Yanto mulai mendesah, penis itu sudah keluar masuk mulutku, tangannya membelai lembut rambutku yang tergerai dengan lembut. Dia selalu menyibakkan rambutku apabila ada yang menghalangi pandangannya pada wajahku yang tengah mengocok penisnya, pandangan itu tak pernah lepas kearahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pindah ranjang yuk" ajakku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku berdiri hendak menuju ranjang, dia menarikku hingga akupun terjatuh terduduk kembali dalam pangkuannya. Pak Yanto mendekapku dari belakang, tangannya meremas remas buah dadaku sembari menciumi punggung dan tengkukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku telentang di atas ranjang, entah sudah berapa ratus pasangan yang telah melampiaskan nafsunya di ranjang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"boleh kucium ?" tanya Pak Yanto saat tangannya sudah berada diselangkanganku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"em...kalau bapak mau" jawabku, biasanya laki laki seumur dia pintar bermain oral, maklum jam terbang sudah tinggi dan permainan oral tidaklah dipengaruhi umur maupun stamina, jadi biasanya lebih pintar dari yang muda muda. Disinilah kelebihan laki laki yang sudah tua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dugaanku benar adanya, bibir dan lidah Pak Yanto dengan dibantu jari jari tangannya begitu pintar bermain diselangkanganku, mempermainkan klitoris dan bibir vagina, akupun menggeliat dalam nikmat, tentu saja diiringi desahan desahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"sini Pak, enam sembilan" ajakku, dia langsung menurutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunikmati benar permainan oral ini karena untuk tamu seusia dia aku tidak berharap banyak bisa mendapatkan orgasme dari persetubuhan. Permainan oral kami sungguh mengasyikkan, beberapa kali kami bergulingan berganti posisi atas dan bawah.&lt;br /&gt;Aku harus mengakui kalau dia lihai bermain oral sex, disamping itu cukup tahan juga menahan orgasme. Tidak sedikit laki laki yang sudah orgasme hanya dengan kulumanku, bahkan banyak juga yang orgasme cuma dengan dikocok tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh Pak Yanto sudah di atasku, bersiap melesakkan penisnya mengisi vaginaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mau pake kondom ?" tanyanya sopan sambil menatap tajam, aku tak sanggup melawan tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"terserah bapak, aku sih oke oke aja kok" jawabku sambil menghindari tatapannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutuntun penis itu memasuki liang kenikmatanku, penis keempat yang memasuki vaginaku hari ini. Perlahan dia mendorong masuk, matanya tak lepas menatapku, seperti menikmati expresi wajahku yang tengah menerima kenikmatan darinya. Kembali dikecupnya kening, pipi dan bibirku setelah penisnya masuk semua, didiamkannya sejenak sembari melumat bibir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kocokannya pelan dan lembut, seperti takut merusakkan vaginaku. Tubuh Pak Yanto mulai menindihku, kami saling berpelukan dan mengulum bibir, semakin lama kocokan itu semakin cepat membuat tubuhku mulai menggeliat.Butiran keringat terlihat di wajahnya, punggungnya mulai basah padahal belumlah 10 menit kami bercinta, maklum sudah setengah baya. Ciuman Pak Yanto bergantian dari pipi, leher, bibir dan kening, kujepit pinggang Pak Yanto dengan kedua kakiku yang melingkar di pinggang. Tubuh telanjang kami saling mendekap semakin rapat menyatu, entah kenapa ada rasa aman saat Pak Yanto mendekapku erat, seperti aku sedang dalam perlindungannya, padahal kini aku sedang dalam lampiasan birahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mau keluar di dalam atau di luar ?" bisiknya tak lama kemudian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"terserah bapak, sukanya dimana" jawabku sambil mendesah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba tiba tubuhnya menegang, gerakannya kacau, kurasakan kepala penisnya membesar dalam vaginaku, disusul denyutan kuat melanda dinding dinding vagina. Pak Yanto menjerit sambil mendekapku semakin erat, akupun ikutan menjerit merasakan kuatnya denyutan itu. Kami kembali berciuman bibir setelah denyutan denyutan itu menghilang, kubiarkan tubuhnya tetap berada di atasku, napasnya menderu hebat seiring detak jantung yang bisa kurasakan berdetak kuat di dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh telanjang kami telentang terkapar di atas ranjang. Plafon kaca memantulkan bayangan tubuh kami yang telanjang berdampingan. Kubersihkan penis Pak Yanto dengan tisu yang memang telah tersedia lalu aku kembali rebah dalam pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"tak kusangka akhirnya aku bisa mendapatkanmu seperti ini" katanya seperti sedang mendapat durian runtuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali rasa penasaran mendatangiku, aku yakin kalau dia sudah mengenalku sebelumnya, entah dimana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kutinggalkan Pak Yanto yang tengah mengenang kejadian barusan. Di kamar mandi kubersihkan vagina dari spermanya sambil berusaha mengingat dimanakah aku ketemu Pak Yanto sebelumnya, namun gagal tak kudapat jawaban atas rasa penasaranku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku keluar kamar mandi, kulihat dia sedang menelepon. Dari pembicaraannya pasti dari seorang cewek karena terlihat begitu manja. Aku tak tertarik mendengar pembicaraannya tapi kudengar sayup sayup panggilan "sayang" berulang kali dan diakhiri dengan kata "I love you too".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"sorry, tadi dari anakku, Devi, biasalah gadis jaman sekarang banyak kebutuhannya" katanya seperti ingin memberi penjelasan padaku, padahal aku tak peduli apakah dia telepon sama Devi atau siapapun, anaknya atau apapun, bukan urusanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babak kedua kami lakukan 20 menit kemudian, kali ini posisiku diatas, dengan leluasa dia bisa menjamah seluruh tubuhku, meremas remas buah dada dan mendekapku dengan gemasnya. Bahkan dengan jelas bisa menikmati expresi kenikmatan yang terpancar dari wajahku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti babak sebelumnya, tak lebih 10 menit dia kembali menghantam dinding vaginaku dengan denyutan denyutan nikmat. Sebenarnya bisa saja aku membuatnya lebih cepat dari itu, apalagi posisi diatas adalah posisi favorit karena akulah yang memegang kendali permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mandi bersama setelah istirahat beberapa saat lamanya. Dengan telaten dia memandikanku, mengusap dan menyabuni seluruh tubuhku, tak ada remasan remasan nakal seperti tamuku lainnya, benar benar diperlakukan seperti orang tua yang memandikan anaknya.&lt;br /&gt;Selesai mandi kami berpakaian dan melanjutkan ngobrol sembari menunggu taxi yang dia pesan, tentu saja aku harus menemani sampai taxi itu datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu kok nggak pernah main ke rumah lagi" katanya sembari menyerahkan amplop putih berisi uang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"maksud Bapak ? rumah siapa ?" tanyaku heran, kuhentikan isapan rokokku dan kuletakkan amplop putih yang kuterima tadi si meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dulu kan sering main ke rumah, didaerah Blauran" lanjutnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam memikirkan arah pembicaraan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"emang aku kenal Bapak sebelumnya dan kita pernah bertemu ?" tanyaku penasaran, tak ada lagi rasa segan takut tersinggung seperti tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan cuma kenal, aku bahkan sering mengantarmu pulang setelah main di rumah" jawabnya, semakin membuatku bingung. Rasanya aku nggak pernah main atau terima bookingan di rumah, apalagi daerah blauran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bapak siapa sih ?" tanyaku tak bisa menutupi rasa penasaranku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aku bahkan sering menciummu meski ciumannya lain dengan yang tadi, memangkumu telanjang, meski tidak seperti tadi, dan memandikanmu walau momennya nggak sama dengan barusan bahkan kamu selalu minta aku cium saat kuantar pulang"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ah Bapak ngaco deh, meng-ada ada" jawabku dalam kebingungan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu masih belum tau siapa aku ?" tanyanya menyeretku dalam rasa penasaran yang membesar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"nggak tau ah" jawabku putus asa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"nah, persis begitu deh kalau kamu lagi marah, nggak berubah dari dulu, lihat tuh cemberut gitu dengan mulut monyong" godanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"habis Bapak bikin aku penasaran sih" tanyaku manja, aku yakin dia mengenal banyak tentang diriku, melebihi apa yang kuperkirakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"oke aku kasih satu nama supaya ingat, barusan aku telepon dengan Devi, ingat nama itu ? "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku diam sejenak, kuingat ingat teman yang bernama Devi, ada beberapa tapi tak satupun bisa kusangkut pautkan dengan Pak Yanto, Devi cina yang mata duitan dan hanya mau menerima tamu chinesse atau Devi bule yang rambutnya selalu di cat blonde, atau Devi sekretaris yang menerima bookingan diluar jam kantor dan simpanan bos-nya, atau Devi lainnya. Rasanya semua tak ada hubungan dengan Pak Yanto.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ah, nggak tau ah, mau Devi atau Dewi atau Debra terserah deh, aku nggak tahu" jawabku menyerah dengan wajah makin cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ingat nggak Devi yang tinggal di Blauran yang rumahnya di pojok kampung cat hijau ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"......HAAA ????? Bapak...bapak...bapak adalah Om Hari ? ayahnya Devi ?" potongku membelalak, kupandangi wajahnya, wajah yang tadi bikin aku penasaran, wajah yang tadi berulang kali dalam jepitan selangkanganku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku berdiri menjauh, kutatap Pak Yanto lebih seksama, dan benar adanya, dia memang Om Hari ayahnya Devi, sahabatku waktu masih kecil. Pak Yanto, laki laki yang telah menyetubuhiku 2 kali dan memberiku kenikmatan permainan oral, laki laki yang telah mengisi rahimku dengan spermanya adalah tidak lain ayah Devi, teman sepermainanku waktu kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia seakan berputar dan menyempit menjepitku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"lily...aku...aku tak bermaksud...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kudengarkan lagi ucapan Pak Yanto atau Om Hary, aku berlari keluar kamar meninggalkannya seorang diri, segera kupacu mobil pantherku menjauh dari tempat itu secapat mungkin. Tak kuhiraukan lagi amplop putih yang kuletakkan di meja tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang jalan kusesali ketololanku, pantas saja sejak pertama bertemu aku merasakan wajah itu tak asing lagi dan serasa begitu dekat kukenal, pantas saja aku merasakan rasa aman saat dalam dekapannya sebagaimana kulakukan dulu kalau berantem dengan Devi Om Hari justru lebih sering membelaku daripada anaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bayangan masa kecil nan bahagia terpampang jelas dalam benakku, semenjak kecil bahkan hingga SMA aku dan Devi tumbuh bersama, sering aku nginap dirumahnya kalau hari libur, begitu juga dia. Kami makan di piring yang sama, tidur di ranjang yang sama dan konyolnya mengagumi cowok yang sama saat kelas 1 SMA namun tak mempengaruhi persahabatan kami karena sama sama tidak mendapatkan cinta cowok itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumah Devi sebelumnya adalah bertetangga denganku, setelah Om Hari punya rumah sendiri mereka pindah ke daerah Blauran. Karena kami memang teman yang cocok, maka akupun sering minta diantar ke Blauran untuk main ke rumah Devi, begitu juga saat memasuki usia sekolah, kami bersekolah di sekolah yang sama dari TK hingga SMA sampai Om Hari harus pindah rumah karena tugas ke Medan, sejak itulah aku dan Devi putus hubungan. Kejadian itu ketika kami naik dari kelas 1 ke kelas 2, aku ingat betul bagaimana saat itu kami bertangisan di airport Juanda mengantar kepergian Devi dengan keluarganya, dan seminggu sejak itu aku sakit demam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku memang sangat manja kepada Om Hari, nama sebenarnya adalah Haryanto, bahkan sampai kelas 3 SMP masih tanpa malu hanya mengenakan celana dalam dan kaos singlet dihadapannya, padahal buah dadaku sudah mulai terbentuk menonjol. Malahan kalau kulihat Devi sedang dipangku ayahnya, aku ikutan duduk dipangkuannya, itu berlaku hingga kelas 3 SMP, sikap manjaku berubah setelah aku mendapatkan menstruasi pertama yang hampir bersamaan dengan Devi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami masih kecil, belum sekolah, Om Hari sering memandikanku bersamaan dengan anaknya, bahkan kami sering bermain petak umpet saat akan dikenakan pakaian. Ini semua karena saat itu Om Hari masih belum bekerja, semua kebutuhan hidup dipenuhi istrinya yang bekerja di Pemda dan dari mertuanya, jadi Om Hari berperan sebagai ibu rumah tangga saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa airmataku meleleh membasahi pipi, kubiarkan deras mengalir turun. Jalanan Mayjend Sungkono yang macet itu membuat aku lebih bebas ber-nostalgia dengan Om Hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Devi, dimanakah kamu sekarang ? maafkan sahabatmu ini, maafkan aku, bukan maksudku ..." teriak batinku tak kuasa melanjutkan, tiba tiba rasa kangen ingin bertemu dengannya begitu besar, namun mengingat kejadian barusan rasanya tak ada muka untuk bertemu dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kata Om Hari tadi, dia dulu sering memangkuku bahkan dalam keadaan telanjang, kini dia melakukan lagi walau dalam konteks yang berbeda. Begitu juga kalau dulu sering memandikanku, kini kembali dia memandikanku meski dengan suasana berbeda. Dulu dia menidurkanku kalau aku nginap dirumahnya, kini kembali dia meniduriku dengan tujuan berbeda pula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kusesali kalau Om Hari, ayah sahabat kecilku, kini termasuk dalam daftar puluhan atau ratusan laki laki yang telah meniduriku, menyetubuhiku atau satu dari sekian banyak laki laki yang telah menyiramkan spermanya di rahimku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HP-ku berbunyi, kulihat nomer tak kukenal, segera kujawab, begitu kudengar suara Pak Yanto atau Om Hari segera kumatika dan selanjutnya tak kuangkat lagi meski berdering puluhan kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kubelokkan mobilku ke Salon langgananku, ingin rasanya menenggelamkan diri di salon itu, melupakan apa yang barusan terjadi. Di salon aku bisa memanjakan diri, mulai dari creambath, mandi lulur dan lain lainnya.&lt;br /&gt;Pukul 21:30 aku keluar dari salon dengan perasaan yang sudah tenang, terlupakan sudah kejadian tadi sore meskipun tidak semuanya, hanya creambath yang kulakukan di salon itu karena sudah mau tutup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai dirumah, GM yang memintaku menemui Om Hari tadi meneleponku, tentu saja aku tak cerita siapa sebenarnya Om Hari, GM tadi hanya menyampaikan kalau uangnya dia pegang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari GM itu aku tahu kalau Om Hari sudah sebulan ini menginginkan aku, katanya dia melihatku saat masuk kamar di Hotel Shangri La bersama seorang Om Om chinese.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"katanya dia kenal kamu tapi ragu ragu, makanya minta aku bookingin kamu untuk meyakinkan, sekalian menghilangkan stress katanya" jelas si GM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasi sudah menjadi bubur dan sulit bagiku untuk mencegah hal itu terulang lagi karena kalau GM yang mengatur aku nggak bisa tahu tamunya sampai ketemu dikamar seperti kebanyakan, dan itu sudah terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kusibukkan sisa malamku dengan teman teman nonton tv, teman temanku juga berprofesi tak beda denganku meski banyak yang berstatus pegawai kantoran atau hostess di night club.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah asik nonton acara tv, si GM tadi meneleponku lagi, memintaku untuk menemani tamunya di Hotel Westin. Sebenarnya aku sudah malas menerima tamu lagi, kejadian tadi sore membuat mood-ku drop dan malam ini tak ada minat untuk bekerja, 4 tamu hari ini sudah lebih dari cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aku capek Om, ngantuk nih" tolakku halus, tapi GM itu terus mendesak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu nggak usah capek capek, kamu nggak sendirian kok, sudah ada temannya di sana, dia ingin main bertiga, ringankan ? apalagi orangnya ini sudah cukup berumur, mungkin 50 tahunan, jadi tentu nggak tahan lama, nafsunya aja gede" bujuk si GM lagi membujukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya aku tak tahan menghadapi bujukan si GM, kuterima tawarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tigapuluh menit kemudian aku sudah berada di lift menuju lantai 8 hotel yang telah kudatangi tadi siang untuk memenuhi pelampiasan nafsu seorang Korea. Sudah sering aku mengalami bolak balik ke hotel yang sama seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang laki laki membuka pintu menyambut kedatanganku, tubuhnya agak gemuk hanya tertutup handuk di pinggangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Malam, dengan Pak Bram ?" tanyaku meyakinkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu Lily ?... masuk...masuk, kami sudah menunggu" katanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Laki laki itu tidaklah setua yang dikatakan si GM, mungkin belum berumur 50 tahun. Didalam kamar telah ada seorang gadis yang rebahan di ranjang tertutup selimut, hanya kepalanya yang tampak. Gadis itu tampak cantik tapi terlihat masih muda, terlalu muda malahan, mungkin belum berumur 20 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu Dita, kalian sudah saling kenal ?" tanya laki laki, kami saling bersalaman memperkenalkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu langsung aja gabung, kami udah duluan, satu babak malahan" kata Pak Bram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku ke kamar mandi melepas semua pakaianku, menyisakan sepasang pakaian dalam purple yang hanya menutupi puting dan segitiga kecil di selangkangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku keluar dengan handuk tertutup di dadaku, kulihat Pak Bram dan Dita sudah berada didalam selimut, mereka berpelukan dan berciuman, terlihat sekali kalau Dita masih sangatlah muda, terlalu muda untuk orang seusia Pak Bram, ada rasa sayang melihat Dita semuda itu jatuh dalam pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"lho kok malu malu gitu, masuk sini biar hangat" perintah Pak Bram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kulepas handuk penutup tubuhku lalu aku bergabung dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"bikinimu bagus, tapi lebih bagus lagi kalo bikini itu dilepas" sambut pak Bram seraya menarik tubuhku dalam pelukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenit kemudian, tubuhku sudah telanjang dalam cumbuannya, dia melumat bibir sambil meremas remas buah dadaku, sementara Dita hanya diam melihat saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dita minta teman kalau harus menemaniku sampai besok pagi" Jelas Pak Bram&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"habis Om Bram kuat mbak, bisa kewalahan kalau aku harus melayani sendirian" jawab Dita, aku hanya tersenyum. Berdua kami mencumbu Pak Bram bersamaan, aku di sebelah kanan sedangkan Dita di kiri. Pak Bram mulai mendesah saat putingnya kami kulum bersamaan sembari tangan tangan kami mempermainkan penisnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman kami berlanjut ke perut, paha, betis, ketika kusingkapkan selimut penutup tubuh kami, dengan jelas aku melihat buah dada Dita yang kecil ranum dihiasi puting yang masih sangat kemerahan. Aku semakin yakin kalau Dita masih terlalu muda untuk profesi ini, jangan jangan dia masih SMA alias ABG, terlihat dari wajahnya apalagi postur tubuhnya yang belum terlalu matang untuk seorang gadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciuman kami kembali ke selangkangan, aku mulai menjilati daerah sekitar penis sedangkan Dita menyodorkan buah dadanya yang kecil ranum itu ke mulut Pak Bram. Terdengar desah Dita saat aku mulai memasukkan penis itu ke mulut dan mengulumnya. Kocokanku semakin cepat seiring dengan desahan Dita yang semakin keras meski terdengar agak malu malu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku dan Dita bertukar posisi, Pak Bram meremas remas buah dadaku, mengulum putingnya sambil merasakan kuluman Dita pada penis, aku melirik ke bawah, meski terlihat sangat muda namun sepertinya Dita sudah cukup berpengalaman, dengan asyiknya penis itu keluar masuk mulut yang mungil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kamu duluan" bisiknya memberi perintah, sebelum aku menuruti perintahnya kuatur tubuhku hingga posisi 69 dan berbagi penis dengan Dita, bergantian mengulumnya, berpindah dari satu mulut ke mulut lainnya, dua lidah menari nari bersamaan pada penis yang sama. Kurasakan jilatan Pak Bram di vaginaku, tidak istimewa memang tapi cukup membuatku terdesah nikmat dan basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyapukan penis Pak Bram di vaginaku yang sudah cukup basah, perlahan lahan kuturunkan tubuhku hingga penis itu melesak masuk dengan sempurna. Setelah terdiam beberapa detik, aku mulai menggoyangkan pinggulku mengocoknya, meskipun penis itu tidaklah terlalu besar alias rata rata, tetap saja yang namanya penis selalu memberikan kenikmatan apabila berada di vagina, berapapun besarnya atau bagaimanapun bentuknya, tetap saja nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil merasakan kocokanku, Pak Bram menarik tubuh Dita dalam pelukannya, mereka berciuman, terlihat sekali perbedaan usia yang mencolok antara mereka. Buah dada Dita yang kecil hilang dalam remasan tangan Pak Bram, berkali kali tangan itu berpindah ke buah dadaku, sepertinya hendak membandingkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima menit aku mengocok Pak Bram sebelum dia minta aku turun dan digantikan Dita, tentu saja vagina Dita lebih sempit, kuyakin itu karena belum terlalu banyak penis yang menikmatinya. Tubuh mungil Dita sudah berada di atas Pak Bram dan mulai turun naik, buah dadanya tidaklah berguncang guncang seperti punyaku, karena memang terlalu kecil, terlihat aneh dan lucu bagiku. Ingin rasanya kuraih dan kuremas buah dada itu, sekedar penasaran saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil mengocok Pak Bram, Dita mendesah hebat, merasakan kenikmatan, wajahnya yang putih cantik itu terlihat kemerahan, sebentar lagi pasti orgasme. Pak Bram memintaku naik ke atas kepalanya, dia ingin melakukan oral lagi, kuturuti permintaannya. Posisiku menghadap Dita, sambil mendesah merasakan jilatan Pak Bram, dengan leluasa mengamati wajah Dita yang mulai berkeringat dan semakin cantik saat mendesah nikmat.&lt;br /&gt;Dugaanku benar, Dita menggapai orgasmenya, kepalanya digoyang goyangkan dengan keras sambil memelukku, jeritan orgasmenya terdengar keras dekat telingaku, sedangkan aku sendiri juga mendesah karena jilatan Pak Bram, desahan kamipun bersahutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ganti mbak, lemes aku" bisiknya, padahal baru sekali dia orgasme dan itupun tak lebih 5 menit. Sebelum aku mengganti posisi Dita, Pak Bram sudah meminta dia untuk telentang dan tetap memaksa meskipun Dita minta istirahat dulu atau kugantikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terpaksa Dita menuruti nafsu birahi laki laki seangkatan ayahnya itu, kasihan juga sebenarya melihat Dita yang dipaksa melanjutkan melayani pelampiasan syahwat Pak Bram. Apalagi Pak Bram tidak langsung menyetubuhinya, melainkan memainkan lidahnya pada vagina Dita yang barusan orgasme, sepertinya Pak Bram hendak menghisap cairan orgasme yang ada di vagina Dita. Kulihat dengan jelas bagaimana bibir dan lidah Pak Bram mempermainkan vagina Dita, vagina yang dihiasi sedikit sekali bulu bulu kemaluan yang halus dan terlihat kemerahan bak daging segar didalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tubuh mungil Dita benar benar tidak sebanding dengan tubuh Pak Bram yang tinggi dan agak gemuk itu, begitu Pak Bram menindihnya, terlihat Dita seperti hilang dalam dekapannya. Dita mendesah lebih keras saat Pak Bram mulai mengocok vaginanya dari atas, pinggul yang bergerak turun naik itu tampak semakin menekan tubuh Dita dan semakin tidak terlihat.&lt;br /&gt;Kuelus elus punggung Pak Bram sambil memainkan kantong bolanya, kocokan Pak bram semakin cepat dan Dita-pun semakin mendesah hebat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"egh...egh..sssshhhhh...aduuuh...enak Om..trusss..trussss...Ampuuuuuuun aku...aku keluar lagiiiiiiiii" desah dita nggak karuan hingga tergapai orgasme kedua dalam waktu singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tangan dan kaki Dita melemas, tidak lagi memeluk Pak Bram, wajahnya merah seperti udang rebus, kasihan juga melihatnya. Aku bersiap dengan posisi merangkak disamping Dita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"giliranku Pak" kataku menantang sambil menepuk pantatku, sebenarnya sekedar mengalihkan dari Dita.&lt;br /&gt;Pak Bram segera beralih ke vaginaku, Dita menatapku dengan sorot mata terima kasih. Kini giliran Pak Bram mengocok vaginaku, meskipun tidaklah sesempit punya Dita tapi aku yakin permainan otot otot vaginaku akan lebih menimbulkan kenikmatan dibandingkan vagina sempitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya beberapa menit mengocokku dogie, dia memintaku ganti posisi biasa. Badannya terasa berat saat mulai menindihku, ketika penisnya sudah melesak semua, Pak Bram mencium dan melumat bibirku, bersamaan dengan itu penisnya bergerak keluar masuk memompa vagina. Sesekali dia menekan keras pinggulku, seperti hendak memasukkan penisnya sedalam mungkin, desahan kami bersahutan mengiringi permainan, keringat Pak Bram mulai membasahi tubuh kami. Tak lama kemudian kurasakan denyutan pada vaginaku, dia tengah orgasme, dipeluknya tubuhku semakin erat menyatu, jerit orgasmenya terdengar keras dekat telinga. Tubuhnya langsung lemas menindihku seiring dengan berakhirnya denyutan denyutan itu, bebanku terasa semakin berat, apalagi napasnya yang menderu makin menekan di dada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"bapak hebat deh bisa mengalahkan kami berdua" pujiku bohong sekedar memberi kebanggan pada tamu, itu biasa kulakukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"benar kan kataku, mana bisa tahan kalau harus melayani sendirian" timpal Dita&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bram tersenyum bangga sambil berbaring diantara kami berdua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sisa malam kami isi dengan satu babak permainan lagi, seperti sebelumnya, dia terlalu hebat buat Dita tapi tidak bagiku. Babak kedua kembali Dita mendapat 2 kali orgasme sebelum Pak Bram mendapatkan orgasme dariku, sedangkan aku sama sekali gagal mendapatkan orgasme meski aku berusaha tapi Pak Bram terlalu cepat untukku.&lt;br /&gt;Dengan tubuh masih telanjang, kami tidur bersama, tentu saja Pak Bram berada di tengah bak raja semalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keesokan paginya Dita bangun terlebih dahulu dengan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wah gawat, kesiangan" umpatnya sempat terdengar olehku, ketika kutoleh dia sudah tidak berada di ranjang, ternyata dia sudah di kamar mandi. Aku menyusulnya, betapa terkejutnya ketika kulihat Dita tengah mengeluarkan seragam sekolah dari tas ranselnya. Kubaca badgenya, ternyata sebuah SMA favorit di Surabaya, untuk masuk ke sekolah itu tentu haruslah anak pintar atau kaya, atau keduanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mbak mau tolong aku nggak ? anterin aku ya...please, ntar terlambat kalo naik taxi, mana macet lagi jam segini" Dita memohon dengan manja. Jam sudah menunjukkan pukul 6 lewat, berarti kami tidur hanya 4 jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kemana ?" tanyaku masih tidak percaya kalau Dita akan berangkat ke sekolah langsung dari Hotel tempat dia menemani laki laki seusia ayahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku menyanggupi setelah dia menyebutkan tempat sekolahnya, nggak terlalu jauh sih. Untuk mempersingkat waktu kami mandi bareng. Saat mandi kuamati tubuh Dita lebih seksama, wajahnya cantik imut bak cover girl, kulit putih dengan tubuh tidak tinggi cenderung mungil, mungkin 155 cm dan buah dada belum tumbuh sempurna, benar benar terlalu kecil untuk masuk dunia seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"tetek mbak bagus, montok, pasti padat" komentarnya sambil hendak menyentuhku ragu ragu, aku hanya mengangguk mengijinkannya untuk menyentuh. Akupun balas menyentuh dan meremasnya, bukan sekali ini aku meremas buah dada sesama jenis, tapi kali ini sungguh berbeda karena memang belum terbentuk sempurna, masih mungkin untuk tumbuh lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mbak jangan marah ya, waktu kulihat mbak main sama Om Bram, aku kasihan gitu, eman eman dan sayang melihat mbak yang cantik digituin sama orang setua Om Bram, nggak pantas dia untuk mbak Lily" katanya sambil menyiramkan air hangat ke tubuhnya. Tentu saja aku kaget mendengar pengakuannya, sedari tadi perasaan seperti itu selalu muncul dalam pikiranku tapi kini justru dia yang mengatakan hal yang sama untukku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kami keluar masih dalam keadaan telanjang karena semua handuk berada di sofa, ternyata Pak Bram sudah bangun sedang melihat liputan 6 pagi dari SCTV, dia juga masih telanjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wah kalian mandi bareng rupanya, tahu gitu aku ikutan mandi" komentarnya melihat tubuh telanjang kami masih basah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"aku ganti baju dulu ya" kata Dita setalah mendapatkan handuk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku juga mau mengikuti Dita ganti baju tapi Pak Bram menarikku dalam pangkuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"kita main sekali lagi, yang cepat cepat saja, dia kan berangkat ke sekolah tapi kamu kan bebas" katanya. Aku hendak menolak tapi dia sudah melumat bibir dan meremas buah dadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"oke..oke..tapi cepat aja ya, soalnya aku mau ngantar Dita, kasihan kan kalo sampai terlambat" kataku setelah terlepas dari ciumannya sambil melorotkan tubuh diantara kakinya.&lt;br /&gt;Dua tiga menit kukulum penisnya hingga benar benar tegang, setelah itu aku berdiri dan membungkuk, tanganku tertumpu pada meja bersiap menerima kocokan Pak Bram dari belakang. Kubuka kakiku lebar ketika penis Pak Bram menyentuhku, sambil berdiri kami bercinta dengan gaya semi dogie.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"mbak, buruan, udah siang nih, terlambat deh" Dita mengagetkan kami yang tengah bersetubuh, kulihat dia mengenakan celana jean dan seragam atasnya tertutup jaket pink untuk menutupi seragam sekolahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Bram mempercepat kocokannya, begitu juga aku semakin cepat menggerakkan pinggul, kami berdua bercinta bak dikejar hantu. Untunglah tadi sudah kubuat Pak Bram setengah jalan menuju orgasme saat kukulum penisnya, tak lama kemudian diapun menyemprotkan spermanya di vaginaku.Segera kucabut penis itu setelah tak ada lagi denyutan, aku buru buru mencuci vaginaku dengan air, tanpa mengenakan pakaian dalam lagi kukenakan pakaian dan tidak ada waktu untuk make up.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah masing masing menerima amplop dari Pak Bram, aku dan Dita keluar kamar meninggalkannya, dia melepas kami dengan kecupan di pipi seperti seroang ayah melepas kepergian anaknya ke sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalanan mulai macet, Dita tampak gelisah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-8587051836684173349?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/8587051836684173349/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=8587051836684173349' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/8587051836684173349'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/8587051836684173349'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/call-girl-part-1.html' title='Call Girl part 1'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-542305351702964284</id><published>2008-12-13T07:22:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T07:25:34.997-08:00</updated><title type='text'>Siti Pembantuku yang Nikmat</title><content type='html'>“Paakk....suudaaahh ..paakkk..” Kuacuhkan permintaannya, dan kembali kuhantamkan batang kontolku kedalam vagina peret dan seret itu.. Ayunanku semakin cepat dan kadang bervariasi dengan ayunan pelan, tiada henti dengan diiringi erangan dan desahannya bercampur dengan suara indah beradunya pangkal kontolku menghantam pangkal pahanya “..plookkkhh...ploookkkhhh...” Pemandangan ayunan tegas kedua susu Siti, seirama dengan ayunan pinggangku, membuat nafsuku memuncak cepat.. Apalagi cengkeraman otot vagina dan raut wajahnya yang mengejan menahan rasa sakit dan rangsangan yang timbul, membuatku tak dapat menahan lagi untuk meremasi dan mengulumi kembali kedua susunya.. Kadang kugigit kecil karena tak mampu menahan rasa nikmat dan gemasku atas kekenyalan susunya.. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari Minggu siang ini aku sedang santai membaca buku John Perkins tentang the Convession of Economic Hitman, ketika aku mendengar suara mobil istriku berhenti didepan garasi. Suaranya yang nyaring itu, terdengar ketika ia memanggil pembatuku untuk membuka pintu garasi. Aku melongokkan kepalaku kearah garasi ketika dia masuk dengan membawa bebarap kantung belanjaan. “Inah, masukkan barang-barang ini ke kulkas segera ya..” perintahnya kepada pembantuku. Inah adalah pembantuku satu-satunya, setelah kemarin Warni minta ijin untuk berhenti karena mau dikawinkan oleh kedua orang tuanya.. Tak lama kemudian istriku datang menghampiriku yang sedang santai membaca sambil nonton acara TV.. “Pa ini pembantu baru yang gantiin si Warni, aku baru ambil dari yayasan di Depok. Namanya Siti pa,” jelas istriku. Dibelakangnya berjalan dengan kepala tertunduk si pembantu baru ini. Sosok tubuhnya cukup tinggi, dengan wajah yang mencerminkan gadis dari desa dan perawakan yang cukup bagus. Yang membuat aku agak memberikan perhatian lebih lama adalah bongkahan daging yang sangat menonjol didadanya itu. Aku memang gak bisa menahan diri, jika melihat buah dada yang membusung seperti itu. Wah enak nih kalau bisa meremas dan mengulum buah dada seperti ini, pikirku..&lt;br /&gt;“Umurnya baru 20 pa, tapi dia dah pengalaman jadi TKW ke Arab,” jelas istriku. “Ini bapak ya Ti, kamu mesthi layani Bapak dengan baik lho..” “Iya bu, saya akan lakukan,” jawabnya sambil tetap menundukkan kepalanya, sehingga membuatku lebih leluasa untuk mengamati tonjolan buah dadanya yang bulat itu. “Ya sudah sana,” kataku, “kamu bantu Inah di belakang. Yang penting kamu kerja yang baik.” “Iya pak, terima kasih saya boleh kerja disini..” sahutnya sambil membalikkan badan dan berjalan kearah dapur. Sempat aku perhatikan perawakannya dari belakang, ternyata dia punya pantat yang cukup bundaar dan sekal, paha dan betisnya sangat bagus bentuknya walau kulitnya tidak terlalu putih. Ini jenis body yang sangat membangkitkan selera nafsu birahiku. Tak terasa adikku sudah mulai bangun dan menggeliat ketika membayangkan pembantu baruku tanpa sehelai benang ditubuhnya.. Aaaargghh....!!!&lt;br /&gt;Pekerjaanku sebagai konsultan lepas untuk beberapa perusahaan membuatku lebih sering berada dirumah, dan mengerjakan segala sesuatunya dirumah. Aku keluar rumah ketika ada klien atau mitra yang harus kutemui, selebihnya aku lebih senang menghabiskan waktuku dengan bermain bersama anak-anaku. Sehari-hari setelah mengantar anak-anakku kesekolah, aku kembali kerumah dan mulai mengerjakan tugas-tugasku . Aku sedang diruang kerjaku menulis analisa tentang perusahaan telekomunikasi A yang merupakan kompetitor dari klien utamaku, ketika Siti melewatiku dengan membawa peralatan pembersih, “Permisi pak, mau bersihin kamar dan kamar mandi Bapak..” jelasnya lirih sambil menundukkan kepalanya. Kupandangi wajahnya yang masih tetap menunduk, an kemudian turun kedadanya yang membusung, padat dan tegak. “Kamu umur berapa sih sekarang Ti?” tanyaku sambil tetap tidak melepaskan pandanganku dari dadanya. “Saya mau 21 tahun pak, tahun ini,” jawabnya sambil masih tetap menundukkan kepalanya. “Kamu dah kawin ya,” tebakku sambil bersuara agak tegas, walau akunya pada istriku masih gadis. “Jangan bohong kamu sama aku ya..” tegasku. Dia makin menundukkan kepalanya dan kemudian menjawab lemah, “Sudah pak, tapi jangan bilang ibu ya pak, saya sangat butuh banget kerjaan ini pak. Anak saya sangat perlu uang untuk beli susu dia pa..” “Ya sudah, sana.. Tapi kerja yang baik dan nurut disini ya, sama aku.. Jangan bantah.. Tolong klosetnya jangan lupa kamu gosok yang bersih, ya Ti..” kataku, sambil tak lepas menatap dadanya yang nampak lebih membusung hari ini dengan kaus oblong putih yang agak kekecilan itu.. “Makasih pak, saya akan nurut bapak, tapi jangan bilang ibu ya pak..” pintanya lirih. He....he...he.. ada kartu truf ni buat aku untuk muasin sikecil yang sudah mulai tegak.. Oke untuk hari ini kamu aku biarkan lolos dari incaranku, sambil mulai memikirkan cara untuk dapat menikmati tubuhnya, terutama dadanya sang sangat tegak, padat dan sekal itu..&lt;br /&gt;Pagi itu aku sedang mengetik kerjaan didepan komputer ketika Siti lewat untuk membersihkan kamarku.. Hemmhh.. Masiih dengan kaus yang agak ketat, dadanya tampak sangat membusung dan menggairahkan.. “maaf pak mau bersihkan kamar dan kamar mandi bapak..” pintanya sambil masih menunduk.. “Ya sudah sana,” jawabku sambil tak lepas menatap buah dadanya yang indah.. Aku melanjutkan pekerjaanku sambil memikirkan cara yang tepat untuk menikmati buah dada pembantu baruku ini.. Ketika kudengar dia memasuki dan membersihkan kamar mandiku, aku segera bangkit dan menyusul masuk ke kamar mandi.. “Ti tolong kamu potongi bulu rambut yang ada ditelingaku ini ya.. Hati-hati tapi kamu, jangan sampai luka..” kataku. Dengan hati-hati dia mulai memotongi rambut di telingaku, dan dengan sengaja kuangkat sikuku, sambil berpura-pura meringis kesakitan, hingga menyentuh tonjolan didadanya.. Dia agak mundur sedikit, tapi kembali sikuku mengejar buah dada yang kesat itu. Wah masih padat dan kenyal sekali, sehingga adikku mulai tegak.. Ketika kusuruh dia pindah kekuping kiriku, sekarang dengan telapak tanganku kananku kusentuh, kutekan, dan mulai kuremasi buah dada yang sudah beberapa hari ini menghantuiku.. Dia menjauhkan tubuhnya dan berhenti memotong rambut kupingku.. “Paakk, jangan pak..”pintanya lemah.. Tapi aku segera menghardiknya “Ayo, lanjutkan motongnya!!!” Dengan takut-takut dia melanjutkan kegiatannya dengan hati-hati, dan kembali aku menjulurkan telapak tanganku untuk meremas dadanya. Meski dia berusaha menghindar tapi aku malah berusaha untuk memasukkan tanganku kebalik kaus ketatnya, dan akhirnya berhasil kusentuh dan kuremas dengan nikmat buah dadanya yang sebagian lagi masih tersembunyi dibalik BHnya. “Pakk, jangan pakk.. nanti dimarahin ibu pakk...”pintanya lirih sambil berusaha lari keluar kamar mandi.. Karena takut nanti dia berteriak, akhirnya ku biarkan di keluar dari kamar mandi.. Uhh... ini buah dada yang terkenyal dan terpadat yang pernah kurasakan... Awas kamu nanti Ti, janjiku pada diriku sendiri.. Aku harus bisa menikmati lebihhh.....&lt;br /&gt;Biasanya anak-anak memang tidak tidur bersama aku dan istriku..Dan Siti setiap malam tidur dikamar tidur anakku, dan menemani mereka ketika mereka tidur dikamar itu.. Tapi malam itu anak-anak tidur dikamarku, jam 21.00 mereka sudah terlelap dikeloni oleh istriku. Aku masih didepan komputer, ketika kudengar suara langkah kaki Siti menaiki tangga dan masuk kekamar anakku.. Ah.. malam ini aku harus menikmati lagi kenyalnya buah dada si Siti pikirku.. Tiga jam kemudian, setelah yakin istriku lelap dalam tidurnya, aku mengendap-endap mendekati kamar anakku dan menempelkan kupingku kepintu.. Aku yakin Siti sudah tidur, karena dari dalam kamar anakku hanya suara desis AC saja yang terdengar.. Kunci pintu kamar anakku memang sengaja aku sembunyikan, sehingga dengan leluasa aku masuk dan segera menutup kembali pintu.. Kulihat Siti tidur dengan nyenyaknya, dan dada yang membusung itu nampak dengan jelas dibalik setelan dasternya yang longgar.. Kucoba untuk membuka kancing atas dasternya, ternyata dia tidak mengenakan BH malam ini.. Waaahh....pucuk dicinta ulam tiba, pikir ku.. Setelah lima kancing terbuka semua, maka menyembullah buah dada yang bulat dan tegak.. Aku yakin ukurannya tidak kurang dari 36c, dan yang membuatku tambah terangsang karena buah dadanya tetap tegak kencang walau dia dalam posisi telentang.. Kutangkupkan telapak tangan ku pelan-pelan diatas dada indah itu, dan pelan-pelan aku mulai meremasnya.. Wahhh adikku sudah mengeras dengan cepatnya, dan nafsuku makin tak tertahan.. Segera kuhentikan remasanku, ketika dia bergerak hendak pidah posisi walau masih dalam keadaan tidur. Ternyata posisinya malah makin membuatku spaneng.. Sekarang dia telentang sepenuhnya, dan kedua kakinya membuka agak lebar, dengan buah dadanya membusung tegak tanpa tertutupi daster atasnya yang telah kubuka kancingnya.. Aku sudah tak dapat menahan lagi nafsuku yang memuncak, segera kuaposisikan kedua lututku diantara kedua pahanya dan kutindih dia seraya mulutku tanpa basa-basi lagi segera mengulum dan mengisapi buah dadanya.. Siti terbangun tapi masih belum sadar apa yang terjadi, dan ketika kesadarannya pulih keadaan sudah terlambat karena buah dadanya sudah sepenuhnya tenggelam dalam kuluman mulutku dan kedua tanganku segera menahan kedua tangannya yang hendak mendorong kepalaku.. Ahhhhh memang enak benar susu pembantu baruku ini.. Benar-benar kenyal dan padat sekali, pantas tetap tegak walau dia dalam posisi telentang dan tanpa penyangga apapun.. Inilah buah dada yang selama ini kuidam-idamkan.. Mulutku tak henti mengulum dan mengisap susu Siti, putingnya kekecap-kecap dengan lidahku.. Awalnya Siti masih berusaha memberontak, tapi ketika kukunci pinggangnya dengan pinggangku yang berada diantara kedua pahanya, dan kedua tangannya kutahan dengan tanganku, akhirnya dia pasrah dan mengendurkan pemberontakannya.. Aku makin menggila dan mulutku makin gencar menghajar kedua buah dadanya bergantian.. Nampaknya dia tak bisa menghindar dari rangsangan yang timbul dari kuluman dan isapanku pada kedua buah dadanya, sebab matanya muai memejam dan dia seakan menggigit bibirnya sendiri menahan rangsangan itu.. Nafsuku juga makin memuncak melihat ekspresi wajahnya yang mencoba menahan rangsangan yang timbul, dan akhirnya aku coba untuk menarik celana pendek longgar yang dia kenakan sedikit.. Dia menahan tanganku yang mencoba menarik turun celana pendeknya, tapi segera kutingkatkan serangan mulut dan lidahku pada buah dada yang membuncah itu. Dari susunya yang kanan, aku berpindah lagi kekiri dan terus tidak berhenti, sambil kembali aku berusaha menarik turun celana pendeknya.. Akhirnya dengan masih tetap menindihnya aku berhasil menarik turun celana pendek sekaligus celana dalamnya hingga ke pergelangan kakinya, dan akhirnya lepaslah celana itu dari tubuhnya.. Yeessss..... terpampanglah tubuh bugil pembantu baruku tetap dibawah tindihanku, dan masih juga mulut dan tangan ku bergantian menghajar kedua buah dadanya tanpa henti.. Kuhentikan sebentar kegiatanku dengan masih dalam posisi dimana aku duduk diantara bentangan pahanya yang sudah telanjang, dan mulai aku melepaskan kaus dan celana pendek dan celana dalam hingga akhirnya aku dalam keadaan telanjang bulat.. Siti nampak kaget dan agak ketakutan melihat kelakuanku, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa karena aku masih tetap mengunci posisinya dibawahku.. Aku mulai lagi mengulum susu Siti bergantian kiri kanan, sambil menindihnya aku mulai menempatkan kontolku tepat diatas vaginanya.. Sambil meningkatkan seranganku pada susunya, kontolku yang sudah mengeras dengan sempurna kutekankan pada mulut vaginanya.. “Paakkk....jangaaann paaakkk....” keluh Siti agak lirihhh.. Nafsuku yang sudah diubun-ubun membuatku gelap mata dan tak menghiraukan desah lirihnya.. Kupegang kontolku dengan tangan kananku, dan mulai kutekankan kemulut vaginanya pelan-pelan.. “Aaahhhh .....sakiiiittt paaakkkkk..” jerit Siti lirih dengan berusaha menggeser pinggangnya kekiri menghindari tekanan kontolku dimulut vaginanya.. “Udah Ti jangan gerak-gerak lagi...” bujukku pelan, sambil kembali menempatkan kontolku pada posisi yang tepat dimulut vaginanya dan kebali kutekan hingga masuk kepalanya saja.. “Addduuuhhh paakk... sakkiiitt paakk..” Kembali Siti hendak menggeser pinggangnya, dan segera aku menahannya sambil sedikit membentaknya dengan galak “Diaamm aja kamu Ti...” Dengan ketakutan akhirnya dia menghentikan usahanya untuk menggeser pinggangnya, dan dengan nikmatnya kembali aku menekankan kepala kontolku kedalam mulut vaginanya.. Yeeessss.... mulai masuk setengahnya, rasanya luar biasa enaakkk.. Kulihat dia memejamkan kedua matanya dan gigi atasnya menggigit bibir bawahnya menahan sakit dan nikmat ketika kontolku yang berdiameter 5 cm dan panjang 16cm mulai menyeruak makin kedalam... Akhirnya dengan sentakan yang agak kuat akhirnya kontolku masuk sepenuhnya kedalam vagina Siti... Ahhhh.. Benar-benar nikmattt cengkraman vagina Siti, dia mengejan menahan rasa sakit ketika seluruh batang kontolku masuk menghunjam kedalam vaginanya... Rasa-rasanya seperti dipijat dan disedot-sedot.. Akhirnya pelan-pelan aku mulai menggerakan kontolku mundur separo, berhenti sedetik dan mulai maju lagi hingga habis tenggelam dalam cengkeraman nikmat vagina Siti.. Kutingkatkan pelan-pelan kecepatan gerakan maju-mundurku, dan nampaknya Siti mulai merasakan nikmat yang luar biasa ketika batang kontolku menggesek bagian dalam vaginanya.. Rasa sakit ketika kontolku yang besar habis tenggelam dalam vaginanya, mulai tergaintikan dengan rasa nikmat tadi... Mulai kupacu keras dan cepat hunjaman batang kontolku kedalam vaginanya..”Adduhh... ppaaakkk...” desahnya lirih yang makin meningkatkan nafsuku, sehingga sambil tetap mengayunkan batangku kembali kedua susunya menjadi bulan-bulanan mulut dan tanganku.. “Aaahhhh ..... ini bener-bener enak Ti...” kataku... Setelah lebih 15 menit aku mengayun dengan kecepatan yang bervariasi, akhirnya kuhentikan ayunanku dan kulepaskan kontolku dari cengkeraman vaginanya yang luar biasa peret... “Ayo kamu telungkup dan agak nungging Tii..” perintahku agak galak, sambil membantunya telungkup dan menarik agak keatas pantatnya yang sekal, indah, dan membulat itu.. Kuposisikan kembali kontolku yang masih keras kearah mulut vaginanya, dan “...bblleesss...” suara itu mengiringi amblesnya lagi batang kontolku kedalam vagina Siti.. Dan kembali rasa seperti disedot dan dicengkeram otot-otot vagina Siti yang kencang dan masih sempit itu melanda seluruh rangsang syarafku.. Mungkin dia kembali mengejan untuk menahan rasa sakit yang masih terasa dari sodokanku kedalam vaginanya... Pelan kembali kuayun pinggangku kedepan dan kebelakang, sambil tanganku menahan dan meremas pantat Siti yang bulat, sekal, dan padat itu.. Pemandangan itu membuat nafsuku makin kuat, apalagi ketika melihat susunya terayun-ayun tegas mengikuti ayunan pinggangku ke pantat sekalnya, serta erangannya ketika aku menekan habis batang kontolku kedalam vaginanya.. “Aaahhhhh....aahhhhh.... paak sudaaahhh.... paakkk....”erangnya lirih... Justru erangannya menambah nafsuku untuk menghajar dengan cepat dan kuat pantat dan vaginanya, dan kembali kuremas-remas susunya dari arah belakang... Luaaarrrr...biaaassaa...........!!!!!!!!!!! Setelah lebih dari dua puluh menit aku menghajar pantat dan vaginanya dari belakang, sambil meremas-remas susunya yang indah, aku lepaskan lagi batang kontolku dari cengkeraman vaginanya yang masih erat dan kuat pelan-pelan.. AAHhhhh.. benar-benar nikmat.. Kembali kubalikan tubuh Siti telentang dan kuangkat kakinya sedikit keatas, kembali kudekatkan batang kontolku yang masih keras kemulut vaginanya... Siti sudah benar-benar pasrah dan membiarkan aku mengatur seluruh posisinya dalam persetubuhan ini, walau masih terdengar kembali erangan lirihnya memintaku menyudahi permainan nikmat ini.. “Paakk....suudaaahh ..paakkk..” Kuacuhkan permintaannya, dan kembali kuhantamkan batang kontolku kedalam vagina peret dan seret itu.. Ayunanku semakin cepat dan kadang bervariasi dengan ayunan pelan, tiada henti dengan diiringi erangan dan desahannya bercampur dengan suara indah beradunya pangkal kontolku menghantam pangkal pahanya “..plookkkhh...ploookkkhhh...” Pemandangan ayunan tegas kedua susu Siti, seirama dengan ayunan pinggangku, membuat nafsuku memuncak cepat.. Apalagi cengkeraman otot vagina dan raut wajahnya yang mengejan menahan rasa sakit dan rangsangan yang timbul, membuatku tak dapat menahan lagi untuk meremasi dan mengulumi kembali kedua susunya.. Kadang kugigit kecil karena tak mampu menahan rasa nikmat dan gemasku atas kekenyalan susunya.. Akhirnya setelah lebih dari 20 menit dalam posisi MOT, rangsangan itu memuncak dan kepala kontolku terasa luuaar biiaasssaa nikmat.. Gerakan ayunanku semakin cepat dan akhirnya aku tak dapat menahan lebih lama lagii, persis ketika air maniku sampai diujung mulut kontolku, segera kutarik keluar dan kumuntahkan air maniku diatas perut, dada busung, dan sebagian wajahnya..”croott..crooot...croottttt...crrrooottt thhh ....” ”Aaahhhh..... niikmmaaaaaaatttttt......”erangku tak dapat menahan rasa luar biasa yang timbul ketika air maniku keluar deras menyemprot perut, dada, dan wajahnya... Setelah habis air maniku keluar, aku rebahkan diriku disamping tubuh Siti yang lemah tergolek telentang setelah kugarap hampir satu jam penuh.. Dia segera menarik selimut yang tergeletak disampingnya, dan menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut itu.. Sepintas sempat kulihat dia menitikkan air mata, dan suara tangis yang ditahannya beradu dengan napasnya yang tersengal.. “Udah Ti, gak usah nangis segala..” kataku, seraya mengenakan celana dalam dan pakaianku.. Dia berusaha menahan tangisnya, dan segera kutinggalkan kamar anakku kembali ke kamar kerja untuk mematikan komputer dan masuk kekamar tidurku.. Kulihat istri dan anakku masih tertidur dengan nyenyaknya, kala kulihat jam telah menunjukkan pukul 1.. Kurebahkan diriku disamping anakku, dan kucoba untuk tidur.. Tapi kenikmatan yang baru saja kurasakan masih membayang jelas dalam pikiranku, dan menghalangiku untuk segera tidur.. Kapan-kapan aku harus mengulanginya lagi, pikirku...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1871352381365488264-542305351702964284?l=cerita-17-tahun.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/feeds/542305351702964284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1871352381365488264&amp;postID=542305351702964284' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/542305351702964284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1871352381365488264/posts/default/542305351702964284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://cerita-17-tahun.blogspot.com/2008/12/siti-pembantuku-yang-nikmat.html' title='Siti Pembantuku yang Nikmat'/><author><name>admin</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03298423123017602688</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1871352381365488264.post-4510337453036318345</id><published>2008-12-13T06:57:00.000-08:00</published><updated>2008-12-13T07:00:47.883-08:00</updated><title type='text'>Tragedi Malam Pengantin part 2</title><content type='html'>"Ohh..! ahh..! ahh!!",ia memuntahkan seluruh air maninya di mulut sang dara cantik itu yang telah penuh oleh sumpalan pelirnya dan dipaksa pula untuk menelan semua cairan lendir putih kental miliknya yang muncrat-muncrat didalam rongga mulut mungil tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua maninya telah tertelan di kerongkongan perempuan muda ini sudah, dan kembali ia memplester mulut korbannya agar ia tak dapat memuntahi lagi air mani lelaki tersebut. Setelah itu ia mengemasi pakaiannya yang tercecer di lantai kamar untuk kemudian pergi meninggalkan kawannya yang masih asyik mengentoti tubuh gadis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tinggal tersisa lelaki ketiga dengannya sekarang sepeninggal lelaki kedua tadi dan aku melihat temannya telah menerobos keluar dari pagar rumah tersebut setelah berpakaian lengkap sambil membawa karung hasil rampokkannya pula di kegelapan malam tanpa peduli lagi dengan kawannya. Mungkin mereka tak mau kelihatan bergerombol agar tak dicurigai aksinya oleh pihak berwajib. Kembali aku menyaksikan adegan porno selanjutnya dari lelaki terakhir yang tersisa ini dan wow! Ia kembali membuat tubuh telanjang gadis belia ini dipaksa menungging di depanku dengan pelirnya yang masih tegang mengangguk-angguk setelah berhasil mengalahkan memek dara itu, ia kini balik lagi mencoblos kontolnya ke lubang pantat yang sangat digemarinya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;a href="http://17tahun.us" title="foto bugil,cerita 17tahun,3gp porno"&gt;Cerita 17 tahun,3gp porno dan foto bugil terbaru hanya ada di www.17tahun.us&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena letih terus menggendong tubuh dara itu, lelaki kedua memberi tanda untuk berganti posisi. Tangannya yang terikat keatas kepalanya diturunkan, lalu tubuhnya dipaksa untuk menungging diatas ranjang pengantinnya lagi dengan posisi bokongnya tetap menghadap padaku. Lelaki ketiganya menyelusup dibawah tubuh korbannya yang sudah menungging dan agaknya sang lelaki kedua juga ingin merasakan hangat dan lunaknya anus korbannya. Lelaki ketiga memeluk tubuh itu dari bawah berhadapan dengan payudara gadis itu yang tergantung tepat di antara mukanya. ****** bekas memerawani anus dara itu kini dibenamkan ke dalam vaginanya yang telah becek. Dengan liarnya ia menyedoti payudara indah yang menggantung tepat didepan wajahnya bergantian sampai penuh dengan air liur disekitar puting susu korbannya seraya meremas-remas penuh nikmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setengah jongkok tubuh lelaki keduanya mengambil tempat disela-sela pantat dara itu yang telah menungging dengan pantatnya yang menjungkit keatas siap untuk menerima lagi kehadiran ****** lelaki pada liang duburnya yang lezat dan nikmat dengan layanan sensasi nan berbeda. Aku sendiri sudah terlalu letih untuk beronani lagi karena energiku sudah terkuras pula untuk mengikuti kejadian tersebut. Yang pasti perempuan muda itu telah patuh pula pada perintah kedua lelaki bajingan tersebut yang memperkosanya dengan brutal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata dari lubang anus dara itupun terdapat pula cairan lengketnya yang membantu melumasi persetubuhan serta melicinkan analnya yang tengah mengimbangi sodokan demi sodokan tonggak kejantanan yang menancap di bongkahan pantatny
